
Andreas dengan kesalnya menghampiri joy hingga bangku yang ada di hadapnya jatuh lalu ia menarik kerah baju joy hinga joy terangkat.
"Bere*gsek katakan di mana isti ku."
"Tuan tenang lah."
Radit melepaskan tarikan tangan andreas lalu ia menjauhkanya dari joy sedangkan polisi tadi segera memborgol tangan joy agar Joy tak lari.
"Radit dia itu sudah menculik istri ku..."
"Saya tau tuan tapi tenanglah dulu, mari kita bicarakan sdulu dan jangan main hakim sendiri."
"Tapi tetap saja joy aku ingin segera bertemu dengan istri ku."
"Tuan tenanglah dulu, seharusnya anda bisa tenang dan berpikirlah jernih dulu, orang yang kita lawan ini adalah piter seorang peria misterius yang isi otaknya tak bisa di tebak."
Andras terdiam lalu ia mencoba tenang dengan menarik napas pelan dan setelah tenang ia pun berjalan menghampiri joy dan mau duduk di meja itu bersama polisi tadi.
"Sekarang katakan di mana istri ku??"
Joy menarik napas pelan "Nona berada di mansion tuan piter yang ada di pinggir kota dan lagi di sana penjagan cukup ketak dan saya kawatir jika terlihat seorang polisi mendatangi tempat itu maka lusi akan di bawa jauh dan kemungkinan kecil tuan andreas akan dapat menemukanya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan??"
"Sebaiknya nona Tina yang mendatanginya dan membujuknya karna saat ini kondisi mental tuan piter sedang tak baik-baik saja.
Dan orang yang paling ia sayang adalah ibunya Tina jadi mungkin jika nona tina membujuknya ia mungkin akan mau melepas istri anda."
"Tapi aku tak yakin tentang rencana mu itu akan berhasil, bagai mana kamu bergabung saja dengan kepolisain dan menyelundupkan para polisi itu ke dalam mansion piter satu persatu agar jika negoisasi itu tak berjalan lancar maka akan ada rencana pengganti yang dapat di lakukan.
Bagai mana dengna kondisi istri ku, apa dia baik baik saja dan apa dia makan dengan baik dan bagia mana dengan anak kami??"
"Sayangnya aku cukup hawatir tentang itu karna di sana lusi di perlakukan bagaikan seorang anjing."
Andras yang mendengar hal itu lantas memukul meja itu kuat "Bere*gsek sekali kamu, berani sekali memperlakukan istriku seperti binatang."
Andras lantas bangkit dari duduknya dan ingin menarik kerah joy lagi namun segera di tahan Radit, lalu Radit pun menjauhkan andras dari joy lalu ia mencoba menenangkan tuanya.
"Tuan tenanglah, kita akan segera menolong nona, jadi tenanglah biarkan polisi tadai berbicara padanya."
"Radit aku tak habis pikir istri ku yang paling ku cinta dan orang yang selalu aku jaga dengan sepenuh hati di perlakukan seperti itu, dia pati sangat ketakutan sekarang.
Jika saja aku dapat menemukan tempat aku bersedia menggantikanya di sana."
"Tuan tenanglah percayalah jika nona akan baik-baik saja.
Saya tau nona itu orangnya sangt kuat dan bisa melewati semua ini."
__ADS_1
Andras berusaha tenang namun kali ini ia tak mau menatap joy lagi karna saat melihat wajah joy ia hanya terus di penuhi rasa amarah saja jadi ia mencoba mengalihkan pandanganya dan memiarkan polisi tadi yang berbicara padanya.
***
Besoknya lusi terbangun dari tidurnya dan matanya terlihat bengkak karna semalaman menangis hingga tertidur dan ia bangkit dari duduknya lalu melirik sekitar dan rupanya pitr tidur di sebelahnya dan lusi yang melihatnya mulai merasa jijik entah kenapa ia mulai merasa ingin muntah.
(Hoek..hoek..)
Lusi turun dari ranjang dan mencoba pergi namun rantainya hanya terhenti di tengah ruangan semalam juga ia juga bang air kecil dengan baskom dan tak mungin ia muntah di dalam baskom itu lagi, ia juga begitu jijik melihatnya.
Lusi terpaksa muntah di lantai dan perlahan piter terbangun karna mendengar muntahan lusi.
"Sayang ada apa."
Saat menoleh pada lusi ia terkejut melihat lusi lantas ia menghampirinya "Apa yang terjadi pada mu."
Mencium bau tubuh piter sudah membuat lusi tak tahan membuat ia makin muntah dan piter yang panik mengira lusi keracunan.
Namun ia tak mungkin membawanya ke rumah sakit marna ia akan tertangkap dan ia tak bisa apa-apa dan justru keluar meningglkan lusi dan memanggil pelayan yang ada di dapur.
"Kamu tolong wanita ku di dalam.."
"Baik tuan."
Lalu piter segera pergi namun tak lama terdengar pintu terbuka "Tuan ada yang ingin bertemu."
Saat pier menoleh ke belakang ia terkejut melihat ibunya.
"Mama."
"Piter, jadi kamu tinggal di sini??"
"Joy kenapa kamu membawa mama ke mari."
"Nona lah yang meminta ke mari."
Piter mulai tersulut marah "Mama pulang lah aku tak mau lagi melihat mama."
"Piter jangan seperti ini nak mama dan papa tak sanggup jauh dengan mu, mama dan papa hanya mau kamu tetap di jalan benar nak."
"Diam, mama tak tau hal yang terbaik untuk piter hanya piter saja yang tau yang terbaik buat piter."
Namun tiba tiba ia melihat wajah seorang peria yang tak asing baginya, tepat di belakang ibunya yang berpakaian seperti bodyguard.
"Apa di belakang mama itu polisi."
"Tidak ini bukan.."
__ADS_1
Piter sontak berlari ke dalam kamar dan para polisi tadi mencoba mengikutinya.
Ludi yang tengah muntah muntah di di tengah ruangan langsung di tarik piter menjauh dan ia pun menodongkan pistol pada kepala lusi.
Wajah lusi yang memang pucat, seketika semakin pucat setelah di todong seperti itu.
"Jangan mendekat jika kalian mendekat aku akan membunuh."
Lusi yang semakin ketakutan merasa keram pada perutnya.
Dan para polisi tadi yang tak berani mendekat sedangkan dari belakang para polisi Andreas mumcul dan ia begitu terkejut melihat lusi yang di todong apa lagi lusi begitu pucat.
"Tidak.."
Andras mencoba menerobos namun segera radit tahan "tuan tenang."
"Radit istri ku radit."
"Jangan mendekat atau kamu amu aku membunuh istri mu."
Andreas ter henti ia ingin marah namun jika ia gagabah maka nyawa istrinya taruhannya.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya??"
"Aku menginginkan istri mu."
Dari kata itu andras mulai memutar otak untuk mengelabuhi piter.
"Jika kamu menginginkannya bukankah seharusnya dia menceraikan aku dulu."
"Kamu tak mungkin mau melakukan itu kan."
"Aku memang tak mau namuan jika itu jaln agar istri ku aman aku harus melakukanya."
Piter tersenyum, ia sama sekali tak berpikir dengan baik, padahal di balik kata kata itu ada rencana dadakan yang andreas buat untuk mengecohnya.
"Baiklah butlah suratya."
Andras menolah pada Radit sebentar "Radit buatkan secepat mungkin."
"Baik tuan."
Lalu radit pergi sedangkan andras tak menatap piter namun lusi lah yang ia tatap ia memberi kode pada lusi.
Dan lusi masih belum paham apa maksud suaminya dan karna itu andreas terus memberi kode yang mudah di pahami hinga perlahan lusi paham.
Lalu lusi mencoba menarik napas untuk tenang.
__ADS_1
Bersambung....