
Rasa sakit di masa lalu itu kini kembali menguak setelah kedatangan sang mantan kekasih. Padahal luka itu harusnya sudah lama sembuh. Namun, kini kembali menggoreskan luka baru didalam hatinya.
"Apa hubunganmu dengan Tuan Muda Bastian?" tanya Ragil ingin tahu. Mendengar kabar dari adiknya membuat Ragil setengah tak percaya jika Bee menjalin hubungan dengan pria yang jelas-jelas lebih muda darinya.
"Kenapa?" tanya Bee menatap Ragil penuh selidik.
"Tidak. Kau tidak tahu siapa Tuan Muda Bastian. Aku tahu, aku sama sekali tak memiliki hak untuk ikut campur urusan mu. Tetapi aku hanya ingin memperingatkan bahwa kau harus hati-hati dengan nya," jelas Ragil.
Bee mengernyitkan kening nya heran, seraya menatap Ragil penuh tanda tanya. Apa maksud lelaki ini yang mengatakan tentang suaminya?
"Apa maksud mu?" tanya Bee dengan wajah dingin nya. Wanita itu jelas jauh berubah dari yang dulu.
"Dia adalah_" Seketika Ragil terdiam saat otak nya mengingat sesuatu.
"Dia apa?" tanya Bee menunggu ucapan Ragil yang terpotong.
"Dia pewaris utama bisnis Schweinsteiger Group. Selain itu dia juga memiliki beberapa akses yang bekerja di dunia mafia."
Deg
Pembuluh darah Bee tampak tegang dilehernya. Walau terkejut dengan penjelasan Ragil. Tetapi wajahnya tetap tenang seolah tak mendengar sesuatu yang mengejutkan.
"Tuan Muda Bastian, ketua mafia Black Dragon yang menguasai dunia bawah," jelas Ragil lagi.
Lagi dan lagi, Bee membeku ditempatnya. Perasaan nya mulai ketar-ketir. Selama ini dia hanya mengenal Bastian sebagai seorang bocah yang menyebalkan dan nakal serta manja. Namun, Bee tak mau percaya suaminya tidak begitu. Bastian lelaki baik-baik, tidak mungkin bekerja didunia hitam seperti yang di katakan oleh Ragil.
"Aku tidak memaksa mu untuk percaya, tetapi inilah kenyataan nya. Aku mengetahui semuanya karena aku memiliki relasi yang bekerja bersama nya," jelas Ragil lagi.
Bee berdiri dari duduknya. Dia menatap Ragil tajam. Entah apa maksud lelaki ini mengatakan identitas suaminya? Bisa saja ini hanya akal-akalan Ragil supaya bisa mendekati dirinya.
"Siapa pun dia itu bukan urusan mu."
Setelah berkata demikian, wanita cantik itu melenggang pergi menggantung tasnya di bahu.
Bee masuk kedalam mobilnya. Sejenak, dia menarik nafasnya dalam seraya dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Bas, aku percaya kau tidak seperti itu. Kau suami tenggil ku yang baik. Kau memang menyebalkan tetapi kau tidak jahat. Aku percaya padamu, Bas. Aku percaya itu," ucap Bee menepis semua perasaan nya.
Tak bisa dipungkiri jika ucapan Ragil tadi membuat hati Bee terganggu. Bagaimana jika suaminya itu benar-benar ketua mafia? Bagaimana jika suaminya benar-benar seorang yang bekerja didunia hitam?
Wanita tersebut melajukan mobilnya meninggalkan cafe. Pagi-pagi mood nya sudah rusak gara-gara pertemuan nya dengan Ragil tadi.
"Bas," gumam Bee.
Ingin rasanya Bee menemui suaminya dan menanyakan hal tersebut. Tetapi Bee tidak mau merusak semangat Bastian. Suaminya sedang kuliah, Bee tidak mau gara-gara dirinya yang gegabah lalu membuat Bastian hilang konsentrasi.
"Bas, aku mohon jangan buat aku kecewa. Kau adalah laki-laki yang membuatku bangkit dari patah hati ini. Tolong, buat aku percaya bahwa kau lah pilihan terbaik ku," ucap Bee lagi.
Sampai di gedung pencakar langit, wanita itu langsung turun dari mobil. Wajah Bee tampak lebih dingin dari biasanya. Hari ini dia akan menggantikan Bastian dan menghandle semua pekerjaan suaminya itu bersama Ruah, sang asisten.
"Bee," panggil Rara dari jauh seraya melambaikan tangannya.
Langkah Bee terhenti, dia memalsukan senyum nya. Dia tak mau ketahuan oleh Rara, bahwa dirinya sedang berpikir keras.
"Kau sudah lama datang?" tanya Rara menyamakan langkah kaki nya dengan Bee.
"Baru," jawab Bee singkat padat dan jelas.
"Dia masuk kuliah," jawab Bee.
"You okay, Bee?" tanya Rara menatap wajah Bee yang tampak tak seperti biasanya.
"I'm okay," sahut Bee. Padahal dia sudah berusaha memasang mimik wajah biasa saja tetapi tetap saja bisa dibaca oleh Rara.
"You're not okay. I know that," ucap Rara. "Bee kita kenal sudah lama, aku tahu bahwa kau sedang ada masalah. Katakanlah, siapa tahu aku bisa bantu," ujar Rara sambil merangkul bahu sahabat nya.
Bee hanya mengangguk saja. Dia belum bisa menceritakan pada siapapun apa yang menganggu pikirannya saat ini. Apalagi bersangkutan dengan suaminya, Bee akan membicarakan hal tersebut dengan suaminya.
.
.
__ADS_1
"Bagaimana istriku? Apa dia baik-baik saja?" tanya seorang pria sambil duduk dikursi sebuah ruangan gelap yang berlantaikan tanah.
"Nona baik-baik saja Tuan. Tetapi tadi pagi saat hendak ke kantor, Nona bertemu dengan Tuan Ragil," lapor sang anak buah.
Lelaki itu menatap anak buahnya dengan tajam. Darah mendesir merangkak naik ke wajah, menunjukan bahwa dia emosi saat mendengar kabar tersebut.
"Lalu?" Alisnya terangkat dengan tangan mengepal kuat. Entahlah, dia tidak suka istrinya itu dekat-dekat pria lain.
"Mereka tampak membicarakan sesuatu, Tuan," jawab sang anak buah.
"Sesuatu apa?" tanya nya penasaran. Dia tidak bisa menebak sifat istrinya yang terlampau dewasa dari dirinya.
"Maaf Tuan, anak buah kita tidak bisa menyimak apa yang mereka bicarakan. Jika mengawasi dari jarak dekat, otomatis akan menimbulkan curiga. Apalagi Tuan Ragil tahu siapa Anda," jelas sang anak buah.
Lelaki itu menghembuskan nafas nya kasar. Dia menginjak putung rokok yang sedari tadi dia sesap.
"Perketat penjagaan tetap istriku. Jangan biarkan lelaki brengsek itu menemuinya lagi. Aku takut, dia membongkar identitas ku," titah lelaki itu sambil berdiri dari duduknya.
"Baik Tuan," sahut sang anak buah.
Pria tampan itu menatap dua orang yang sudah babak belur beserta kondisi wajah yang menggenaskan dan tangan yang terikat dari belakang.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya nya dengan suara tegas.
Tak ada jawaban, dua pria yang ada didepan nya ini hanya menunduk ketakutan. Keringat dingin mengucur membasahi dahi, wajah pucat tanpa dasar. Entah karena ketakutan melihat tatapan lelaki yang didepannya atau mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi kematian.
"Roy," panggil nya.
"Iya Tuan Muda?" Sang anak buah mendekat kearah nya.
"Beri mereka pelajaran, lepaskan kuku tangan dan kaki nya. Potong lidah nya lalu masak dan suruh mereka makan. Tetapi jangan biarkan mereka mati," titah nya.
Dua orang yang mendengar hal tersebut sontak ketakutan luar biasa. Keduanya menggeleng dengan berusaha menggeser tubuh nya.
"Iya Tuan."
__ADS_1
Pria tampan itu keluar dari ruangan dengan senyuman licik. Dia masuk kedalam sebuah ruangan lain yang menjadi tempat barang-barang berharga nya, seperti senjata api dan alat-alat lainnya.
Bersambung...