Menikah Dengan Peria Kaya

Menikah Dengan Peria Kaya
Tatakrama dan Sopan Santun


__ADS_3

Sedangkan di sebuah rumah tak berpenghuni Reno terbangun dalam konisi mulutnya di lem dengan lakban dan tubuhnya terikat di  bangku.


di hadapannya terlihat seorang peria bertopi hitam dan bermasker hitam duduk di hadapannya perlahan Reno sadar dari pingsannya.


"Hey pangeran tidur akhinya kamu terbangun juga."


"Hem hemmm.."


"Sabar lah dulu nanti ku lepas  penutup mulut mu itu."


Lalu lakban yang menutup mulutnya di buka dan akhirnya Reno dapat bicara.


"Siapa kamu dan apa mau mu??"


"Kamu bertanya siapa apa aku, apa aku perlu memberi tau nama ku secara detail?"


"Apa yang kamu lakukan pada ku."


"Aku hanya ingin membunuh mu karna sudah berani melukai pangeran ku."


"Diam kamu.."


Piter memegang rahang reno "Kamu tak pantas hidup, aku akan perlahan menghancurkan keluarga besar mu, anggap saja ini pembalasan dendam ku atas penghinaan pada adik ku dan karna kalian berani merebut wanita ku.."


"Siapa maksud mu??"


"kamu tak peru tau."


Piter mengelurkan pisaunya lalu mendekatkannya pada leher Reno dan sedikit menggores lehernya.


"Ku mohon jangan bunuh aku lepaskan aku ..".


"Pantaskah orang seperti kamu di lepaskan..."


Tak lama terdengar suara seorang wanita "Bunuh dia , kalok bisa akua kan membantu mu memotong tubuhnya untuk menghilangkan barang bukti."


Pada sat reno menoleh kearah suara ia kelihat istrinya Zahra "Sayang untunglah kamu ada di sini, aku mohon tolong aku.."


"Peria yang melakukan segala hal secara gegabah dan bahkan sudah memanfaatkan ku, tak pantas hidup."


Reno terkejut dengan jawaban zahra "Apa maksud mu sayang aku tak mengerti apa yang kamu katakan??."


"Bunuh dia piter."


Piter menyerahkan pisau yang ia pegang tadi pada Zahra "Kamu saja, bukankah aku sudah membantu mu menangkapnya dan sisanya kamu saja."

__ADS_1


"Sialan kamu.."


Piter tersenyum miring lalu melempar pisau tadi ke lantai.


"Aku keluar dulu sianya kamu saja selesaikan, aku tadi hanya memberikaan berberapa opening dan untuk acara utamanya kamu saja yang lanjutkan aku  lama-lama muak bicara dengannya"


Lalu piter segeta pergi dan menutup ruangan itu.


Tak lama terdengar suara teriaka  reno, namun sayang perlahan suara teriakan itu menghilang dan piter tersenyum miring.


"Gadis bodoh, aku tak mungkin membantu kembali bersama Andreas karna dia adalah target ku berikutnya.


Kamu itu hannya ku manfaatkan saja."


Lalu piter segera pergi meninggalkan rumah kosong itu, yang berada di tengah hutan di jerman.


***


Pagi ini entah kenapa lusi merasa tak nyaman dengan perutnya ia merasa mual-mual namun berusaha ia tahan.


Dan wajahnya juga terlihat pucat, sedangkan andre yang melihat hal itu di meja makan sedikit hawatir apa lagi ia ikut sarapan roti bersama andre tanpa memakai selai apa pun, itu saja sudah menjadi hal yang tak biasa lusi lakukan karna wanita itu bisa sarapan yang berat-berat di pagi hari.


"Maa apa kamu tak papa??"


Lusi menoleh pada Andre "Gak papa kok pa, mama cuman lagi gak enak badan aja."


"Ya nanti aku akan pergi bersama mama ku ke rumah sakit, sekalian nanti mau pergi belanja bahan bahan untuk acara 40 hari kakek."


"Ya tapi jangan terlalu memaksa bekerja jika masih gak enak badan, takutnya kamu kenapa-napa nanti."


"Iya aku akan mengingat saran papa, jadi sekarang papa sarapan saja dan setelah itu berangkat kerja."


"Ya."


Lalu andre segera menghabiskan sarapannya begutu juga dengan lusi.


Dan setelah sarapan lusi mengantarkan andre keluar baru stelah itu Gafin turun bersam mina dan Rangga karna mereka sudah siap untuk pergi berlanja dan tinggal sarapan lagi.


Dan setelah kepergian andre lalu lusi kembali masuk "Wah sepertinya anak mama udah rapi ni, ayo sarapan dulu mama udah siapkan nasik goreng buat kalian."


Lalu mereka bertiga segera ke meja makan di susul Lusi .


Dan selama mereka sarapan lusi mengajak ibunya bicara"Ma nanti kita ke rumah sakit dulu yah , lusi lagi gak enak badan."


"Ya. oh ia, papa mu mana apa dia sudah sarapan juga??"

__ADS_1


"Papa udah sarapan tadi , dan papa juga udah pamit untuk memeriksa perkembangan pembangunan ruko baru kita."


"Oh."


Mina perhatikan wajah anaknya yang pucat "Loh wajah mu pucat sekali nak."


" selama masak tadi lusi merasa mual-mual tapi masih bisa lusia tahan."


"Wah tanda-tanda mau di kasih cucu lagi itu.".


"Mama apa aan sih, gak mungkin secepat itu."


"Loh kamu jangan ngong seperti itu, bukankan dulu Gafin juga gitu, baru 1 bulan nikah buakan kah kamu sudah berisia, apa lagi yang ini dan lagi kalian sudan satu bulan menikah dan tak menutup kemungkinan besar dalam perutmu udah ada isinya."


Lusi memegang perutnya dan ia teringat dulu juga pernah seperti ini ketika hamil Gafin.


"Mmaa benar, sepertinya tak salah jima di periksa kan."


Setelah sarpan itu mereka ke rumah sakit di antar Willy, selama jalan gafin tak hentinya diam-diam melirik Willy dari sudut matanya.


Ia memperhatikan gelagat willy namun ketika melihat willy yang selalu mengajaknya dan Rangga berbicara membuatnya sedikit tenang


gafin mulai lulub pada willy dan ia mulai tenang ketika melihat mata peria itu.


Dan yang sadar perubahan itu hanya lusi karna lusi tak hentinya memperhatikan gerak gerik putra semata wayangnya.


Sesampai di rumah sakit lusi membuat janji dengan seorang dokter kandungan, tak lupa juga ia mengambil no natrian padahal bisa saja ia menerobos saja antrian.


Namun lusi bukanlah orang yang sombong, baginya lebih baik menerapkan budaya antri agar sekaligus memberi contoh pada anaknya jika, terlahira sebagai anak orang kaya bukan berarti kita bisa melakukan segala hal senak kita dan kita mssih peru belajar tata krama dan sopan santun.


Serelah setengah jam akhirnya nama lusi di sebut lalu wanita itu masuk, di ikuti mina sedangkan gafin dan Rangga di bawa willy pergi beli cemilan ke luar.


Dan lusi puan malakuka  pemeriksaan dan benar saja ia sedang hamil dan usia kandunganya baru 3 minggu dan bahkan ia juga di beri tau detak Anaknya bagai mana yang membuatnya bahagia.


Setelah pemeriksaan lalu lusi di beri berapa saran dalam menjaga kandungannya saat masa kehamilannya 3 minggu,dan perkataan dokter terhenti ketika tiba-tiba ruangannya di masuki oleh seorang wanita.


"Dokter saya mau bicara dengan dokter cepat.."


Lusi dan mina sangat hafal dengan suara itu lalu mereka menoleh ke belakang.


"Kakak nisa..."


"Nak nisa.."


Mereka semakin di buat terkejut ketika melihat perut nisa yang terlihat sedikit membesar.

__ADS_1


"Kalian.."


Bersambung......


__ADS_2