Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Pelukan


__ADS_3

Setelah perdebatan cukup panjang dengan sabrina akhinya wanita itu di bawa paksa olah pihak rumah sakit karna sudah menggangu keyamanan pasien.


Dan setelah kejadian itu tak ada pembicaraan antara lusi dan Andre hingga malam pun tiba pada saat lusi akan tidur andre memangilnya.


"Apa kamu sudah akan tidur??"


Lusi menoleh padanya "Ya, memang kenapa."


"Ayo tidur di sebelah ku, aku sedang ingin memeluk seseorang."


Lusi menatap sinis andre "Modus.."


"Tidak aku bersumpah aku modus aku hannya ingin memeluk mu."


Lusi menghela napas pelan dan kali ini ia berpikir lagi, mungkin itu hannya untuk sebentar lalu ia pun menghamiri andre.


Dan ia pun mulai berbaring di sebelahnya namun kali ini ia membelakanginya sedangkan andre langsung memeluknya lusi, ia membenamkan wajahnya pada punggung lusi.


Lusi sedikit terkejut "Apa yang kamu lakukan.."


"Kumohon tetaplah seperti ini." Lusi seketika terdiam.


Sempat terjadi keheningan sejenak dan tak lama terdengar suara andre "Sangat nyaman.


Sentuhan yang selalu aku rindukan. Sentuhan mu, kasih sayang mu.


Setelah kepergian mu aku serasa kehilangan segalanya, senyuman, cinta, kasih sayang.


Kamu adalah segalanya bagi ku, tanpa mu rasanya hidup ini tak ada artinya bagi ku."


Seketika hati lusia dapat merasakan apa yang kini andre rasakan lalu ia membalikan badannya lalu ia memeluk andre.


"Sekarang aku sudah bersama mu jadi jangan berpikir seperti itu lagi."


Andre sedikit membelak setelah sekian lama memendam perasaan ini, pada akhinya andre bisa mengungkapkannya secara langsung karna selama ini kata-kata ini lah yang tak bisa ia katakan ketika bertemu psikolog.


Mata andre berkaca kaca lalu ia memeluk erat tubuh lusi "Merasakan sentuhan mu seperti ini aku mersa seperti sedang di peluk mendiang ibuku, di malam hari ketika aku masih kecil."


Lusi mengelus kepala andre dan ia dapat merasakan jika peria itu berbicara dengan suara yang sedikit berat, mungkian ia sedang berusaha menahan tangisnya.


"Di tinggal orang yang berarti bagimu pasti sangat berat , namun semua hal itu terjadi bukan semata-mata sebuah musibah.


Namun itu lah yang namanya takdir dari Tuhan, dan dari kejadian itu akan perlahan mendewasakan kita, agar kita bisa lebih tegar lagi dalam menjalankan hidup ini."


Perlahan terdengar suara tangis andre yang terdengar begitu pilu sehingga membuat lusi juga menangis karnanya.


Perlahan ia paham, mengapa andre bisa menduakannya dulu.


Itu semua karna ia masih mencoba mencari keyamanan seperti yang ia dapatkan dari sang ibu.

__ADS_1


Namun ketika ia bertemu lusi ia masih belum percaya jika lusi orangnya hinga lusi meningalkannya.


Di situ lah ia kembali merasakan rasanya kesepian.


Dan hal itu juga takan terjadi jika taruma masa lalu tak terjadi seperti perselingkuhan ayahnya dengan istri teman kerjanya.


Hinga tekanan  untuk bisa menjadi yang terbaik agar bisa mendapatkan kepercayaan lukman untuk mewarisi perusahaan.


Hingga tekanan dimana dia ditinggalkan olah kekasihnya yang membuatnya hancur dan kepercayaannya pada orang-orang perlahan runtuh.


Dan pada akhirnya mereka tidur bersama di atas ranjang pasien.


Besoaknya lusi lebih dulu terbangun dari tidurnya.


Seketika matanya langsung tertuju pada wajah andre.


"Apa dia masih tidur??"


Lusi sedikit kagum dengan melihat wajah andre,  ia menyentuh pipinya dan mengelusnya pelan "Wajahnya sama sekali tak berubah, masih tampan dan bahkan wajahnya tak ada keriput sama sekali, apa dia perawatan wajah??"


Mata andre langsung terbuka "Ada apa??"


Seketika lusi menarik tanganya lalu ia bangkit dari baringanya "Maaf."


Namun andre langsung menariknya lalu ia memeluknya "Selamat pagi sayang ku."


"Andre lepaskan aku, bagai mana jika luka di perutmu terbuka lagi."


"Tapi tetap aja aku teralu kuat memeluk ku."


Andre melepas peluknya lalu lusi menatap andre tajam.


Andre Tersenyum "kamu terlihat manis pagi ini."


Lusi mencubit pinggang andre "Dasar pagi pagi gombal."


Lusi bangkit dan langsung turun dari ranjangnya lalu ia pun mengikat rambutnya lalu ia pun mulai membuka tirai.


Walau di luar masih gelap karna embun di pagi hari namun itu sudah jam 06.08.


"Kenapa kamu membuka tirainya ini masih pagi mari kita tidur lagi."


"Pagi bagi mu, ini sudah jam 6 pagi."


Lusi mengambil handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan tanpa sadar menutup kamar mandi kuat.


Andre tersenyum "Dasar..."


Sedangkan di kamar mandi kini wajah lusi berubah merah dan jantungnya tak hentinya berdebar. "untung saja aku berhasil lari darinya, kalok tidak mungkin....,

__ADS_1


Jika setiap pagi gini bisa-bisa senam jantung jadinya."


Lusi segera melepas bajunya lalu mandi namun ketika sudah mandi ia baru teringat bajunya.


"Astaga aku belum membawa baju ganti.


Bagai mana ini.."


Lusi segera menyelesaikan mandinya lalu ia memaikai handuk dan pada sata akan membuak pintu sedikit tertahan karna di luar terdengar suara seorang suster.


Dan dari suaranya itu bukan suster wanita namun pria membuatnya semakin tak berani keluar.


Namun tak lama suara itu menghilang dan di gantikan suara peria lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah radit.


"Bagai mana kondisi tuan, apa sudah membaikan??"


"Ya, mungkin  berapa hari lagi aku sudah boleh pulang kata dokter."


"Syukurlah, sesuai arahan dari anda saya sudah mengantar tuan sandra dan nona Mina ke hotel yang anda pesan untuk mereka selama seminggu."


"Baguslah,apa mereka suka??".


"Ya, walau terjdi sedikit perdebatan dengan nona mina yang tak enak hati, mungkian hari ini mereka akan datang menjenguk anda. Oh iya kalok boleh tau nona lusi di mana??"


Andre meilrik kamar mandi dan ia nenemukan pintu sedikit terbuka dan terlihat sebuah mata yang mengintip.


Seketika andre paham "Oh iya dia tadi meminta mu untuk membeli sarapan pagi untuknya."


"Haha, nona meminta ku, tidak biasanya ia meminta ku??"


"Udah jangan banyak omong, pergi saja carikan dia makan, dan juga belikan lah donat yang tokonya selalu ramai dekat kantor , dan juga carilah cemian lain yang anak suka, anak ku pasti datang dengan adik ipar ku."


"Hahaha, tak ku sangka tuan memiliki calon adik ipar seusia anak tuan sendiri."


"Lah namanya aja buatnya deketan waktunya."


Radit pun pamit lagi "Kalok gitu aku berangkat dulu, jika untuk sarapanya nona mau yang rendah kalori atau yang berat."


"Tentu saja yang berat, bagi dia sarapan pagi jika tidak makan yang berat-berat itu bukan sarapan namanya"


"Baiklah tuan." Lalu Radit keluar dari kamar.


"Dia sudah pergai ayo keluar."


Lusi membuka pintu kamar mandi "Untung saja, aku lupa membawa baju ganti."


Lalu lusi dengan hanya mengenakan handuk keluar dari kamar mandi, ia mengambil baju di dalam kopernya.


Dan baru kaliani andre melihat lekuk tubuh lusi karna jika di malam hari tak terlalu jelas, andre menelan ludahnya dengan susah payah lalu ia pun memalingkan wajahnya

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2