Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Kedatangan Sabrina


__ADS_3

Kini mina dan sandra sudah bersiap diap dan di luar taksi juga sudah menunggu mereka.


"Mama kamu bawa Gafin dan Rangga biar nanti papa yang bawa kopernya."


"Baik mas."


Lalu mereka segera keluar rumah mah, gafin yang dalam gendongan mina mulai bertanya-tanya "Nek, kita mau ke mana??"


"Kita mau ketepat mama gafin."


Rangga yang mendengar hal itu terlihat bahagia "Benarkah, apa kita akan pergi ke tempat kakak Lusi."


"Iya, tapi jangan nakal-nakal nanti di pesawat kalok tidak, ibuk gak akan mau bawa lagi rangga."


Rangga mengangguk "Iya buk."


Tak lama Sandra keluar lalu langsung di bantu oleh supir taksi itu untuk mengangkut barang barangnya ke bagasi mobil dan setelah selesai sandra pun menutup toko mereka dan setelah itu baru mereka berangkat.


Dan pada saat berangkat tanpa sar mereka berpas-pasan lagi dengan mobil lain yang berbeda dari kemarin namun yang mengendarainya tetap Renata.


Sesampai di depan rumah, ia terkejut karna rumah itu masih tertutup "Sial kemana orang ini, apa mungkin mereka berniat lari dari ku."


Renata mengeratkan pegangan setir mobilnya "Aku takan biarkan mereka kabur maka dari itu aku akan menunggu di sini sampai mereka membuka toko."


Dan renata pun menunggu di depan rumah itu seperti orang bodoh.


...***...


Sedangkan lusi di rumah sakit kini tengah sibuk menyuapi andre makan karna peria itu begitu manja ketika ada dia, segalanya harus lusi padahal yang terluka perutnya namum sampaiĀ  tanganya saja tak mau ia gerakan.


"Bisakah kamu makan sediri kenapa harus aku suapkan??"


"Loh akukan yang sakit disini jadi kamu harus menyuapi ku makan."


"Tapi yang terluka perutmu bukan tangan mu."


"Tetap saja aku orang sakit di sini."


"Kenapa orang seperti mu selalu saja membuat ku emosi."


"Banyakin sabar menghadapi kekasih seperti ku sayang, baiar nanti wajah mu gak cepat keriput kalok marah mulu."


"Diam, atau kamu mau tidak ku suapin lagi makannya."


"Maaf, aku salah."


Ludi menghela napas kasar "Andai saja kalok kamu bukan orang sakit mungkin sudah ku gebukin kamu dengan bantal."

__ADS_1


Tak lama pintu kamar di buka tiba-tiba, seorang gadis cantik masuk dan langsung menghampiri andre "Kakak andre aku mendengar kamu terluka apa kakak sudah baik-baik saja??"


Seketika mata andre menatap tajam wanita itu "jangan mendekat pada ku."


Sedangkan lusi masih bertannya-tamnya siapa gadis cantik itu.


"Kenapa aku tak bisa mendekat pada kakak??, dan lagi apa kakak memotong rambut kakak, tak ku sangka kakak terlihat begitu tampan."


Lusi yang mendengar pujian itu seketika merasa tak suka "Siapa kamu, kenapa kamu berani masuk tanpa izin."


Wanita itu menoleh pada lusi "Memang kenapa. Dan lagi kamu siapa juga, kamu gak ada hak ngelarang aku datang untuk ngejenguk kakak andre."


"Tidak ada yang melarangmu hanya saja cara mu masuk yang nyelonong itulah yang masalah, seharusnya kamu tau sopan santun."


"Loh apa salahnya saya ini calon kekasihnya."


Lusi tersenyum miring "Kalok saya kekasihnya."


Gadis itu sedikit tak percaya "Gak mungkin,kakak andre gak mungkin pacaran sama kamu keculi kamu wanita yang ia cari..."


Seketika sabrina terdiam sedangkan lusi langsung menjawabnya.


"Siapa itu??"


"Apa mungkin kamu adalah lusi mantan istri dari kakak andre."


"Jika iya emang kenapa??, kamu masalah??"


Lusi tersenyum miring "Uang, aku tak pernah menginginkan uangnya, lagi pula jika aku mau banyak peria kayak di luar sana yang mau menjadi suami ku tidak hanya andre saja."


"Jika seperti itu kenapa harus kakak andre yang kamu jadikan kekasih bukankah lebih baik peria lain."


"Loh apa hak mu melarang ku, mau aku rujuk dengannya atau sebagainya kamu tak punnya hak jadi lebih baik kamu diam saja."


Andre menghela napas panjang "Sabrina keluar lah."


Sabrina menoleh pada andre "Apa kamu mengusir ku??"


"Jika kamu tak mencari masalah maka aku tak mungkin mengusirmu jadi saya harap kamu sekarang keluar."


"Tidak, aku tidak mau seharusnya wanita ini yang keluar."


"Sabrina cukup, jangan mencari masalah dengan cara menguji emosiku ku dan sekarang kamu keluar."


"Tapi kakak."


"Sabrina sudah ku katkan berkali-kali kita takan bisa bersama , lagi pula hubungan kita sejak awal sudah selesai 7 tahuan lalu dan aku harap kamu mencari pria lain."

__ADS_1


Sabrina dengan tegas berbicara "Tidak, aku takan mau kencari pria lain karna di hati ku hanya anda kakak."


"Jangan memancing emosiku, sekarang kamu keluar."


"Tidak kakak aku takan meninggalkan mu."


"Sabrina cinta mu itu hannya opsesi, jika kamu benar benar mencintai ku, maka kamu pasti akan bisa merelakan ku dengan orang yang aku cinta, tak ada yang namanya cinta jika terjadi hanya karna paksaan."


"Bagai mana dengan dia, apakah dia benar benar mencintai kakak atau mungkin dia menerima kakak hanya karna kasihan saja."


Lusi terdiam ia tak mamau menjawabnya karna ia sediri bahkan masih bingung dengan perasaannya, namun andre dengan tegas menjawabnya.


"Kamu tak perlu ikut campur urusan ku dengan kekasihku, mau dia mencintai ku seperti apa pun aku akan tetap mencintainya dengan tulus."


"Kenapa kakak memperlakukannya seperti itu sedang kan aku tidak."


"Itu karna..." andre tak sanggup berkata-kata karna rasa bersalahnya, terkait masa lalu yang menghancurkan rumah tangganya dalam sekejap. sedangkan lusi sangat penasaran dengan jawaban andre.


"Kenapa kakak, cepat katakan."


"Itu karna ia pernah kencintai ku dengan tulus namun aku menyia-nyiakan ketulusannya dan pada akhirnya aku kehilangan dia.


Dan sekarang aku bersyukur karna di masih mau kembali pada seorang bajingan seperti ku, yang sudah pernah menyakiti dia dan anak kami.


Aku yakin ia mencintai ku dengan tulus."


Lusi yang mendengar kata kata itu terdiam dan perlahan air matanya mengalir dari sudut matanya.


Guma lusi dalm hati "Oh apa yang terjadi pada ku.."


Andre terkejut melihat lusi yang menangis sedangkan lusi langsung bangkit dari duduknya.


"Maaf."lalu lusi berjalan tergesah gesah ke kamar mandi.


Sedangkan Sabrina sedikit terkejut dengan reaksi lusi.


"Ada apa dengan wanita itu."


Sedangkan andre semakin yakin dengan apa yang ia katakan jika lusi memang benar tulus mencintainya.


Sedangkan di kamar mandi lusi segera mencuci wajahnya "Astaga ada apa dengan ku, kenapa aku menangis tidak jelas seperti itu tadi."


Setelah mencuci wajahnya lusi menatap wajahnya pada kaca wastafel kamar mandi dan ia teringat kata-kata andre.


"Apa benar dia sudah berubah dan apa benar juga ia mencintai ku dengan tulus."


Lusi meanundukan kepalanya "Jika demikian haruskah aku membuka hati lagi untuknya."

__ADS_1


Lusi terdiam sejenak ia memikirkan kata katanya "Oh tuhan tolong lah beri pentunjuk pada ku agar aku bisa lebih yakin."


Bersambung....


__ADS_2