
Besoknya lusi terbangun pada jam 5 pagi ia melirik sampingnya rupanya andreas masih tertidur, ia terdiam sejenak melihat wajah tanpan itu.
"Kamu itu memang sebenarnya sangat tampan tapi begitu mudanya di bodohi dengan kata kata cinta. Sudah di tinggal sekali tapi masih saja mau percaya dengan kata katanya."
"Aku curiga, mantan kekasih mu itu pasti menyiapkan sebuah rencana, entah apa itu aku tak tau pasti namun yang jelas aku sebagai istrimu takan pernah diam."
Lusi perlahan turun dari ranjang "Sepertinya aku perlu bicara 4 mata dengan Radit, peria itu tak mungkin tak mengetahui hubungan terlarang tuan, lagi pulang tuan ini masih pemula jadi belum bisa menutupi dengan baik perselingkuhannya."
Lusi berjalan keluar dari kamar dan ia mendatangi kamar Radit.
(Tok~tok~tok)
Radit yang merasa tidurnya terganggu karna suara berisik ketukan pintu lantas perlahan membuka matanya "Siapa sih pagi pagi begini mengetuk pintu kamar oang."
Radit turun dari ranjang lalu segera membuka pintu "Ada apa??"
Radit terdiam ketika meliaht lusi di depan kamarnya "Eh nona lusi."
"Radit sepertinya kita perlu bicara."
Radit mengerutkan keningnya dan otaknya masih loding berusaha mencerna apa maksud lusi karna ini masih terlalu pagi untuknya.
Mereka berbicara di luar rumah karna matahari sudah mulai terbit.
Sempat terjadi keheningan sejenak yang membuat Radit berpikir lagi.
'Apa sebenarnya yang mau nona lusi bicarakan dengan ku??'
"Sudah sejak kapan tuan berhubungan lagi degan wanita itu???"
"Wanita yang mana??"
"Jangan pura pura tak tau Radit, aku tau kami pasti juga sudah mengetahuinya. Jika tuan dan Mantan kekasihnya itu berselingkuh bukan."
"Oh, maksud nona nona Zahera yah??"
Radit tanpa sadar menyebut nama Zahra.
"Jangan menyebut namanya di hadapan ku, sekarang cepat katakan sejak kapan??"
Radit terkejut rupanya ia keceplosan mengatakan jika wanita itu adalah zahra .
"Ini tak seperti yang noan bayangkan mereka cuman.."
"Jamgan menguji kesabaran ku, aku sudah tau segalanya. Pertanyaan ku apa mereka sudah berselingkuh setelah satu hari pernikahan kami??"
"Tidak nona, tuan tak mungkin berselingkuh."
__ADS_1
"Radit!!"
Lusi berbiacara sedikit meninggi sehingga membuat Radit terdiam.
"Apa kamu mencoba menutupi ini pada ku,aku tidak bodoh radit aku dapat melihat chatnya bersama wanita itu dari hpnya dan bahkan ketika ia meninggalkan saat ku mehilang waktu itu, hanya karna Telfonan bersama dia.
Aku tidak buta radit, aku juga tida tuli, seluruh tetanga apartemen juga membicarakan dia, dimana aku harus menaruh wajah ku Radit.
Aku jadi omongan karna tak bisa memuaskannya di sehingga ia memilih wanita lain.
Aku masih mau mempertahankan rumah tangga ini karna aku hanya akan menikah sekali seumur hidupku, tapi jika aku terus di perlakukan seperti ini wanita mana yang bisa bertahan."
Radit terdiam ia merasa menyesal "Maafkan aku, aku saudah mencoba menasehatinya namun ia tak mau mendengarkan aku."
Lusi tersenyum miring matanya mulai berakca kaca namun ia tak mau menangis karna ia harus tetap kuat.
"Namun untuk sekarang aku takan meninggalkanya, aku akan menunjukan padanya kedok asli wanita itu sehingga dia sadar jika dia sudah salah memilih jalan, dan saat itu kuakan meninggalkanya."
Radit yang mendengar hal itu terkejut "Nona ku mohoan jangan lakukan itu,aku akan berusaha membujuk tuan lagi untuk berhenti."
"Jangan bodoh Radit, peria keras kepala itu takan mau mendengarkan mu sebelum ia kembali tersakiti untuk kedua kalinya.
Dan untuk mu jangan pernah mengatakan pada tuan jika aku sudah mengetahui segalanya, dan jika aku tau kamu memberitahunya tentang masalah ini, aku takan segan segan mengugurkan anak yang ada di rahim ku saat ini."
Radit yang mendengar hal itu semakin terkejut "Apa nona.."
Lusi bangkit dari duduknya, "Satu lagi yang perlu kamu tau, aku takan pernah takut pada kalian orang kaya, karna aku bukanlah seorang anjing yang suka menjilat."
Lalu lusi pun segera pergi sedangkan Radit di buat tak bisa berkata kata.
Gumanya dalam hati "Aku tak tau harus berpihak kepada siapa?"
Pada saat lusi memasuki rumah rupanya andres sudah terbangun dan ia terliaht menuruni tangga rumah karna kamar mereka berada di lantai dua kamar.
"Kamu dari mana tadi??"
Lusi berusaha tersenyum "Oh, aku baru dari luar untuk melihat matahari di pagi hari."
Andreas menghampirinya "Kenapa kamu tak memabngunkanku juga tadi, jadi kita bisa melihatnya bersama sama."
"Aku sengaja tak membangunkan mu karna aku lihat kamu begitu nyenyak sekali tidurnya."
Andreas langsung memeluk lusi dan gadis itu masih berusaha tersenyum solah tak ada yang terjadi padahal sebenarnya di hatinya sedang tidak baik baik saja.
"Ayo kita sarpan bersama, aku sudah sangat lapar." Andres tersenyum.
"Baik ayo kita sarapan."
__ADS_1
Lalu andres merangkul pinggang lusi mendekat padanya setelah itu mereka berjalan beriringan ke meja makan.
Dari luar radit bisa meliaht hal itu dan Andreas terlihat begitu bahagia ketika berbicara bersama lusi.
"Senyuman yang takan bisa bertaan lama lagi, senyuman yang akan berubah menjadi sebuah penyasalan.
Tuan sebelumnya aku minta maaf, sepertinya aku tak mungkin akan terus berada di pihak mu, yang terpenting sekarang keslamatan tuan muda kecil, dan yang akan dapat menjelaskan pada tuan hanya ada waktu."
Radit masuk ke dalam rumah dan berusaha tersenyum dan berjalan ke arah meja makan "Selamat pagi tuan nona."
Andreas menoleh pada Radit "Kamu habis dari mana?"
"Aku habis dari luar.."
"Apa kamu pergi melihat mata hari terbit juga??"
Radit mengangguk padahal sebenarnya tidak demikian.
Lusi mengoleskan selai cokelat pada Roti Andras "Tuan ini Roti anda.." andras menerimanya
"Terimakasih,lalu lusi mengambil satu roti lagi lalu ia mengoleskan banyak sekali cokelat diatas rotinya.
Andreas yang meliha hal itu berusaha menahan tawanya "Jangan banyak-banyak makan manis.."
Lusi menatap sinis andreas "Memang kenapa, suka suka gua mau makan banyak atau enggak."
Andras tersenyum "Kamu itu sudah cukup manis dan tidak usah di tambahkan manis lagi, nanti aku yang bakal diabetes katan mu."
Lusi menjawabnya dengan malu malu "Dasar gombal.."
Lusi mengoleskan banyak sekali cokelat pada roti itu semua karna bawaan kehamilanya yang kepengen makan yang manis manis seperti cokelat.
Setelah memakn rotinya lusi diam-diam mengelus perutnya.
Tak lama sebuah telfon masuk dari hp Radit lalu peria itu segera menjawabnya.
"Helo.."
Radir terdiam sejenak dan ia terlihat membulatkan matanya lalu segera mematikan pangilan hapnya "Tuan sepertinya kita harus segera ke kantor."
"Ada apa Radit coba jelaskan pada ku dulu apa yang terjadi??"
"Orang yang kita cari sudah kembali." Andre yang mendengar hal itu lantas bangkit dari duduknya.
"Lusi aku harus berangkat kerja, kamu sarapan saja dulu." Lusi mengangguk lalu Andras pun segera kembali ke kamar sedangkan lusi tak hentinya melihat punggung peria itu hinga ia menghilang dari pandangannya
Betsambung....
__ADS_1