
Besoknya Radit tak bisa pergi mengambil kan obat gafin karna harus menggantikan andre ke luar kota jadi lusi menawarkan diri untuk pergi sediri sedangkan gafin ia tinggal bersam andre.
Karna ia mau sekaligus memberitau ayahnya dan ibunya tetang niatannya untuk rujuk kembali dan sekaligus ia mau mengambil barang barang anaknya hotel.
"Gafin mama tinggal sama papa yah, nanti jangan nyusahin papa, karna papamu masih sakit. Oke."
Gafin mengangguk "Oke mama."
"Hati hati nanti di jalan."
"Ya." Lalu lusi segera pergi dan ia meniki taksi untuk menuju hotel, selama perjalanan ia terus menyusun kata-kata yang bagus untuk ia katakan nanti.
Dan tak terasa wantu berlalu akhinya ia sampai dan pada saat ia menuju hotel dan masuk ke kamar yang di tempati kedua orang tuanya ia menemukan meteka di ruang tengah, tengah berbincang.
"Ibuk, Bapak apa barang gafin udah di masukan dalam koper??"
Mina menoleh pada anaknya "Sudah nak, tapi kamu ke sini dulu ada yang mau papa dan mama bicarakan pada mu."
Lusi tersenyum "Kebetulan aku juga ada."Lalu lusi duduk di hadapan orang tuanya .
Mina terlihat binggung untuk berbicara dulu sedangkan lusi yang sadar langsung berbicara "Biar lusi saja dulu yang bicara.
Jadi begini buk, pak. Sebenarnya lusi mau membicrakan ini bersama-sama papa gafin cuman karna saat ini ia masih di rumah sakit jadi lusi aja dulu yang memberitau bapak dan ibuk tentang niatan lusi mau rujuk lagi sama papa gafin."
Mina dan sandra yang mendengar hal itu terkejut dan memandang satu sama lain lalu sandra lebih dulu bicara "Apa kamu sudah memikirkan matang9matang keputusan mu nak??".
Lusi mengangguk "Setelah lusi pertimbangkan lagi balikan tak buruk juga karna papa gafin juga menyadari kesalahannya dulu dan mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Baiklah jika itu keputusan mu bapak dan ibuk mu, akan selalu mendukung mu."
Lusi yang mendengar hal itu bahagia "Lalu apa yang mau mama dan papa bicarakan dengan lusi??"
Mina menghela napas pelan "ini berkaitan dengan gafin."
Seketika senyuman lusi memudar "Apa maksud mama??"
Sadra lagi yang menjelaskan "Begini, tuan Haris berencana untuk menjadikan Gafin sebagai penerus dan ia kemarin membicrakan tentang donor mata untuk gafin."
"Apa, apa papa tak bilang jika gafin itu terlalu kecil untuk melakukan oprasi sebesar itu."
"Iya papa paham namun sang pendodor yang akan nendonorkan matanya untuk gafin di kabarkan tidak akan bisa hidup lama lagi dan mungkin jika ia tiada saat itu harus di lakukan oprasinya."
Lusi tersenyuk miring "Gak, lusi gak setuju, biar nanti lusi bicarakan lagi pada papa haris dan kakek lukman jika lusi gak setuju."
__ADS_1
"Lusi, aku tau kamu takut terjadi sesuatu apda Gafin tapi percayalah pada keputusan yang mereka buat ini juga pasti sudah di pikirkan matang-matang.
Mereka tau resikonya, itu sebabnya kereka melakukannya di luar negeri dan mungkin dokter yang akan melakukan oprasinya juga bukan dokter biasa.
Papa mau kamu mengambil kesempatan ini untuk bisa memberikan kebahagian untuk anak mu gafin, agar dapat melihat dunia luar."
Lusi terdiam lalu ia menundukan kepalanya "Biar ku pikirkan sekali lagi, aku harus segera kembalai dan membicarakan ini bersama papa Gafin."
Dan terjadilah keheningan di antar mereka, hingga lusi meninggalkan kamar ia sama sekali tak mau bicara dengan sandra atau pun mina.
Sesampai di rumah sakit ia langsung kembali ke ruang rawat andreas.
"Andreas kita perlu bicara."
Sedangkan di dalam andre yang sedang mengajak anak nya bermai terkejut.
"Ada apa??".
"Kita perlu bicara."
"Katakan saja sekarang."
"Ini penting andre jangan menguji emosi ku."
Anak itu mengangguk lalu andre segera keluar, dan di luar lusi mulai menatap tajam andre lalu ia menunjuk andre.
"Sudah ku katakan sejak awala ku tak mau anak kita mendapat donoran mata sebelum usianya lebih dewasai dari ini, apa kamau tak memberi tau papa??"
"Apa papa memberitau mu??"
"Bukan papa, tapi aku tau dari bapak ku."
Andre menghela napas lagi "Takan ada cara lain lagi, jika gafin tak bisa segera jadi penerus maka perusahaan akan jatuh pada tangan yang salah, karna selama ini ibu tiriku mengancam ayah ku sehinga ayah ku tak banyak berbicara atau melawannya dan berapa waktu lalu kakek dan ayah ku mengetahui rencananya ya yang ingin menguasai harta kelurga dengan reno anaknya.
Itu sebabnya salama ini papa ku tak bisa menceraikan wanita itu walau mereka sudah tidak tinggal satu kamar lagi."
"Namun tetap saja melakukan oprasi pada anak sekecil gafin itu sangat beresiko, apa kamu tak takut bagai mana jika oprasi sebesar itu gagal??"
"Aku tau apa yang kamu takutkan namun jika kira tak melakukannya segera maka masa depan perusahaan akan hancur. Dan lagi anak kita gafin berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya, dari dia dalam kandungan mu."
"Bagai mana jika oprsai itu gagal maka aku akan kehilangan.."
Lusi tak sanggup melanjutkan kata katanya karna ia kini berusaha kenahan tangisnya sedangkan andre langsung memeluknya.
__ADS_1
"Aku tau kamu takut kehilangan, begitu juga aku namun kita tak bisa egois, anak kita berhak mendapat kan apa yang seharusnya menjadi haknya sejak awal."
Lusi menangis di hadapan andre lalu peria itu langsung memeluknya.
...***...
Ini sudah hari kedua renata mendatangi rumah Sandra namun masih belum ada tanda jika mereka sedanga beraktifitas.
"Sialan aku kecolongan, seharusnya hari itu aku tak meninggalkan mereka."
Renata tak hentinya memukul mukul setir mobil hingga terdengar suara hpnya bergetar lalu ia langsung mengangkatnya.
"Halo sayang ada apa??"
"Mama di mana hik.."
"Sayang ada apa sepertinya kamu meangis."
"Maa, apa yang harus aku lakukan. Aku hamil anak peria itu dan ia tak mau bertanggung jawab."
Renata yang mendengar perkataan anaknya sontak terkejut "Jangan bercanda kamu, bukankah mama selalu ingatkan untuk selalu memakai pengaman."
"Tapi dia selalu menolak maa.."
"Sekarang kamu terbang ke kota Q, kita bicara di sini."
"Baik mama aku akan segera ke sana."
Lalu panggilan itu berakhir sedangkan mina dengan kesal melempar hpnya ke kursi sebelah "Sialan, bapak sama anak selalu merepotkan saja.
Mana sampai sekarang ia belum juga mengabari ku tentang pembayaran hutang perusahaan padahal aku sudah mentrasfer 500 juta.
Terpaksa aku mengemis lagi pada bule tua itu, cih sialan..."
Lalu renata memutar balik mobilnya dan melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan mobil sewaannya.
tanpa sadar jika dari arah berlawanan ada truk yang oleng dan jatuh di tengah jalan dan isi truk itu berhaburan di jalan.
Sedangkan Renata yang melihat truk jatuh itu lantas menekan rem mobil namun sayang tak berfungsi.
"TIDAM..."
dan ia langsung menabrak truk tadi hingga mobiknya rusak parah dan di langsung tewas di tempata karna terkena hantaman yang cukup kuat.
__ADS_1
Bersambung...