
Besoknya pada saat lusi membuka mata "Astaga,sudah jam berapa ini."
Pada saat lusi melihat sekeliling ia terkejut karna dia tidak di kamarnya sontak ia bagkit lalu memeriksa sebelahnya.
"Dia tidak ada."
Lusi melihat pakaiannya "Masih utuh."
Akhirnya lusi bisa bernapas lega "Kenapa aku bisa ada di kamar andre."
Lusi berusaha mengingat kejadian semalam dan perlahan memorinya mulai kembali dan ia baru ingat jika ia sendiri lah yang masuk ke kamar ini.
"Astaga bodoh sekali kamu lusi."
Lusi kembali melihat sekeliling, dan kamar itu sama sekali tak ada yang berubah interiornya.
"Sepertinya ia tak mengganti interior kamar. Namun jika ia tak menggantinya apa mungkin foto pernikhan kami masih ada terpajang di ruang bajunya, seingat ku disana lah ia memajangnya dulu karna tak mau merusah interior kamarnya."
Lusi pun berjalan ke ruang ganti baju, sebenarnya ia sangat berharap jika foto itu sudah tak terpajang lagi karna mereka sudah tak memiliki hubungan lagi namun ia seketika tak bisa berkata kata ketika meliaht foto pernikahannya dan andre masih terpajang dan bahkan kini bingkainya sudah lebih indah dari bingkai yang dulu.
"Apa benar dia masih mencintai ku??"
Tak lama pintu kamqr terbuka Sayanga apa kamu sudah bangun??, ayo kita sarapan dulu sebeluam ke bandara."
Andre melihat di atas kasur sudah tak ada lagi keberadaan lusi, andre melirik sekitar "Apa dia sudah ke sebelah??"
Namun tak sengaja mata andre melihat lusi di ruang gantinya "Disana ia rupanya."
Andre berjalan menghampirinya "Astaga disini kamu rupanya, ayo kita sarapan dulu, kasihan gafin sudah lapar karna harus menunggu mamanya ."
Pandangan lusi masih tertuju pada foto itu sedangkan andre lantas terdiam rupanya yang membuat lusi mematung adalah karna foto itu.
Andre perlahan mendekat pada lusi lalu ia pun memeluknya dari belakang "Ayo kita turun srapan, Gafin pasti sudah menunggu kita."
"Kenapa kamu masih memajang foto ini??"
Andre tersenyum lalu menatap foto itu lagi "Tentu saja untuk mengingat mu, ketika aku putus asa dan tak memiliki motifasi untuk hidup."
"Tapi kita sudah tak bersama lagi."
"Walau kita tak bersama lagi hati ku ini akan tetap tertuju pada mu, tak ada wanita yang lebih baik selain dirimu."
__ADS_1
Lusi membalikan badannya lalu ia menatap ke atas sedngkan andre menoleh ke bawah dan mata mereka pun bertemu.
"Kenapa kamu tak pernah mencoba untuk melupakan ku, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari ku."
"Aku takan pernah mencintai wanita lain lagi, hanya kamu lah wanita yang aku cinta.
Walau dunia berkata tidak aku tetap akan terus menjunjung keyakinan ku bahwa wanita yang terbaik hanyalah kamu."
Lusi terdiam sedangkan andre tetap tersenyum "Sekarang ayo kita sarapan, pesawat kalian akan mulai berangkat jam 10 ."
Lusi melepas pelukan andre "Ayo kita sarapan."
"Ayo."
Lalu mereka segera keluar dari ruang ganti baju.
Dan pada sata keluar dari kamar terlihat dari atas jika gafin tengah duduk dimeja makan dan terlihat juga ia sedang memainkan mainannya.
Mekereka menuruni tangga bersama sama lalu menghampirinya.
"Selamat pagi sayang, bagai mana tidur mu semalam."
Gafin menyungutkan bibirnya "Apa kita akan kembali hari ini mama??"
"Ya memang kenapa?,"
"Apa papa takan ikut bersama kita??"
Lusi berusaha tersenyum "Papa mu tidak akan ikut karana papa mu juga punya kerjaan di sini."
"Tapi kenapa kita tidak tetap di sini aja bersama papa, kan kasihan kalok papa di tinggal sendiri aja."
"Astaga gafin papa mu itu sudah besar ia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Tapi gafin masih mau bersama papa, kenapa ketika kakak Rangga bisa bersama papa dan mamanya lalu gafin tak bisa."
"Gafin!!, kenapa kamu terus saja memancing emosi mama, kan mama sudah bilang papa mu gak bisa ikut karna harus kerja."
Gafin seketika terdiam dan perlahan terdengar suara tangisnya dan seketika lusi menyesal dengan kata katanya namun andre segera merangkul anaknya dan mendudukannya ke atas pangkuannya.
"Anak papa paling ganteng jangan menangis, apa yang mama mu katakan itu benar.
__ADS_1
Tapi papa akan berjanji akan sering main main sama gafin di sana, karan di sana papa juga apa pekerjaan dan mungkin minggu depan papa akan datang lagi ke sana, baru nanti gafin main lagi sama papa."
Setelah mendengar kata kata itu tangis Gafin perlahan berangsur mengecil lalu ia menatap ayahnya.
"Benarkah papa??"
"Ya, jadi jagoan papa jangan nangis yah."
Andre pun memeluk anaknya itu, sedangkan lusi sedikit bersyukur jika ada andre yang sabar dan bisa menenangkan anaknya karna biasanya jika di rumah lusi dan Gafin seperti ini maka minalah yang akan menenangkan gafin.
...***...
Tak terasa waktu berlalu dan pada saat mereka sudah di bandara dan setengah jam lagi pesawat akan berangkan jadi andre dan gafin kini duduk kursi tunggu sementara menunggu lusi yang pergi belanja keluar, sedangkan gafin kembali menangis di pelukan andre karna ia tak mau jauh dari ayahnya.
Sebab bagi gafin kehadiran andre hal yang paling ia tantikan karna selama ini ia tak pernah mendengar suara sang ayah namum ketika usianya sudah 4 tahun jalan usia 5 tahun sosok ayah itu hadir membuat hatinya begitu gembira.
Namun mendapat perpisahan yang begitu cepat ini membuatnya tak tak kusa menahan tangisnya, sosok seorang ayah yang ia harap akan selalu bersamanya namun pada akhirnya mereka harus berpisah.
Tak lama lusi datang menghampiri mereka karna ia tadi baru dari supermarket yang kebetulan ada di luar bandara untuk membeli berberapa cemilan untuk anaknya di pesawat nanti.
"Apa dia masih menangis??"
Andre mengangguk, lusi dapat melihat jas andre yang basah.
"Gafin sudahlah sayang jangan menangis lagi, lagi pula papa udah janji akan datang minggu depan dan kita kan sama sama merayakan ulantahun gafin.
Baju papa mu itu sudah basah karna tangis mu, sini sama mama aja kita makan cemilan ini mama ada beli banyak."
Gafin menggeleng "Gafin mau sama papa."
Lusi menghela napas pelan laku duduk di sebelah andre "Ini kartu mu."
Andre menola kartu itu "Ini bukan milik ku, ini untuk mu dan gafin."
Lusi terkejut "Apa maksudmu ini ATM mu??"
"Milik ku ada, itu ATM hasil dari setengah gaji ku selama 5 tahun ini untuk mu dan gafin jadi ambil saja, nanti yang untuk bulan ini akan ku tarsfer."
Lusi terus menolak namun ia kalah oleh anadre dan terpaksa menerimanya dan setelah setengah jam berlalu gafin pun ter tidur di pelukan andre dan pesawat pun sudah mulai akan berngkat jadi andre hanya bisa mengantar mereka sampai situ sedangkan lusi lah yang menggendong gafin masuk ke dalam pesawat.
Namun sempat sempatnya ia menyelipkan sebuah kertas pada kantong jas andre pada saat menunggu tadi.
__ADS_1
Bersambung...