
Pada saat lusi asik berbicara dengan Piter tiba tiba mina datang menghampirinya.
"Wah sepertinya kalian sedang asik sekali berbicara ni."
Lusi menoleh pada ibunya "Oh itu pak Piter kenalkan ini ibu ku."
Piter lantas berkejut dan langsung menyalim tangan Mina.
"Halo tante."
Mina menoleh pada anaknya "Sopan sekali dia."
Piter kembali duduk, ia merasa senang jika ibu lusi juga menyukainya.
Namun mina teringat lagi tujuan dia datang ke sini lalu ia pun mulai berbisik pada anaknya.
"Lusi ayo kita pulang, sepertinya ada tamu penting di rumah."
Lusi membulatkan matanya ia mengerti apa maksud ibunya, itu pasti Haris dan lukman yang datang bersama Andre dan Radit.
Sebenarnya Piter penasan apa yang mereka bicarakan namun ia bukan siapa siapa jadi ia tak mau kepo, yang mungkin akan merusak citra calon menantu baik.
Lusi menoleh pada piter "Maaf aku pulang dulu, karna dirumah lagi ada keluarga datang berkunjung."
Piter mengangguk sambil tersenyum lalu ia mengelurkan kartu namanya"Ini nomor ku, jika kamu perlu bantuan kamu bisa menelfon ku."
Lusi mengangguk lalu menerima Kartu nama itu "Terima kasih."
Ia menoleh pada anaknya lalu ia ia segera mengangkatnya "Ayo pamit sama om piter dulu"
"Om, Gafin pulang dulu yah.."
Piter tersenyum "Ya, hati hati nanti di jalan ganteng."
Lalu mereka pun segera pergi, seketika piter mulai merasa kesepian setelah mereka pergi.
"Suatu saat aku pasti akan mendapt cinta mu lusi."
Lusi segera ke rumahnya dan sesampinya ia di depan rumah ia seketika terkejut ketika melihat ada dua mobik pajero putih.
Lalu ia segera masuk dan menaiki tangga dengan tergesah gesah dan bahkan ia meninggalkan ibunya dan rangga.
Sesampai di atas matanya langsung tertuju pada haris dan mereka saling berpandangan dan matanya mulai berkaca kaca.
Karan sebenarnya Lusi tak pernh kembenci Haris maupun Lukman. Karna ketika ia dalam keterpurukan merekalah yang selalu ada menyemangatinya saat itu.
"Papa.."
Haris bangit lalu menghampiri mantan mentantu yang sudah si anggap putrinya sendiri, lusi menurunkan Gafin baru ia langsung memeluk peria itu sambil menangis.
__ADS_1
Begitu juga dengan Haris ia sudah menganggap lusi sebagai putrinya, jadi ketika tau lusi kabur dari rumah karna putranya membuatnya marah besar dan membenci putranya sendiri.
"Syukurlah..."
Lusi tak hentinya menangis di pelukan Haris sedangkan Gafin hanya memegang baju ibunya "Mama kenapa menangis??. Mama jangan menangis nanti Gafin juga ikutan nangis."
Lusi melepas pelukannya lalu ia menatap Haris "Pa, kenalkan ini anak lusi, namanya Gafin."
Lusi terlihat begitu sedih ketika menatap Haris dan peria itu paham apa yang membuat lusi bersedih mungkin apa ketakutan mereka waktu itu benar terjadi.
Haris berjongkok pada Gafin dan titik fokus mata anak itu tak tentu arah mungkin dia sedang menerka dimana suara ini berasal.
Haris menarik Gafin kedalam pelukannya "Jika saja saat itu kakek mu ini segera bertindak mungkin kamu juga takan mengalami hal seperti ini."
Haris menyalahkan dirinya atas peristiwa kelam itu, sedangkan andreas semakin tak sanggup mengangkat kepalanya ia iuga hancur melihat kondisi anaknya yang seperti ini.
"Mah, ini kakek siapa mah."
"Itu kakek mu Gafin, kakek mu dari ayah mu."
Gafin terkejut lalu ia meraba wajah haris dan ia menemukanpipi peria itu yang basah karna Tangisan lalu ia pun menghapusnya.
"Kakek sudah besar jangan menangis lagi, nanti kalok di lihat orang bagai mana."
Haris tersenyum karna mendapat sentuhan lembut cucunya "Kakek menangis karna bahagia nak, kakek bahagia karna bisa bertemu dengan Gafin."
Gafin pung memeluk Haris "Gafin juga senang karna bisa bertemu dengan kakek."
Lusi sebenarnya mau saja namun ketika melihat Andre ia mengurungkan niatnya "Gak pak, mending papa bicara saja dengan Gfin lusi akan buatkan minuman untuk kalian."
Seketika harapan Andre runtuh ketika ia melihat lusi menuju ke bawah karna dapur ada di bawah.
Andre sedikit kecewa namun Haris segera mendoronya "Pergilah, dan minta maaflah padanya jangan biarkan dia terus memendam rasa sakit itu."
Andre yang mendengar hal itu lantas tersenyum "Baik ayah.".
Ia meliriknya sebentar lalu ia pun mencium Gafin "Ayah ke bawah dulu."
Ia bangkit dari duduknya "permisi pak Sandra." Lalu andre pun segera pergi.
Ia menuruni tangga dan menuju dapur yang dimana ketika masuk ke dapaur ia harus masuk melalui sebuh pintu dan ia menemukan lusi yang tenga sibuk merebus air sedangakn Mina menemaninya berbicara namun ketika ia meliaht Andre lantas ia beangkit.
"Mama keluar sebentar dulu nak."
Mina tersenyum pada Andre dan andre juga membalas senyumannya baru setelah itu ia pun segera pergi.
"Mah bisakah ambilkan sebentar roti yang ada di dalam lemari."
"Lemari mana.."
__ADS_1
Lusi seketika terdiam karna yang menjawabnya bukan ibunya, ia menoleh ke belakang "Kamu, berani sekali...."
"Lusi bairkan aku bicara dengan mu sebentar."
"Gak, kamu keluar sekarang menjauhlah dari hadapan ku, dan lagi tak ada yang perlu kita bicarakan."
Andre sama sekali tak mau beralih dari temlatanya "Lusi aku sangat minta maaf atas perilaku ku dulu, tolong maafkan aku dan izinkan ku memperbaiki segalanya."
"Hah, apa kamu bilang tadi?. Memperbaiki segalanya!!!."
Lusi mengahampirinya,lalu ia menunjuk andre "Kembalikan setatus janda ku menjadi lajang, kemablikan juga kebebasan ku, kembalikan juga waktu yang tak berguan yang ku habiskan dengan mu dan kembalikan juga pengelihatan anak ku!!!"
Andre terdiam, lusi melanjutkan kata katanya "Tak bisa bukan jadi jangan sok-sok mau memperbaiki segalanya karna takan ada yang berubah dalam hidup ini. Jadi kelaurlah sekarang.."
"Nanati dulu bira aku membantu mu mengambil barang yang kamu maksud tadi."
"Tak perku aku bisa sendiri."
"Tidak aku akan kembantu mu, atau menbawa minuman itu kea atas aku kan membantu tapi ku mohon jangan mengusir ku."
"Berisik,keluar kamu aku tak mau melihat wajah jelek mu itu."
Lalu lusi mendorong tubuh andre sampi di luar lalu dengan kasar ia menutup pintu
(Plak)
Andre menghela napas pelan "Sepertinya ia masih marah dengan ku."
Andre menghela napas pelan dan pada saat ia menoleh ke belakang ia terdiam ketika melihat seorang anak kecil juga terdiam menatapnya.
"Om penculik."
"Kamu.."
Mereka saling terkejut satu sama lain, lalu Rangga menatap sinis Andre.
"Apa om penculik mau menculik kakak ku!!"
Andre terkejut "Kakak mu yang mana??"
"Kakak ku lusi lah, siapa lagi kakak ku udah gedek kenapa bodoh sih"
Andre terkejut "Apa kamu adiknya, padahal kamu seusia anak ku."
"Memang anak om siapa??"
"Gafin."
Rangga terjejut "Pa..pa..papa Gafin."
__ADS_1
Bersambung...