
Piter menatap lusi yang tang tengah makan tanpa menyentuh makanannya dan ia terlihat senyam-senyum melihatnya sedangkan lusi yang kesal menatap tajama Dia.
"Apa lihat-lihat, gak ada yang lucu."
"Rasanya begitu bahagia membayangkan dapat makan berdua saja dengan mu, kita seperti sedang diner."
Lusi melempar sedoknya di hadapan piter namun dengan lihaynya piter menghindar "Hey!!, aku takan pernah sudi untuk diner bersama peria gila kayak kamu."
Piter masih terlihat tersenyum "Sepertinya benar apa yang orang-orang katakan yah, mood seorang ibu hamil dapat berubah kapan saja."
Lusi terdiam dan karns ia merasa kata katanya tak di dengar dan piter juga selalu bicara tak nyambung membuatnya Takut.
"Dasar gila!!. Menjauh lah dari hadapan ku, aku ji-jik hik..."
Piter bukanya pergi ia justru tetap berada di hadapan lusi hingga tangis lusi tumpah karna piter tak henti menatapnya dengan senyuman mengerikannya.
Seolah akan memangsanya dan lusi juga sudah sangat merindukan rumah, apa lagi saat ini ia sedang hamil dan ia begitu sentif dengan hal ini.
Berbeda dengan piter yang mendengar suara tangisan lusi, bagikan suara tangisan bahagia.
Sedangkan di balaik pintu joy dapat mendengar tangisan lusi dan terikan lusi yang terus meminta piter pergi.
Sebenarnya joy juga merasa bersalah dan sebenarnya tak ada niatan untuk melakukan hal itu namun ia takut akan kehilangan jabatan yang sudah susah payah ia dapatkan, karna bekerja di keluarga piter ia bisa memper baiki ekonomi keluarganya.
Namun di saat kondisi piter yang depresi begini, Joy tak tau lagi harus melakukan apa karna piter sudah tak mau mendengar kata katanya lagi.
"Maaf kan aku lusi."
Joy memutuskan untuk pergi.
Saat ia berjalan-jalan mengelilingi taman rumah, ia tiba-tiba mendapat telfon dari ibunya, sontak joy menjawabnya.
"Halo ma ada apa??"
"Joy apa kabar mu.."
"Aku baik-baik saja, bagaimana uang yang joy kirim pada mama, udah di ambil??"
"Udah, tapi nak itu terlalu banyak kenapa gak di tabung aja buat tabungan nikah, atau membeli rumah."
"Yaelah mama uang untuk nikah udah ada. Kan mama tau sediri Gaji piter juga gedek jadi makannya Joy bisa mengirim uang segitu, lagian uang untuk belaja bulanan, untuk nikah dan rumah juga udah ada jadi mama tak perlu hawatir."
"Tapi mama yang jadi gak enakan pada mu, apa lagi setelah kepergian ayah mu, kamulah tulang punggung keluarga kita, jika saja usaha jahit mama laku maka gak mungkin kamu akan hidup sulit di masa masa muda mu."
__ADS_1
"Mama jangan begitu, justru ini sudah jadi tugas joy setelah kepergian bapak."
"Jangan terlalu memberatkan diri, cepatlah mencari wanita yang pas untuk mu, biar mama tenang nanti."
"Iya ma, ini lagi cari cari."
"Dan lagi, jaga kesehatan mu dan hati-hati nanti di sana, tadi pada saat mama antarkan kue ke rumah bu mina ia di baru di kabari menantunya jika anaknya masih belum ketemu, kayaknya dia di culik untuk di minta tebusan mungkin penclik tau suaminya orang kaya namun sampai malam ini belum ada kabar.
Padahal si lusi dan mamanya itu baik banget lo sama mama , kayak wanti itu pada saat adek-adek mu pada pergi sekolah mama tiba tiba sesak napas dan saat itu rumah kosong untuk mereka waktu itu datang dan langsung membawa Mama ke rumah sakit dan mama pun langsung selamat..."
Joy yang mendengar hal itu merasa bersalah dan ibunya bercerita begini tidak sekali namun hampir 4 kali dengan kasus yang berbeda-beda.
Joy menunduk "Mah udah dilu yah joy mau istirahat."
"Yasudah istirahatlah."
Lalu panggilan itu berakhir joy bangkit dari duduknya "Sudah, aku tak peduli lagi, mau aku di pecat saar aku di tangkapa aku tak peduli lagi."
Joy mengambil langkah seribu ia tak takut jika karna laporanya nanti akan membuatnya di pecat atau di tangkap, ia akan tetap menerima namun ia tak mau terjerumus semakin jauh karna bagi ibunya lusi itu orang baik dan selal membantu ibunya ketika sendiri.
Joy menaiki mobil lalu menjalankan mobilnya prgi lalu ia segera menelfon Radit, karna hanya no Radit yang ia punya.
"Halo ini siapa yah."
"Aku tau dimana nona mu berada."
"Kita ketemu di Cafe xxxx, datanglah bersama seorang polisi dan tuan mu."
"Apa.."
Namun panggilan itu pun brakhir, dan joy terus melajukan mobilnya pergi ke Cafe xxxx.
***
Radit yang mendengar hal itu terkejut lalu ia segera menelfon andras.
Dan tak lama telfonya di jawab namun suara andreas terdengar seperti orang yang baru bangun "Radit ada apa??"
"Ada orang yang mengaku tau tempat nona dan ia meminta kita untuk bertemu."
"Apa.."
Andreas yang seketika bangkit dari baringnya. Untungnya andreas tak membangunkan anaknya.
__ADS_1
"Katakan di mana tempatnya??"
"Cafe xxxx dan kita di minta membawa seorang polisi."
Andreas yang mendengar hal itu terkejut, mengapa seorang saksi memintanya datang bersama seorang polisi.
Namun andreas segera menepis pikiran itu dan yang terutama adalah dimana keberadaan istrinya sekarang.
Dan andreas tanpa pikir panjang segera keluar dari kamar dan untungnya ia bertemu pelayan di lura "Kamu tolong jaga anak ku di kamat dan jika ia mencai ku katakan saja aku sedang kerja."
"Baik tuan."
Andreas keluar dari rumah dan menaiki mobilnya dan mereka pun berangkat ke Cafe xxxx yang di beri tau dan sesampai sana ia mematikan mobilnya menunggu Radit datang bersama seorang polisi.
Dan setelah 15 menit menunggu akhinya mereka datang dan berkumpul.
"Dia duduk di mana radit."
"Dia tadi ada mengirim pesan mungkin itu tempatanya berada."
"Cepat buka."
Radit membuka pesan joy "Di lantai atas, dan di meja samping kaca yang menghadap jalan."
Mereka bertiga menoleh pada atas secara bersama-sama dan memang terlihat seorang peria berjas namun hannya sampingnya saja yang terlihat, apa lagi posisinya ia sedang menghadapat jalan jadi gak ada yang tau.
"Ayo kita masuk.."
Lalu mereka bertiga berjalan masuk sedangkan pemilik kafe yang melihat kedatangan seorang polisi dengan 2 orang peria yang satu berjas namun berantakan sekali dan satu memakai baju tidur.
Untungnya sata itu tak ada pengunjung jadi hanya pekerja dan pemilik kafe yang melihat mereka masuk.
Lalu mereka menaiki tangga dan setelah sampai terlihatkan peria itu dan andars yang sudah tak sabar berjalan tergesah-gesah menghampiri peria itu.
"Katakan di mana istri ku."
Joy sontak menoleh pada Andreas dan andreas beserta Radit di buat terkejut.
Siapa yang menyangka jika saksi itu adalah Joy.
"Joy kenapa.."
Mulut joy gemetar saat berbicara "Tuan tolong tangkap aku, karna aku lah yang membantu tuan piter menculik lusi..."
__ADS_1
Andreas yang mendengar hal itu mulai di makan oleh api marah.
Bersambung.....