
Tak lama sebuah telfon masuk dan lusi lantas menatap suaminya "Siapa yang menlfon."
Andraes menatap hpnya dan lusi kembali bertanya.
"Apa Willy??"
"Bukan, yang menelfon adalah Radit."
"Pasti mau ngomong soal kerjaan lagi, memang gaka da kah hari tanpa membahas kerjaan.".
"Tenanglah sayang aku akan memberitaunya untuk menunda sebentar."
Lalu Andreas pun menjawab telfon radit "Halo radit ada apa??".
"Tuan tadi aku di kirkaman pesan olah Tuan Darius, katanya putranya piter sudah sadar dan meminta bertemu dengan nona.
Katanya sih mau minta maaf ."
"Bilang padanya kami takan datang"
Namun dengan santai lusi menjawab "Ayo kita temui dia."
Andreas yang mendengar hal itu terkejut tanpa sadar ia mematikan panggilan itu.
"Gak, aku gak mau kamu terluka lagi ketika melihat dia."
Lusi dengan satai melahap kuenya sambil menjawab suaminya "Jika aku tak melakukan hal ini maka aku akan terus hidup dalam ketakutan. Aku tak mau hidup seperti itu aku ingin hidup yang normal, kumohon ayo kita temui dia."
Andreas menghela napas panjang "Baiklah, namun hanya untuk seklai ini."
"Ya aku tak masalah, tapi aku habiskan dulu makananku soalnya enak banget."
"Yaudah makanlah pelan-pelan."
Lusi mengangguk lalu mulai menikmati makanannya.
Singkat cerita setelah dari Cafe itu mereka langsung keluar dari mal dan pergi ke rumah sakit tempat Piter di rawat.
Sesampai di rumah sakit, andras pun memarkirkan mobilnya lalu lusi turun di ikuti andreas.
"Apa papa tau kamarnya nomor berapa?".
"Tau tapi apa benar kamu akan biak aik saja??"
__ADS_1
"Percaya lah."
Lalu mereka masuk ke ruamh sakit dan menaiki lift menuju lantai 6.
Saat sampai di lantai 6 lusi dan andreas segera keluar dari dalam lift dan lusi langsung tau yang mana ruangan Piter karna di depan ruangan piter ada ber-berapa polisi yang berjaga.
"Apa di sana??"
Lusi menunjuk ruangan yang terdapat polisi yang berjaga di sana.
Lalu lusi berusaha memberanikan diri menekan gangang pintu.
(Krek..)
Lusi menarik napas pelan lalu menghembuskanya pelan "kamu pasti bisa lusi."
Lusi mendorong pintu itu masuk "permisi."
Dan semua pasang mata yang ada di dalam sana lantas menatap ke arah pintu.
Piter yang melihst lusi lantas meneteskan air matanya.Lalu lusi masuk di ikuti andrea.
"Selamat siang nona tina tuan Daris."
"Lusi menghmpiri Piter dan ia menarik bangku yanga ada di pingir ranjang sedikit menjauh dari piter, seolah ia memberi jarak antara mereka.
"Maaf aku masih belum bisa duduk di dekat mu piter, namun aku ke sini datang untuk menyelesaikan segalanya."
Seketika piter merasa sesak pada dadanya dan ia mulai berbicara "Maaf kan aku untuk segala hal buruk yang sudah aku lakukan pada mu dan keluarga mu, dan terima kasih karns kamu masih mau datang kemari aku bersyukur kamu mau datang ke mari walau aku sebenarnya memanag tak pantas mendapatkan maaf mu namuan setidaknya kamu mendengarkana permohonan maaf ku yang tulus dari lubuk hati ku terdalam."
"Sebenarnya aku sudah lama memaafkan mu, namun jika kamu berharap kita kembali berteman seperti dulu mungkin takan pernah terjadi lagi."
"Maaf kan aku,Dan jika boleh jujur aku sebenarnnya jatuh cinta pada mu sejak kita bertemu di kote q tepatnya di rumah mu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada mu hingga membuatku teropsesi pada mu dan ingin memiliki mu.
Namun ketika mengetahui kamu mantan istri dari andreas aku semakin teropisesi pada mu dan ingin memiliki mu .
Pikir ku saat itu ketika memiliki mu maka andreas akan hancur dan kehancuran andreas adalah hal yang aku inginkan namuan ketika aku mengetahui kalian kembali berpacaran membuat hati ini marah dan aku pun mulai melakukan kejahatan.
Aku lah yang menikam suami mu di apartemenya hingga ia di larikan ke rumah sakit, dan aku juga yang membantu Zahra untuk membunuh Reno, karna aku ingin menggunakanya untuk bisa mendapatkan mu namun rencana ku gagal ketika papa mengetahui rencana ku dan saat itu aku sangat frus tasi.
Dan tanpa berpikir panjang aku langsung melakukan rencana bodoh dengan menculik mu dengan rencana yang tak sempurna dan pada akhinya melukaiku dan melukai mu juga, aku sangat minta maaf pada mu dan ketika aku sudah sembuh akau akan menyerahkan diri ku kepada polisi dan menerima segala kosekuwensi atas perbuatan jahat yang telah aku perbuat.
Dan satu doa ku untuk mu dan andreas , semoga kaluan akan selalu di beri kebahagian dan menjadi keluarga yang harmonis."
__ADS_1
"Terima kasaih untuk doa mu, dan terima kasaih untuk semua penjelasanya dan seperti kata kata ku sebelumnya, aku sudah memaafkan mu dan aku senang jika kamu mau mempertanggungkan perbuatan mu, dan ku harap semoga kamu cepat sehat dan jadikan ini pelajaran untukmu untuk bisa menjadi orang yang lebih biak lagi."
Piter tersenyum "Terima kasih.."
Di balas senyuman dari lusi tak lama lusi bangkit, "Maaf aku tak bisa lama di sini,semoga kamu cepat sembuh."
Lalu lusi menleh pada Tina dan Darius "Aku kembali dulu nona tina, tuan darius."
Mereka mengangguk, lalu lusi dan andreas pun segera meninggalkan kamar itu dan selama perjalanan andras yang kezal terus saja berbiara.
"Baru kali ini aku menemukan peria yang tak tau malu seprti dia, main menyatakan cinta aja pada istri orang saja."
Tak lama terdengar suara tangis lusi dan andreas yang mendengar hal itu terkejut "Sayang apa kamu menangis??".
"Ya, akhirnya aku bisa melawan ketakutan ku.."
Andreas mendekat pada lusi lalu ia menahan pergerakan lusi dan menghadapkan lusi padanya.
Andreas menghapus air matanya "Kamu sudah berusaha sebaik mu dan mungkin inilah hasil dari perjuangan dalam meleapsa masa kelam itu."
Andras memeluk lusi dan lusi menangis di pelukanya, namuan karna mereka sedang berada di depam pintu lift jadi orang-orang yang keluar dari pintu lift juga melihat momen itu.
Dan setelah lusi tenang andreas kembali berbicara "Sekarang bagai mana, apa hatimu sudah agak tenag??"
Lusi mengangguk.
"Mau pulang atau masih mau jalan keluar??"
"Keluar saja, aku bosan terus terusan di rumah."
"Yasudah bagai mana kita cari makan saja karna ini sudah waktunya makan siang.
Kamu maua makan apa??"
"Aku mau makan bakso saja."
"Baiklah, mau tempat biasa atau cari tempat lain??"
"Tempat biasa saja, di situ baksonya enak-enak."
Andraes tersenyum lalu ia mencium puncak kening lusi dan setelah itu ia meraih tanganya dan mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar.
Bersambung....
__ADS_1