
Kebisuan Ayana yang berlangsung selama beberapa minggu ini membuat Gio frustasi. entah dengan cara apa lagi ia harus meminta maaf kepada Ayana.berbagi cara dan saran dari semua orang sudah ia lakukan namun Ayana tetap mendiamkannya.akhir-akhir ini keduanya ibarat orang asing yang tinggal di dalam satu rumah.Gio sudah kuwalahan membujuk sang istri yang tak kunjung memaafkannya itu.bahkan Ayana tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya mengenai ucapannya saat itu.
Gio sama sekali tidak bermaksud meragukan bayi yang di kandung Ayana hanya saja pada saat itu mendadak pemikiran sialan itu terlintas begitu saja di kepalanya.tapi sayang penyesalan memang selalu di akhir.jika saja pada saat itu Gio dapat mengontrol ucapannya mungkin hubungannya dan Ayana tak akan berakhir seperti ini.
Ini adalah hari minggu niatnya Gio ingin mengajak Ayana dan anak-anak pergi makan siang keluar rumah.entah ke Mall atau ke tempat wisata terdekat asal mereka senang.terutama anak-anaknya. Gio pergi ke ruang tamu melihat Ayana sedang menikmati smoothie mangga sambil bermain ponsel.langsung saja Gio mengambil duduk di samping Ayana membuat wanita itu langsung menoleh.
"Mau ke Ragunan gak?yuk kesana bawa anak-anak." ajak Gio mencoba membujuk Ayana siapa tahu akan luluh setelah ini. karena biasanya Ayana akan kergirangan jika di tawari jalan-jalan atau Gio mengajaknya keluar rumah.maklum Ayana ini selalu antusias dengan hal kecil dan sederhana seperti itu.
"Aku capek." balas Ayana dengan malas lalu asik lagi dengan ponselnya mengabaikan Gio yang sedang berusaha mengambil hatinya.
"Atau kamu pengen kemana gitu,yang. mungpung aku lagi gak kemana-mana ini." Gio masih berusaha pantang baginya menyerah begitu saja.dulu saja ia berhasil mengambil hati Ayana masa sekarang tidak bisa.
"Aku capek Gi,kalau kamu mau pergi ya pergi aja sendiri." ketus Ayana.matanya menatap sinis pada suaminya itu sama seperti tatapannya ketika pertama mereka menikah dulu,sinis dan jutek.Gio akhirnya mengalah tak ingin berujung dengan perdebatan lagi,jika terus memaksa level kemarahan Ayana bisa nambah.dan mungkin masa mendiamkannya akan di perpanjang sampai batas waktu yang tak di tentukan artinya suka-suka Ayana kapan akan berhenti mendiamkan Gio.
"Ya udah,kalau gitu aku mau langsung ke rumah sakit aja ya.sore nanti ibu udah bisa di bawa pulang." pamit Gio seraya berdiri hendak rapih-rapih karena akan ke rumah sakit.
Mendengar itu Ayana ikut berdiri masih dengan wajah datar ia mengambil mangkuk bekas smoothie mangganya tadi." Nanti aku ikut jemput ibu." ucapnya datar sebelum pergi ke dapur.
"Gak usah yang,cuma jemput doang kok." Ayana menoleh ternyata Gio mengikutinya di belakang.
"Aku gak butuh ijin kamu." tandas Ayana sebelum meninggalkan Gio.hampir saja Gio menendang tong sampah ia kehabisan kata dan cara untuk membujuk Ayana. rasanya sudah buntu dan mentok.entah apa lagi yang harus ia lakukan agar istrinya itu mau bicara lagi dengannya seperti biasa.
Siang itu Gio pergi tanpa pamit lagi pada Ayana.hampir jam dua belas malam baru tiba di rumah dengan wajah kalut.lelaki itu kelelahan seharian dia mengurus kepulangan sang ibu.Gio membantu Indri mengurus Mira di rumah bahkan ia memandikan Mira dan membersihkan kotorannya yang sempat tercecer dari pempers.selama di rawat Mira memah sudah menggunakan pempers guna memudahkan dirinya buang air kecil dan besar.karana Mira sempat kejang dan tak sadarkan diri akibat darah tingginya yang semakin tak terkontrol.
Ayana melirik Gio yang baru memasuki kamar saat jam sudah menunjukan di angka satu.ia tak peduli dari mana Gio dan mengapa tengah malam begini baru pulang.semua itu tak membuat Ayana goyah sedikit pun dan tidak ada keinginan untuk bertanya.jangan lupakan bahwa sebelum Gio berhasil mencairkan hatinya. hati Ayana sudah sekeras batu.jadi untuk kembali lagi ke pengaturan awal itu bukan hal yang susah baginya.
"Belum tidur?." Gio mencoba berbasa-basi meski sebetulnya ia malas dan sudah tahu pasti tidak akan di tanggapi oleh istrinya.
Benar saja dugaannya Ayana tidak mempedulikan pertanyaan Gio,semakin kesini perempuan itu semakin irit bicara bahkan terkesan tambah diam ia menutup mulutnya rapat-rapat ketika sedang berduaan dengan Gio di ruangan yang sama.Ayana hanya akan bicara kepada pekerja dan anak-anaknya saja.selebihnya ia lebih suka menutup mulut.
Huek
Ayana menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.melihat wajah Gio rasa mualnya yang tadi sudah mereda kini datang lagi.Gio yang baru menggenakan kaus rumahan itu terkejut dan langsung berlari menyusul Ayana ke kamar mandi.
"Yang,astaga." Gio cukup kawatir melihat istrinya yang lemas menumpukan kedua lututnya ke lantai di depan toilet.lelaki itu mengurut tengkuk Ayana mengikat dan merapikan rambutnya yang berantakan bahkan tanpa rasa jijik Gio mengelap rambut Ayana yang terkena muntahan.
"Udah mendingan?aku buatin larutan jahe sama jeruk nipis ya,biar gak mual." meski tidak mendapat tanggapan Gio tetap membuatkan minuman penghilang rasa mual untuk Ayana.usai meletakan istrinya di atas kasur ia segera melesat ke dapur membuatkan minuman untuk sang istri. selang beberapa menit Gio kembali dengan segelas larutan jeruk nipis yang di campur dengan air jahe.ia mendapati Ayana yang sudah pulas dengan wajah pucat dan lemas.karena Ayana terlihat lelap Gio pun tidak tega untuk membangunkannya.jadilah ia hanya menyimpan minuman itu di atas nakas dan setelahnya ia memilih tidur di samping Ayana.
Keesokan harinya setelah makan siang Ayana memilih pergi ke rumah Gio untuk mengunjungi ibu mertuanya yang baru keluar dari rumah sakit.wanita itu mengendarai mobilnya seorang diri dan sengaja tak memberitahukan Gio karena memang ia ingin pergi sendiri saja sebelum ke rumah Gio Ayana sudah lebih dulu mampir ke swalayan untuk membeli aneka buah dan makanan lain sebagai buah tangan.ia tersenyum begitu melihat senyum hangat Mira yang sedang duduk di kursi roda menyambut kedatangannya dengan senang.
"Ka Aya?." sapa Indri dengan wajah terkejut tentu saja.ia kaget karena Ayana tiba-tiba datang tanpa memberi kabar lebih dulu seperti biasanya.
Ayana tersenyum dan menyelami kaka iparnya itu." Sengaja,kejutan buat ibu dan kaka."
"Bisa aja kaka ini." Indri tertawa sembari mengusap punggung Ayana dan mengajak adik iparnya itu untuk duduk.namun Ayana segera berjongkok menumpukan lututnya di lantai guna menyamai dengan Mira yang berada di kursi roda.ibu mertua Ayana sudah tidak bisa berjalan tubuhnya mendadak kaku akibat kejang beberapa waktu lalu.
"Aya.." sapa Mira dengan tangis tertahan ia meremas lembut tangan menantunya itu yang hangat.
"Ibu jangan nangis." ujar Ayana dengan mata yang mulai memanas.air matanya sudah menyeruak keluar tak dapat ia tahan." Aya sayang ibu,sayang banget bu. jadi ibu harus sembuh ya harus kuat demi kami,demi semuanya,demi cucu-cucu ibu." Ayana tergugu di bawah kaki Mira kesedihannya bukan hanya tentang melihat kondisi Mira tapi juga dengan keadaan rumah tangganya yang saat ini sedang runyam.
"Maaf,maaf nak.ibu udah nyusahin.ibu nyusahin kamu sama Gio.nyusahin kalian. maaf karena waktu Gio habis untuk mengurusi ibunya yang tak berguna ini. maafin ibu,Aya." Ayana menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mira.sama sekali tak pernah menganggap seperti itu bahkan jika pun saat ini waktu Gio hanya di habiskan untuk mengurusi Mira,Ayana tak masalah.karena itu memang sudah kewajiban Gio sebagai anak.ia tidak mempermasalahkan soal ini.
"Ibu memang beban untuk kalian." tangis Mira semakin tak terkontrol.ia sedih mendapati dirinya tak berdaya seperti ini mengapa cobaan yang begitu berat harus datang di tengah kebahagiaannya bersama sang anak dan cucu-cucunya mengapa tuhan begitu tidak adil.baru saja ia mereguk kebahagiaan setelah kesembuhannya beberapa tahun ini.lalu tak lama impiannya terwujud menyaksikan Gio menikah dan memiliki anak dan hidup bahagia dengan baik.itu adalah seuatu kebahagiaan bagi Mira yang tak ternilai harganya.
Ayana menggeleng dan mengusap air mata Mira dengan tangannya." Ibu bukan beban.jangan ngomong begini bu,itu buat Aya sedih jangan memikirkan hal-hal yang gak penting ya bu,fokus sama kesembuhan ibu.jangan sedih-sedih.ibu harus cepet sembuh,cucu-cucu ibu kangen sama neneknya,mereka pengen main bareng lagi seperti biasa."
__ADS_1
"Maafkan ibu." Mira hanya bisa menangis sesenggukan.ia merindukan semua cucunya.anak-anak Gio yang selau bisa membuatnya bersukur karena masih di beri umur panjang bisa melihat dan menyaksikan tumbuh kembang mereka. tapi sekarang rasanya percuma karena ia hanya bisa duduk di kursi roda seperti ini benar-benar tidak berguna.
"Besok Aya bawa mereka kesini ya,hari ini tadi masih pada tidur.makanya gak di bawa takut di bangunin malah rewel." ujar Ayana setelah tangis keduanya mereda.ia sedang memijit-mijit pelan tangan Mira.
"Kangen si cerewet Vindi.kemarin aku video call sama Gio,dia lagi main playdoh sampe muka bapaknya belepotan di jadikan cetakan sama dia.lucu banget itu anak dan cerewetnya minta ampun." Indri tertawa mengingat kelucuan ponakannya itu.
"Makin rewel sekarang mah Ka.apa aja di tanyain.suka capek jawabinnya." balas Ayana ikut tertawa mendengar beberapa cerita Indri.
Setelah mengobrol hangat dengan kaka dan ibu mertuanya.Ayana memutuskan masak untuk mereka makan.ia melihat meja makan yang kosong rak piring yang biasa buat menaruh makanan juga kosong. maka Ayana memasak makanan sederhana untuk mereka makan sore sebelum masak ia sempat berbelanja ke super market yang tidak begitu jauh dari rumah Gio.Ayana mengisi penuh kulkas Mira.bahan makanan lengkap semua ada tidak hanya sayur mayur dan makanan basah.untuk stok daging dan ikan juga lengkap di belinya.meski Indri beberapa kali menolak karena tidak enak dan takut merepotkan tapi Ayana tak peduli dan tetap melakukannya.
"Masih sama." gumam Ayana saat memerhatikan rumah Mira.semuanya masih sama ketika pertama kali ia datang kesini.suasananya masih sama.yang membedakan ia datang kesini seorang diri tidak bersama Gio seperti saat itu.rumah hangat ini tidak mewah dan besar seperti rumah milik orang orangtuanya.namun memberikan kesan hangat dan nyaman.ia ingat sekali saat pertama kali datang kesini rumahnya memang belum sebagus ini,tapi kenyamananya masih sama seperti pertama kalinya datang.
"Ka" Ayana menoleh ke samping saat Indri ikut mendudukan diri di kursi yang sama. perempuan itu membawa sepiring mangga mengkel dan nanas setengah matang,juga jambu air dan bumbu rujak kacang.
"Seger ini ka." ujar wanita itu seraya mencolekan nanas muda ke bumbu rujak bercampur kacang yang sengaja di uleg kasar.
"Duh ngilu aku." Ayana bergidik ngeri melihat Indri yang langsung menyantap rujak asam itu dengan ekspresi biasa saja seolah sedang makan apel.tapi pada akhirnya Ayana juga ikut menikmati rujak itu.lama mereka ngobrol sambil menghabiskan sepiring rujak colek itu.
"Aku gak tau jelasnya,mengenai apa yang sedang terjadi dengan kelian berdua,Ka. tapi sebagai kaka dari Gio,aku minta maaf jika adikku itu membuat kesalahan.baik di sengaja mau pun tidak." ucap Indri membuat Ayana menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas.
"Bukannya mau sok tau,tapi aku bisa melihat dan merasakan sendiri kalau mungkin kalian saat ini sedang tidak baik-baik saja.sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan kesedihan kaka.akhir-akhir ini Gio juga aku lihat lebih banyak merenung dan kusut banget tapi itu anak gak mau jawab kalau aku tanya. padahal niatnya bukan mau ikut campur. cuma ingin memberikan solusi kali aja dapat membantu."
Ayana tersenyum menangapi kemudian menggelengkan kepalanya." Gak ada apa-apa kok ka.kami baik-baik aja.Gio mungkin lagi ruwet banyak kerjaan dan kuliahnya yang bikin pusing.sejauh ini hubungan kami gak ada masalah samuanya seperti biasa."
Indri mengangguk menanggapi meski sebetulnya ia tahu Ayana sedang menutupi masalah.sebagai seorang perempuan tentu saja ia tahu bahwa keadaan rumah tangga Gio mungkin saja sedang tidak baik ia mengenal Gio dengan baik,tahu luar dalam adiknya itu seperti apa jika sedang baik-baik saja dan tidak.namun bagaimana pun Indri tak bisa berbuat banyak atau pun mencari tahu apa lagi mendesak sang adik,karena itu menjadi urusannya mereka.
Sebagai kaka ia hanya bisa mendoakan semoga semuanya baik-baik saja namanya rumah tangga pasti akan ada saja ujian dan cobaan yang menerpa. tergantung bagaimana kita menghadapi dan menyikapinya dengan sabar dan bijak karena tidak akan ada rumah tangga yang semulus jalan toll.
...πππππππ...
"Dari mana?kamu lagi hamil loh,yang. jangan keluar malam terus,pamali." suara Gio terdengar begitu lembut.Ayana tak menyangka suara Gio kontras dengan wajahnya yang terlihat sedang menahan kesal itu.ia kira suaminya itu akan meledak-ledak mendapati dirinya pulang malam.namun kenyataannya Gio tetap lembut menjaga nada ucapannya dan tak memarahinya.
Sebetulnya Ayana sedikit merindukan perhatian suaminya itu.namun karena masih kecewa jadi semuanya seolah tertutup." Bisa kita ngobrol bentar aja?" Gio setengah memohon agar Ayana mau bicara dengannya sungguh ia merindukan momen-momen kebersamaan mereka dan obrolan-obrolan absurd keduanya.Gio juga rindu pillow talk atau semacamnya.
"Aku mau istirahat." balas Ayana cepat seraya melangkah dari sana.membuat Gio mendekus lelah.habis sudah kesabarannya ia menarik napas berat kemudian membuka suaranya.
"Kita perlu bicara,yang.gak bisa kaya gini terus.kita ini suami istri bukan orang asing yang sekian lama tidak saling bicara. bahkan orang asing aja masih saling tegur sedangkan kita melebihi itu.tepatnya bukan kita,tapi kamu yang tidak pernah mau ngomong."
Mendengar suara Gio,Ayana menoleh dan mengurungkan niatnya untuk segera masuk kamar.ia berjalan mendakat pada Gio yang masih duduk." Kamu yang menjadikan kita seperti orang asing,Gi. kamu juga yang udah bikin aku diam.dan kehilangan minat untuk ngomong sama kamu."
"Makanya dengerin dulu penjelasan aku." balas Gio sedikit naik nadanya membuat Ayana tersenyum sinis." Kamu yang gak mau dengerin dan gak ngebiarin aku jelasin.kamu langsung nyimpulin sendiri seolah aku bener-bener gak ngakuin anak yang sedang kamu kandung_"
Cih
Ayana mendecih dengan tawa sinis matanya menajam menatap Gio dengan amarah yang tertahan." Kamu lupa?Dia..anaku?kamu sendiri yang ngomong. dengan kamu ngomong kaya gitu,itu udah cukup jelas bahwa kamu meragukan anakku.di tambah ekspresimu yang menjijikan itu.seolah kamu telah menganggap semuanya adalah benar bahwa anakku ini bukan anak kamu."
"Aku cuma kaget waktu itu." bantah Gio tak sepenuhnya benar karena ia sendiri memang tidak benar-benar yakin dengan anggapannya itu." Aku kaget saat kamu bilang usianya sudah 9 minggu,itu artinya_"
"Artinya sama dengan kejadian sialan itu kan?" Ayana tertawa hambar mengingat lagi kejadian menjijikan itu." Semua sudah cukup jelas,Gi.itu artinya sama aja.sama dengan kamu menganggap bahwa anakku bukan anakmu.udahlah mau berkilah seperti apa lagi kamu dengan membela diri kamu yang makin terlihat konyol itu.udah gak perlu capek dan repot ngejelasin aku udah gak percaya lagi sama kamu."
"Yang" Gio berdiri mendekati Ayana yang reflek menjauh.
"Gak usah panggil aku dengan kata itu lagi. untuk apa kalau pada kenyataannya kamu gak percaya sama istri kamu sendiri_"
"Lalu?kamu sendiri gak percaya sama aku_"
__ADS_1
"Itu karena kamu_"
"Cukup,yang.jangan terus mojokin aku dan semua salah aku.hingga kamu lupa dengan salahmu sendiri.sekarang aku tanya." Gio mendekat membidik sang istri dengan tatapannya yang sudah setajam tatapan mata elang itu.jujur saja Ayana merinding sebenarnya tapi ia tidak ingin menunjukan pada Gio." Apa yang kamu lakukan hingga berakhir dengan bajingan itu di kamar yang sama?" pertanyaan itu sudah lama berada di ujung lidah.namun Gio tahan karena tidak ingin melukai sang istri.penjelasan Frans waktu itu sudah cukup baginya.hanya saja sekarang ia ingin mendengarnya langsung dari mulut mungil Ayana.
"A_aku gak enak perut.karena makan kerang." Ayana tergagap ia memalingkan tatapannya enggan bertatapan dengan mata Gio yang terasa menusuknya itu.
"Dan minum?" tembak Gio tepat sasaran membuat Ayana tak berkutik." Aku udah bilang bukan?jauhi minuman haram itu kamu ini seorang istri dan ibu.seharusnya tidak menyentuh minuman seperti itu.gak ada manfaatnya sama sekali.merugikan iya."
"Aku gak peduli sama masa lalu kamu yang mungkin sering menikmatinya.tapi jangan sesekali ketika sudah bersamaku jangankan minuman haram seperti itu. kamu minum soda aja aku benci.karena tidak bagus untuk kesehatan." nada ucapan Gio kembali tenang tidak seperti sebelumnya.tapi tatapannya masih tak beralih sedikit pun dari wajah Ayana.
Dalam hati Ayana mendecih mendengar Gio yang sok iya itu.minum soda pun benci katanya karena kesehatan.lalu bagaimana dengan merokok.lelaki itu bahkan sudah kecanduan dengan nikotin itu.dasar munafak maki Ayana.
"Ya aku memang minum." aku Ayana pada akhirnya membuat Gio mengigit daging pipinya bagian dalam sambil terus menatapi istrinya." Toh cuma sekali selama pernikahan kan?aku juga gak macam-macam minumnya juga sama temen cewek.kamu bisa tanya Papah."
"Ngapain nanya-nanya ke Papah.udah pasti Pak tua itu bela putrinya lah.secara putri kesayangannya mana mungkin ia mau jujur." Ayana terperangah mendengar ucapan Gio yang menurutnya kurang ajar itu.
"Kamu ngatain Papah tua?" tanya Ayana tak percaya.
"Lah emang udah tua,salahnya dimana?"
"Gila ya kamu." Ayana menggelengkan kepalanya tak menyangka bahwa Gio akan seberani itu.
Melihat respon Ayana yang berlebihan dalam hati Gio ingin tertawa." Silakan aja ngadu sana.bapakmu gak akan mempan." ucapnya dalam hati.toh ia tidak mengatai ayah mertuanya itu yang aneh-aneh atau pun tidak sopan.tidak perlu takut dan berlebihan.
"Perlu aku ingatkan lagi,aku gak pernah macam-macam dengan dia.bukannya sudah jelas waktu itu aku minta kamu periksa aku.Papah juga demikian?itu karena aku gak takut,Gi.untuk membuktikan bahwa aku tidak pernah melakukannya.itu salahmu sendiri karena menolak.andai aku tau kamu akan mengatakan itu pada akhirnya.mungkin waktu itu aku akan pergi sendiri menyeret kamu ke rumah sakit.dengan begitu mungkin aku gak akan merasakan penghinaan dari kamu."
Ayana mengatakannya dengan nada tenang setelah bisa menguasai diri ia memilih untuk bicara dengan Gio.tidak ada salahnya mereka bicara saling mengungkapkan apa yang keduanya rasa tapi untuk memaafkan Gio itu tidak mungkin Ayana lakukan.baginya cukup sulit ucapan lelaki itu begitu melukai perasaan dirinya yang terdalam.
"Aku tau,aku percaya.aku minta maaf. maaf udah kelepasan mengatakan kalimat yang menjadi mimpi buruk buat kamu,aku salah,Yang.aku sadar udah buat kamu kecewa dan benci sama aku.itu wajar.tapi bisakah kita kembali seperti dulu lagi?ijinkan aku memperbaiki diri.aku menyesal sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan.maafin aku,yang.maaf untuk semuanya." Gio mencoba meraih kedua tangan Ayana namun perempuan itu segera memasukannya ke dalam kantung baju setelah Gio mengatakan kalimat jahat itu Ayana memang seolah menghindari segalanya.jangankan untuk kontak fisik bicara pun enggan.
"Aku mau lihat anak-anak dulu." Ayana segera menuju kamar anaknya mengabaikan Gio yang kembali duduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Tepat seminggu setelah itu,Ayana kembali mengunjungi Mira.langkahnya terhenti ketika sudah berada di halaman rumah Gio ia melihat ibu mertuanya itu tengah mengobrol di bawah sinar matahari pagi. Mira tengah berjemur di temani oleh Amanda yang duduk santai di kursi pelastik dengan perut buncitnya.keduanya tidak menyadari keberadaan Ayana yang tengah berdiri itu.Mira dan Amanda asik mengobrol dan sesekali Mira mengelus perut Amanda kemudian tersenyum.
"Sehat-sehat anak pinter.lungsur langsar lahirannya ya.meski ayahmu begitu tega sama kalian.tapi ibu doakan kamu dan ibumu sehat-sehat ya." ucap Mira pada janin Amanda yang dapat Ayana dengar dengan jelas.
Reflek Ayana mengusap perutnya yang belum terlihat itu.apa lagi tertutup cardigan panjang makin tak terlihat tonjolan yang sebenarnya sudah terlihat sedikit jika keadaan polos.
"Aminnnn,makasih ya bu." balas Amanda seraya mengelus punggung tangan Mira.
"Selamat pagi,bu." sapa Ayana mengaggetkan keduanya yang langsung menoleh.
"Aya?ya ampun anak ibu." Mira menyambut putri menantunya itu begitu hangat.
...ββββββ...
Duh udah mulai kehilangan senyum ayah Gio nihπ₯
Foto hanya pemanisβΊ
__ADS_1