
Di pagi hari lusi terlihat hannya banyak bengong menatap lurus ke jalan ketika menjaga toko.
Pagi itu toko sedikit sepi dan lusi tak bisa tenang karna ia terus kepikiran akan andre yang dari selama tak menghubunginya.
"Apa dia tidak menemukan nomor itu di saku jasnya, seharusnya ia pasti bisa mendaptkannya karna itu hannya di sakunya dan ia tipe orang yang suka menaruh kunci mobil di saku jasnya."
Lusi tak berhenti kepikiran tentang Andre hinga dari atas terdengar mamanya yang memanggilnya.
"Nak ini hpmu dari tadi bunyi turus, sepertinya ada nomor baru yang menelfon mu."
"Mana coba lusi lihat."
Lusi mengambil hp itu dari tangan mamanya lalu melihat nomor itu.
"Ini nomor siapa yah, dari angkanya cantik banget mungkin kalok di beli di konter pasti harganya mahal."
Tiba tiba lusi teringata andre "Apa ini nomornya."
"Nomor siapa nak??"
Lusi melirik mamanya "Bukan apa apa Ibuk, mama sekarang balik aja nonton lagi sama Bapak."
Mina terkejut dengan jawaban anaknya "Loh kok ibuk di usir."
"Udah ibuk pergi aja, gak usah ikut campur urusan lusi"
Mina seketika paham "Siapa nih peria yang berhasil mendapatkan hati anak ibuk ini."
Seketika wajah lusi memerah "Ih ibuk ini ada ada aja,Udah pergi aja."
Setelah kepergian mina lusi kembali menelfon nomor tadi dan langsung di jawab.
"Halo.."
"Nona tuan andre di tikam olah seseoarang."
Seketika mata lusi membulat "Apa, lalu diman dia sekarang cepat katakan dan bagai mana kondisinya??"
"Tuan di bawa ke rumah sakit yang tak jauh dari apartemen, tuan juga kehilangan banyak darah."
Seketika lusi meras lemes dan ia tak bisa berkata kata dan langsung menutup panggilan.
Lusi memegang dadanya "Oh tuhan coban apa ini lagi."
Lusi menarik napas pelan dan ia mencoba berfikir positif namun ia belum bisa tenang jika tidak melihat kondisinya secara langsung.
Lusi bangkit dari duduknya "Ya, kita harus menemuinya."
__ADS_1
Lusi berlari menaiki tangga dan terlihat Sandra, mina, gafin dan Rangga tengah menonton TV di ruang tamu.
Sandra yang melihat putrinya yang tergesah gesah menaiki tangga sedikit terkejut "Nak ada apa??"
Namun lusi tak mau menjawab dan terus menuju kamarnya dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Mina coba kamu lihat dia dulu."
Mina mengangguk lalu menghampiri putrinya di kamar.
Dan terlihat lusi tengah memasukan pakaiannya lagi ke dalam koper, yang membuat mina sedikit bertanya-tanya "Kamu mau ke mana nak??"
Lusi yang mendengar suara mamanya sontak menoleh ke belakang dengan air mata yang sudah perlahan keluar dari sudut matanya.
"Ibuk.."
Mina yang melihat putrinya menangis lantas kemeluknya "Ada apa sayang kenapa kamu menangis coba cerita ke ibuk apa yang terjadi sebenarnya??"
"Andre buk andre.."
"Iya ada apa dengannya."
"Dia di tikam ma."
Mina yang mendengar hal itu terkejut namun ia berusa tenang lalu mengelus punggung anaknya "Suadah tenanglah, jangan dulu berfikir negatif dia pasti akan biak baik saja."
"Apa sekarang kamu akan kembali lagi??"
Lusi mengangguk "Aku titip gafin pada mama, aku tak mungkin membawanya aku takut dia akan kelelahan lagi dan demam tinggi."
Mina menghela napas pelan "Mama ambilkan uang untuk tiket pesawat mu dulu."
Pas mina akan pergi lusi langsung menahannya "Tak usah ma, lusi punnya uang."
Mina yang mendengar hal itu memang sedikit terkejut karna setaunya putrinya itu tak pernah munnya tabungan dan uang hasil menjaga toko juga mina yang pegang.
"Uang dari mana??"
Lusi bangkit dari duduknya setelah selesai menyiapkan barang-barangnya.
"Mas andre yang kasih pada saat akan balik ke sini kemaren tadi."
Akhirna mina paham lalu ikut bangkit "Biar mama antarkan keluar."
Mina pun mengantar lusi sedngkan di ruang tengah rangga yang melihat lusi membawa koper ingin bertanya namun dengan cepat sadra menutup mulut anaknya .
Lau memberi kode dengan gelengan, karna jika Gafin tau mamanya akan pergi, ia akan merengek untuk ikut.
__ADS_1
"Kamu nonton saja dulu dan jaga adik Gafin nanti ."
Untungnya saat ini gafin hanya diam mendengarkan suara Tv.
"Ya pak."
Lalu sandra menyusul mina dan lusi turun dan dan menemukan dua wanita itu di depan rumah tengah menunggu taksi.
"Lusi kamu mau ke mana??"
Lusi kenoleh pada ayahnya lalu segera bersalaman padanya "Lusi balik ke ibukot lagi pah."
"Loh bukankah kamu baru balik kemaren??"
Mina langsung menjelaskan "Andre masuk rumah sakit karna di tikam."
Sandra yang mendengar hal itu terkejut "Apa, bagai mana bisa??"
"Entahlah mas, itu sebabnya lusi akan kembali lagi. Walau andra itu mantan suami putri kita namun ia masih ayah dari Gafin."
Sandra menghela napas panjang "Hati hati nanti di jalan,."
Lusi mengganguk dan tak berselang lama seorang taksi datang dan lusi pun di bantu supir memasukan koper ke bagasi baru setelah itu mereka pun segera berangkat ke bandara.
Dan sesampinya ia di bandara ia segera memesan tiket saat itu pesawatnya sebentar lagi akan berangkat 25 menit lagi dan pada sata akan memesan tiket untuk kelas Ekonomi namun sudah penuh dan yang tersisa hanya untuk kelas bisnis yang dimana harganya cukup mahal
Dan ia di beri opsi yaitu, opsi pertama ia akan menunggu di bandara untuk penerbangan kedua yang akan mulai terbang 4 jam lagi atau opsi kedua ia tetap akan ikut penerbangan pertama ini namun kelas yang akan ia tempati adalah kelas bisnis yang berhara cukup mahal
Namun lusi tak tak berpikir panjang ia harus bisa terbang sekarang dan ia membeli tiket kelas bisnis.
Selama penerbangan lusi hannya bengong ia seperti kurang semangat ia terusa menatap kaca pesawat.
Ia masih belum bisa tenang jika tidak melihat keadaan andre secara langsung.
Dan setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya ia samapi di bandara ibukota dan dari bandara ia langsung kerumah sakit tempat andre di larikan.
Sesampai di rumah sakit ia langsung menghampiri Resepsionis "Permisi , apa pasien atas nama andre di sini??"
Wanita itu langsung tau siapa lusi"Oh andre mabak lusi yah, tuan andre ada di lantai 5 no kamarnya 17."
"Terima kasih."
Lalu lusi berjalan ke liht sambil menyeret koprnya dan langsung menuju lantai yang di maksud.
Dan setelah sampai ia langsung mencari kamar yang di maksud dan setelah ketemu ia masuk dan bertapa terkejutnya ia melihat Radit di dekat kasur pasian ia terlihat menunduk.
Sedang kanwajah andre kini sudah tertutup oleh kain , lusi meras sakit pada hatinya dan tangisnya langsung pecah ia berlari menghampiri ande lalu menangis.
__ADS_1
Bersambung....