
Setelah satu hari dirumah sakit dan menghabiskan dua botol infus akhirnya demam Gafin turun dan mereka sudah di perbolehkan untuk pulang, malam itu mereka segera kembali.
Selama perjalanan gafin terus saja merengek pada andre untuk di belikan donat yang kemaren sedangkan lusi yang medengar rengekannya ingin sekalia marah namun berusaha di tahannya, lusi merasa selama Gafin dengan ayahnya,ia terus semanja ini pada ayahnya.
"Papa gafin mau donat yang kemaren.."
"Iya sabar dong ganteng ini masih di jalan kesana, tempatnya cukup jauh jadi gafin tunggu saja."
Gafin pun terdiam lalu lusi menghela napas pelan "Selama dia tinggal bersama mama kamu dulu ia tak pernah semanja ini. Namun sejak kamu bersama papa, ada-ada aja maunya. Apa kamu gak pikir papa mu itu juga perlu waktu istirahat bukan urusan kamu aja yang di urus."
Gafin yang mendengar ceramah mamanya ingin sekali menangis, ia pun memeluk mamanya "Maafkan gafin maa"
Andre tersenyum "Lusi, sudalah jangan memarahinya, apa salahnya permintaannya kita turuti lagi pula aku gai capek capek amat dan pekerjaan ku di kantor juga tak terlalu banyak."
Lusi menghela napas panjang "Sudahlah jangan di bahas lagi, aku capek mau tidur aja rasanya."
"Kalok gitu tidurlah nanti aku dan gafin yang pergi beli."
Lusi mengangguk lalu ia mulai tertidur dan wajahnya menghadap pada kaca.
Dan setelah 15 menit berlalu akhirnya mereka sampai "Gafin apa kamu kamu ikut papa turun."
Gafin mengangguk lalu andre memindahkan gafin padanya baru dari pintunya mereka turun dan pergi membeli.
Saat mereka masuk sepasang kekasih keluar namun mereka terlihat bertengkar sedangkan andre dan gafin langsung memesan.
Lusi yang merasa tak ada kebaradaan anaknya sontak terbangun namun ketia melirik sebelahnya andre juga tak ada "Astaga aku lupa jika dia pergi dengan papanya."
Tak lama terdengar suara dari luar "Nisa sekarang jelaskan pada aku sipa peria itu."
Terlihat dari jauh seorang peria berusaha memegang tangan seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian seksi.
"Dia kekasih baru ku." Nisa berhenti lalu membalikan badanya.
Sedangkan lusi dari dalam mobil sudah dapat menebak siapa wanita itu dan peria di sebelahnya.
"Tak ku sangka jika aku akan bertemu dengan kakak nisa di sini, apa mungkin itu kekasihnya yang belasteran bulek itu."
Sandi menatap sendu nisa"Tapi kenapa kamu dengan teganya menghianati ku."
"Maaf tapi kamu kurang kayak bagi ku, dan kita tak mungkin bisa bersama. Yang ku butuhkan itu hanya uang bukan cinta Sandi jadi aku mau kita putus sekarang biarkan aku dengan yang baru."
Nisa melepas tangan Sandi lalu segera menaiki mobilnya sedangkan sandi mulai frustasai, tak lama seorang pegawai donat itu datang "Tuan apa anda tidak papa??"
__ADS_1
Sandi berusaha tersenyum "Ya saya tak papa, apa tadi di dalam ada orang yang membicarakan saya."
"Untungnya tak ada, ayo sekarang kita kembali tuan."
Sandi mengangguk pada saat ia menghadap pada mobil yang tak jauh darinya, terlihat sebuah pantulan cahaya yang tertuju pada lusi yang membuat keberadaannya di dalam mobil terlihat ia sempat terdiam.
Sedangkan lusi langsung memalingkan wajahnya
Guma Sandi"Apa tadi pertengkaran ku dan Nisa terdengar."
Tak lama Pegawainya tadi mengajak tuanya masuk.
Sandi menghela napas pelan lalu ia mengikuti pegawainya tadi masuk dan tak berselang lama andre datnang membawa satu kotak besar isi donat dan satu kotak besar lagi entah isinya apa lusi tak tau.
Lalu masuk ke dalam mobil dan Sandi diam diam melihat andre masuk dari dalam tokonya.
"Jadi wanita itu istrinya."
Lalu mobil mereka pergi, sedangkan Sandi kembali ke dapur.
Di perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka hingga mereka berhenti di parkiran Apartemen.
"Aku dan Gafin duluan, kami bawa dulu donatnya dan kamu bawa ransel dan satu kotak kuenya lagi saja."."
Lusi juga sekalian menonton siaran tv, lalu andre duduk di sebelah gafin yang sedang asik memakan donatnya "Apa enak nak??"
Gafin menangguk "Nanti besok beli lagi."
"Ia, tapi ini di habisin dulu. Oh iya papa mau tanya apa gafin memang suka makan donat??"
Gafin mengangguk sambil memakan donatnya sedangkan andre lantas tersenyum "Jadi ingat waktu kamu masih dalam perut mama mu.
Waktu itu mama mu ngidam makan donat dan membeli dua box donat dan hanya habis satu , besoknya pas mau makan lagi donatnya.
Papa gak bolehin mama mu amkan karna sudagh dingin namun mama mu kekeh buat manasin itu donatnya."
lusi terdiam rupanya andre masih ingat kejadian itu walau sudah terjadi 5 tahun yang lalu andre masih ingat.
"Benarkah papa,Tapi kenapa gafin tak tau??"
Andre tersenyum "Kan gafinĀ masih dalam perut mama, gafin mana tau."
Gafin mengangguk paham , "Papa gafin mau minum."
__ADS_1
"Tunggu bentar biar papa.."
"Aku yang akan pergi mengambilkan."
Andre menoleh pada lusi sedangkan wanita itu segera pergi ke dapur lalu mengambilkan air untuk Gafin namun pada saat ia membuka lemari ia malah membuka tempat persedian kopi andre yang dimana di sana banyak farian kopi.
"Sepertinya enak minum kopi."
Lusi melirik ke bakang "Andre apa kamu mau ku buatkan kopi!!"
Andre yang meandapt tawaran seperti itu tak mungkin menolak.
"Boleh satu, tapi yang americano"
"Ya."
Lalu ia mengambil dua jenis kopi dan 3 buah gelas dimana satu untuknya, satu untuk Gafin dan satu untuk andre.
Lusi menggunakan mesin kopi jadi agak lebih muda, apa lagi mesin kopi milik andre bukan mesin kopi biasa harganya bisa mencapai puluhan juta karna kualitas yang bagus.
"Senang sekali membut kopi cepat dengan mesin kopi ini, dari pada yang di rumah suka pada macet aja mana bapak kalok di suruh beli baru malah bilang sayang."
Lusi sangat kagum dengan mesin kopi itu karna dulu juga sebelum bekerja di Supermarket, pada saat SMA ia pernah bekerja di sebuah kafe.
Dan setelah selesai dengan gembiranya lusi membawa minuman kopi itu.
"Ini uadah jadi."
Lalu lusi menaru minuman andre dan minumannya di atas meja sedangakn air putif gafin langsung di berikan pada Anak itu.
Lusi duduk di bangkunya "Itu mesin kopi di dapur harganya berapa pada saat kamu beli??"
Andtre mengingat ingat "Murah sih karna waktu itu lagi diskon akhir tahun. Kalok gak salah 8.200.000 Ribu ."
Lusi yang mendengar nominal itu terkejut "Apa mahal sekali."
Andre tersenyum "Tapi jika kamu suka mesin kopinya bawa pulang aja nanti aku beli yang baru dan cari yang kecil, kan aku cuman sediri saja dan aku menggunakannya hanya ketika aku ingin minum kopi di malam hari atau membuat kopi di pagi hari."
"Bener, gak papa ku bawa pulang le kota Q."
Andre mengangguk "Dan jika ada yang kamu mau bawa lagi kasih tau aja aku, biar nanti barangnya di bawa pakai truk ke rumah mu di kota Q."
lusi mengangguk lalu andre pun menikmati kopi yang yang lusi buat tadi sambil menonton TV.
__ADS_1
Bersambung..