Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Kedatangan Tina dan Darius


__ADS_3

Andreas bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar sedangkan lusi lantas menoleh pada anaknya "Gafin mau di dalam nonton atau turun sama mama dan papa??"


"Sama mama dan papa aja, gafin takut sediri."


"Yaudah mama matikan Tvnya."


Lalu lusi mematikan Tv dan ia bangkit berdiri, di ikuti gafin  lalu ia meraih tangan anaknya dan berjalan pergi.


Di ruang tamu terlihatlah dari jauh suaminya duduk di depan dua orang paruh baya yang duduk di hadapannya dan hanya terlihat punggung mereka dari belakang jika di lihat dari tangga.


Lusi menghampiri andreas "Papa siapa tamu yang datang."


lusi terkejut ketika melihat Tina dan Darius.


"Loh tuan Darius nona Tina."


"Sayang ayo kemarilah, duduk di sebelah ku."


Lusi menghampiri andreas lalu duduk di sebelahnya.


Lalu darius pun mulai memberanikan diri untuk bicara.


"Saya selaku sebagai kepala keluarga sangat menyayangkan hal yang terjadi ini dan kami sangat minta maaf pada anda karna anak saya piter sudah menculik istri anda.


Sebenarnya aku dan istri ku sudah tau jika putra kami itu suka pada isti anda, dan kami juga sudah menegurnya hanya saja ia yang keras kepala seperti mendiang kakenya tak mau mendengar kami."


Dan tina melanjutkan perkataan suaminya "Putra kami yang di larikan ke rumah sakit kemaren mengalami koma dan dokter bilang ia hanya punya sedikit kemungkinan untuk sadar karna peluru itu menembus jantungnya.


Saya harap kebesaran hari tuan andreas dan nona lusi untuk bisa memaafkan anak kami."


Dari suara dua orang tadi terdengar begitu menyedihkan dan di pikiran Andreas pasti istrinya yang terlalu baik itu akan dengan mudahnya memaafkan mereka.


"Mohon maaf sebelumnya nona Tina dan tuan Darius, saya ini bukanlah tuhan  yang dengan mudahnya memaafkan orang.


Saat saya di culik saya dalam kondisi hamil, dan saya di perlakukan bagaikan tawanan di sana, walau hanya sebentar namun itu sudah membuat saya setres.


Nona tina pasti paham karna anda juga seorang wanita, bagai mana rasanya dan jika kandungan saya tak kuat, mungin saja saya bisa saja mengalami keguguran."

__ADS_1


Mereka tampak tak bisa menjawab kata kata lusi dan hanya terdiam sedangkan lusi perlahan meneteskan air mata karna ia kembali mengingat kejadian kemaren.


Dan andreas yang melihat tangisan istrinya lantas langsung memeluknya "Sudahlah, lupakan lah."


"Hik..aku benci mengingat kejadian itu., rasanya aku kehilangan rasa percaya ku pada orang-orang ...hik."


"Tenanglah aku sudah bersama mu, jadi jangan sedih."


Lusi menangis di pelukan suaminya, sedangkan andreas pun berbicara pada dua orang tadi.


"Istri saya bisa memaafkan anak anda, tapi tidak untuk sekarang istri saya perlu waktu untuk melupakan masalah ini dan anda berdua bisa segera kembali."


Darius dan Tina yang tak enak hati perlahan bangkit dari duduk "Maaf karna kedatangan kami membuat istri andra terluka lagi."


Lalu mereka segera pergi sedangkan lusi makin menangis sekencang mungkin dalam pelukan andreas, karna kini kepercayaanya pada orang-orang sudah hancur setelah kejadian ini.


Setelah kejadia  tadi lusi kembali tak mau berbicara dan hanya bengong dan tak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan hingga mereka ke rumah sakit dan dokter yang memeriksa kandungan lusi juga heran.


Lusi sama sekali tak ada berbicara dan ia mengexspresikan kebahagiaannya hanya dengan tangisan dan senyuman.


Dan setelah ber-berapa penjelasan akhirnya selesai namun saat lusi dan andreas bangkit dari duduknya dokter tadi segera menahan andreas.


"Oh, kalok untuk tuan Andreas bertan  lah sebentar ada hal penting yang mau saya bicarakan, sedangkan untuk noan Lusi bolah menunggu di luar."


Lusi mengangguk dan ia keluar dan di luar gafin dan willy sudah menunggu mereka di kursi tunggu depan ruangan "Mama.., loh papa mana??"


Lusi menjawab dengan pelan "Di dalam."


Dan akhrinya lusi mau berbicara lagi walau hanya sedikit,Lusi duduk di sebelah anaknya dan mengelus perutnya pelan.


Sedangkan andreas kembali duduk di bangkunya lalu dokter pun kembali berbicara.


"Mohon maaf sebelumnya istri anda seperti ini sudah sejak kapan??"


"Sebenarnya sejak dari kantor polisi ia begini  namun saat pulang aku mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengajaknya membeli makanan yang ia suka agar ia lupa tetang masalah itu dan itu berhasil, namun tadi pagi orang tua dari tersangka datang dan ia pun kembali mengingat masalah tadi dan meangis."


"Nah karna tuan andreas juga pernah berobat ke psikiater  sebelumnya, jadi saya sarankan untuk membawa istri anda ke dokter itu untuk berobat karna saya hawatir jika hal ini terus terjadi maka akan menghambat perkembangan janin apa lagi istri anda sedang hamil muda.

__ADS_1


Kondisi seperti ini banyak terjadi pada ibu hamil, ada yang di tingal suaminya saat sedang hamil muda dan karan terus kepikiran anakanya sampai tak bisa berkembang dengan baik dan saat lahir mengalami cacat dan ada kasus yang paling parah karna seteres saat hamil muda jadi organ tubuh anaknya ada yang tak terbentuk jadi saat anaknya lahir dalam kondisi sudah tak bernyawa."


Andreas yang mendengar hal itu saja menjadi hawatir.


"Baiklah akan saya bicarakan dulu dengan psikiater yang dulu."


"Jadi hanya itu yang mau saya sampaikan kan pada tuan Andreas."


"Kalok gitu saya permisi dulu dok."


"Ya." Lalu andreas bangkit dan berjalan keluar dari ruang dokter itu dan menghampiri lusi dan gafin "Ayo kita pulang."


"Hem.."


Andreas melirik jamnya "Udaha jam 11 . 436 bagai mana kita mencari makan di luar saja dulu, karna kebetulan ada restoran korea yang terkenal di dekat sini, apa kamu mau ke sana??"


"Terserah kamu saja."


Lalu lusi bangkit dari duduknya dan meraih tangan ankanya.


"Yasudah ayo kita ke sana."


Lalu andreas meraih satu tangan gafin dan mereka berjalan beriringan pergi di ikuti willy.


Dan saat mobil berjalan lusi kembali terdiam ia tak berbicara sama sekali dan menatap jalan.


Sedangkan andreas yang melihat hal itu mulai merasa sedih dan hatinya seperti teriris melihat istrinya yang terus merenung terdiam.


Ia ingian mencoba menghiburnya namun ia tak tau bagai mana caranya, sedangkan ia dulu memang pernah dalam posisi itu namun masalahnya berbeda dan juga cara mengatasinya juga akan berbeda jadi cara terbaik adala pergi berobat ke psikiater.


Tak lama mereka sampai lalu Willy pun memarkirkan mobil mereka di parkiran namun lusi yang bengong tak sadar jika mereka sudah sampai jadi ia masih terdiam hingga andreas nenepuk bahunya.


"Sayang kita sudah sampai."


Seketika lusi sadara dari lamunanya lalu ia segera turun sedangkan Andreas melihat hal itu semakin kasihan pada istrinya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2