
Malamnya saat lusi akan tidur ia terlebih dahulu menunggu andreas kembali dari Ruang kerjanya karna dia dari sore hannya di ruang kerjanya itu dan bahkan ia menghabiskan makan malamnya di sana padahal ia bisa sekalia ikut makan di luar namun karna pertengkarannya waktu itu membuatnya masih tak mau berbicara dengan lusi.
Sampai jam 1 malam lusi sudah mengantuk dan ia ber-berapa kali menguap dan tv yang sengaja ia nyalakan agar ia tak mengantuk mulai tak mempan kantuknya menghilang. Namun 5 menit kemudian baru pintu kamar tebuka dan memperlihatkan sosok andreas.
Andras yang awalnya berniat masuk diam-diam terkejut dengan suara tv yang masih menyala dam lusi yang terlihat menonton sambil menguap.
"Loh sayang belum tudur??"
Lusi menoleh pada andras "Aku menunggu mu."
Andreas menghampinya lalu duduk di pinggir ranjang "Tidurlah, aku masih mau keluar."
"Kamu mau ke mana malam begini??"
"Ke rumah teman ku."
Lusi menyungutkan bibirnya "Tak bisa kah besok hari saja."
"Maaf tapi tak bisa."
"Apa kamu masih kesal pada ku??"
"Tidak.."
"Alah bohong aku tau kamu masih marah pada ku itu sebabnya kamu malam ini gak mau tidur dengan ku."
"Aku gak marah kok pada mu aku hannya mau menemui teman ku saja."
Lusi merasa sesak pada dadanya karna andreas tak mau jujur.
"Jujur saja, jangan berbohong pada ku. Aku tau aku salah aku minta maaf, tapi jangan begini."
Mata lusi mulai berkaca-kaca dan saat andras menatap mata yang penuh kesedihan itu ia sebenarnya ikut merasa iba namun ia masih kesal masalah tadi pagi dan ingin menyalurkan amarahnya dengan minum bersama temannya.
"Tidak aku hanya pergi sebentar saja aku akan kembali."
Andreas bankit dari duduknya lalu menuju ruangganti baju dan meanganti bajunya.
Namun kusi segera menyusulnya lalu ia memeluk andras dari belakang "Ku mohon jangan pergi tetaplah di rumah, jiak pun kamu tetap akan pergi biarkan siang hari saja dan jangan tinggalkan aku sendiri."
Andraes tak mempedulikannya dan melepas pelukan lusi lalu ia menoleh ke belakang dan ia menatap Lusi "Sayang aku butuh ketenangan untuk meredam amarahku jadi aku mohon biarkan aku untuk malam ini pergi."
Lusi tak bisa menjawab dan air matanya mulai menetes karna andras tadi berbicara dengan nada yang serius.
Andreas memeluk lusi, "Dan sekarang istirahat lah."
lusi menoleh ke arah atas dan andras lantas menoleh ke bawah dan mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
lusi menarik leher andras mendekat sambil berjinjit lalu bibir mereka saliang menempel.
andras terkejut karna jarang sekalia lusi mau begi dan ia juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ia menarik kepala lusi sehingga ciuman mereka semakin dalam.
Andras mengangkat lusi menuju kasur lalu ia membaringkannya di kasur secara perlahan.
lalu ia melepas ciumanya dan menatap lusi "Jangan memancing ku, aku atau tak mau menggangu waktu istirahat mu."
lusi melingkarkan tanggannya ke leher andras "Ayo kita lakukan agara kita bisa bersama sama melupakan masalah tadi pagi."
"jangan menyesali keputusan mu itu."
"Aku takan menyesal.."
andas yang sudah termakan hasrat yang tak bisa ia tahan lagi langsung menerkam lusi dan malam itu ia sama sekali tak memberi celah untul lusi istirahat ia terus bermain hingga subuh dan saat itu lusi sudah terlihat kewalahan namun karna begitu menikmatinya jadi hal itu tak membutnya marah atau pun benci.
Pada jam 12 pagi lusi terbangun dan saat ia menoleh sebelahnya rupanya ada Andras yang tengah membaca buku.
andras membelai rambut lusi pelan "Ayo banguan sayang ini udah tengah hari"
lusi menepis tangan andras "Jangan di elus aku maunya di peluk."
Andras tersenyum "Dasar manja."
"Apa kamu mau lagi.."
"Ayo kita lakukan lagi."
andas tersenyum lalu naik ke atas lusi dan bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka dan Gafin yang melihat Andras berada di atas lusi lantas berteriak .
"Tidak..."
Lusi dan andre menoleh gafi dan mereka sedikit terkejut, apa lagi saat ini lusi tak memakai sehelai benang pun sedangkan andras hanya memakai celana.
"Ada apa Ggin."
Gafin berjalan dengan sedikit tergesah gesah lalu naik ke kasur dan berusaha mendorong andre namun usahanya gagal.
"Menyingkirlah dari mama ku."
"loh papa salah apa."
"Papa pergi nanti adek gafin gak bisa napas."
Andras yang mendengar hal itu seketika pahan lalu ia segera menyingkir.
__ADS_1
"Ini papa udah pindah sekarang Gafin mau apa."
"Apa mama tak papa??"
Lusi bangkit sambil memegang terus selimutnya.
"Gafin ada apa kemari??"
"Gafin mau bangunkan mama tapi pas gafin datang papa menaiki mama, gfin takut adek gafin gak bisa napas."
lusi yang mendengar hal itu diam diam tersenyum "Oh jadi begitu, wah anak mama ini pinter karna sudah menolong adeknya"
Gafin tersenyum lalu lusi membelai rambut gafin denan salah satu tangannya.
"Apa anak mama sudah mandi??"
"Sudah."
"Bagusalh anak mama udah mandiri sekarang, jadi sekarang gafin tunggu mama di bawah yah mama belum mandi dan mamu juga baru mau pergi mandi."
"Tapi mama kenapa baru mandi jam segini??"
Andras langsung mengangkat putranya seperti mengangkat karung beras "Papa antar tempat kakek mu, mama mu mau mandi itu kamu jangan suka banyak tanya pada mamu."
"ih papa gafin masih mau sama mama."
"Sayang mandilah aku antarkan dulu bocah tengail ini habis itu kita lanjut."
Lusi tertawa kecil melihat kepergian andrs dan Gafin
...****...
Di dalam kamar Piter terlihat tak hentinya mengisap rokok karna ia tak bisa melihat sosok lusi yang selalu ia rindukan karna ayahnya selalu memiliki akal untuk mengalihkan perhatiannya yang membutnya sangat kesal namun di sisi lain rencananya yang akan ia lakukan minggu depan gal karna ayahnya sudah tau rencana itu jadia semalaman tadi merokok hanya untuk menyusun rencana baru.
"Aku tak bisa berpikir jernih apa lebih baika ku menculiknya dan membawanya kabur ke tempat yang jauh, jauh dari jangkauan kelurga kau dan keluarga andreas.
ya, aku yakin itu pasti berhasil aku hannya perlu menyiapkan segala rencana itu matang matang."
tak lama terdengar ketuka dari luar "Dek apa kamu ada di dalam."
wajah piter seketika masak "Kakak Sindi ada apa lagi.."
"Kakak mau keluar dengan anak anak dan tolong jaga lah Rumah karna banyak pelayan rumah yang tengah mengambil cuti."
tak ada jawaban dari piter hannya mendengus kesal yang pertanda piter tak suka dengan permintaan kakaknya itu.
Bersambung...
__ADS_1