
Haris yang sedang sibuk bekerja tiba tiba mendapat telfon dan dari panggilanya itu nomor luar negeri lalu haris menjawabnya.
"Helo..."
Perlahan orang itu bicara namun kata katanya membuat mata Haris terbelak hingga panggilan itu selesai sontak ia bangkit dari duduknya.
Lalu ia segera memakai jasnya dan dengan tergesah gesahnya ia keluar dari ruangan.
Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat andre berada dan karna saat itu jam 5 sore jalan mulai macet membuat Haris sedikit kesal.
"Sial, aku harus segera sampai ke rumah sakit."!
Pada saat matanya menoleh ke jalan sebelahnya rupanya ada willy yang memakai motor metiknya.
Sandra menurunkan kaca mobil "Willy.."
Willy menoleh pada mobil itu "Loh papa haris kebetulan sekali bertemu di sini."
"Haris tersenyum "Ayo kita bertukar, aku harus segera ke rumah sakit."
Willy tanpa pikir panjang setuju.
"Baik pak."
Lalu mereka bertukar salam dalam kemacetan itu, dan ketika ada sedikit celah akhirnya haris bisa melewati macet itu dan menuju ruamh sakit.
Sesampai di rumah sakit ia terlihat berkeringat lalu segera menghampiri andre dan lusi di ruang rawat Andre.
Di sana ia menemukan gafin yang tengah bermian dengan lusi dan andre di kasur.
Namun ketika mendengar haris membuka pintu sontak mereka menoleh padanya.
"Papa."lusi bangkit dari duduknya dan berguma dalam hati 'Papa pasti ingin membicarakan masalah itu pada ku.
Apa yang harus aku katakan padanya, bagai mana caranya aku menolak.'
"Lusi, gafin kita harus segera ke jerman."
"Apa maksud papa, apa papa berniat melakukan oprasi mata pada gafin. "
"Maaf, aku gak setuju, aku tak mau meangambil resiko."
Haris sudah dapat menebak jawaban laui lalu ia berlutut di kaki Lusi "Aku mohon pada mu , hannya pada mu saja aku bisa berharap.
Aku tak mau nama leluhur kami rusak , aku hanya bisa berharap pada gafin."
Lusi merasa tak enak ketika haris memohon padanya "Papa jangan begini gak enak kalok di lihat orang."
Lusi menjongkokkan badannya untuk membangkitkan Haris namun peria itu menolak dan justru memegang kaki lusi.
"Papa mohon pada mu, hanya Gafin harapan papa,papa mohon lusi."
Lusi binggung harus menjawab apa karna ia juga tak mau oprasi itu di jalankan apa lagi mengingat anaknya masih kecil.
__ADS_1
Sedangkan gafin yang mendengar keberisikan itu mulai bertaya-tanya "Apa apa yang terjadi??"
"Tidak bukan apa apa."
Andre sendiri tak sangup bicara karna ia juga tak bisa membujuk lusi atau pun menghentikan ayahnya dan kakeknya lukman dan ia main aman saja dengan tetap diam karna ia juga tak mau merusak hunbungan yang sudah susah susah ia susun bersama lusi.
Hingga suara lusi dan haris terdengar sampai luar dan ada berapa orang yang berasal dari ruangan sebelah datang untuk menengok.
Sedangkan lusi mulai malu ia seperti sosok jahat di sini.
"Papa, sudah mari kita bicarakan ini baik-baik dulu."
Harus menolak "Papa sangat mohon hidup orang baik itu tinggal sebentar dan ia memiliki permintaan sebelum kematiannya untuk bisa mendonorkan matanya untuk anak seperti gafin."
Lusi ingin menangis namun berusaha di tahannya "papa ku mohon sudah."
Tiba tiba haris merasa sesak pada dadanya lalu ia memegang dadanya "Ah.."
Lusi panik begitu juga andre, lalu andre turun dari ranjang dan menghapiri haris dan membantunya bangkit "Ada apa dengan papa."
Haris terliht kesulitan bernafas "Siapa pun ku mohon pangilkan dokter."
Salah satu orang tadi ada yang berlari mencari dokter sedangkan andre berusaha memperbaiki posisi haris agar dapat bernapas baik.
Haris melirik lusi dengan bibir yang pucat dan napas terengah engah ia berusaha meraih tangan lusia dan lusi pum memegang tangannya.
"Papa mohon... lusi, anggap saja ini....
permintaan terakhir papa..."
Haris tersenyum lalu dokter datang dan haris langsung di bawa ke ruang IGD.
Dan setelah itu andre mendapat kabar jika lusi harus segera berangkat karna kondisi sang pendonor juga dalam kondisi keritis dan karna tak ada radit yang bisa mengantarkan lusi pada akhinya andre yang pergi.
Dan sore itu mereka berangkat menggunakan jet pribadi milik keluarga andre.
Selama perjalanan gafin masih kebingungan dengan apa yang terjadi "Mama apa yang terjadi sebenarnya."
Lusi memeluk anaknya dan matanya berlinang "Kita keluar negri sayang."
"Di mana itu??"
"Di tempat yang jauh gafin."
"Papa, untuk apa kita ke sana."
Andre tak sanggup bicara ia tak mungkin membohongi anak yang polos itu dan tak mungkin juga ia katakan yang sejujurnya ia takut anaknya akan takut.
Dan terjadi keheningan sedangkan lusi terus memeluk anaknya hinga tak tersa mereka berdua tertidur.
Lu andre menyelimuti lusi karan sudah malam juga begitu juga putranya gafin.
Andre menyandarkan tubuhnya di kasur "Semoga papa tak papa , dan semoga oprasi berjalan baik, aku gak ingin kehilangan mereka."
__ADS_1
Dan andre perlahan ikut memejamkan matanya.
Selama perjalanan berjalan dengan lancar hingga sampai di bandara transit dimana mereka harus mengisi bahan bakar sedangkan lusi mina dan andre mencari cemilan untuk Gafin.
"Gafin mau cemilan pedas."
"Gafin kamu gak kuat makan pedas nak, cari lain aja.".
Anak itu menggeleng pelan "Tapi gafin mau coba juga sekali."
"Nanti kamu sakit perut."
"Gak papa mama, lagian gafin mau coba aja nanti yang habiskan papanya juga kok, benar kan??".
Gafin mengangguk sedangkan lusi berusaha tenang "Baiklah, terserah kalian saja."
Gafin tersenyum lalu andre mengambilkan berapa cemilan.
Dan tak terasa mereka akhirnya selesai berbelanja dan kembali ke pesawat karna mereka akan berangakt lagi.
Dan setelah masuk ke dalam pesawat mereka kembali duduk dan pesawat kembali terbang "Tak ku sangka aku akan kembali melakukan perjalanan jauh ini.
Sejak kapan keluarga mu punya pesawat ini, aku tak pernah tau selama menikah dengan mu."
"Itu karan kita menikah baru 1 bulan lebih kamu mana tau, karan saat itu pesawatnya sedang di gunakan ayahku ke bali untuk bertemu teman bisnisnya."
Lusi mengangguk paham lalu menoleh pada anaknya gafin yang terlihat kesusahan membuka cemilannya.
"Sini biar mama aja yang bukakan."
Lalu lusi bukakan untuk anaknya dan anak itu pun makan dengan lahap
"Enak nak??"
"Gafin mengangguk."
"Mama, bagai mana jika kita menikah secara negara dulu kalok untuk resepsinya nanti saja."
Lusi menatap tajam andre "Kamu belum meminta restu ayah dan ibuku main mau nikahin aku aja."
"Kalok itu mau mu nanti setelah ini kita kembali dan aku akam meminta restu lang sung."
"Terserah kamu saja." Lusi bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke mana??"
"Aku mau membuat kopi."
Andre tersenyum "Butkan untuk ku juga."
"Ya."
Lusi pun meninggalkang andre dan menuju dapur pesawat.
__ADS_1
Bersambung.....