
Zahra menatap dua orang peria di hadapannya "Saya sudah membayar mah dan saya mau kalian membunuh dua orang saja tak becus."
"Hey nona anda tak bisa marah karna anda saat itu tak menjelaskan dengan detail jika akan ada polisi di sana."
"Dan saat ini aku dan adik ku sedang di cari oleh Para polisi itu."
"Lalu apa pedulia ku, mau kalian tertangkap atau kalian terbunuh aku tak peduli, dan karna kalian tak menjalankan tugas dengan baik jadi kembalikan uang ku."
"Hey nona tak bisa begini kami sudah berhasil melukai satu."
"Gak. kembalikan uang saya atau saya telfon polisi agar kalian di tangkap."
"Ada tak punya hati, anda seperti seorang iblis dari pada manusia."
"Hey berani sekali mulut mu itu menghina ku, ingat kalian itu hanaya anak yatim piatu."
"Jaga mulut anda nona, anda sudah melewati batas."
"Aku tak peduli, dan sekarang kembalikan uang ku."
"Tidak akan pernah kami kembalikan."
"Berani sekali orang rendaham seperti kalian menghina saya yamg seorang nona di keluarga terpandang, kalian seharusnya punya malu dan sopan santun saat berhadapan demgan saya. Sekarang keamblikan uang saya."
Salah seorang peria tadi yang marah lantas menarik sebuah pistol dari sakunya lalu dengan mudahnya ia menembakanya pada Zahra.
Sedangkan Zahra yang tak siap di buat terkejut karna sebuah tembakan mengenai perutnya.
"Apa tang kamu lakukan..."
Peria tadi pun menembakan lagi hinga 3 tembakan dan tembakan itu mengeai kepala dan leher Zahra.
Sedangkan adaiknya yang ada di sebelahanya segera menenangkannya.
"Sudah kakak, itu dia pasti sudah mati."
"Kita ambil saja barang barangnya dan kabur dari sini.
Anggap saja ini karma untuk wanita yang tak tau bersyukur seperti dia."
Lalu meteka mengambil dompet Zahra dan mereka pun berjalan ke kamar Zahra juga uantuk mengambil barang berharga lainya.
Sedangkan Zahra perlahan kehilangan kesadaran setelah mendapat semua tembakan itu.
Dan setelah merampuk dua orang peria tadi pun membakar rumah Zahra dari dalam sehingga orang orang akan mengira jika zahra adalah korban kebakaran.
***
Setelah makan dari restoran tadi mereka pulang dan gafin langsung pergi bersama lusi ke kamar untuk istirahat sedangkan andreas pergi ke ruang kerja untuk bekerja.
Dan pada jam 4 sore ia mendapat telfon dari radit
Andreas mengambil hpnya "Radit...."dan andreas segera menjawabnya.
"Halo radit ada apa??".
__ADS_1
"Tuan nona zahra sudah tiada."
"Apa, bagai mana bisa.."
"Dia tiada karna terperngkap di rumah saat rumahnya mengalami kebakaran dan saat pemadan datang untuk memadamkan api di rumahnya rupanya api tak bisa di padamkan karna apinya sudah melahap rumah itu semua.
"lalu...."
"Dan saat api padanm nona zahra di temukan sudah mati dan tubuhnya gosong, untuk sekarang mayataya sedang di otopsi di rumah sakit."
"Apa papa sudah tau??".
"Aku tadi sudah menghubungi tuan besar dan ibu mertuanya."
"Baiklah aku akan memberi tau istri ku."
Lalu telfon itu berakhir dan andreas segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Dan bertemu seorang pelayan "Di mana nona mu??"
"Nona ada di taman tuan, kayaknya mau mencarai udara segar."
"Terima kasih."
Lalu andreas berjalan ke luar, dan mene mukan lusi sedang duduk di kursi taman.
Dan karna baju yang ia pakai cukup kecil jadi memperlhatkan perutnya yang sudah membuncit dan ia menatap langit yang mendung dan ia juga merasakan hembusan angin.
"Sayang."
Lusi menoleh ke samping dan tersenyum lalu andreas menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
Lusi mengangguk lalu andreas memegang perut lusi dan mengelus pelan perut lusi "Kamu bisa pergi bertemu teman mu, kapan pun kamu mau agar kamu tak jenuh jika harus terus di rumah."
"Takut."
Andreas paham apa yang lusi takutkan adalah kejadian peculiakn tadia akan terulang lagi.
"Baiklah jika kamu masih takut aku takan memaksa mu, dan ada satu hal yang mau aku bicarakan dengan mu,Ini mengenai Zahra."
"Ada apa dengannya??"
"Dia sudah tiada."
Lusi yang mendengar hal itu syok dan sekaligus tak percaya.
"Meninggal kenapa??"
"Radi bilang ia tiada karna terbakar di ruamhnya."
"Kenapa masalah pada keluarga kita terus berturut turut terjadi, apa mungkian hal ini terjadi karna kehadiran ku dan gafin."
Andreas yang mendegar perkatan kusi lantas terkejut "Jangan pernah berpikir seperti itu, hal ini semua terjadi karna takdir bukan karna kehadiran kalian."
"Tapi..."
__ADS_1
"Sayang justru kahdiran kalian di rumah ini kembai memberi kebahagiaann pada rumah ini."
Lalu andreas pun memeluk lusi"jamgan berpikir seperti itu lagi."
Tak lama mulai terasa rintik hujan dan seketikan menyadrkan mereka berdua.
"Sepertinya akan hujan, ayo masuk."
Lalu andreas menarik tangan lusi dan mereka berjalan bersama sama kembali ke rumah.
Di rumah hujan mulai turun deras, lusi dan andreas memutuskan untuk kembali ke kamar dan andreas di kejutkan dengan anaknya yang sedang tertidur di atas kasur mereka.
"Sudah tidur dari jam berapa??"
"Pada jam 3, mungkin sebentar lagi dia kan bangun."
"Apa mau ku nayalakan penghangat ruangan??"
"Apa bisa??"
"Tentu saja."
Lalu andreas pun menyalakan penghangat ruangan dari kamar mereka yang tadinya dingin sekarang berubah hangat.
Lalu lusi memutuskan untuk duduk di sofa dan di ikuti andreas, lalu mereak duduk besama sama "Apa kamu mau minum sesuatu??"
"Tidak, aku tak selera."
"Jangan seperti itu kamu itu sedang hamil."
Lusi terdiam dan tak bisa menjawab Andreas sama sekali.
"Apa kamu mau ku butakan susu ibu hamil??"
"Terserah kamu saja."
Baiklah akan aku buatkan dulu kamu istirahat saja dulu."
Lalu andreas segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar.
Lusi merebahkan tubuhnya ke sofa dan matanya memandang langit kamar.
Lusi memejamkan matanya sejenak namun perlahan ia tertidur, dan saat andreas kembali dari bawah ia terkejut ketika tak melihat lagi istrinya di sofa.
"Loh mama di mana??"
Ia melirik kasur juga tak ada apa lagi kamar mandi ia berjalan pelan ke sofa dan menemukan lusi yang sedang tidur.
"Astaga kenapa kamu harus tidur di sini."
Andreas tersenyum melihatt kelakuan istrinya itu, lalu ia menruh minuman lusi dia atas meja lalu ia menganggkat lusi ke kasur dan berbaring di sebelah anaknya.
Ia memasangkan selimut untuk mereka dam Andreas tak hentinya melirik jam karna ia takut jika istrinya kan tidur di sore hari jadi ia membiarkan istrina untuk tidur sekarang karna masih ada waktu setengah jam sebelum sore hari.
Andreas membelai rambut lusi "Aku bersyukur kamu baik biak saja dan aku berharap hal seperti ini takan pernah terjadi, dan lagi aku takan membiarkan orang asing masuk atau mendekat pada mu tanpa pengawasan dari ku."
__ADS_1
Andreas pun memgecup kening lusi.
Bersambung....