Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Alasan


__ADS_3

Seperginya andres dari rumah baru rasa mual mulai Lusi rasakan ia memuntahkan seluruh makan yang ia makan tadi, dan itu terjadi selama satu 1 jam sehingga yang keluar tinggal cairan bening dan lusi sudah tak sanggup lagi.


"Kenapa harus terjadi lagi hari ini." lusi mengelus pelan perutnya.


Entah hari ini ia sudah tak sanggup lagi, dan karna kebetulan dia juga tadi membawa hpnya dan kebetulan juga Radit sudah tau rahasianya jadi tak takut meminta tolong padanya.


Lusi menelfon Radit dengan tangan yang gemetar ia menekan nomor terlfon peria itu hingga bisa tersambung.


Sedangkan Radit berada di ruang Andres dan mereka terlihat sedang serius berbicara dengan seorang peria yang kini sedang duduk di hadapan andreas dan ia di jaga olah dua orang satpam di kanan dan kirinya.


Andreas menatap tajam dia "Sudah banyak bukti yang menunjukan jika kamu.."


Perkataan Andreas terhenti ketika hp Radit bergetar.


Dan semua mata tertuju padanya begitu juga dengan andreas sedangkan Radit segera mengangkat hpnya dan ia sedikit terkejut ketika tau yang menelfon adalah Lusi.


Guma radit dalam hati 'Tumben sekali nona menelfon.'


Lalu andres pun menjawab telfon itu "Halo ada apa nona."


"Radit ku mohon cepat pulang.., aku sungguh sudah tak kut lagi.." suara lusi terdengar lemah dan radit yang mendengar hal itu mulai panik.


"Jangan sampai andeas tau keadaan ku.., saat ini aku dirumah sediri, seluruh pelayan sudah pulang..."


Radit yang mendengar hal iti lantas menoleh pada Andreas.


"Tuan apa boleh saya pulang sebentar??"


Andreas tampak kesal "Ada apa lagi!!"


Radit berusaha tersenyum "Itu tuan nona di tinggal sendiri di rumah, nona meminta ku untuk menemaninya"


"Kamu bisa menelfon kepala pelayan untuk menemaninya."


Radit mulai panik ia tak tau harus memberi alasan apa hingga sebuah ide terlintas pada pikiranya.


"Saya juga mau sekalian buang air besar di rumah tuan."


Andreas yang mendengar hal itu mulai terlihat bingung hingga Radit kembali menjelaskan.


"Bukankah tuan tau sendiri jika kamar mandi kantor tak sama seperti kamar mandi di mansion yang punnya semprotanya."


Untung saja yang dengar hanya andreas jadi Radit tidak terlalu malu berbicara masalah hal itu.

__ADS_1


Andreas memperlihatkan muka kesalnya "Baiklah, pergilah dan pangilkan julius untuk ku."


Radit mengangguk lalu ia segera keluar dan untungnya ketika di luar is berpas-pasan dengan julius yang datang dengan membawa kopi.


"Eh baru aja mau di cari udah nongol aja."


Julis tersenyum"Kamu buru-buru mau ke mana??"


"Aku pulang sebentar, oh tadi juga tuan meminta ku untuk memanggil mu."


Julius mengangguk lalu ia mengambil salah satu kopi dan di berikan pada Andreas.


Radit meamgambilnya lalu segera pergi, sedangkan Julius langsung masuk ke dalam ruangan Andreas dan ia langsung di kejutkan ketika sebuah leparan vas bunga melewati sampingnya.


"Jangan banyak alasan kamu."


Julius sudah tau itu pasti perbuatan andreas lah yang melempar vas bunga.


Untungnya mansion dan kantor tak terlalu jauh, jadi Radit dengan cepat sampai ke mansion dan tanpa basa basi ia langsung ke kamar Lusi dan andreas.


 


"Nona apa anda ada di dalam??"


Radit segera ke kamar mandi dan ia menemukan lusi yang terlihat terduduk sampaing closet namun karna tak sanggup lagi muntah di dalam sana ia justru memuntahkanya di sebelahnya karna ia sudah tak memiliki tenaga lagi.


Radit dengan panik menghampiri lusi "Kita kerumah sakit nona."


Radit mengangkat lusi lalu segera membawanya keluar dari rumah, wajah lusi terlihat sangat pucat.


"Kamu kenapa lama sekali, aku hampir saja akan pingsan di dalam sana hanya karna menunggu mu."


"Maafkan saya, tapi saya harus memberi alasan untuk bisa pulang."


Lusi tak mau lagi menjawabnya karna rasanya mau muntah namun berusaha ia tahan.


Radit mendudukan lusi ke bangku tengah.


"Radit apa di dalam mobil ada keresek, sepertinya aku mau muntah lagi."


Radit semakin bingung kana di mobila taka ada keresek sedangkan jika ia ke dalam lagi akan lama untuk mencari.


Lalu ia teringat sesuatu lalu segera menutup pintu tempat lusi dan kembali ke kursi kemudi lalu ia pun kenuangkan isi dari gelas kopinya keluar lalu di berikan pada lusi.

__ADS_1


"Sementara di sini saja nona, aku akan segera melajukan mobil kita ke rumah sakit."


Lusi menerima gelas kopi itu lalu di dalamnya ia muntah lagi.


Lalu radit segera melajukan mobilnya pergi.


Dan butuh waktu setengah jam baru mereka sampai ke rumah sakit itu pun lusi sudah tak berdaya lagi ia hannya bisa merebahkan tubuhnya dan perutanya sudah terasa begitu sakit.


Ia untungnya segera di tangani olah dokter jadi lusi di suntikan penguat kandungan dan ia jua di infus.


Dan radit juga di beri berapa nasehat dan juga saran serta resep obat untuk mengatasi mual ibu hamil seperti lusi.


Setelah dokter pergi, saat ini Radit menatap tajam lusi sedangkan wanita itu justru membelakanginya karna tak mau melihat Ekspresi Radit yang seperti akan mengomelinya.


"Sudah sejak kapan nona mengalami mual seperti ini??"


"Baru satu minggu ini, tapi sebelumnya aku baik baik aja kok, aku tidak bohong, cuman ini aja yang parah."


Radit menghela napas pelan  "Untung saja aku segera membawa nona kerumah sakit, kalok tidak entah apa yang akan terjadi pada  anak dari tuan dan nona."


"Berisik, aku mau tidur sana kamu telfon saja tuan mu  dan katakan jika kamu menemaniku berjalan jalan melihat kota, jangan sampai kamu beritahu dia kalok aku sedang berada di rumah sakit."


Radit menghela napas pelan "Apa nona mau makan sesuatu juga sekalian biara ku belikan, saya tau nona pasti tak suka makanan  rumah sakit."


Lusi lantas menoleh ke belakang "Tolong dong belikan aku nasik goreng sama  Es campur.."


"Giliran di tawar makanan langsung semangat, baiklah akan saya belikan. Nona istirahat saja dulu."


Lusi mengangguk sedangkan Radit segera keluar lalu ia pun menelfon Andreas.


"Halo, ada apa??"


"Tuan maaf saya belum bisa kembali ke kantor karna nona meminta saya untuk menemaninya berjalan jalan keliling kota."


"Astaga kelakuan gadis itu, yasudahlah tak papa jaga baik baik dia jangan mau dia pergi sendiri, selalu temanilah dia.."


"Ya tuan." Lalu pangilan itu berakhir .


Radit tersenyum "Ketika menyangkut keinginan nona Tuan tak pernah marah, mungkin jika tuan tau mengenai anaknya ,mungkin saja apa pun yang di inginkan nona akan di wujutkan.


Aku jadi penasaran bagai mana reaksinya, karan dia yang akan menjadi orang pertama di gerup yang akan menjadi seorang ayah."


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2