
Lusi yang sedang tertidur tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan pada pipinya yang ia pikir ada andreas.
Karna andras memang terkadang sering melakukan hal ini padanya namun bagi lusi itu sangat menghangatkan namun kali ini ia maraskan hal yang berbeda.
Rasanya tak seperti biasanya dan ia baru teringat jika ia di culik, perlahan ia membuka matanya dan ia dapat melihat tubuh seorang peria yang tengah duduk di pinggir ranjang namun ia tak berani melihat ke atas.
"Rupanya kamu sudah bangun sayang..."
Lusi terdiam karna suara yang terdengar bukan suara andreas namun suara orang yang tak asing baginya.
Ia pun memberanikan diri untuk menoleh ke atas dan bertapa terkejutnya ia melihat piter yang tersenyum padanya.
Seketika air mata lusi menetes "Ku mohon lepaskan aku.."
Piter tersenyum lau membelai wajahnya "Memang kamu mau ke mana sayang??"
"Kumohon lepaskan aku hik..."
"Sayang untuk apa kamu kembali, tak akan ada orang yang peduli pada mu hanya aku saja yang peduli pada mu dan mencintai mu dengan tulus."
Lusi menggeleng "Kumohon lepaskan aku piter, aku butuh anak ku dan aku butuh suami ku."
"Akulah suami mu yang sekarang, tak ada yang lain dan mari kita jalani rumah tangga baru dan aku pasti akan menerima mu apa adanya kamu dan anak mu yang sedang kamu kandung."
Lusi berusaha melepaskan borgol yang terpasang pada tanganya namun tak bisa ia terus menangis dan memohon namun jawban piter membut lusi semakin frustasi.
"Tudurlah dulu dengan ku, baru aku akan mau melepaskan ikatan mu tapi hanya untuk kaki tidak tangan."
"Ku mohon lepaskan ku..hik, katakan saja apa mau mu aku tau suami ku pasti akan bisa mengabulkan permintaan mu, tapi aku juga mohon lepaskan aku dulu...hik."
Piter tersenyum "Apa kamu pikir uang akan bisa menyelesaikan masalah??.
Yang aku inginkan itu kamu, apa kamu pikir suami mu itu mau memberikan kamu pada ku??.
Dan lagi aku juga sangat menikmati di mana saat kehancuran andreas dan sangat menunggu hari ini."
Tak lama terdengar ketukan pintu "Tuan ada tamu yang datang."
Piter menoleh ke belakang "Siapa??"
"Zahra tuan."
Piter yang mendengat nama itu saja sudah kesal ia bahkan menghela napas kasar.
__ADS_1
Berbeda dengan lusi yang justru kaget mendengar nama itu.
Piter memoleh pada lusi "Aku tangani dulu penggangu itu kamu istirahat saja, aku tau kamu lapar juga aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk mu."
Lalu ia bangkit dari duduknya dan segera membuka pintu dan wajah orang yang terlihat di luar adalah Joy dan lusi yang melihat hal itu melotot hatinya sudah di penuhi rasa benci pada joy karna dengan teganya joy melakukan hal ini padanya, padahal lusi kira joy adalah orang baik.
Dan saat pintu akan tertutup terlihat dari raut wajah joy tak ada wajah bersalah sama sekali.
Setelah pintu tertutup lusi berusaha melepas borgol tangannya namun gagal dan ia tak menyerah ia mencari benda yang dapat ia gunakan untuk melepaskan borgol yang di tanganya dan rantai di kakinya.
Lusi bangkit lalu menghampitr kamar mandi namun ia tiba tiba terhenti di tengah ruangan karna rantainya tak cukup panjang.
"Sialan, pedek sekali rantainya lalu bagi magai mana aku buang air kecil nanti."
Tak lama pintu terbuka sontak Lusi menoleh sampingnya rupanya ada joy bersama seorang pelayan wanita yang membawa rantai.
"Apa mau mu .."
"Tenanglah aku akam mengantar mu ke bawah."
Lalu wanita tadi memasangkan rantai tadi pada leher lusi sedangkan ujungnya di peggang joy dan wanita itu pun kembali menunduk lalu membuka kunci rantai di kakinya.
Lusi menatap sinis joy "Kamu kira aku an*ing sehingga di rantai begini, andai saja aku sedang tak di sekap mungkin sudah ku tuntut kamu."
"Memang kamu siapa yang pantas menilai kebahagiaan orang, apa kamu buta ada kah kebahagiaan pada wajah ku ini!!"
Joy hanya tersenyum "Anda terluhat begitu bahagia hari ini nona."
"Gila kamu."
Lalu joy pun menarik rantai itu dan lusi mengikutinya dari belakang dan membawa lusi turun dan duduk di meja makan dan rantai yang ia pegang ia ikatkan pada tiang rumah yang juga tak begitu jauh dari Meja makan.
"Seprtinya aku lebih persis menjadi seorang anjing ketimbang manusia!!."
Lalu seorang pelayan menyediakan makanan di hadapan lusi dan satu piring lagi di depan lusi namun karna jarak cukup jauh lusi juga tak bisa meraihnya.
Tak lama terdengar suara dari arah belakang lusi, dan lusi juga dapat menebak itu pasti piter.
"Maaf sayang aku tadi lama."
Piter pun duduk di hadapan lusi sedangkan lusi lantas menatap tajam dia.
...***...
__ADS_1
Sampai malam hari polisi masih belum menemukan jejak mobil kontener tadi, truk kontener itu hilang seperti di telan bumi.
Para polisi menduga CCTV jalan sudah di retas karna saat mobil itu lewat, kamera CCTV mati dan saat itu tak ada yang menyadari entah bagai mana ia melakukannya.
Andras di minta pulang dan dengan berat hati ia pulang dan saat di rumah dia bukanya makan karna setelah seharian tak makan.
Dan hanya sarapan yang lusi buat tadi pagi dan satu botol air minum membuat Andras dapat bertahan sampai malam hari.
Ia justru pergi memeriksa anaknya namun, mengejutkannya anaknya masih terbangun namum ia tak hentinya menangis dan terus bersembunyi di balik selimut.
Sedangkan baby sitternya juga terlihat kewalahan membujuknya dan andreas yang sadar lantas memberi kode pada baby sitter Gafin untuk pergi dan wanita itu segera pergi lalu andreas duduk di pinggir ranjang anaknya.
"Mama dimana kamu..hik, gafin rindu mama hik..."
Andras yang mendengar suara tangis anaknya semakin terluka "Gafin."
"Gafin mau mama..hik."
"Gafin tenanglah mama takan pergi lama mama pasti akan kembali, gafin tunggu aja."
Gafin perlahan mau membuka selimutnya lalu ia menatap ayahnya dengan mata sebabnya.
"Mama ke mana ..hik."
Andreas membelai rambut anknya "Mama sedang ada kerja, jadi setelah kerja mama akan balik lagi."
"Tapi kenapa mama tak memberitau gafin kalok mama ada kerja."
"Mama mu itu takut kalok gafin nanti tak memperbolehkan jadi mama pergi diam-diam, namun nanti pada saat waktunya mama mu akan balik kok."
"Kalok gitu bisa kah kita menelfon mama..hik."
"Nantia kan papa coba, tapi untuk hari ini Gafin tidur dulu."
"Apa papa bisa menemani gafin??"
"Tentu saja hal apa yang tak mungkin untuk putra semata wayang papa."
Lalu andreas baring di sebelah gafin dan anak itu langsung memeluk ayahnya dan seketika tangisnya berhenti dan mereka berdua pun saling memejam kan mata.
Dan malam itu andreas tertidur di kamar anaknya.
Bersambung.....
__ADS_1