
Sesampinya Andre di bandara kota Q Radit langsung menjemputnya karna sebenarnya iyalah yang meminta radit ke kota Q untuk memeriksa proyek hotel baru miliknya karna ia masih banyak prkerjaan.
Namun ketika mendapat kabar jika ada berita tantang lusi disana membutanya ingin segera ke sana.
"Radit kita langsung temui saja orangnya."
"Baik tuan, dan karna narasumbernya ada dua jadi anda mau yang kemana dulu, mau yang dekat atau jauh."
"Yang dekat saja dulu."
Lalu mereka menaiki mobil dan Radit segera membawa mereka pergi selama perjalanan Andre merasakan jantungnya berdebar kencang ia tak sabar untuk bertemu dengan Lusi.
Pada akhinya mereka sampai di depan sebuah tempat makan yang tutup dan di depannya terdapat seorang nenek tua yang tengah duduk.
"Apa ini tempatnya Radit??"
Radit menjawab "Kata mereka yang mendapat info jika nenek yang di depan tempat makan itu yang tau mengenai lusi.
Andre melirik ke luar dan ia sedikit tak percaya jika nenek itu tau mengenai lusi, namun tak salah jika tidak mencoba.
Ia turun bersama Radit lalu ia menghampiri nenek itu"Halo nek. Saya mau bertanya apa anda Pernah bertemu dengan wanita ini."
Radit menunjukn foto lusi dan nenek itu langsung tersenyum malu-malu pada Radit.
Sedangkan Andre yang melihat hal itu sedikit geli, dan berguma dalam hati "Apa benar dia tau, atau dia hanya mengada-ada karna melihat Radit."
"Sini biar nenek kasih tau tempatnya."
"Terima kasih nek."
Nenek itu bangkit dari duduknya lalu berjalan sedangkan andre ragu untuk mengikutinya namun karna Radit terus memaksanya jadi ia ikut.
Mereka masuk ke dalam sebuah gang dan nenek itu menuju ke sebuah rumah kevil,Lalu ia pun masuk ke dalam rumah.
Di firasat Andre sudah buruk "Apa dia benar benar menuntung kita atau dia mencoba kembohongi kita."
"Tunggu saja tuan."
Mereka menunggu di depan rumah itu ada sampai 1 jam namun nenek itu belum keluar, hingga terlihat seorang warga yang lewat "Loh bapak bapak ngapain berdiri di depan rumah nenek lusi."
Andre terkejut "Itu nama cucunya atau nama dia??"
"Itu nama dia, dia itu ODGJ jika kalian dia ajak begini jangan mau paling sekarang dia tidur di rumahnya."
__ADS_1
"Apa.."
Warga itu tersenyum lalu memberi tau mereka dengan membawa mereka ke depan rumah lalu ia membuka pintu rumah itu dan terliat nenek lusi tengah tidur di kasurnya.
Andre memijat pelipisnya sedangkan radit mulai merasa bodoh karna sudah tertipu olah ODGJ.
Lalu mereka memutuskan untuk kembali dan selama perjalanan andre terus saja mengomel karan kesal menuggu di depan rumah orang gila hanya karna info yang gak jelas itu.
Pada saat mereka sudah di jalan Andre masih merasa kesal dan Radit kenemukan orang yang menjul minuman dingin dan kebetulan ia haus jua.
"Tuan saya beli minuman dingin dulu, habis itu kita ke temapt yang satunya." Andre hanya diam.
Radit menyebrang jalan itu menuju penjual minuman di seberangnya sedangkan Andre menunggu dia di sana. Tak lama terdengar rombongan anak yang menyusuri jalan dan pakaian sekoakh mereka juga basah. Dia antara anak dewasa itu ada seorang anak kecil di anatara mereka kira kira usianya mungkin 5 tahun.
Ketika mereka melewati Andre, mereka lang sung mengejeknya "Om janggot.."
Dan yang lainya juga seperti itu sedangkan Andre berusaha menaha amarah.
Namun karna ejeka mereka semakin parah andre pun mencoba untuk menangkap salah satu dari mereka, dan dan mereka langsung menghindar dan berhasil lari dan yang tetangkap adalah yang paling kecil .
"Sekarang kamu mau kemana, setelah mengejekku sekarang kamu mau lari."
"Om jangut lepasin Rangga rangga mau pulang."
"Lepasin dak, kalok gak nanti Rangga laporin bapak biar om tau rasa."
"Benar kah, lagi pula jika bapak mu tau kamu pulang basah basahan kamu pasti akan di marahin dan bukan aku."
Rangga yang kesal mulai menendang Andre dengan kaki kecilnya dan andre hannya berusaha menahan tawanya melihat tingkah bodoh Rangga.
"Itu tidak sakit sama sekali."
Rangga yang kesal menggertakkan giginya dan berencana mengelurkan jurus pamungkasnya untuk menggigit Andre namun Radit sudah menyebrang lagi lalu andre melepas tarikan tangannya dan Rangga langsung kabur.
Ia berlari sekencang kencangnya karna sebenarnya ia juga mau menangis karna Andre namun di tahan agar ia tak terlihat lemah.
Ia berlari kearah ruko dan saat itu sedang banyak pembeli membut lusi sibuk di luar sedangkan di dalam Mina bermain dengan Gafin .
Tanpa basa basi Rangga melewati para pembli dengan baju basahnya sambil menangi.
Dan lusi yang meliaht hal itu terkejut sekaligus ingin marah namun karan masih banyak pembeli yang membuat ia mengurungkan niatnya.
Rangga menaiki tangga rumah
__ADS_1
"Ibuk..."
Rangga tanpa basa basi langsung memeluk mina yang tengah duduk dengan pakaian basahnya.
"Astaga rangga ada apa??"
"Buk itu ada orang jahat yang mau tangkap rangga, rangga takut buk..hik"
"Makanya ibuk bilang jangan sukai main jauh- jauh, dan lagikan ibuk udah bilang habis pulang sekolah itu bajunya di ganti dulu baru main terus lagi kenapa baju mu basah begini?"
"Itu buk rangga tadi mandi ke kali sama teman teman.".
"Astaga rangga kamu mana bisa berenang malah ikutan ke kali, mulai besok rangga gak usah ikut gitu lagi, oke??"
Rangga mengangguk lalu mina pun menghapus air mata anaknya itu.
"Udah jangan nagis lagi lain kali main depan rumah aja dan jangan ke kali lagi bahaya. Atau tidak main sama Adek Gafin."
Rangga mengangguk "Rangga main sama dek gafin aja sudah." Lalu ia melepas pelukan ibunya dan berjalan ke ruang ganti baju.
Sedangkan gafin yang pensaran mulai bertanya "Nek,Gafin masih boleh bermai keluar??"
Mina tersenyum "Tentu saja boleh tapi syartanya harus minta izin dulu."
Gafin menangguk sambil tersenyum.
Malamnya ketika akan tidur seperti biasa ia kan memeluk lusi.
Gafin meraba wajah lusi "Seperti apakah wajah mama, Gafin sangat ingin tau."
Lusi tersenyum "Tentu saja mama mu ini sangat cantik, begitu juga dengan pangeran kecil mama."
"Gafin tidak cantik mama tapi gafin itu tampan seperti papa Gafin."
Lusi seketika terdiam karna sangat jarang anaknya mau berbicara tentang sosok seorang ayah di hadapan lusi namun kali ini ia menyebutnya lagi.
Yang membuat hati lusi terasa teriris luka lama kembali lagi ketika anaknya menyebutkan mengenai sosok seorang ayah.
"Mungkin saja, sekarang Gafin tidur. Nanti mama ceritakan dongen buat gafin"
Anak itu mengangguk lalu lusi pun mulai menceritakan dongeng untuk anaknya.
Bersambung.....
__ADS_1