
Lusi brlari menghampiri Andre lalu bersembunyi di belakangnya"Ada ular.."
Andras seketika kebingungan "Gak ada ular dia aprtemen."
"Ularnya bukan dari apartemen tapi dari dalam kardus paket."
Andreas terkejut, pada saat ia brjalan keruang tamu untuk memeriksa ia terkejut lagi ketika melihat ular kobra di bawah sova yang besarnya selengan anak umur 12 tahun.
Lusi menepuk pundak Andre sontak peria itu menoleh padanya"Ada apa??"
"Telfon bomba, agar mereka bisa menangkap Ular itu."
Andre mehela napas pelan "Bomba itu apa aan lagi??"
"Yang memadamkan api itu."
"Apa kamu tidak sekolah, itu namanya pemadam kebakaran."
"Tapi di filem anak kecil yang aku tonton mereka menyebutnya bomba."
"Entah filem anak kecil apa yang kamu tonton itu??"
"Itu lo yang anaknya botak botak kembar..."
Perkataan lusi terhenti ketika melihat ular itu menghampiri mereka.
"Tuan ularnya kemari.."
Lusi langsung menarik andreas menaiki tangga , "tuan cepat telfon bomba biar ularnya cepat di tangkap."
"Baiklah.." andre menekan nomor pemadam kebakaran pada hpnya lalu ia segera menelfon.
Untungnya tak lama kemudian pemadam kebakaran datang dan mereka ada 5 orang, dan menangkap ular, memang itu tidak mudah karna berberapa kali ular itu mencoba melawan dan setelah 3 jam berlalu akhirnya ular itu berhasil tertangkap namun diluar para tetangga apartemen yang pensaran banyak yang melihat.
Dan setelah kepergian Pemdam kebakaran itu baru andre dan lusi berjalan ke arah kotak yang lusi buka tadi dan melihat isinya dan rupanya ada sebuah surat di dalamnya.
Andre mengambil surat itu, sedangkan lusi sudah dapat mencium bawu darah yang kembuat perutnya bergejolak, sontak ia menutup hidungnya lalu menjauh dari andre.
Andre yang melihat lusi yang menjauh menatap bingung dia "Ada apa dengan mu??"
"Bau surat itu busuk sekali."
Andreas mencium bawu surat itu "Ini bau darah."
Pada saat andreas membuka surat, memang tak ada kata kata panjang di dalamnya hanya ada tulisan yang bertulis nama lusi .
__ADS_1
Namun andreas tak mau memberitau lusi apa isinya ia takut wania itu akan ketakutan jadi ia berbohong.
"Tidak ada isinya." Lalu andars meremas suart itu hinga menjadi gumpalan lalu membunganya tetampat sampah.
"Aku akan mencoba melapor polisi agar orang yang mengirim kardus ini segeta di temukan."
Lusi yang mendengar hal itu akhirnya bisa bernaps lega lalu ia mengelus perutnya "Baguslah."
Tak lama lusi merasa ingin memakan bakso "Tuan apakah boleh saya membeli bakso di depan ??"
Andre menolah pada lusi "Pergilah."
"Apa taka da yang mau tuan titip??"
"Tak ada."
Lusi pun segera pergi ke kamar untuk mengambil uang dari dompetnya.
Dan andare ingat ketika di jerman ia diam diam memeriksa kartu ATM yang ia berikan pada lusi dan tak ada sepeser pun uang yang ia pakai.
Dan uang yang bisa ia guankan untuk belanja hari-hari itu adalah uang 7 juta kes yang pernah ia berikan pada awal pernikhan untuk membeli kebutuhan dapur.
Tak lama lusi turun dari lantai dua dan ia terlihat bahagia.
Lusi menggeleng "Tak usah tuan, uang 7 juta yang tuan kasih masih ada lusi pakai itu aja, nanti kalok habis juga lusi pakai ATM yang tuan kasih saja."
"Terserah kamu saja."
Lusi tersenyum laui segera pamit pergi "Lusi berangkat dulu tuan."
Selama berjalan ia bertemu berberapa tetangga yang sekali menyetopnya dan bertanya apa yang terjadi pada rumahnya dan lusi juga bercerita sebentar baru setah itu ia kembali melajutkan perjalanannya.
Dan sesampai di jalan raya ,saat itu lampu merah dan banyak orang yang meyebrang zebra cross dan sebelahnya lusi ia berjalan bersampingan dengan seorang ibuk dua anak yang satunya madih balita sedangkan satunya umur 5 tahun.
Saat itu anak itu memegang bola , sebenarnya saat itu mereka berasil menyeberang namun boa anak itu tiba tiba terpental ke belakang karna ia menabrak belakang lusi.
"Ah tida bola ku.." anak itu nencoba mengambil bolanya namun lampu sudah berubah hijau.
Terdengar suara ibu anak itu berteriak "Abel..." namun anak itu tak mendengar dan tanpa sadar jika ada sebuah motor yang melaju dengan menyelip mobil mobil itu sedangkan lusi yang lebih dekat dengan anak itu lantas menolah ke belakang.
Namun anak itu sudah melangkah namun dengan cepat lusi menarik kerah bajunya lalu menariknya, karna tubuhnya yang cukup gemuk membuat lusi terhepas kebelakang dan anak itu menimpa perutnya.
Dan bola anak tadi terinjak dan mobil yang membuat anak itu menangis sedangkan lusi berusaha menenangkannya "Jangan menangis nanti kita beli baru lagi yah."
Ibu anak itu menghampiri putranya "Abel apa yang kamu lakukan.."
__ADS_1
Ibunya terlihat begitu hawatir lalu ia mangangkat lusi "Nona maafkan anak saya.." lusi tersenyum "Tak papa kok."
Namun ketika bangkit orang orang di belakang terkejut ketika melihat darah di celana lusi "Ada bercak darah."
Lusi terkejut lalu memeriksa dan benar saja ada darah di celananya ia mulai panik ia takut terjadi sesuatu pada anaknya.
"Tuan tolong antarkan saya ke rumah sakit." Wajah lusi terlihat panik dan untungnya ada seorang peria paruh baya berbelanja di sana bersama istrinya langsung membantunya.
Mereka membawa lusi kenggunakan mobil milik mereka ke rumah sakit di dekat situ, dan sesampai di rumah sakit lusi langsung tangani.
Dan untuk yang kedua kalinya anaknya selamat yang membuat lusi akhirnya bisa bernapas lega.
"Tuan nona bolehkah saya meminjam hp kalian untuk menelfon seseorang??"
Lalu sang istri dari peria peria paruh baya itu meminjamkanya dan lusi segera menekan nomor telfon radit.
Tak lama terdengar peria paruh baya itu berbiacra "Nona maafkan cucu saya, karan dia anda hampir kehilangan anak anda."
Lusi menoleh pada peria paruh baya itu "Tak papa tuan, namanya jug anak kecil mereka tak tau apa apa dan semua ini hanya karna kelalayan saya saja, karna tak bisa menahan tubuhnya dan malah menjatuhkan dia ke perut saya."
Peria itu memberikan kartu namanya pada lusi "Ini kartu nama saya, jika terjadi sesuatu pada kandungan anda, anda bisa telfon saja saya. Saya dan keluarga akan bertanggung jawab."
Lusi menerimanya lalu ia menelfon Radit dan tak butub waktu lama telfonya sudah di jawab.
"Halo ini yah??"
"Radit ini aku lusi, bisakah kamu ke rumah sakit yang dekat rumah."
Radit yang mendengar hal itu terkejut 'Asataga nona apa yang terjadi pada anda lagi.??"
"Lusi tersenyum, akan aku jealaskan nanti, kamu juga tak perlu hawatir apa lagi harus menelfon kakek."
Radit menjawabnya"Sudah nanti aku akan ke sana."
"Tapi nanti kamu kasih tuan kalok aku lagi pergi sama teman ku agar dia tidak hawatir."
"Baiklah, nona tiunggu saja di sana."
Lalu panggilan itu pun berakhir dan lusi pun mengembalikan hp tadi pada wanita paruh baya itu.
"Apa tadi suami anda??"
Lusi menggeleng "Bukan itu teman saya."
Bersambung....
__ADS_1