Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Piter


__ADS_3

Lusi terkejut "Anaknya tante ling-ling?"


Chen mengangguk "Padahal waktu kecil tiap tahun baru cina kamu sering datang kerumah, waktu itu kamu masih sangat kecil dan lihat kamu sekarang sudah sangat besar."


Lusi tersenyum "Ya kan waktu Kakak Chen pindah ke jerman waktu itu lusi masih umur 12 tahun, sekarang lusi sudah 19 tahun."


"Memang waktu gak terasa yah. Oh iya orang di sebelah mu??"


Lusi melirik pada andreas yang terlihat menatap Chen dengan tak senang.


"Oh perkenalkan ini suaminya lusi, dia bekerja di perusahaan yang sama dengan bapak lusi."


"Oh benarkah, kalok gitu perkenalkan nama saya Chen huang"


Andre menerima tangan itu "Andreas."


Selesai bersalaman Chen menoleh lagi pada lusi "Apa kalian sedang berbelanja oleh-oleh juga??"


Lusi mengangguk "Ya, karna besok kami harus pulang."


Chen yang mendengar hal itu terkejut "Sama dong, besok aku juga akan balik. Semoga aja kita satu pesawat agar ada orang yang bisa aku ajak bicara nanti."


"Ya, semoga saja."


Guma andreas dalam hati 'Semoga saja tidak,karna aku tak sudi satu pesawat dengan orang seperti mu.'


"Kalok gitu aku pergi dulu, karna aku takut pamanku akan menunggu lama di mobil."


Lusi mengangguk lalu Chen pun segera pergi sedangkan lusi kembali menoleh pada Andreas.


"Tampan bukan, dia itu tetangga rumah ku dia itu seorang anak tionghoa , dia di sini mengambil kuliah kedokteran mungkin sekarang dia sudah lulus menjadi seorang Dokter spesialis penyakit dalam itu sebabnya ia akan kembali pulang."


Andras berusaha tak mempedulikanya "Ayo kita cepat belanjanya takutnya tokonya akan tutup, ini sudah mau jam 10 malam."


Lusi mengangguk lalu mereka memilih berberapa dan langsung di masaukan ke dalam keranjang dan setelah itu mereka segera membayar ke kasir.


Besoknya pagi-pagi mereka bersiap dan sempat terjadi pertengkaran antara lusi dan Andreas hanya karna donat yang semalam.


Lusia ingin kembali memakan donat semalam yang belum habis is makan namun Andras melarang dan meminta untuk membeli yang baru karna menurtnya yang sudah dingin itu tak higenis lagi untuk di makan.


Sedangkan lusi pengennya makan donat dingin itu bukan donat yang baru lagi,akhirnya pertengkaran tak bisa di hindari.


Radit tak mau ikut campur jadia ia hannya berdiam di kamar agar ia tak mendengar keributan itu.


Pada akhirnya mereka pun berangkat dari bandara jerman pada jam 9 dan kali ini lusi memaksa untuk duduk di dekat kaca dan karna tak mau bertengkar lagi Andreas menurut.


Dan selama perjalanan lusi mulai tidur karna lelah.

__ADS_1


Andreas melihat wajah lelah lusi, dan ia dapat melihat posisi wanita itu terlihat tidak nyaman lalu ia memperbaiki posisi baringnya dan tak lupa memperbaiki selimutnya juga.


Andras sedikit terdiam meliaht perut lusi yang sedikit membesar "Apa dia bertambah gemuk??"


Andars yang penasaran menekan perut lusi dan tanganya dapat merasakan sebuah dinding di dalamnya dan terasa keras.


"Ada apa dengan perutnya?"


Tak lama lusi terlihat bergerak sontak andreas menarik tanganya lalu kembali memperbaiki posisi tidur lusi.


Tak lama terdengar suara lusi "Radit tolong belikan aku donat."


Andras terkejut dengan apa yang di katakan lusi lantas ia menoleh pada lusi dan semakin terkejut karna wanita itu masih tidur.


"Apa barusan dia mengigau??"


Namuam Andras kembali memalingkan wajahnya dan mulai menyandarkan tubuhnya untuk mengambil setan tidur duduk karna Andreas lebih nyaman tidur duduk di pesawat ketimbang berbaring.


Pada akhirnya mereka sampai di bandara teransit pada sore hari dan mereka harus menunggu satu jam lagi di sana untuk penerbangan berikutnya jadi agar tak bosan mereka mencari makan.


"Lusi kamu kamu makan apa??"


"Aku mau makan-makanan Jepang yang mentah itu."


Radit yang mendengar hal itu terkejut "Nona jangan makan seperti itu, gak baik untuk anda."


Lusi menepuk jidatnya ia lupa saat ini ia sedang berbadan dua .


"Gak usah deh kita mencari makanan cepat saji saja."


"Baiklah." Saat mereka berjalan, karna tak hati-hati lusi hampir jatuh karna sepatu hak tingginya, namun sebuah tangan segera menangkapnya dari depan.


"Are you okay"


Lusi kenoleh ke atas rupanya ada seorang peria tampan di hadapnya walau tingginya tak setinggi suaminya dan juga tubuhnya memang tak sekekar suaminya namun ia tipe lusi.


"Ya." Andras yang melihat hal itu mulai cemburu ia menarik paksa lusi "Apa kamu tak papa??." Lusi mangangguk lalu melepas sepatu hak tingginya.


"Sepertinya kakiku terkilir."


Andras mendekat "Apa kamu masih bisa berjalan??, atau mau ku gendong??"


Lusi menggelang "Tak usah aku masih bisa berjalan."


Lusi menunduk dan mengambil sepatu hak tingginya "Tuan terima kasih karna sudah menangkap saya."


Lusi tersenyum tulus namun peria itu sama sekali tak mau tersenyum padanya.

__ADS_1


Lalu lusi pun melewatinya dengan kesusahan sedangkan Andreas yang melihat hal itu lantas memapahnya dan Radit pun mengikuti lusi dan tuannya dari belakang.


Piter mengepalkan tanganya "Setelah membatalkan pertunangan dengan adik ku, sekarang kamu menikah dengan wanita lian lagi.


Ketika dia masih bersama zahra mungkin aku masih bisa diam ke tika adikku harus menangis ketika meliaht foto pertunangan mereka.


Namun tak ku sangka mereka batal menikah membuat harapan baru untuk adik ku sabrina.


namun dia malah menikah dengan wanita lain lagi, pantasan saja hari itu sabrina tak mau keluar dari kamarnya hampir seminggu rupanya karna dia tau pernikahan andreas degan gadis ini.


dan untuk kali ini aku tak akan biarkan hidup kalian bahagia setelah membuat adik menangis lagi, terutama gadis itu.


Karna yang bisa bersanding di samping Andreas hannya sabrina seorang."


Terlihat dari bola mata coklat piter, dia mana ia begitu memendam kebencian pada andras namun karna karna tak memiliki banyak kuasa melawan andras jadi ia berniat untuk menjadikan lusi sasarannya.


Sesampai di tempat makan cepat saji andreas dan lusi mengambil tempat duduk di pinggir dekat kaca sedangkan Radit ia pergi memesan untuk mereka.


Lusi tak henti memegang kakinya yang terkilir karna begitu sakit sedangkan tanpa ia sadari andras terus melihat padanya.


"Apa masih sakit??"


Lusi menoleh pada andreas "Gak terlalu kok."


Andreas menghela napas pelan "Tidak sakit tapi kamu terlihat merintih kesakitan."lusi berusaha tersenyum.


"Lihat Kan sudah tidak sakit lagi."


Andras menarik kaki lusi ke atas pangkuannya lalu ia mulai memijatnya pelan.


"Apa di sini sakitnya."


Lusi terdiam melihat andreas begitu perhatian padanya membuat jantungnya berdegup kencang.


Pada saat andars mencoba memijat perlahan.


"Awaww.. pelan saja."


Andreas menoleh pada lusi "Apa sakitnya di sini??"


"Ya, pelan saja pijetnya jangan menekanya kuat."


"Ya aku tau, siapa juga yang mau menekannya kuat." Andars menatap lusi dan mereka saling berpandangan dan mereka sempat terdiam menatap satu sama lain.


Dan momen itu tak luput dari perhatian Radit dari jauh ia diam diam mengambil gambar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2