
Saat keluar rumah sakit ia pergi menyusuri jalan untuk macari tempat makanan dan tanpa ia sadari jika dari jauh seorang melihatnya.
Dan pada akhirnya lusi masuk ke tempat makan yang menjual lalapan ada yang ayam, ikan,dan bebek.
"Mas lapan 2, satu yang ikan dan satunya lagi ayam bagian dada."
"Baik eneng."
Lalu lusi duduk di salah satu bangku yang kosong.
Tak lama pundaknya di tepuk "Lusi apa kah itu kamu."
Lusi menoleh ke belakang dan sedikit terkejut "Loh Piter, kita ketemu lagi di sini."
Lusi bangkit dari duduknya lalu bersalaman dengan piter "Dari mana tadi??"
"Oh tadi kebetulan lewat, dan ngeliat kamu ada disini jadi aku mau nyapa sekalian mau beli makan."
"Kamu udah pesan belum??"
"Belum sih, aku pesan dulu yah."
Lusi mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya.
"Mas, saya pesan satu porsi lalapan yang ayam bagian paha."
Peria itu mengangguk lalu andre kembali menghampiri lusi duduk di sebelahnya.
"Kamu ngapain di ibu kota??"
"Karna mantan suami mengalami musibah dan di larikan ke rumah sakit karna di tikam olah seseorang, bagai mana pun walu dia mantan suami ku dia tetaplah ayah dari anak ku."
"Wah tak ku sangka kamu baik sekali, padahal udah jadi mantan suami tapi kamu masih baik padanya."
Guma piter dalam hati "Sialan masih hidup rupanya, sekarang aku harus mencari cara lain untuk membunuhnya."
"Harus gitu dong, lagi pula dia itu udah baik juga pada ku dan anak ku."
"Apa kamu akan kembali lagi bersamanya??"
"Kalok itu sih, aku masih bimbang, karna aku masih belum mengerti perasaan ku, apa persan ku saat ini adalah perasaan cinta atau hanya perasaan kasihan."
Piter yang mendengar hal itu sedikit gembira namun ia berusaha menutupi kegembiraannya.
"Wah benarkah. Oh iya kenapa kamu tak pernah mengirim pesan pada ku padahal aku sudah menunggu lama ."
Lusi menepuk jidatnya "oh iya aku lupa, terlalu sibuk kesana kesini sampai lupa aku."
"Nanti akan ku kirimkan pesan pada mu karna kebetulan aku hanyna membawa dompet dan hp ku tertingal di rumah sakit."
Piter pura pura kesal "Gak di chat juga gak papa, lagian kamu gak peduli juga kan."
"Loh kamu ngambek ka, kan aku lupa."
"Aku sih gak ngambel cuman kesal aja."
__ADS_1
"Emang apa bedanya."
Lusi menjepit hidung piter "Aduh aduk sakit."
Lusi melepas jepitannya "Udah gedek tingkahnya masih kayak bocah."
"Memang kenapa."
"Gak papa sih."
Tak lama pejual tadi memsnggilnya
"Neng ini udah jadi."
Lusi bangkit dari duduknya "Sebagai tanda minta maaf gue ke kamu karna selama seminggu ini belum juga mengirim pesan pada kamu, kali ini makanaan mu ku bayar.
Aku tau kamu banyak duit tapi agnggap aja ini sebagai permohona maaf ku karna belum mengirim pesan pada mu."
Piter tersenyum "Yang bener, iklas kagak nih??"
"Iklas lah."
Lalu lusi segera kembayar sedangkan piter tak bisa berhenti tersenyum melihat lusi dari belakang.
Setelah membayar lusi pun pamit pada piter "Aku balik dulu."
"Ya ,hati hati nanti."
Lalu lusi segera pergi sedangkan Piter tak berhenti tersenyum melihat kepergian lusi "Kamu itu milik ku dan akan selamanya menjadi milik ku."
Lusi mencium bau aroma makanannya sudah membut perutnya berbunyi ia begitu tak sabar untuk segera makan karna sudah sangat lapar.
Namun haris masih di dalam towilet jadi lusi tak tau jiak peria itu ada "Maaf aku agak sedikit lama."
"Tap papa hani."
Lusi menatap sinis andre "Setelah sayang sekarang hani lagi bisakah kamu berhenti memanggil ku dengan sebutan itu."
"Apa pangilan itu jelek, bukankah pangilan itu yang sering di pakai oleh pasangan kekasih untuk memanggil satu sama lain."
"Ya aku tau, tapi menurutku nama itu tak cocok untuk kita.."
Tak lama terdengar suara dari arah kamar mandi.
"Siapa yang pasangan kekasih."
"Andre dan lusi."
Lusi yang merasa familiar dengan suara itu menoleh kearah toilet dan bertapa terkejutnya ia melihat Haris.
"Papa, sejak kapan papa.."
"Kamu dan andre berpacaran??"
Lusi tak bisa berkata kata ia bingung bagai mana menjelaskannya pada Haris.
__ADS_1
"Itu pa.."
"Kan andre udah bilang kalok lusi itu pacrnya andre, papa jangan gak percayaan gitu."
Haris tersenyum bahagia "Wah jadi kamu kembali menjadi calon menantu ku."
Lalu haris langsung menghampiri lusi dan langsung memeluknya "Papa senang dengan keputusan mu, papa harap hubungan kalian bisa sampai ke pernikahan lagi.
Pantasan saja kemarin papa dan kakek yang mau menemuimu di larang keras olah Anak biadap itu."
Lalu haris lun melepas pelukannya lalu tersenyum pada lusi sedangkan andre sedikit cemburu.
"Ayah sudah lah, jauh jauhlah dari wanita ku."
Haris menoleh pada anaknya "Loh memang apa salahnya papa dekat sama lusi lagian lusi udah papa anggap anak sendiri."
"Tapi tetap aja jangan terlalu dekat, sekarang dia wanita andre jadi papa jaga jaraklah sedikit."
Lusi menghela napas pelan lau menaruh bungkus makanan tadi dia atas meja "aku pergi mengambil piring dulu, sekalian mau membeli minum di kantin bawah."
Lalu lusi segera pergi sedangkan haris kembali duduk "Hey bagai man kamu bisa kembali bersamanya, coba cerita kepada papa."
"Papa ini penasaran amat ini rahasia anak muda. Oh iya, papa andre penasaran kenapa papa belum juga menggugat cerai wanita itu bukankah andre sudah mengirimkan video dan gambaranya pada papa tentang perselingkuhan wanita itu."
Haris menghela napas pelan "Sabar dulu dong, ada hal penting yang harus papa cari tau."
"Soal apa pah??"
"Ada lah, kamu tak perlu tau karna mulutmu itu ember ketika marah."
"Ih papa gak seru kalok rahasia rahasia gini."
"Loh yang tadi aja kamu rahasiankan pada papa dan sekaran apa papa tak boleh menyimpan rahasia dari mu."
Andre menatap tajam ayahnya dan di balas tajam juga oleh Haris.
Tak lama pintu tebuka dan memperlihatakan seorang polisi "Permisi pak Andre, kami mau meminta waktunya sebentar."
Andre menoleh pada berberpa polisi itu begitu juga haris "Ya ada apa pak."
"Kami mau minta sedikit keterangan lagi pada tuan."
"Ya silahkan."
Peria itu mendekat lalu mulai bertanya berapa pertanyaan dan setelah lengkap sorang polisi itu menoleh pada atasannya dan atasannya yang paham mulia bertannya.
"Jika anda memang benar sempat melukai korban namun di sebelah mana kah yang pasti kanan atau kiri??"
"Sepertinya karna ia menghadap depan saya."
"Dari berberapa orang saksi mata di sekitar apartemen, mereka seriang meliat sebuh mobil tanpa plak sering mondar mandir di sekitar apartemen anda."
Lalu ia memberi tau gambarnya "Apa anda kenal mobil siapa ini??"
"Maaf saya tak tau, tapi jika di lihat dari mobilnya saya pernah melihat mobil ini sekali terparkir di parkiran apartemen, waktu itu mantan istri dan anak saya ada di rumah namum tak ada terjadi hal yang aneh."
__ADS_1
Polisi tadi kembali berdiskusi dengan andre tentang temuan mereka, dan ber-berapa orang yang diduga tersangka.
Bersambung....