
Dan para polisi tadi terus membujuk piter untuk melepaskan lusi namun ia masih juga menolak dan sudah banyak bujuk rayu yang di ucapkan para anggota polisi.
Berharap piter akan menurut namun piter masih bersikukuh tak mau melepas lusi, namun saat radit datang membawa surat itu, ia tak sengaja melihat dari jauh seorang peria bersenjata api berada di atas pohon yang menghadap ke arah kamar yang dimana piter menyekap Lusi.
"Sial, siapa lagi orang ini."
Lalu radit pun menelfon andras dan dengan cepat andras menjawab "Ada apa radit "
"Tuan minta nona dan piter menghindar di atas pohon belakang mereka ada orang yang siap menembak."
Andras yang mendengar hal itu sontak menghadap depan dan benar saja ada seorang di atas pohon walau tak terlalu jelas karna tertutup ranting pohon.
Dan peria itu pun mulai membidik, karna dia di perintahkan untuk membunuh Lusi dan piter namun karna punggung piter yang terliha lebih dulu jadi piterlah yang di tembak dulu.
Satu tembakan seketika, tepat pada dada kiri piter dan menembus jantung.
Sedangkan lusi terkejut ketika mendengar piter berteriak.
"Ah..."
Dan dengan sekuat tenaga piter menggeser lusi ke samping dan saat tembakan kedua di lepaskan, dan tepat mengenai lantai karna lusi berhasil terlempar ke samping.
Perbuatan piter barusan adah refleka dari tubuhnya yang tiba-tiba mendorong lusi.
Dan darah mulai keluar dari pakaian Piter, sedangkan para polisi tadi segera mendekat dan mencari sang penembak di luat namun sayang mereka sudah terlambat sang penembak sudah melarikan diri sedangkan andras segera menghampiri lusi.
"Sayang apa kamu tak papa??"
"Ya ku tak papa tapi piter...hik."
Andreas menutup mata istrinya, karna saat ini lusi bergetar begitu hebat, berbeda dengan piter darah tak hentinya keluar dari dadanya dan baju piter juga kini penuh dengan darah.
Lalu piter segera di bawa, dan saat sampai di lantai dasar Tina yang, awalnya kawatir jika anaknya akan membunuh malah menemukan anaknya bersimbah darah dan seketika ia lemes.
"Piter..., apa yang terjadi sebenarnya pada putra ku.."
Tina mengejar Piter di ikuti Joy.
Dan piter pun di bawa dengan mobil polisi dan di temani tina beserta joy, karna joy masih harus dalam pantawan polisi karna ia juga merupakan tersangka.
Lusi memeluk andreas "Aku takut..hik"
"Tenanglah.."
Polisi yang masih ada di TKP membantu Andreas meleapaskan rantai pada kaki lusi dan setelah terleps lusi di minta intuk ke kantor polisi uantuk di mintakan keterangan kronologi kejadian.
Dan andreas menemani lusi ke kantor polisi dan Lusi menjelasakan semua yang terjadi di sana dan baru berakhir pada jam 7 malam.
Dan lusi berserta Andreas pun segera pulang dan selama perjalanan lusi hanya diam menatap jalan ia tak habis pikir dengan hal yang terjadi.
Untungnya hal ini terjadi hanya sebentar namun bagi lusi satu hari lebih di sana bagikan 1 tahun lebil di tempat yang mengerikan.
Sedangkan andreas yang melihat hal itu kencoba menghibur istrinya "Apa kamu mau makan bakso."
__ADS_1
Sontak lusi menoleh pada Andreas "Ya, aku mau."
"Baiklah kita cari tempat makan yang menjual bakso."
Lalu mereka mencari tempat makan yang menjul bakso dan ketemu satu dan mereka berhenti di depan temat makan itu.
"Mau ikut turun atat tetap di mobil??"
"Memang mau makan di mana??"
"Di rumah aja, anak kita pasti sudah menunggu."
"Aku mau ikut."
"Baiklah ayo turun ."
Lusi pun segera turun dan andreas menghampirinya dan langsung menggandeng tanganya "Ayo."
"Ya."
Lalu mereka berjalan ke tempat makan itu "Apa kamu mau mie ayam juga??"
"Tidak aku cuman mau bakso."
"Satu atau dua??"
"Dua."
"Embak baksonya 4 di bungkus yah."
Lalu merea duduk di sebuah kursi sambil berbicara sejenak.
"Besok apa kamu akan bekerja lagi??"
"Tentu saja , aku akan berangkat apa lagi aku sudah meninggalkan pekerjaan ku selama 2 hari."
"Apa boleh aku dan gafin ikuta kami takan menggangu mu dan menunggu di kamar mu yang ada di kantor."
"Tentu saja boleh saja, apa kamu masih takut di rumah sediri??"
"Ya."
"Tenang saja aku akan memperketat penjagaan rumah sampai papa balik dari Jerman."
"Apa papa tau mengenai kejadian ini??"
"Ya, tapi aku tadi memberitaunya pada saat kita di kantor polisi."
"Dan bagia mana orang tua ku."
"Mereka sudah tau dan aku juga sudah mengabari tau mereka tentang kamu yang selamat.
Besok nanti cobalah kamu menelfon mama, dia orang yang pailing hawatir ketika mendengar berita kamu di culik."
__ADS_1
"Ya aku akan mencoba menelfonya."
"Tapi kenapa kamu tau temapt itu apa joy yang memberi tau??"
"Ya, tapi aku juga tak percaya akan semudah ini, aku curiga piter menyusun rencana ini dengan ngasal.
Padahal aku tadi mau menjebaknya dengan dokumen cerai itu untuk bisa mendekat padanya namun sayang dia sudah tertembak dulu."
"Semoga dia baik baik saja."
Andreas menatap lusi "Kenapa kamu berharap begitu, seharusnya kamu senang jika diamati."
"Papa ih ngomongnya jahat, biarkan dia tetap hidup dan mempertanggungkan jawabkan perbuatannya dengan di penjara sesuai hukum yang berlaku."
"Hanya ada tiga pidana yang dapat menjeratnya, yang pertama itu hukuman 15 atau 20 tahuan, dan yang ke dua itu pidana seumur hidut dan yang ketiga dan terakhir ia akan di hukum mati."
"Tapi bagi ku pidana hukuman mati itu terlalu kejam."
"Entahlah, itulah hukuman di negri kita tercinta."
Tak lama wanita tadi menghampiri mereka "Tuan nona ini makanannya."
Andreas segera menerimanya "Makasih , jadi semuanya berapa??"
"60 ribu."
Andras mengambil dompetnya dan menyerahkan satu lembara seratus ribu pada wanita itu.
Lalu wanita itu menerimanya lalu mengambil kembalian, dan segera kembali lalu memberikanya pada andreas.
"Ayo mama."
"Tunggu."
Lusi bangkit lalu mereka segera berangkat kembali ke mobil dan segera pulang namun sesampai di rumah mereka tak menemukan gafin di ruang tamu dan tak lama terlihat baby sitternya gafin turun dari lantai atas.
"Gafin mana??"
"Tuan muda gafin sedang tidur tuan dan dia di temani tuan willy."
"Oh , apa dia sudah makan??"
"Sudah tuan??"
"Bagai mana dengan mu??"
"Oh ini saya baru aja mau ke dapur kotor untuk membuat mie instan."
"Gak usah, ini ada bakso punya gafi kamu ambil untuk mu, karna kalok mau di panasin besok nanti gak enak lagi."
Andreas memberinya satu bungkus bakso padanya dan wanita itu langsung menerimanya "Makasih tuan, nona."
Lalu pelayan itu pun pamit pergi sedangkan andreas dan lusi berjalan ke daput, untuk memakan bakso milik mereka.
__ADS_1
Bersambung...