
Paginya andreas lebih dulu berangkat kerja karna akan ada rapat di kantornya sedangkan lusi memembantu ibunya membuat bumbu untuk di masak besok untuk acara 40 hari kematian Lukman.
Namun saat akan meminta kemiri, rupanya stok kemirinya habis dan sebenarnya pelayan yang akan pergi untuk membeli namun entah kenapa lusi yang justru kepengen pergi.
"Buk biar lusi aja yang belikan."
"Yang benar aja, nona rumah itu harusnya di rumah aja ngurus kerjaan rumah selagi mertua mu lagi keluar kota, apa lagu kamu itu lagi hamil muda dan di depan sana juga mana ada warung."
"Ibuk entah kenapa lusi lagi kepengan, biasa kelakuan bumil buk.."
"Iya ibuk tau, tapi tetap aja gak aman untuk mu bagai mana nanti jika ada orang yang berniat jahat pada mu."
"Tapi buk.."
Tak lama Sandra datang "Maa, papa ke ATM dulu papa mau transfer uang ke rekening anak buah yang ada di rumah, soalnya katanya ada yang butuh buat lahiran istrinya."
Lusi yang mendengar hal itu terlihat bahagia "Buk tu bapak mau keluar biar lusi ikut sama bapak aja yah."
Mina menghela napas panjang lusi memang kersa kepala kalok di bikang, namun karna ia pergi bersama Sandra mina mungkin akan sedikit tenang.
"Yaudah sana."
Sanda menatap bingung anaknya "Mau ke mana??"
"Mau beli kemiri pa."
"Loh kok malah nyonya rumah yang pergi beli??."
"Ih bapak ni, namanya aja ibu hamil pak."
"Yaudah ayok."
Lalu mereka segera pergi dan di luar terlihat hujan gerimis saat lusi akan menerobosnya sandra menahannya.
"Ambil payung."
"Oh iya hujan gerimis."
Lusi kedalam sebentar lalu mengambil payung di dalam baru setelah itu mereka pergi ke arah mobil yang ayahnya gunakan selama di Ibukota dan mobil itu merupakan pemberian Andre untuk ayahnya.
Mereka menaiki mobil itu lalu segera berjalan keluar dan sandra membuka pembicaraan.
"Kita ke ATM dulu,baru papa antar kamu ke pasar."
"Iya Bak."
__ADS_1
Tak lama terdengar suara pesan dari hp lusi dan gadis itu segera mengambil hpnya dari sakunya dan rupanya ada pesan dari ibunya.
(Nanti sealian beli serai sama daun jeruk yah.)
Dan lusi pun segera membalas pesan ibunya.
(Oke buk, ibuk periksa aja lagi bumbunya jika ada yang kurang langsung kirim pesan ke lusi aja.)
Lalu lusi pun mengerimkan pesan itu.
Lalu lusi menoleh pada ayahnya "Oh iya pak, semalam bapak dan ibuk keluar jalan-jalan??"
"Oh tadi malam bapak di minta ke kantor polisi sama salah satu teman polisi bapak."
"Loh bapak salah bapak apa."
"Itu nisa masuk kantor polisi karna mengendara mobil dengan kecepatan tinggi dan bahkan menabrak seorang hinga mati."
Lusi yang mendengar hal itu terkejut "loh kok bisa.., dan lagi kenapa harus bapak yang di panggil papa sama mamanya mana??"
"Mamanya udah meninggal satu bulan lalu dan bapaknya entah kemana."
Lusi semakin terkejut "Oh jadi Bapak di panggil sebagai perwakilan."
"Ya begitulah, dan dia masih di periksa polisi sekarang dan sekaligus dia mau di perksa kesehatannya."
"Begitulah jadi karna dia seperti itu terpaksa papa yang biayain dia nanti, karna mau bagia mana pun walau gak ada hubungan darah dengannya dia juga anak bapak."
"Ya."
Tak lama mereka sampai di ATM.
"Kamu tunggu di sini saja dulu biar papa yang turun."
Lusi menganguk lalu sandra pun turun dari mobil dan menuju ATM.
Sedangkan lusi mulai memainkan hpnya tak lama sebuah pesan masuk lagi di hpnya.
(Lusi apa kamu ada waktu minggu ini??)
(Oh maaf piter minggu ini aku sedikit sibuk.)
(Bagai mana dengan minggu depan?)
Lusi sedikut bingun kenapa tiba-tiba piter bertannya seperti ini namun ia tetap menjawabnya.
__ADS_1
(Ya mungkin akau akan tidak sibuk emang kenapa??)
(Aku mau mengajak mu ketemuan ada yang mau aku bicarakan.)
(Oke biaklah, tapi aku tak bisa janji jika aku bisa datang sebelum minta izin dulu sama suami ku.)
(Tak papa, tapi jika bisa kabari saja aku)
(Baik)
Dan Lusi tanpa rasa curiga hannya rasa bertanya tannya ada apa dengan piter kenapa dia meminta bertemu dan apa yang mau ia bicarakan.
Namun lusi tak terlau mempedulikanya dan terlihat santai saja, tanpa sadar jika di belakang mobilnya ada mobil hitam juga yang memantaunya dari jauh.
Saat keluar dari Atm tak sengaja mata sandra tertuju pada mobil hitam yang terparkir di belakang mereka namun dari palak mobil itu sama seperti plat mobil yang juga mengikuti mobil lusi mereka kemarin, sandra cepat-cepat masuk ke dalam mobil
"Ayo kita berangkat.."
"Ya pak.."
"Apa kamu pakai sabuk pengaman??"
"Tidak."
"Pakai sekarang.."
Lusi pun memaki sabuk pengamannya begitu juga sandra dan ia langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi dan bahkan lusi sedikit terkejut di buatnya.
Sandra melirik sepion lur mobik rupanya mobil tadi mengikuti mereka ia sengaja belok ke kanan untuk mengecoh dan mereka masuk ke dalam sebuah gang.
Sedangkan mobil hitam tadi ikut belok kanan namun tak menemukan mobil Lusi dan mengira jika mereka sudah berjalan terus jadi melajukan mibilnya terus.
Sedangkan Lusi merasa anah dengan sikap bapaknya "Bapak kenapa sih, kalok mau ke pasarnya belok kiri bukan belok kanan"
"Maaf papa lupa ayo kita putar balik lagi."
Sandra tak mau berkata jujur karna ia tak mau anaknya itu akan ketakutan jadi ia terpaksa berbohong.
Guma sandra dalam hati "Siapa sebenarnya orang tadi kenapa ia mengikuti kami dan nomor plat mobilnya juga nomor yang sama seperti yang istri ku jelskan."
Karna sebenarnya kemarin tadi ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mobil yang di tumpangi mina, Gafin,willy,Rangga lusi dari belakang dan Mina sadar itu namun mobil itu sedikit memberi jarak dengan mobil mereka dan bahkan saat ada mobil putih yang melaju cepat itu juga mina tau itu sebabnya saat lamu hijau mina meminta willy untuk cepat cepat jalan.
Namun walau terhindar dari mobil putih namun mobil mereka masih di kuti oleh mobil hitam tadi yang membuat Mina curiga jika itu sorang wartawan, dan malamnya ia pun langsung memberi tau Sandra
Namun bagi Sandra itu tak mungkin wartawan karna jika wartawan seharusnya saat mereka di super market mereka seharusnya sudah di hampiri untuk di minta keterangan tentamg hubungan mereka dengan keluarga andreas mamun nyatanya tak ada dan sandra curiga jika itu adalah seorang penguntit dan ia juga curi yang di incar bukan Gafin melaiankan lusi.
__ADS_1
Bersambung...