
Lusi terbangun dari tidurnya di tengah malam.
Dan hujan di luar masih terdengar "Masih hujan rupanya."
Ia melihat tubuhnya di dalam selimut tanpa memakai sehelai baju pun begitu juga andreas dan peria itu memeluknya dari belakang dan tubuh mereka hanya di tutupi selimut tebal.
"Pa, lepas dulu pelaukannya, aku mau ke kamar mandi."
Andre melepas pelukannya "Hati hati nanti."
"Ya."
Lusi turun lalu dari kasur lalu ia memakaiĀ kemeja putih andreas yang saat di pakai begitu panjang di tubuhnya hingga dapat menutup setengah pahanya.
Lalu ia keluar dari kamar karna, kamar mandi berada di luar.
Lusi masuk ke dalam Kamar mandu itu.
Saat masuk kamar mandi yang di gunakan rupanya towilet jongkok namun karna lusi sudah biasa karna di rumah orang tuanya juga menggunakan towilet jongkok.
Ia naik ke atas towilet itu lalu ia mulai berjongkok.
Awlnya saat ia buang air kecil lampu rumah masih menyala namun pada saat ia akan menyiramnya, ia di kejutkan dengan lapu yang tiba tiba mati.
Lusi membulatkan matanya lalu ia melihat sekitar "Kenapa lampu mati !!."
Lusi meraba dinding untuk keluar dari kamar mandi lalu ia menuju kamar.
"Paa, tolong nyalakan lampu."
Tak ada jawab dan hannya terdengar suara deras hujan, lalu ia mengetuk pintu kamar.
Pada saat lusi menekan ganggang pintu rupanya terkunci.
Dan bulu kuduknya mulai merinding "Pa tolong buka pintunya."
Lusi mulai menggedor gedorkan pintu "Pa toloang buka pintunya."
Tak ada Jawaban karna sebenarnya andreas yang menahan pintu itu dari dalam, Tak lama terdengar suara guntur yang cukup besar
Lusi langsung menutup telinganya lalu ia berjongkok.
Sedangkan pintu kamar langsung terbuka "Sayang apa kamu tak papa"
Andre langsung memeluk lusi yang berjongkok.
"Ada petir."
Andre memeluk lusi "Maafkan aku, ayo masuk."
Andre pun mengantar ia masuk lalu ia mendudukan ia ke kasur dan tak lama terdengar suara petir lagi.
"Bagai mana ini."
"Tenanglah aku akan menjaga mu."
"Aku belum menyiram air ken*ing ku."
__ADS_1
"Apa, kalok gitu kamu tunggu di sini aku akan menyiramnya."
"Jangan tinggalkan aku doang aku takut sediri."
"Tapi tetap jorok jika tak di bersihkan."
Taklam terdengar suara guntur lagi, lalu lusi kembali menutup telinganya.
"Kalok seperti ini ayo ikut aku, kita pergi ke kamar mandi sama-sama."
Lusi pun bangkit lagi dan kali ini ia mengikuti andreas dari belakang menuju kamar mandi dan andre masuk ke dan langsung nenyiram towilet.
"Apa sudah??"
"Ya."
Tak lama terdengar lagi suara petir sontak lusi berlari dan lasung memeluk andre.
"Ada petir."
Andre terkejut namun karna lusi gemetar memeluknya membuatnya kembali membalas pelukan lusi, untuk menenangkannya.
"Tenanglah aku ada bersama mu."
"Kenapa lampunya mati."
"Itu karna petir sayang, jadi lampunya di matikan."
"Ayo kita tidur agar cepat siang hari aku sudah sangat merindukan pangeran ku."
"Ya aku juga merindukan pangeran tampan kita. Kalok gitu ayo kita ke kamar."
Lusi memelui andrea "Apa kamu tadi mengerjai ku.."
Andre yang paham apa maksud lusi langsung menjawab "Apa maksud mu aku tak paham."
Lusi mencubit pinggang andreas "Jangan pura pura tak tau, jika saja petir tadi tak terdengar maka tak mungkin kamu membukakan pintu kamar untuk ku."
"Alah itu hanya hayalan mu saja."
"Gak mungkin itu pasti kamu."
Lusi memukul mukul perut berotot andre.
Andre pun menahan tangan lusi.
"Sayang jangan dong sakit itu."
"Udah ah aku mau tidur aja, kamu itu nyebelin banget."
Lusi langsung menutup matanya karna tak mau menatap andreas.
"Sayang jangan begini aku tak sangup jika kamu marah seperti ini."
Lusi membalikan badannya menghadap belakang dan ia sama sekali tak mau menoleh hinga ia terlelap dalam tudurnya.
Sedangkan andreas merasa bersalah pada istrinya namun untuk sekarang ia akan tidur dulu besok ia akan memberi taunya jadi andre pun tertidur.
__ADS_1
Keesokanya saat andre terbangun ia tak menemukan lusi sontak ia bangkit dari baringnya.
"Sayang.."
Tak ada jawaban sontak ia turun dari kasur dan berjalan keluar dan pada sata pintu terbuka ia langsung di lihat olah kepala pabrik dan lusi yang tengah berbicara.
"Eh tuan andreas.."
Ia menatap ke bawah karna andre sata ini hanya memakai celana pendek dan tubuh bagian atasnya terlihat jelas.
Tak lama terdengar suara lusi "Hey pakai dulu baju mu.."
Andre menoleh pada lusi, ruanya lusi sudah rapi dengan pakaian yang di berikan kemaren.
"Astaga."
Andreas masuk lagi ke dalam kamar dan langsung menutup pintu kamar.
Sedangkan kusi lantas menepuk jidatnya pelan dan berguma pelan "Astaga apa yang harus aku katakan pada peria ini nanti."
Peria itu masih dalam posisi terkejut "Apa semalam benar-benar tak terjadi sesuatu pada anda nona??"
Lusi berusah tersenyum "Aku akan menjelaskan sedikit pada anda."
Lusi pun mulai menjelaskannya padanya "Jadi sebenarnya saya ini istri dari tuan mu andreas dan saya menggantikan Radit sebagai sekertarisnya untuk sementara waktu karna dia mengambil cuti untuk balik kampung."
"Apa anda nona besar. Maaf nona besar jika ada kata kata saya yang sedikit tak sopan pada sata menyebut naman anda kemaren."
"Jangan tak enak hati, lagian kamu juga tak tau dan aku juga tak mempermasalahkan itu."
Tak lama andreas keluar dengan pakaianya "Apa jalannya sudah bisa di lewati??"
"Sudah tuan besar dan saya datang ke sini untuk menjemput nona besar dan tuan besar kembali ke pabrik untuk sarapan di sana."
"Baiklah... Tunggu kamu tadi menyebutkan nona besar, memang siapa nona besar di sini??"
Peria itu tersenyum "Tentu saja nona besar itu nona lusi."
Andreas terkejut "Ma apa kamu memberitaunya??"
"Iya pa, lagian kamu sih keluar begitu, siapa sih yang gak akan salah paham sama kita jadi dari pada ada rumor buruk tentang kita jadi aku jujur saja."
"Saya harap anda tak mengatakan hal ini pada orang lain, ini demi kebaikan istri saya karna kami masih merahasiakan pernikahan kami dan akan mengungkap kannya setelah anak kami di perkenal ke publik."
"Ta tenang saja rahasia anda akan aman di tangan saya jadi anda tak perlu hawatir."
"Baguslah, sekarang ayo kita berangkat.."
Andres menoleh pada lusi "Apa kamu sudah menyiapkan barang-barang kita takutnya nanti ketinggalan."
"Sudah dari tadi dan sudah di simpan di atas mobil jadi kita tinggal berangkat."
"Tapi hpan ku ada di mana??"
"Di dalam mobil juga, apa papa memerlukanya sekarang??."
"Ya, kalok gitu kita berangkat dulu."
__ADS_1
Lusi mengangguk lalu mereka segera mengunci pintu kamar dan baru setelah itu mereka keluar dan segera pergi.
Bersambung......