
Tak terasa satu jam pun berlalu dan saatnya mereka masuk ke dalam pesawat lagi dan lusi kembali duduk di dekat jendela dan sebelahnya adalah Andras.
Yang mengejutkannya rupanya Chen juga ada dan ia duduk di kursi samping andreas "Chen, apa benar itu kamu."
Chen rerlihat begitu terkejut melihat lusi di seberang sana karna ia tak menyangka jika akan satu pesawat dengan lusi.
Namun andars yang cemburu lants langsung menutup sempingnya agar lusi tak menoleh lagi pada Chen.
Lusi menoleh pada Andras "Loh kok di tutup sih??"
"Aku mau tidur."
"Iya kalok mau tidur tidur aja, jangan di tutup juga kalik. Kalok gini kita tukaran tempat duduk aja udah."
Andars menggeleng "Aku tak mau, kamu bukanya kamu yang mau duduk di dekat kaca. Sekarang kamu sudah di dekat kaca dan diamlah disitu dan jangan banyak oceh."
Guma andreas dalam hati "Kalok aku tau akan satu pesawat dengan orang ini seharusnya aku menyewa pesawat saja agar tak bertemu dengannya.
Sunggu sangat menyebalkan."
Dan karna tak bisa berbicara dengan chen pada akhirnya lusi kembali tidur namun pada jam 2 siang ia merasa ingin buang air kecil.
"Tuan tolong buka pintunya akumu mau keluar sebentar."
Andras terbangun setelah mendengar suara lusi, lalu ia menekan sebuah tombol dan penutup sampingnya langsung terbuka lalu lusi pun keluar sedangkan andreas sengaja tak menutupnya lagi agar lusi bisa mudah kembali ketempat dudukna nanti. Karna ia akan melanjutkan tidurnya.
Tanpa Lusi sadari dari jauh seorang peria memperhatikannya, ia lantas tersenyum lalu bangkit dan mengikuti lusi dari belakang.
Lusi masuk ke sebuah kamar mandi dan ia langsung mengunci kamar mandi itu, dan kebetulan saat Piter sampai rupanya di sekitar itu sedang sunyi jadi dengam mudah piter melakukan aksinya ia menahan pintu itu dengan tubuhnya.
Setelah lusi buang air kecil ia segera mencuci wajahnya sebentar "Astaga, aku merasa lapar lagi. Apa pramugarinya sudah pada bangunyah aku mau meminta makanan."
Pada saat lusi akan membuka kunci toilet dan akan mendorongnya namun bukanya terbuak pintu itu justeru tak bergerak.
Lusi memutar mutar kunci toilet "Loh kok gak bisa terbuka."
Lusi mencoba lagi untuk mendorong namun tetap tak biasa "Siapa pun disana tolong bukakan pintu."
Lusi menepuk judatnya "Tidak ada orang yang bisa mengerti bahasa ku di pesawat ink kecuali taun, radit dan chen .bagai mana ini."
__ADS_1
Lusi menggedor gedor pintu dengan memukul mukul pintu "Tolong.."
"Bagai mana ini, apa aku terkunci."
Lusi berpikir untuk mendobrak namun bagai mana dengan anaknya nanti yang membuatnya kebingungan "Bagai mana ini." Lusi tak hentinya memukul mukul pintu agar ada orang yang bisa mendengar suaranya yang terjebak di dalam dan membantunya.
Sedangkan Piter terlihat santai saja menahan pintu kamar mandi itu hinga satu jam lusi tak hentinya memukul mukul pintu dan tanganya juga sudah terluka dan bahkan ia juga terus berteriak namun belum juga ada orang yang membantunya ia yang putus asa tak bisa menahan tangisnya.
"Tolong buka pintunya, aku terjebak di sini..hik."
Lusi pada akhinya menangis ia takut bagai mana tak ada orang yang kekamar mandi maka dia akan tertinggal di pesawat, dia sudah sangat lapar dan pintu belum juga bisa terbuka.
Sedangkan Chen ia terbangun karna kebetulan ia kebelet buang air kecil dan pada saat ia bangkit dari duduknya ia terkejut melihat pintu tempat andreas dan lusi terbuka dan terliaht jika lusi taka ada di dalan sedangkan Andreas ia terlihat tertidur.
"Mungkin saja ia ke toilet."
Chen berjalan ke toilet namun ia melihat seorang peria di depan salah satu toilet.
Ia sempat terkejut melihatnya dan terdengar suara pukulan dari dalam dan peria itu tersenyum padanya.
Seadngkan Chen ia sudah terbiasa dengan budaya barat yang tak suka ikut campur urusan orang dan pikirnya jika di dalam sana itu adalah istri peria itu.
Chen masih penasaran dengan suara yang ada di toilet sebelah lalu ia segera menyelesaikan buang air kecilnya setelah itu ia keluar dan ia menemukan peria itu masih disitu dan masih dengan senyuman yang sama.
Chan ceapt ceapt keambi le kurusinya dan ia mencari tempat duduk yang kosong di sekiat situ dan ia hannya menemukan dua dan salah satunya milik lusi dan satunya pasti milik peria tadi.
Chen terkejut "Apa mungkin di dalam situ adalah lusi."
Chen dengan tergesah gesar kembali dan ia kembali bertemu dengan peria itu.
"Tuan apa kamu bolah minggir sebentar??"
"Untuk apa??"
"Sepertinya badan anda menutup pintu, untuk adik saya keluar."
Piter tersenyum "Apa dia adik mu??"
"Memang bukan adik andung namun ia sudah ku anggap adik ku sendiri."
__ADS_1
Piter menyingkir lalu pintu itu pun terbuka dan ia terlihat tersenyum ketika melewati Chen.
Sedangkan chen segera memeriksa lusi yang ada di dalam.
"Lusi apa kamu tak papa??"
Lusi terkejut melihat chen di luar.
"Apa kakak yang membukakan pintu untuk lusi??"
Chen langsung memeluk lusi yang berlinang air mata "Apa kamu tak papa??"
Lusi mengangguk di dalam pelukan Chen namun karna tak mau mengganggu penumpang pesawat ia meangis dengan suara kecil
Chen memperbaiki rambut lusi "Jangan takut aku ada di sini."
Tak lama terdengar suara dari belakang "Apa yang kalian lakukan??"
Namun tak ada jawaban hanya terdengar tangisan lusi dan Andreas yang marah lantas menarik paksa pakaian Chen hingga peria itu terhempas ke belang dan andreas menarik lusi untuk bangkit
"Tak ku sangka kamu ke kamar mandi lama hannya untuk bersama bajingan ini."
Lusi menggeleng "Tidak tuan, aku tadi terjebak di dalam dan kakak chen lah yang membuka pintu untuk ku hik.."
Andreas menatap sinis lusi "Jangan banyak alasan, katakan saja jika kamu diam diam bermain di belakang ku bersama peria ini."
Lusi yang mendengar perkataan andreas merasa jika dirinya lah yang berselingkuh, lusi menampar wajah andreas.
Dan peria itu seketika terdiam"Biar ku katakan pada mu, semiskinnya aku dan sejelek jeleknya aku.Aku tak akan perlu melakukan hubungan hina seperti itu."
Lusi yang awalnya menangis kini terbawa emosi dengan kata-kata Andreas kini rasa sedih sudah bercampur amarah pada diri lusi.
Lusi mendorong andreas hingga menabrak dinding lalu ia segera pergi sambil berusaha menghapus air matanya yang tak henti mengalir.
Sedangkan Andreas ia terlihat terdiam ketika mendapat tamparan itu.
Chen bangkit dari duduknya "Benar apa yang ia katakan, justru ia lama di toilet karan pintu toilet tak terbuka karna di tahan oleh seorang peria."
Chen pun meninggalkan Andreas yang masih terdiam.
__ADS_1
Bersambung....