
Saat makan di dapur lusi mulai membuka pembicaraan "Besok kita ke Rumah sakit yah."
"Ya, apa kamu mau mengobati luka mu"
"Aku tak hawatir luka luka yanga ku dapatkan tapi yang paling aku kawatirkan itu bayi yang ada di perut ku."
"Apa dia menyakiti mu di sana.."
Andreas terlihat hawatir dan lusi pun menjawabnya "jika di lukai dalam artian penyiksaan seperti di pukul dan di hajar tidak, tapi yang ia lakukan pada ku ialah memborgol tangan ku dan kaki ku dan bahkan ia juga pernh memasangkan rantai pada leher ku saat aku di bawa keluar dari kamar."
Andreas mengepalkan tangannya "jadi itulah yang di maksud Joy. Ber*ngsek sekali dia."
"Dan dia juga tidur di sebelah ku semalam."
"Apa.."
Andreas yang mendengar hal itu makin terkejut.
"Apa kah dia menyentuh mu?, katakan saja dan di mana saja ia menyentuh mu dan apa kamu tadi juga sudah menjelaskan hal itu pada polisi"
"Ia hanya memeluk ku dan semua itu juga sudah ku ceritakan pada kepolisian."
Andreas yang kesal lantas memukul meja "Baj*ngan sekalai dia, berani sekali ia menyentuh mu.
Nanti setelah ini kamu langsung mandi kalok bisa gunakan sabun mandiku agar bau peria bajingan sepertinya mengilang dari tubuh mu."
"Ya."
Lusi pun segera menyelesaikan makannya begitu juga dengan andreas dan setelah makan mereka kembali ke kamar dan lusi melakukan hal yang di perintahkan andreas.
Sebenarnya apa kata andreas memang tak masuk diakal namun karna saran andreas akihrinya lusi menjadi tenang karna di bayangan lusi sekarang bekas tangan piter sudah mengilang dan aroma sabum suaminya lah yang kini melekat pada tubuhnya.
Dan malam itu lusi akhinya bisa tidur dengan tenang.
Besoknya saat lusi terbangun ia melirik sebelahnya dan tak menemukan suaminya namun tak lama terdengar suara dari balkon.
"Terima kasih dok atas pengertianya dan saya akan datang bersama istri saya ke sana mungkin sekitar jam 10 an."
Lusi menoleh ke belakang dan terlihatlah andreas di balkon sedang menelfon.
"Papa.."
Andras menoleh ke belakang lalu mematikan panggilan dan ia berjalan menghampiri lusi "Ada apa??"
"Tolong bantu aku bangkit rasanya aku gak kuat untuk bangkit badan ku sakit-sakit semua."
Piter pun mengangkat lusi "Mu ke mana??"
"Kamar mandi dulu."
Andras mengantarkan lusi ke kamar mandi dan di sana andreas menurunkan lusi.
Lalu ia keluar lagi sedangkan lusi mulai mencuci wajahnya dan menggosokan giginya.
Dan selesai menggosokn gigi dan mencuci wajah lusi pun segera keluar dan pas-pasan saat itu andres juga masuk membawa sarapam untuk mereka.
__ADS_1
"Baru selesai??"
"Ya.."
Piter duduk di sofa dan langsung menyalakan Tv sedangkan lusi menatap bingung andreas.
Andreas menepuk sebelahnya "Ayo sini.."
"Gak kerja??"
"Tidak, aku akan mengantar mu ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan."
"Tapi bukan kah kamu sudah dua jari tak masuk??"
"Aku kerja dari rumah, ayolah kemari kita menton."
Lusi menghela napas pelan lalu menghmpiri andreas dan duduk di sebelahnya.
"Siapa yang memasak sarapan hari ini??"
"Ada pelayan lama kami yang datang bekerja lagi setelah istirahat selama 3 tahun karna mau mengurus suaminya dan cucunya di kampung."
"Dia seperti apa??"
"Kamu takan tau karna dulu dia itu pernah mengurus mansion yang ada di pulau peri badi keluarga dan ia pindah kemari ini agar lebih dekat aja bertemu keluarga."
"Loh terus kenapa ia harus istirahat 3 tahun lagi jika ia bisa belok balik dari sini ke kampung??"
"Itu karna suaminya sakit paru para karna sering merokok dan ia mengurusnya di kampung.
Satu tahun setelah itu anaknya yang seorang TKW baru melahirkan tapi dia tidak bisa lama di sini untuk menjaga anaknya jadi ia meminta ibunya lah yang menjaga.
"Tak kusangka kamu sangat mengenalnya, pasti kalian berdua itu begitu dekat."
"Ya, dia itulah teman curhat mama ku waktu aku kecil. Karna saat itu usia mereka takjauh beda jadi ketika berbicara langsung cocok."
"Pantasan pelyan lama."
"Bisa di bilang seperti itu, ia bekerja di sini saat mama ku menikah dengan papa ku."
"Oh."
Lusi mengambil roti yang ada di meja yang isinya berisi selai choclat.
Lalu lusi pun mengambil roti itu dan bertapa terkejutnya ia dengan rasanya "Hem enak sekali."
"Slay buatannya itu memang selalu enak."
"Oh ia namanya siapa??"
"Namannya bik Marta."
"Nanti saat kita pergi kalok kamu melihat orangnya nanti kasih tau aku, biar ku bisa menyapanya sebentar."
"Ya."
__ADS_1
Lusi pun melanjutkan makannya sambil menonton TV.
Dan mereka pun menonton drama Romantis dan saat ending ciumanya mereka juga melakukan hal yang sama namun pintu tiba tiba terbuka.
Sontak lusi mendorong andreas menjauh darinya dan mereka pura pura tak ada yang terjadi.
"Mama.."
Lusi menoleh ke arah pintu "Wah anak ganteng mama rupanya."
Mata gafin mulai berkaca kaca dan ia berlari menghampiri mama dan naik ke atas lusi dan langsung memeluknya.
"Mama jangan pergi kerja lagi, gafin gak mau lagi di tinggal sama mama."
Lusi membalas pelukan gafin "iya, apa gafin udah sarapan??"
"Sudah tadi sama om willy."
"Yaudah kalok gitu ayo duduk nontonlah bersam mama dan papa."
Gafin mengangguk lalu duduk di tengah mereka "Mama filem apa ini??"
"Coba kamu tanya papa mu, karna papa mu lah yang memilih filem ini."
Lusi menatap andreas dengan tatapan mengoda, sedangkan andreas dengan santai menjawab.
"Ini filrm orang dewasa jadi gafin ke bawah aja sama om Willy dan suruh om willy carikan kamu filem kartun."
"Gafin maunya nonton sama mama dan papa."
"Tapi itu Filem untuk orang gedek, coba kamu lihat itu ada tulisan umurnya 21+."
Gafian menghitung kedua jarinya hinga kakinya namun hanya mentok 20 dan dia pun menambah satu lagi hingga genap 21.
"Tu kan 2l, coba gafin hitung umur gafin"
Gafin mengangkat satu tanganya "Gafin 5 tahun."
"Nah itu aja masih kurang, coba mama mu sekarang usianya sudah 24 tahun dan papa mu ini sudah 36 tahun."
Gafin yang mendengar hal itu terkejut "Ih papa sudah tua."
Andreas terkejut dengan jawaban Gafin, berbeda dengan lusi yang justru tertawa.
"Loh kok tua, papa muini masih muda lo."
"Kata mama kalok umur orang udah 30 tahun ke atsa itu udah tua."
"Coba aja kamu sanding papa mu ini dengan om willy mu itu, pasti gantengan papa."
"Om willy umurnya berapa??"
Tiba tiba pintu kamar di ketuak "Tuan ada Tamu di bawah."
"Ya aku akan turun."
__ADS_1
Lalu peria tadi pergi sedangkan lusi bertanya -tanya siapakah tamu itu.
Bersambung....