
Tak terasa sudah satu bulan mereka di jerman dan mereka memutuskan untuk segera kembali ke indonesia.
Namun sebalm kembalinya media masa sudah pada heboh membicarakan tentang seorang pewaris dari keluarga andreas.
sehingga pada hari H kemablinya mereka, mereka di kawal olah 8 orang bodyguard karna di takutkan ada wartawan yang mengetahui andre datang bersama gafin dan windi karna selama ini tak ada yang tau soal keberadaan Gafin.
Sesampi di depan mereka menaiki mobil , gafin melirik sekitarnya "Kita di mana pa, dan mana paman beruang??"
Andre menjawab anaknya "Kita pulang ke tempat asal kita dan Paman beruang juga sudah lebih dulu pulang ke ruamhnya , nanti dia datang juga ke rumah gafin."
Anak itu mengangguk paham, karna memang selama ini Willy terus memakai kostum boneka beruang ketika bertemu Gafin dan dari situ anak itu mulai dekat denan willy dan menganggap willy sebagai teman mainnya selama di jerman.
Sesampi di mansion mereka langsung di sambut haris yang sudah dari lama kembali ke indonesia.
"Wah cucu kakek akhirnya kembali." gafin melirik Haris.
"Mamam takut.."
"Udah jangan takut kakek mu tidak akan melukai mu ."
"Enggak, dia orang jahat maa."
"Gafin dia itu kakek mu dia takan melukai mu, bagai mana nanti kamu bisa bertemu kakek Sandra jika sama kakek Haris aja kamu takut."
Setketika anak itu menangis di pelukan lusi dan haris merasa tak nyaman.
"Sudah jangan memaksanya jika ia tak mau."
"Mari kita masuk di dalam sudah ada yang menunggu kalian."
Lalu mereka masuk dan di ruang tamu terlihat mina dan sandra dan drai kejauhan terlihat Rangga yang berlari menghampiri Mereka.
"Adek Gafin.."
Ketika mendengar suara kakaknya sontak ia menolah ke arah suara.
"Kakak Rangga."
Lalu ia cepat cepat turun dari pangkuan mamanya dan menghampirinya .
"Kakak rangga.."
Rangga berhenti di hadapan gafin lalu ia memperhatikan mata Gafin.
"Apa gafin bisa melihat kakak??"
Gagun tersenyum dan mengangguak, Rangga menariknya "Ayo kita ke sana, di sana banyak mainan."
Rangga menunjuk pada ruang tamu dan gafin mengangguk lalu mereka berlari pergi.
Namun ketika pandangannya melihat kearah Sandra seketika ia mengurungkan niatnya dan berhenti.
"Gak mau ke sana ada om jahat."
Ranga menoleh padanya "Itu buka om jahat itu papa Rangga dan kakek Gafin masak gafin tidak tau sih."
Gafin menyungutkan bibirnya dan matanya milai berkaca kaca dan lusi pun menghampirinya "Rangga main di kamar gafin saja."
__ADS_1
"Tapi kakak mainan di sanabanyak."
"Nanti bibik bawak di atas, pa tolong antarkan mereka."
Andre mengangkat Gfain "Ayo Rangga kita ke atsa.."
Anak itu menghela napas pelan lalu mengikuti mereka dan ia masih belum paham kenapa Gafin ketakutan melihat ayahnya sedangkan mina dan Sadra sudah paha.
Setelah mereka pergi lalu mereka berkumpul di ruang tamu.
"Apa dia masih ketakutan seperti itu??"
"Ya, sudah berpa kali ke psikolog tapi tak ada perubahan dia masih belum berani pada peria selain ayahnya."
"Pasti pada sata kejadian itu membuatnya trauma luar biasa."
"Ya." Lusi terlihat sedih.
"Belum ketemu peria yang menikam Suami mu dan sekarang ini lagi."
Mina bangkit lalu duduk di sebelahnya dan berusaha menguatkan anaknya "Sabar yah sayang."Lusi mengangguk dan berusaha tersenyum.
Tak lama terdengar suara haris "Jika srperti ini sangat sulit untuk memperkenalkannya nanti pada publik."
Tak lama terdengar suara pintu di buka dan seorang masuk.
Rupanya Willy datang dengan kostum beruangnya, sedangkan mereka yang ada di ruang tamu menoleh padanya
Sandra yang penasaran mulai bertanya"Siapa itu??"
"Apa mantan pengurus mendiang tuan lukman."
"Ya."
Ia menyapa sebentar hanya dengan lambayan lalu ia naik tangga atas untuk bertemu gafin di kamarnya.
Sedangkan orang orang tadi kembali berbicara di ruang tamu tentang langkah berikutnya dan Haris juga meminta berapa saran dari Sandra dan mina.
Sedangkan Willy ia menuju kamar gafin lalu mengetuk pintu.
(Tok~tok~tok)
Andre membuka pintu "Eh ini paman beruang sudah sampai."
"Halo paman beruang."
Lalu gafin memeluknya sedangkan Gafin langsung tau "Apa ini yang kamu sebut paman beruang , dia itu manusia gafin dia hanya pakai kostum.".
"Tidak dia ini paman beruang kakak."
Pada sata rangga akan bicara lagi andre langsung menyelanya "Udah jangan ribut ayo kita main saja ."
Lalu mereka main di sana sehariaan hingga tak sadar mereka semua tertidur namun karna willy tak bisa berbaring karna kepala boneka yang besar jadi ia menyender pada dinding.
Dan yang lebih dulu bangun adalah gafin dan Rangga dan mereka mulai bermain berdua.
Namun karna bosan mereka tak mau melakukan apa pun dan tiba tiba sebuah ide muncul pada pikiran Rangga.
__ADS_1
"Adek gafin apa kamu punya pena??"
"Apa itu kakak"
"Yang sering mama mu gunakan untuk menulis itu."
"Gafin tidak tau, kakak rangga waktu itu Gafin mana bisa lihat apa yang mama pegang waktu itu."
"Iya juga." Lalu rangga menoleh pada meja belajar Gafin dan ia menemukan satu buah sepidol di sana.
"Itu dia."
Lalu ia mengambilnya sedangkan gafin yang belum tau apa yang mau di lakukan kakaknya mulai bertanya-tanya "Kakak mau buat apa??"
"Lihat aja nanti."
Lalu gafi mengambil sepidol itu lalu ia mendekat pada andreas lalu ia mulai mencoret coret wajah andre yang membuat gafin sedikit tertawa melihat hasilnya.
dan mereka berdua sama-sama tertawa ketika melihat wajah andre, namun setelah itu Rangga mulai ketagihan dan ingin mencoret wajah orang lain lagi jadi ia menghampiri willy.
"Sekarang beruang ini lagi."
"Kakak Rangga jangan, om beruang nanti marah."
"Gafin ini bukan beruang suguhan dia ini manusia coba kamu lihat ini."
Lalu rangga mengangkat kepala beruang itu hinga terlepas dan memperlihatkan wajah willy.
Seketika Gafin gemetar karna tak menyangka jika sosok di baliknya adalah willy.
"Sekarang kamu percaya kan.., jadi mari kita coret wajahnya."
Pada saat Rangga mendekat, dengan cepatnya gafian menahannya dengan tangan gemetaraan.
"Jangan kakak."
"Ada apa dengan mu kenapa tangan mu gemetar??"
Gafin meangambil kepala beruang tadi lagi lalu memasang kembali pada kepala Willy dengan gemetarnya.
"Ayo kita pergi kakak."
"Ada apa dengan mu??"
Gafin berusaha tersenyum walau ia sedang ketakutan "Gafin lapar kakak."
"Oh kamu lapar, yasudah ayo kita cari mama ku untuk ambilkan kita makan, aku juga lapar."
Lalu Rangga meraih tangan Gafin dan mereka berjalan bersama-sama keluar sedangkan Willy tak sadar jika penyamarannya itu sudah di ketahuan oleh Gafin.
Mereka menuruni tangga dan dari jauh lusi dan Mina dapat melihat mereka namun ada yang berbeda dengan gafin, anak itu terlihat pucat.
"Nak, gafi kenapa dia pucat sepeti itu."
"Gak tau juga." Lusi langsung bangkit dan menghampirinya, namun ketika di tanya penye babnya Rangag langsung menjelaskannya kenapa gafin bisa seperti ini dan lusi langsung paham lalu mulai menjelaskan pada anaknya jika maksud willy itu baik.
Bersambung.....
__ADS_1