
Akhirnya mereka sampai di jerman dan lusi beserta andre segera ke rumah sakit dimana sang pendonor berada.
Di sana mereka bertemu dengan salah satu keluarga dari sang pendonor dan di sana juga ada julius soarang kepercayaan keluarga andreas untuk mengurus perusahaan yang ada di jerman.
"Bagai mana kondisinya??"
Julius menggeleng "Dia sudah tiada setengah jam lalu, untung kalian segera sampai karna operasi ini harus segera di lakukan."
Andre menoleh pada ayah dari anak pendonor itu "Aku turut berduak"
Peria itu tersenyum "Terima kasih tuan andre,setidaknya berkat bantuan kelurga anda kami masih bisa menghabiskan waktu bersama anak kami sampai ia berpulang."
"Justru saya yang merasa beruntung karna di lertemukan dengan kalian."
Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat gafin yang terlihat diam saja "Apa dia putra anda??"
Andre mengangguk "Ya."
Tak lama dokter datang "Apa anda mister andre??"
"Ya."
"Anda dan putra anda bisa ikut saya untuk pemeriksaan."
Andre mengangguk lalu mereka menyusul dokter dan lusi juga ikut.
Lalu mulai di lakukan banyak porosedur pemeriksaan dan setelah selesai baru kereka bersiap siap untuk melakukan operasi.
Sedangkan gafin ia sedikit bingung kenapa ia harus mengganti bajunya "Mama kenapa gafin harus mengganti baju sedangkan gafin belum mandi."
Ludi berusaha tersenyum "Tak papa nak mama mau menggantika saja agar kamu terlihat tampan."
"Benarkah, jadi Gafin sudah sangat tampan dong."
"Ya anak mama sudah sangat tampan."
Lusi berusaha menahan tangisnya sedangkan andre yang melihat hal itu langsung mendekat padanya.
"Baiklah sekarang berbaringlah."
Gafin berbaring di kasur lalu berberap suster datang dan langsung kenghampiri mereka.
"Permisi tuan Kami akan membawanya."
Lusi yang mendengar hal itu diam-diam menangis namun ia berusaha menahan suaranya sedangkan andre langsung memeluknya.
"Baiklah."
Lalu andre menoleh pada anaknya "Gafin anak papa yang paling ganteng."
"Ya papa."
"Gafin nanti akan di bawa tante balik ke sebuah ruangan untuk sementarawa waktu, tapi gafin janji sama papa dan mama kalok gafin akan diam dan menurut."
"Ia papa."
__ADS_1
Perlahan lusi melepas pelukan andre dan ia berusaha menahan tangisnya lalu ia mencium kening anaknya.
"Setelah selesai mama dan papa akan membelikan gafin banyak donat jadi bertahan lah untuk mama dan papa oke."
Gagin tak paham apa maksud mamanya namun ia tetap menurut "Ya mama."
Lalu andre menyusul mencium keningnya sedangkan gafin pun segera di bawa dan setelah kepergianya tangis lusi pecah.
"Papa, bagai man ini anak kita."
Andre kembali memeluknya "Sudah jangan sedih ma, percaya anak kita bisa melewati semua ini, bukankah anak kita kuat percayalah."
Dan papa akhirnya mereka menyusul setelah lusi tenang lalu mereka menyusul dan menunggu di luar IGD lantai 4, lusi terlihat begitu banyak bengong dan terus memikirkan anaknya
Dan satu jam berlalu belum masih ada tanda mereka akan keluar membuat lusi mulai berpikir negatif "Bagai mana ini, apa terjadi sesuatu padanya sehingga mereka belum keluar..hik."
Andre memeluk lusi "Tenanglah ma, percaya lah anak kita akan baik baik saja."
"Tapi aku takut kehilangan anak kita, dia satu satunya harta ku yang ada."
"Sudah-sudah, percayalah anak kita akan baik baik saja jadi tenanglah."
Lusi berusaha tenang dengan menarik napasnya pelan lalu ia memejamkan matanya mencoba untuk tenang.
Sebenarnya andre juga tak tenang namun ia tak mungkin menunjukkan itu pada lusi maka wanita itu akan makin panik jadi ia mencoba tenangkan hatinya juga dan percaya jika operasi anaknya akan berhasil
Setelah 2 jam menunggu akhinya lampu di atas ruangan itu mati dan berubah hijau lagi dan ruangan pun terbuka.
Lusi terlihat menoleh kearah pintu ruangan dan bertapa terkejutnya ia melihat kasur pasiennya tertutup dengan kain.
"Apa pasian ini putra anda.."
Pada saat ia membuka kain yang menutup wajahnya ia terkejut, itu bukan wajah anaknya "Loh ini bukan anak saya, anak saya mana."
Seketiak lusi berhenti menangis sedangkan andre juga terkejut dan mengingat kata kata Julius "Bukankah dia bilang di IGD lantai 4 kenapa tak ada."
Tak lama dari jauh terlihat Julius "Tuan anda kemana aja sih anak anda itu dari tadi di ruang rawat."
"Loh kamu bilang di IGD lantai 4."
"Iya tuan tapi di ganti karna ,sudah ada 1 pasian di larikan ke sana karna kecelakaan , jadi operasi berjalan di IGD lantai 5 ."
Andre yang mendengar hal itu merasa bodoh "Sialan kamu kenapa baru kasih tau."
"Maaf tuan saya tadi ketiduran di raung rawat tuan muda."
"Sudah lah."
Andre menghampiri lusi lalu mereka menjelaskan pada suster tadi dan meminta maaf "Mohon maaf kami salah pasien."
Seketika para perawat dan dokter tadi terkejut dan mereka pun pamit ke ruangan anaknya.
Di sana gafin tengah tidur seperti sorang pangeran tidur.
Dan pada akhirnya lusi bisa bernapas "Syukurlah."
__ADS_1
Lusi mendekat pada kasur pasian lalu memegang tangan anaknya "Syukurlah kamu tidak papa sayang."
Andre tersenyuam melihat lusi yang kembali tersenyum, namun karan sentuhan lusi perlahan membangunkan gafin.
"Mama, apa itu mama."
Namun karn matanya masih di tutup perban ia masih belum menyadari jika sudah dapat melihat.
"Ya ini mama Sayang."
"Tangan mama halus sekali."
"Kamu kenapa sih, tangan mam mu memang sehalus ini."
Lusi berusaha menahan tawanya karna anaknya ngelantur.
"Tidak ini sangat lembut seperti selimut."
"Asataga pangeran ku tadi mimpi apa ini sampai sampai nelantur gini.".
Andre mendekat anaknya "gafin nanti kalok mau kencing atau apa pun itu kasih tau papa sama mama,oke."
"Oke."
Lusi tersenyum "Apa kamu lapar sayang??"
"Ya, mama."
Lalu lusi menoleh pada andra "Apa kamu dengar anak mu sedang kelaparan coba minta pada suster untuk bawakan berapa makanan."
"Baiklah."
Andre bangkit lalu segera pergi sedangkan lusi langsung mendekat pad anaknya "Apa kamu merasakan sesuatu yang aneh pada mata mu??"
"Ada sesautu yang menutup mataku, cukup kencang tapi aku tak bisa melepskannya. Apa mama bisa melepsnya."
"Untuk sekarang itu tak bisa di buka dan nanti ketika waktunya kamu akan membukanya."
"Apa gafin sedang sakit ma??"
"Tidak, gafin sehat saja, hanya saja mata gafin masih perlu di tutup dulu."
"Oh seperti itu."
Tak lama pintu terbuka pada saat lusi menoleh ke bekang rupanya yang datang ada dua orang suami istri dan sang suami sangat lusi kenal karna ia lah ayah sang pendonor sedangkan sang wanitanya tidak.
Wanita itu berwajah asia dan ia terlihat tersenyum pada lusi "Halo nona lusi, senang bisa hertemu dengan mu, perkenalkan saya ibu dari anak yang mendonorkan mata untuk putra anda."
Lusi bangkit dari duduknya karna terkejut wanita itu dapat berbahasa indinesia "Oh nona, saya sangat berteria kasaih pada anda dan keluarg terutama mendiang anak anda yang dengan biknya mau mendonorkan matanya untuk putra saya."
Wanita itu tersenyum "Ya saya juga bersyukur karna akhirnya permintaan terakhir putriku dapat di kabulkan."
"Ayo dulu agar lebih nyaman bicaranya lagi"
lalu mereka duduk di sofa yang ada di dalam ruangan sedangkan gafin kembali berbaring.
__ADS_1
Bersambung....