Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
kedatangan Renata


__ADS_3

Setelah pembicaran cukuplama baru para polisi itu kemabli, sedangkan lusi yang menunggu di luar sudah sangat kelaparan.


Sesampainya lusi di dalam ia segera duduk dan menaruh piring dan sendok yang ia ambil ,serta minumanya tadi di atas meja. "Apakah para polisi tadi sudah menemukan pelakunya."


"Belum, mereka bilang masih sulit untuk menemukannya karna ia sangat pintar menutup jejaknya."


Tak pama hp Haris bergetar lalu peria itu langsung menjawabnya, dan keluar dari kamar.


"Ayo sudah kita makan, perutku sudah sangat kelaparan."


Andre mengangguk lalu mereka pun segera makan.


...***...


Di sore hari mina tengah membersihkan halaman depan rumah sambil memantau Gafin dan Rangga yang tengah bermian di depan bersama anak tetangga yang susia dengan mereka.


Tak lama sebuh mobil mewah berhenti di depan toko mereka sedangkan mina yang melihat itu sedikit bertanya-tanya.


"Mobil siapa ini."


Tak lama seorang wanita paruh baya turun dengan pakaian sexsinya dan kaca mata hitamnya.


Seketika mina sudah kenal siapa orang itu, dulu mina sangat takut padanya kini sudah tak lagi, ia sekarang lebih berani jika harus melawan wanita seperti Renata.


Renata melepas kaca matanya "Lama tak jumpa wanita Rendahan, sepertinya sekarang kamu terlihat bahagia apa karna sudah bersetatus istri sah Sandra."


Mina tersenyum "Jika memang ia memang kenapa, walau hidup sederhana namun kami sangat bahagia dengan anak dan cucu kami."


"Aku tak punya waktu banyak di tempat kumuh ini, dimana sandr sekrang aku mau menemuinya."


"Memang apa pelu anda dengan suami saya."


"Tak usah ikut campur urusan saya dengan sandra."


"Saya istrinya apa salah bertanya demikan??"


"Diam kamu mina sekarang aku mau menemui sandra."


Renata menerobok masuk ke dalam rumah sedangkan mina menghela napas pelan.


Dan renata pun bertemu dengan sandra di meja kasir toko tengah menghitung pemasukan dari tokonya.


"Sandra kita perlu bicara."


Sandra tanpa menoleh padanya langsung berbicara "Orang yang selalu mersa benar seperti mu selalu saja tak punya sopan santun masuk ke rumah orang, seharusnya anda lebih dulu menyapa nyonya rumah yang ada di depan."

__ADS_1


"Jangan memaksa ku untuk berlutut di kaki wanita barngsek itu."


Sandra melepas kacamatanya lalu menatap tajam Renata "Keluar dari rumah ku."


"Apa kamu mengusir ku!!"


"Ya, memang kenapa, kamu bukan siapa-siapa di sini, jadi keluar lah."


Renata mengepalkan tangannya "Berani sekali kamu mengusir ku."


Kini sandra sudah tak mau menjawabnya lagi sedangkan renata langsung tersenyum miring.


"Apa kamu tak takut jika aku memberitau orang di sekitar sini jika mina itu seorang pelakor."


"Teriaklah, orang-orang juga tak ada yang peduli lagi pula semua orang di sekitar sini sejak awal sudah tau jadi takan ada orang yang peduli dengan terikan mu."


"Sekarang kamu sudah berpihak pada wanita biadap itu."


Harus kenghela napas pelan "Berhenti menyebutnya wanta biadap karna kamu lah yang pantas mendapat gelar itu dan satu lagi buat apa kamu datang kemari, apakah kamu tak memiliki pekerjaan lain, selian mengusik kehidupan orang."


"Sebenarnya aku juga tak mau datang kesini namun demi mendapat hak ku aku mau datang kemari."


"Hak apa lagi buaknkah ketika kita bercerai aku suda membayar kerugian mu dan nominalnya juga tak sedikit sebenarnya apa lagi yang akamu inginkan dari ku."


"Bagian ku, hasil dari penjualan rumah yang ada di ibukota."


"Sandra.."


Pada saat renata akan meanpar sandra tiba-tiba terdengar suara mina.


"Nona mobil anda menghalangi jalan para pengendara motor dan mobil di jalan."


Renata mengurungkan niatnya lalu menunjuk Sandra "untuk sekrang kamu mungkin aman namun untuk besok takan ku lepas lagi."


Renata pergi dengan sombongnya melewati mina, sedangkan wanita paruh baya itu menghampiri suaminya.


"Apa yang ia cari??"


Sandra kembali memeriksa  pekerjaannya "Dia meminta jatah uang hasil dari penjulan rumah."


"Apa dia mendapatkannya??"


"Tidak, lagi pula semua uang itu sudah aku pakai untuk membeli tanah untuk di buatkan kos-kosan dan cabang baru dari toko kita di ibukota."


"Bagai mana nati jika besok ia kembali lagi??"

__ADS_1


Sandara menatap mina "Besok toko tutup kita menyusul lusi ke ibukota."


"Untuk apa kita ke sana??"


"Aku mau melihat tanah yang akan di bangun toko kita itu, kata pelayan di rumah kita yang dulu tempatnya tak jauh dari pusat kota dan dekat sebuah perumahan elit dan aku mau memeriksanya.


Sekalian aku mau melihat keadaan Andre dan tuan lukman setelah oprsinya.


Dulu merekalah orang baik pada ku dan mereka juga yang selalu menolong ku."


Mina tersenyum "Bagus jika kamu masih mengingat kebaikan merek, jika ada orang baik jangan pernah lupakan kebaikan mereka pada mu, karna kalok tak ada mereka kamu takan ada di sini Sekarang."


Sandra menoleh pada mina dan tersenyum "Ya."


Mina yang mendapat senyuman dari sandra langsung salfok dan mulai malu malu.


Sedangkan sandra sedikit terkekah melihat tingkah istrinya itu yang sampai sekarang jika di senyumi seperti itu selau saja malu malu.


...***...


Tak terasa waktu berganti sore pun tiba lusi memutuskan untuk pergi mandi terlebih dahulu dan kali ini mereka sudah berpindah kamar dan yang kali ini ruang rawat VVIP yang diamana di sediakan dua kasur ada kasur untuk pasian dan kasur untuk keluarga pasian yang ingin menginap.


Lesi kini sedang mandi sambil menyanyi dan suaranya bahkan sampai keluar membuat andre yang sedang serius membaca buku langsung menoleh pada arah kamar mandi.


"Asik sekalia mandinya sampai suara nyanyiannya samapi keluar sini."


Dan andre tak pernah menjauhkan pandangannya dari kamar mandi hinga suara shower tak terdengar lagi menandakan jika lusi sudah selesai mandi.


Tak lama lusi keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang cukup pendek namun lusi tak peduli dengan tatapan andre.


Sedangkan andre yang melihat itu menelan ludahnya dengan susah payah "Apa kamu sedang menggoda ku."


Lusu menoleh padanya "Tidak kok aku barusan habis mandi, kamu aja yang otaknya mesum."


"Cowok mana yang gak bakal tergoda kalok ngeliat wanita pakai handuk sependek itu."


Lusi kembuka koper sambil berbicara "Memang kenapa kamu mau, kalok benar sini mumpuang aku beluam mengganti baju ku."


Andre menelan ludahnya, peria mana sih yang bakal menolak jika diawar seperti itu namun mengingat kondisi yang tak bisa terlalu bergerak membuatnya mengurungkan niatnya.


Ia menutup wajahnya "sialan, kenapa pas sakit begini kamu tawar. Tentu saja jawaban ku tak bisa."


Setelah mengambil pakaianya Lusi membalikan badannya menatap andre "Ih sayang sekali anda melewatkan kesempatan istimewa anda, karna ketika aku sudah mengganti baju, sudah gak ada penawaran lagi."


Lusi dengan sombongnya melewati andre untuk ke kamar mandi, karna sebenarnya ia memang sengaja mengerjai andre hanya untuk iseng-iseng.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2