
Sedangkan nisa yang sudah sampai di kota Q tidak menemukan keberadaan sang ibu untuk menjemput dan bahkan ia berkali kalia menelfon.
"Ini mama ke mana sih, udah berkali-kali nisa telfon belum di angkat juga, nyebelin banget sih."
Tak lama trdengar suara hpnya bergetar dan dari panggilan yang terlihat bertulis nama ibunya.
"Na kan baru aja di omongin udah nongol juga orangnya."
Nisa segera menjawabnya "Mama kenap susah banget sih di telfon..."
"Anda siapa pemilik hp ini."
Nisa terkejut mendengar suara pria yang menjawabnya, ia memeriksa nama penelfon dan namanya itu nama ibunya.
Nisa kembali mendekat kana telfon itu ke telinganya "Anda siapa, bagai mana bisa hp mama saya ada sama anda??"
"Kami dari kepolisian yang mengurus masalah kecelakan yang darjadi di jalan xxx kota Q yang menewaskan satu oerang wanita paruh baya dan sang super truk."
Nisa terkejut mendengar hal itu "Apa maksud anda,mama saya tiada??"
"Ya, korban sudah di bawa ke rumah sakit xxx untuk otopsi."
Tubuh nisa membeku dan hpnya terlepas dari tangannya lalu jatuh ke lantai bandara dan seketika pecah sedangkan nisa sudah tak bisa berkata-kata ia terduduk di lantai.
Perlahan sudut matanya mengeluarkan air "ini semua karna kamu, sejak kehadiranmu kesialan selalu menimpaku. Lebih baik kamu mati saja."
Dengan tangis yang pecah dan amarah yang juga berkobar ia memukul mukul perutnya berharap anak itu keluar dari perutnya.
Sedangkan orang-orang yang melewatinya sedikit terkejut ketika melihat nisa memukul perutnya sambil menangis dan pikir mereka dia orang gila
Hingga darah perlahan mengalir dan perlahan dari roknya.
Orang-orang di sekitarnya mulai panik dan berbicara.
"Dari roknya keluar darah darah toloang tahan dia sepertinya ia mencoba menyakiti dirinya...."
Lalu mereka segera menahannya sedangkan nisa tak henti memukul perutnya dan bahkan berapa kali mencoba melawan namun segera di tahan.
"Cepata bawa dia ke rumah sakit."
Lalu nisa pun di bawa ke rumah sakit.
...***...
Tak terasa waktu berganti dan sudah 2 hari gafin di tutup matanya dengan perban jadi hari ini dokter ingin memeriksa matanya.
Dan pelahan kain yang membalut matanya di lepas satu persatu.
Lusi dan andre terlihat santai dan bahkan lusi sampai merekam sebagai kenang- kenangan untuk pertama kalinya putranya dapat melihat dunia luar.
Setelah semua perban yang menutup matanya dan mata gafin sedang menyesuaikan jadi masih sedikit rabun rabun.
"Nak apa yang kamu lihat."
__ADS_1
"Entah.."
Perlahan matanya mulai dapat melihat sekitar dan ia mulai mengedipkan matanya.
Lalu dokter itu mulai bertanya berberapa hal dan andre membantu menterjemah kannya.
Dan setelah berbagai pertanyaan di jawab akhirnya dokter itu pun memeriksa mata Gafin dengan alatnya dan untungnya tak ada yang perlu di hawatirkan karna gafin dengan mudahnya beradaptasi dengan matanya.
Setelah memeriksa akhirnya Dokter itu pamit lalu lusi duduk di pinggir ranjang.
"Bagai mana, apa kamu sudah dapat melihat jelas wajah mama."
Gafin mendekat pada lusi lalu mulai meraba raba wajahnya "Mama gafin rupanya sangat cantik sekali."
Lusi yang mendengar kata kata itu tersenyum malu"Astaga kan sudah berkali-kali mama bilang mama cantik kamu tak percaya."
Gafin menoleh pada ayahnya "Papa Gafin juga tampan." Andre dengan bahagia mendekat lalu memeluk anaknya dan mengangkatnya .
"Tentu saja, papa mu pasti tampan. Apa lagi dengan anaknya."
Andre berjalan ke balkon tuang rawat gafin.
"Lihatlah indah bukan."
Gafin sedikit terpesona dengan apa yang ia lihat di luar dari banyak mobil yang lalu lalang dan bahkan gedung gedung,kafe, dan banyak orang yang berjalan jalan.
"Wah indah sekali."
Gafin melirik atas langit dan ia terlihat tersenyum "papa yanag mana awan di atas."
Gafin semakin riang karna untuk pertama kalinya ia melihat semua itu, karna selama ini ia hannya dapat mendengar suara dan mersakanya dan tidak langsung melihatnya.
Tak lama dari belakang lusi ikut bergabung dengan mereka "Bagai man indah bukan."
Gafi mengangguk "iya, ini sangat indah mama."
"Nanti setelah kita boleh keluar nanti kita temui kakak baik yang sudah mau menolong gafin."
Gafin sedikit bingung "Kakak baik siapa, dan dimana kakak baik??"
"Kakak baik itu adalah ioang yang sudah memberikan penglihatan untuk gafin, dan kakak baik sudah tiada berapa hari lalu."
"Mama dan papa, kakak baik pasti sangat sedih ma.."
"Iya makanya itu nanti setelah kita mendatangi makamnya gafin harus bisa menghibur papa dan mamanya."
Gafin mengangguk sedangkan andre lantas tersenyum "Anak papa pinter, nanti setelah boleh keluar kita jalan jalan. Dan kebetulan akan ada karnaval di sini mari kita melihat nanti"
Lusi yang mendengar hal itu terkejut karna pertama kali meraka bulan madu ke jerman juga mereka pernah mendatangi karnaval itu dan saat itu lusi tersesat saat mengejar pencuri.
"Karnaval itu apa ayah.."
Andre menoleh pada lusi dan tersenyum"Coba akmu tanya mama mu, papa yakin mama mu tau jawannya karna mama juga pernah melihat karnaval."
__ADS_1
"Wah benarkah, kenapa mama tak pernah cerita pada gafin."
Gafin menoleh pada mamanya "Mama seperti apa karnaval itu , coba cerita pada Gafin."
"Itu seperti festifl yang di adakan di sini dan orang-orang akan mengelingi kota."
"Wah, gafin mau lihat."
"Nanti setelah waktunya, sekarang marai kita masuk karna mama sudah lapar."
Lalu mereka maduk ke dalam dan menuju sofa , dan lusi mulai mengelurkan semua makanan yang ia beli dan bakan ia juga banyak membeli cemilan yang anaknya suka agar anaknya betah di rumah sakit.
"Ini untuk papa, dan ini untuk gafin."
Lusi menruh berapa makanan di hadapan merela.
"Mari makan.."
Lalu mereka mulai makan, namun pada sata lusi dan andre akan menyuapi gafin dengan cepat anak itu menolaknya.
"Dak mau di suap, gafin mau makan sediri."
"Bagai mama nanti gafin ketulangan."
"Gafin sedang makan ayam papa bukan ikan."
"Bagai mana nanti pangeran mama keselek."
"Gafin makannya juga pelan-pelan mama."
Seketika mereka berdua terdiam karna dengan mudahnya anaknya menjawab pertanya aan mereka.
"Apa gafin yakin makan sediri??"
"Iya papa."
"Nanti kalok mau di suap kasih tau mama yah"
"Iya mama."
Lau mereka mulai makan namuan lusi dan andre tak tenang makannya karna terus memikirkan Gafin. Mereka tak hetinya kemper hatikan anaknya yang makan, hingga makanan mereka habis.
Setelah kenyang gafin memutuskan untuk duduk di kasur sambil memakan cemilannya sedangkan lusi dan andre tersenyum melihatnya dari sofa.
"Sepertinya pangeran kecil kita sudah mulai belajar mandiri."
"Ya kamu benar. Bagai mana kita buatkan saja adik untuknya."
Lusi langsung menjentik kening andre "Dasar kesum.."
Lalu lusi segera meninggakannya sedangkan andre mengelus keningnya pelan.
"Kasar sekali."
__ADS_1
Bersambung....