
Malam harinya lusi tak bisa tertidur karna memikirkan kata kata andre.
Guma dalam hati "Ada apa dengan dia, kenapa ia gak mau aku bertemu dengan mereka. Jika tak ada masalah kenapa ia meminta ku menjuah dari mereka, dasar orang aneh."
Namun karna pergerakan lusi yang tak henti membuat andreas juga tak bisa tertidur juga.
Dan tak lama terdengar suara andreas "Ma, tidurlah sudah besok kamu harus bagun pagi untuk mengurus jadwalku besok."
Lusi menghentikan pergerakannya lalu segera menjawab "Ya aku tau."
Lalu ia membalikan badannya dan ia menatap punggung andreas "Papa kamu masih bangun."
Andreas membalikan badannya "Aku tak bisa tidur karna mu jadi tidurlah sudah."
"Aku tak bisa tidur karna memikirkan kata katamu."
"Sudah lupakan saja dan tidurlah, besok kamu juga harus bangun pagi dan aku tak mau kamu kurang tidur dan akan mengganggu perkembangan anak kita."
"Iya aku mengerti, aku akan tidur."
Andre menarilk lusi ke dam pelukanya dan lusi pun muali memejamkan matanya.
Tak lama lusi pun tertidur sedangkan andreas terus menatap wajahnya lalu ia membelai pipinya pelan.
Suatu saat kamu akan paham kenapa aku tak mau kamu dekat dengan mereka."
Andre pun memejamkan matanya dan mulai tertidur.
Besoknya saat lusi terbangun ia mendengar suara andreas yang sedang memasangkan dasi jasnya.
"Selamat pagi sayang."
Lusi dengan malasnya menjawabnya "Udah mau berangkat kerja??"
"Iya, bagai mana dengan mu??"
"Aku akan tidur sedikit lebih lama lagi."
Perlahan kesadaran lusi kembali dan ia teringat jika ia harus berangkat ke kantor juga sontak ia bangkit dari baringnya "Astaga aku terlambat."
Ia berjalan berlari kekamar mandi dan andreas yang melihat hal itu berusaha menahan tawanya.
Tak lama lusi keluar dari kamar mandi dan ia langsung ke ruang ganti dan mengganti bajunya dengan kemeja putih dan rok span selutut.
Setelah rapi ia keluar lagi dan segera mengenakan lipstick lalu ia menyisir rambut panjangnya dan mengikatnnya sedikit tinggi.
Setelah, sudah rapi lalu lusi memakai kaca matanya dan saat berbalik ia meliaht andre tengah bersantai di sofa yang ada di kamar sambil menatapnya.
"Sudah siap??"
"Loh ksamu belum kebawah."
"Lihatlah jam baik-baik."
Lusi melirik jam dan ia terkejut karna masih jam 6 pagi.
"Astaga tuhan kenapa kamu tak memberitau ku, kalok tau masih jam segini aku mungkin akan mandi tadi."
"Kamu tak bertanya."
"Lalu kenapa kamu tumben sekali sudah siap siap??"
"Tentu saja karna aku mau membantumu mengurus jadwal sebelum jam kerja."
"Tak usah aku bisa sediri."
__ADS_1
"Benarkah."
"Tentu saja."
Dan pagi itu mereka berdua lebih dulu berangkat ke kantor jadi saat kedatangan mereka ke kantor hannya sedikit orang yang melihat dan karna kali ini penampilannya berbeda jadi tak ada yang tau jika lusi wanita yang kemarin,karna bajunya saat ini pas pasan pada tubuhnya sehinga perut buncitnya terlihat
Sedangkan kemarin ia mengenakan baju yang besar sehinga perut buncitnya tak terlihat.
Saat masuk ke dalam lift lusi kembali mengaca wajahnya dengan kamera hpnya "Sepertinya tak ada yang aneh dari wajah ku."
Andre menoleh pada lusi "Untuk apa kamu berkacia lagi, lagian kamu itu sudah cantik."
Lusi menoleh pada andre "Tapi mereka tadi terus melihat pada kita."
"Alah, paling kamu di kira sekertaris baru ku."
"Mungkin saja."
Saat mereka sampai di lantai tujuaan pintu lift pun terbuka lalu lusi keluar dan langsung ke meja Radit yang ada di luar.
"Kamu tidak akan bekerja di luar."
"Jika aku gak diluar lau aku di mana??"
"Kamu di dalam bersama ku."
"Di dalam tak ada meja lagi dan tak ada komputer."
"Justru karna tau kamu akan bekerja hari ini sudah ku suruh radit menyiapkan tempat mu di dalam."
"Benarkah, lalu bagai mana yang di luar??"
"Biarkan saja."
Lusi berpikir sejenak "Biklah, jika itu yang kamu mau."
Di dalam sudah di sediakan sebuah meja yang tak jauh dari meja kerja andreas "Itu tempat mu."
Lusi menurut dan duduk di sana dan andreas menarik bangkunya mendekat pada lusi.
"Apa yang kamu lakukan."
"Cobalah periksa email "
Lusi membuka email dan banyak pesan yang maduk "Astaga apa semua ini."
"Cobalah kamu periksa satu satu."
"Ya."
Lusi pun membaca satu per satu dan saat ia bertemu email dengan bahasa inggris.
"Sayang tolong baca tulisan alien ini aku tak paham."
"Mana."
Andreas melihat email itu lalu ia membacanya dengan lancar sedangkan lusi yang mendengarnya sama sekalai tak mengerti apa yang andreas bicarakan."
"Apa yang ia katakan sayang??"
"Dia menawarkan kerja sama pada kita."
"Lalu apa yang harus aku lakukan??"
"Buatlah surat belasan, kalok ita setuju."
__ADS_1
"Seperti apakah surat balasan itu??"
Andreas bangkit lalu ia menghampiri tumpukan berkasnya dan menarik satu lalu di berikan padanya "Ini contohnya ikut saja tulisannya dan ganti nama perusahaan dengan perusahaan yang mengirimkan Email, sisanya sesuaikan."
"Baik."
"Tapi kamu susun dulu jadwal ku baru sata itu kamu buat."
"Biklah"
Lalu lusi Meriksa sisa Emailnya dan setelah selesai ia mulai menyusun jadwal dan di bantu andreas langsung dan selesai pada jam 8 pagi.
"Akhirnya selesai juga."
Andre tersenyum "Bagia mana rasanya??"
"Susah sekali, dan sepertinya hari ini kita akan banyak pertemuan di luar"
"Makanya sudah ku bilang menjadi seorang sekertaris tak mudah."
"Ya aku mengakui perkatan mu benar."
Tak lama terdengar sura perut lusi (Korok~) andreas tersenyum.
"Apa kamu lapar?"
"Ya begitulah."
"Mau ku suruh ibuk kantin di bawah bawakan makanan??"
"Bolah, memang menu apa aja yang ada??"
"Semua ada."
Lusi menatap sinis andreas "Bohong."
"Aku tak berbohong, apa yang tak mungkin untuk nona besar."
"Bilang aja nanti pada akhirnya belinya ke luar."
Andre tersenyum "Apa kamu menantang ibu kantin di bawah, dia itu bukan sebarang ibu kantin. Dia itu mantan koki yang sudah pensiun memutuskan untuk membantu suaminya berjualan di bawah."
"Kalok dia bisa segalanya tolong butkan aku steak salmon."
"Baik aku akan memberi taunya."
Lalua andreas segera memelfon ibuk kantin tersebut dan tak butuh waktu lama panggilannya langsung di jawab.
"Halo tuan ada apa??"
"Tolong buatkan steak salmon untuk istri ku, dia seeang hamil dan ingin makan steak salmon buatan mu."
"Benarkah, saya kana membutkan steak salmon khusus untuk nona. Lalu bagai mana dengan tuan??"
"Steak yang biasa ."
"Baik akan segera saya siapkan."
Lau pangilan itu berakhir "Tunggulah sebentar ia akan membawakan steak salmon mu."
"Tapi aku sudah lapar sekali."
"Apa kamu mau mengganjal lapar, di dalam lemari sudah ada cemilan yang sengaja aku beli untuk mu."
"Benarkah.." Lusi bangkit dari duduknya lalu berjalan ke lemari yang andreas sebutkan dan mengambil berberapa cemilan.
__ADS_1
Bersambung...