Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Menyesal


__ADS_3

Andras terbangun dari tidurnya pada saat ia melihat sekitar rupanya ia berada di kamarnya yang ada di mansion.


Dan tanganya bahkan kini sedang di infus, seketika ingatanya teringt dengan lusi.


"Seharusnya malam itu kita menginap di kamar ini, dan aku sangat menyesal karna sudah kabur dari mu, dan menikuti petkataan ular itu untuk mencerikan mu"


Ia menutup wajhnya dengan kedua tanganya.


Tak lama pintu terbuka pada saat ia menoleh rupanya Aries sahabatnya.


"Rupanya kamu sudah bangun."


Aries berjalan mendekat padanya "Bagaimana perasaan mu apa sudah lebih baik??"


Andre mengangguk "Ya. Apa di luar ada lusi, aku mau bicara denganya sebentar, aku dengar kakek membawanya ke sini."


Aries terkejut "Ku kira kamu tau."


"Soal apa??"


Aris menghela napas pelan "Lusi sudah kabur entah ke mana, sekarang kakek memerintahkan berberapa orang untuk mencarinya.


Sepertinya ia sakit hati setelah di ceraikan oleh mu"


Andreas yang mendengar hal itu terkejut "Apa maksudmu,dia kabur!!."


Jantung andreas seakan tertusuk jarum, dan pikirannya mulai tak tenang begitu juga dengan perasaannya.


Gumanya dalam hati "Lusi kenapa kamu harus pegi, apakah sesakit hati itukah kamu kepada ku.


Bagai mana dengan anak ku nanti.."


Aries berbicara lagi "Itulah yang kakek mu hawatirkan, bagai mana nanti jika ia benar beanr lahir dengan difabel, bukankah mental anaknya akan di pertaruhkan ketiak dewasa."


"Apa maksud mu, terlahir dengan difabel."


Aries menatap kesal Andre "Hey bodoh, setelah menendang kuat istri mu kamu kira anak mu di dalam sana tak terluka juga??"


Andreas terdiam ia tak menyangak jika dia telah tanpa sadar sudah menyakiti anaknya sendiri.


"Jika memang benar ia terlahir dengan difabel apa yang akana terjadi."


"Ia akan mengalami cacat entah di manya aku tak tau pasti keculai anaknya sudah lahir baru kita dapat mengidentifikasinya."


Andreas menjambak rambutnya sendiri "Sialan.., kenapa aku sebodoh ini."


"Makanya sudah ku beritau sejak dulu jika wanita itu memang gak baik dan tak cocok untuk mu, entah kenapa kamu tak mau mendengar.

__ADS_1


Padahal udah punya istri cantik, baik dan penurut masih aja mantan yang paling manis."


"Itu lah kebodohan ku aries,aku sangat meyesal sekaligus merasa bersalah karna telah menjadi ayah yang buruk untuk anak ku."


"Nasi sudah menjadi bubur, mau bagai mana lagi kita tak bisa mengubah waktu lagi.Dan hanya bisa berharap pada tuhan semoga ia akan baik baik saja di sana."


Setelah mengetahui kenyataan itu Andreas pun kini mulai memperbaiki dirinya, ia pergi meminta maaf pada Radit.


Uantungnya peria itu langsung memaafkannya, namun karna andre sudah terlanjur kembuat kesalahan membuat ayahnya bimbang untuk menyerahkan prusahaan padanya.


Namun andreas tak berhenti sampai situ ia tetap berjuang untuk bekerja yang di mana seluruh uang hasil kerja kerasnya selalu ia bagi dua, dimana untuk kebutuhanya dan satunya ia sisihkam untuk anaknya yang sampai sekarang belum ketemu juga.


Seolah hilang seperti ditelan bumi bersama Lusi, namun Andreas tak menyerah ia tetap berjuang walau ada waktu dimana ia lelah maka ia akan menangis di dalam kamar sambil mlihat foto pernikahannya dan lusi


Dan bahkan ia selalu menolak ketika ayahnya ikan menjodohkanya, karna dia hatinya masih ada Lusi ia tak bisa menerima wanita selain lusi di hatinya.


Dan tak terasa 5 tahun pun berlalu dan anak Andre dan lusi kini sudah berusia 4 tahun, usianya tak begitu jauh dengan adik lusi hanya beda berberapa bulan saja.


Namum bedanya jika adik laki-laki lusi terlahir dengan sehat sedangkan anak laki-laki lusi harus mengalami kebutaan yang membuatnya tak memiliki teman.


Sehingga sering menghabiskan waktu di rumah, walau demikan ia selalu tau tentang dunia luar dari adil laki-laki lusi yang selalu menceritakan banyak hal padanya yang membuatnya selalu tersenyum dan berharap untuk bisa melihat.


Di sebuah ruko yang cukup besar yang dimana tempat Lusi dan ayahnya membuka usaha barang grosir yang selalu rami pembeli bukan hanya dari kota namun juga dari pelosok atau pedesaan.


Ruko itu memiliki dua lantai yang dimana lantai dua tempat mereka tinggal, dan lantai satu untuk berjualan.


"Mas ini notanya dan totalnya segini."


"Baiklah." Peria itu mengelurkan dompet dari sakunya lalu segera membayar lalu ia pun segera pergi.


Tak lama terdengar suara dari jauh "Kakak lusi, Rangga dapat bintang 4, coba kakak lihat."


Lusi melihat adiknya rangga yang berlari menghampirinya sambil membawa buku gambarnya sedangkan di belakang terlihat ibu dan putranya Gafin tengah berjalan sambil bergandengan tangan.


"Rangga jangan lari lari.."


Rangga tak mempedulikan ucapan ibunya dan tetap mendekat kakaknya lalu memberitau nilainya.


"Lihat aku hebat kan.."


Lusi melihat hasil gambar adiknya "Ya, gino dong. Besok besok nanti jadwal main mu kakak kurangin biar kamu belajar lagi, biar dapat bintang 5."


Rangga yang mendengar hal itu terkejut "Loh kok malah dikurang lagi sih, bukankah kakak janji kalok dapat bintang tinggi jam belajarnya bakal dikurangin."


"Loh kakak mana ada salah, ini lo nilainya 4 bintang sedangkan yang paling tinggi itu bintang 5 kamu tau gak."


LusiĀ  menjentik jidat adiknya pelan sedangkan Rangga lantas marah.

__ADS_1


"Kakak jahat, aku lapor ke bapak baru tau rasa kau."


Rangga berjalan pergi sambil menghentakan kakinya keras pada lantai sedangkan lusi yang melihat kepergian adiknya berusaja menahan tawa.


"Asata Rangga kakinya itu."


Tiba-tiba Gafin melepas tangan neneknya lalu meraba sampingnya "Mama di mana..."


Mina yang melihat itu ingin membantu cucunya namun lusi langsung menarik tangannya dan mendekatkan dia padanya.


Ia mengangkat anak itu ke atas pangkuannya.


"Ibuk kedalam aja dulu, takutnya nanti Anak bawel itu mencari ibuk nanti."


Mina mengangguk "Ibu masuk dulu." Lalu mina mendekat sebentar pada Lusi untuk mencium cucunya setelah itu ia pun pergi.


Setelah kepergian Mina lusi lantas melirik anaknya "Gafin mau ngomong apa sama mama??"


"Itu mah gafin mau sekolah juga sama kakak Rangga apa boleh??"


Lusi yang mendengar hal itu merasa kasihan pada anaknya yang tak bisa mersakan rasanya bersekolah seperti anak lainya.


"Mama mau tanya dulu, sekarang umur Gafin berapa tahun??"


Gafin mengangkat empat jarainya "Empa tahun ma."


"Orang sekolah umur berapa??"


"Lima tahuan mama."


"Itu berarti gafin masih belum cukup.."


"Gafin belum cukup umur, lalu kapan Gafin akan bisa sekolah??"


"Pada saat Gafin sudah umur 5 tahun."


Gafin yang mendengar hal itu begitu bahagia "Ye bentar lagi Gafin akan sekolah kayak kakak Rangga."


Tiba tiba wajah lusi terlihat sedih ia ingin sekali menangis namun ia harurs berusaha tegar untuk anaknya.


Dan sebenarnya ia dan ayahnya sudah merencanakan untuk menyekolahkannya ke sekolah luar biasa yang dimana orang-orang yang bersekolah disana adalah anak yang memiliki kekurangan seperti dia.


Namun karan terhambat biaya jadi mereka sangaja ngeles masalah umur agar Gagin tak sering bertanya. padahal umur segitu sudah bisa masuk TK.


Guma lusi dalam hati "Maafkan mama yah sayang, mama tak bisa mengabulkan semua keinginan mu."


Mata lusi berkac kaca namun ia masih berusaha menahan tangisnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2