
Besoknya Haris memberitau dokter jika lukman bersedia di oprasai dan para doakter kini sedang menyapkan apa saja prosedur yang akan di lakukan terlebih dahulu.
Sedangkan yang lian menunggu dan pada jam 2 siang akhirnya persiapan selesai dan lukman di bawa ke ruang oprasai sedangkan yang lainya menunggu di luar.
Di saat itu Tuhan Seakan menguji iman lusi, karna di sana ada Zahra , mantan ibu mertuanya dan Reno.
Namun untngnya andre yang sadar langsung membantunya untuk mengalihkan pemikirannya dengan bicara banyak hal.
Dan setelah 3 jam menunggu akhirnya oprasinya selesai dan berhasil jadi Lukman di antar langsung ke ruang rawatnya .
Dan karan sudah sore andre, lusi dan Gafin terlebih dahulu pergi untuk mencari makan malam sambil menunggu lukman Bangun.
Mereka makan di sebuah tempat makan cepat saji yang kebetulan tak jauh dari situ.
Selama andre pergi memesan lusi bermain dengan Gafin karna andre tadi juga membelikan mainan untuk anaknya agar dia tak bosan pada saat di rumah sakit.
Namuan lusi sejujurnya tak nyaman karna ada Empat mata yang melihatnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah reno dan Zahra yabg mengikuti mereka.
Guma lusi dakam hati "Ni orang nyebelin amat sih, kan aku kesini niatnya agar terbebas dari mereka, lah malah pada ngikut."
Tak lama andre datang lalu segera duduk "Aku sudah pesan makanannya."
Lusi menatap mata andre "Apa mereka melihat pada kita."
Andre melirik belakang lusi, dan ia baru sadar jika ada Reno dan Zahra.
Ia kembali menoleh pada lusi "Gak usah di pedulikan, biarkan saja."
"Iya aku tau, tapi kalok begini terus gak nyaman."
"Trus kamu mau pindah?"
"Makan di mobil saja."
"Baiklah tunggu dulu sebentar biar ku beritau embaknya kalok makanannya di bungkus saja."
Lusi mengangguk sedangkan andre segera pergi dan memberi tau.
"Mama Gafin mau pipis."
Lusi melirik anaknya "Tahan dulu sebentar nanti pergi sama papa gafin aja."
Gafin mengangguk dan benar saja tak lama andre datang "Andre anak mu mau pipis tolong kamu antarkan."
Andre mengangguk lalu mengangkat anaknya lalu mengantarnya menuju towilet.
Tak bersalang lama tiba tiba punggung lusi di tepuk lalu ia pun kenoleh ke belakang.
Ruapanya Zahra yang terliha menatap tajam dia.
__ADS_1
"Kita perlu bicara sebentar."
"Biacralah aku akan mendengarnya."
"Tapi tidak di sini."
"Memang kenapa??, apa kamu takut aku permalukan??"
Zahra mengepalkan tangannya "Jaga omongan mu kamu itu bukan siapa siapa di hadapan ku."
"Meamang kamu siapa yah??, presiden??, mama saya??, nenek saya??"
Zahra yang terbawa emosi menunjuk wajah lusi dan berbicara dengan suara yang kecil namun tegas "Diam kamu!!"
Walau demikian meja sebelah lusi dapat mendengar lalu menoleh pada mereka, sedangkan Zahra yang sudah malu menarik paksa lusi sedangkan lusi hanya menurut saja di tarik secara kasar olah Zahra agar menjadi pusat perhatian di situ.
Zaha membawa lusi ke luar yang kebetulan tidak terlalu ramai pejalan kaki.
"Apa hubungan mu dengan andre??"
Lusi tersenyum miring "Loh kenapa kepo, mau gua istrinya lagi, pacaranya apa hubungannya dengan mu??"
"Dia itu cuman milik gua, kamu jangan sok sok beri harapan padahal kamu yang mau memanfatkan dia."
Lusi tertawa "Ahahah, kata kata mu lucu sekali."
Dengan suara yang lantang "Apa yaag kamu tertawakan tak ada yang lucu!!!"
Tapi kasihan sekali suaminya gak naik jabatan juga setelah derama perselingkuhan, paliang cumana dapat malu aja."
Lusi tertawa sedangkan zahra yang marah ingin menampar lusi namun dengan cepatnya lusi menahanya , memang tubuh lusi kecil dan pendek namun kekuatannya lebih kuat dari Zahra.
"Sekarang apa kamu mau menampar ku, kenapa kerjaan mu itu nampar mulu sih gak ada yang lain apa??"
"Lepaskan tangan ku."
Lusi melepaskan tangannya lau ia menunjuk Zahra.
"Ingat yah,walau hari ini setatus ku dengan andre hanya mantan suami dan mantan istri.
Namun buakan berarti besok akan tetap sama, bisa saja kami rujuk lagi secara kami sudah memiliki satu orang anak yang masih dalam masa pertumbuhan yang perlu kedua orang tuanya untuk tumbuh kembangnya."
Zahra terdiam tak lama terdengar suara andre "Sayang ini makananya sudah jadi."
Lusi menoleh ke belakang zahra sambil tersnyaum "Ya."
Lalu lusi menghampiri andre dan mengambil makanan tadi, sedangkan Zahra lantas menoleh ke belakang dan ia iri dengan lusi yang di perlakukan bagaikan permata oleh andre.
Ketika lusi dan andre sudah menaiki mobil baru sifat asli lusi kemali.
__ADS_1
"Lainkali jangan sebut aku sayang aku benci di sebut seperti itu."
Andre tersenyum"Loh kan siapa tau setatus kita besok berubah menjadi suami istri kana kita gak tau jadi biasakan aja lah."
"Amit amit gua balikan sama kamu. Mending jadi single mom seumur hidup."
Andre tertawa "Tapi kata kata mu tadi manis lo, aku bahkan sampai tersentuh mendengarnya."
"Berisik ayo sudah jalan aku sudah lapar kita makan di parkiran rumah sakit aja."
Andre pun menjalankan mobil sambil tersenyum sedangkan lusi merasa kini moodnya sangat buruk ingin sekali ia cepat cepat pulang karna tak tahan.
Tak lama terdengar suara Gafin "Mama ini suka marah sama papa, memang papa salah apa sama mama??"
Lusi terkejut dengan jawban anaknya "Apa sekarang kamu lebih membela papa mu dari mama mu??"
Gafin menggeleng "Tidak, hanya saja kalok mama marah sama papa berisik."
Lusi sangat gemes ingin mencubit putranya itu namun berusaha ia tahan.
Andre tersenyum "Gafian mama mu seperti itu karan ada adik mu di dalam perutnya jadi suka marah marah gitu."
Lusi terkejut dengan perkataan andre sedangkan gafin juga ikutan terkejut "Apa gafin akan punnya seorang adik??"
Lusi dengan cepat membantah"Gak.Andre jangan sebarang bicara."
"Loh aku tidak sebarang ngomong kan memang di perut mu ada sel telurnya nanti bibitnya dari aku."
"Diam, jangan sembarang bicara kamu."
Sedangkan agfin mulai bertanya r
tannya "bibit itu apa papa??"
"Gafin.."
Andre tersenyum "Bibit itu seperti benih yang kita tanam di tanah untuk menghasilkan tanaman, sedangkan bibit yang papa maksud itu berbeda dengan bibit yang di tanam namun sama-sama membuahkan hasil, ia akan akan terjadi ketika bibitnya bertemu dengan Sel telur dan jadilah seorang bayi."
"Sel telur itu apa lagi??"
"Nanti ketika kamu besat kamu akan tau.".
Lusi memijat pelipisnya yang pusing memikirkan apa yang andre dan anaknya bicarakan "Memang kamu ini sudah sesat yah, ngajarin anak yang enggak bener."
"Loh kan aku cuman ngasih contoh."
"Tapi tetap aja kamu nyebelin."lusi memalingkan wajahnya menghadap jalan
"Loh kok malah marah."andre berusaha menahan tawanya
__ADS_1
Bersambung...