
Ayana memeluk Gio dan mencium leher suaminya itu dengan tiba-tiba saja membuat Gio yang tengah duduk di karpet depan tivi sambil menciumi Raven itu terhenti.lelaki itu menoleh dengan heran tumben istrinya ini jadi romantis begini sih pikirnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Gio sedikit memiringkan kepalanya lalu mengecup sekilas sudut bibir istrinya.
"Gapapa.kangen aja.nonton yuk Gi," jawab Ayana masih dengan memeluki Gio.
"Ini krucil belum bobo.masa kita tinggal?"
"Gapapa sih,ada Mamah ini.udah lama kita gak kencan loh." ajak Ayana setengah merajuk agar Gio mau pergi.
"Coba aku tidurin Anak-anak dulu ya."
"Gak keburu dong,filmnya jam 1.ini udah jam setengah 12.lagian mata Raven juga masih terang benderang tuh." Ayana bergerak mencubit pipi gembul putranya balita itu menyengir membuat mata bulatnya menyipit.semakin besar anaknya yang ini mirip dengan Ayana apa lagi matanya yang jernih dan bulat itu.
Gio terkekeh sambil mengecup pipi Raven yang sudah kemerahan." Bunda lagi kolokan de.adek sama Oma dan ncus ya Sayang.ayah sama bunda mau jalan dulu kasian bundanya Aven,katanya mau nonton.boleh ya?ayah sama bunda boleh pergi ya nak?."
Anak Gio itu mengangguk meski ia tidak terlalu paham sebetulnya." Ayah igi ama nda auh?"
"Nggak,nggak jauh kok,deket dan sebentar aja." balas Gio.
"Aven diem di rumah ya Ven,sama Vindi dan kaka Jemi." Ayana ikut membujuk dan Raven mengangguk saja.anak Gio yang ini memang paling mudah di bujuk,ia tidak pernah menangis jika akan di tinggal oleh kedua orang tuanya.
Berbeda dengan si sulung yang selalu konsisten jika dia ingin A tetap A,tidak akan berubah menjadi B.sama halnya jika Gio dan Ayana hendak berpergian kalau dia ingin ikut tetap harus ikut.anak itu tidak akan mempan di bujuk seperti ini.jika Vindi si cantik yang itu begitu mudah di alihkan perhatiannya.dan sudah lumayan paham jika di beri pengertian.
"Nanti ayah bawain lego lagi.ya udah kita ke Oma yuk." ajak Gio kemudian ia membawa anaknya ke ruangan lain mencari mertuanya.
"Mah," ujar Gio saat Monica melintas di sana dengan potongan buah di piring yang sedang ia bawa,sepertinya mertua Gio itu hendak ke dapur.
"Kenapa Gi?" tanyanya dan langsung tersenyum begitu melihat cucunya.ibu mertua Gio itu menyuapkan sepotong semangka dengan ukuran kecil pada Raven.
"Ini manis banget,Sayang." Monica beralih pada Gio,lelaki itu sedang mengusap mulut anaknya itu yang basah oleh air dari semangka." Kenapa tadi?."
Mendengar itu lantas Gio mendongak." itu katanya Mah.Aya pengen nonton.itu barusan ngajakin.aku mau titip anak-anak bisa ya Mah?" jelas Gio dengan tak enak hati.
"Ya udah gapapa kalian pergilah anak-anak sama Mamah aja.udah sono." usir Monica dan langsung meraih Raven setelah meletakan piring buah miliknya." Sama oma yuk.kita buat robot lagi.Mama sama Papa mau pacaran dulu katanya." sindir Monica dan itu membuat Gio jadi malu.
"Gimana?" tanya Ayana saat Gio sudah di kamar ia melihat istrinya yang sedang memakai blush on berwarna peach.
"Bisa,yuk atuh.aku ganti kaos dulu ya." ujarnya lalu segera mengganti kaus hanya beda warna saja,jika tadi berwarna putih maka sekarang hitam polos.usai itu keduanya pergi setelah berpamitan pada Monica.
...☘☘☘☘☘...
Banyak yang di lakukan oleh Ayana dan Gio hari ini,keduanya tampak seperti sepasang remaja yang sedang pergi kencan.berbagi kafe yang lumayan terkenal dengan menu dan rasanya mereka kunjungi,Gio dengan sabar menemani istrinya kemana pun ia pergi. mereka lupa kapan terakhir pergi kencan seperti ini.tapi kali ini rasanya lebih memuaskan dan menyenangkan.
Ayana dan Gio mempunyai cara untuk memupuk cinta mereka agar selalu hangat dan harmonis.keduanya memelihara cinta dengan kasih sayang setiap saat.mereka tidak ingin hubungan rumah tangga mereka jadi dingin dan hambar alias anyep keduanya ingin hubungan mereka selalu menggebu seperti anak remaja yang sedang kasmaran.mereka harus pintar mencari dan membagia waktu.apa lagi sudah ada anak di antara mereka yang pastinya waktu bagi mereka jadi semakin terbatas.meluangkan waktu berduaan seperti ini membuat cinta keduanya makin kuat.Gio dan Ayana merasa seperti pacaran versi halal.karena mereka tidak merasakan pacaran seperti orang lain pada umumnya.
"Duduk di sana aja,Yang." ajak Gio menunjuk kursi paling ujung dekat dengan bunga hias.
Kali ini keduanya memesan minum usai menonton,mereka tampak sibuk dengan ponsel masing-masing sebelum Gio menegur Ayana untuk menyimpan ponselnya di meja.ia tidak suka jika mereka sedang berduaan tapi yang satunya sibuk dengan ponsel.tadi Gio hanya mengecek sebentar karena takut ada laporan dari karyawan pabrik.setelah itu ia letakan kembali ponselnya di tas eiger miliknya.tapi Ayana justru larut pada ponsel bahkan ia lupa jika ada Gio di depannya.Gio akan melarang jika Ayana terlalu larut pada ponsel.karena selain kurang fokus saat di ajak lawan bicara bermain ponsel terlalu khusuk juga akan menyebabkan banyak bahaya.Gio sama sekali tidak suka itu.
"Hape terus ya." celetuk Gio sambil mengarahkan es kopi Americano pada istrinya.
Ayana tersadar kemudian tersenyum." Ini lagi balesan chat sama Cindy.katanya dia pengen nyusul tapi mager keluar."
"Eh,punyaku udah ya?" Ayana langsung membuka sedotan es kopinya.ia menjemil pipi Gio karena lelaki itu hanya melihatnya tanpa menanggapi." Kesel ya sama aku?"
"Gimana gak kesel,suami ngomong dan ada di depan kamu,tapi kamu malah asik sama hape aja." gerutu Gio pura-pura kesal padahal mah sama sekali tidak.
Ayana memasang senyum manisnya agar Gio meleleh.namun sepertinya tidak mempan kali ini." Ya udah aku minta maaf kalau udah bikin kamu kesel.gantinya apa nih?"
Gio mendekus sambil menahan tawa." Gantinya kamu pijitin aku sampe rumah pegel tau ngintilin kamu belanja terus muterin mall.lama-lama aku encok ini."
"Bener gak,sampe rumah cuma di pijit aja?takutnya pijit yang lain" Gio tertawa sambil menjawil pipi kurus sang istri.keduanya larut dalam obrolan sambil menghabiskan makannya.sampai mata Ayana tak sengaja menangkap seorang perempuan yang sangat ia kenal dan seketika matanya membulat saat kemunculan laki-laki yang juga ia kenal tengah menggandeng lengan perempuan itu.
"Ya ampun Gi." ucap Ayana keluar begitu saja dari mulutnya.
Gio yang baru meletakan gelas itu menoleh dengan heran." Kenapa,Yang?"
"Jangan kaget ya,lihat itu siapa?" Mata Gio mengikuti telunjuk Ayana,keduanya menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Sembunyi." perintah Gio dan dengan segera mengajak istrinya itu menunduk keduanya membalikan tubuh dan pura-pura sibuk dengan ponsel tapi kuping mereka terpasang dengan baik.
__ADS_1
Sementara itu dua meja dari meja Ayana dan Gio tempati,Aneska dan Rehan mendudukan diri di sana dengan santai tanpa curiga.Rehan segera memesan minum dan cemilan yang di mau Aneska keduanya tidak terlibat obrolan hanya Rehan sesekali bertanya mengenai apa yang di rasa oleh Aneska.pasalnya perempuan itu mengeluh tidak nyaman di perutnya.
"Kakinya pegel gak?" tanya Rahan sembari melirik Aneska.
Perempuan itu mengangguk." Lumayan sih.pulang nanti lo pijit ya.habis ini kita pulang aja lah gue udah capek keliling dari tadi.eh tapi beli baju lo dulu deh.kaus lo udah pada kusut gue lihat.c*lana dal*m lo aja udah pada longgar kayanya dan_"
"Mbak.udah lah gak usah bahas c*lana d*lam segala di sini.biarin itu jadi urusanku sendiri.nanti aku beli sendiri." potong Rehan." Dan juga gak usah beli baju.bajuku banyak di rumah nanti aku ambil sepulang kerja."
"Tapi lo harus punya banyak baju buat berpergian,Han.lo bakal sering pergi sama gue nanti.ke rumah sakit,belanja,dan lainnya.gue gak mau lo pake pakaian buluk gitu." ujar Aneska.
Rehan mengehmbuskan napas berat." Iya deh serah mbak aja." mengalah.berdebat dengan Aneska sama saja dengan menggali sumur memakai sutil.keduanya mulai menikmati makanan karena lapar Rehan terlihat begitu rakus makan jujur dia kelaparan setelah memutari Mall menemani Aneska belanja bahan makanan dan isi kulkas.katanya untuk memenuhi gizinya agar semimbang supaya cepat hamil.
"Cobain deh ini enak." Rehan menyodorkan sesendok makanan miliknya pada Aneska.
Aneska terlihat ragu menatap makanan itu. bukan makanannya tapi sendoknya bekas Rehan.dan Rehan pun mengerti akan keraguan Aneska." Ya elah mbak,gak usah pake jijik segala dong.kita udah bertukar ludah padahal.ini cuma sendok bekas aku, bukan bekas ngaduk semen."
Aneska mendelikan matanya namun dengan segera melahap makanan di depannya itu." Mm.mayan lah." komentarnya dengan mulut penuh.
"Kan,apa kataku juga." balas Rehan kemudian ia mengambil tisu dan membersihkan mulut Aneska yang belepotan.
Sementara di belakang mereka tepat hanya terhalang dua meja saja.ada dua manusia,Ayana dan Gio menganga di tempatnya mereka telah mendengar semuanya dan tentu saja keduanya hampir berteriak." Cepet kita keluar." bisik Gio sembari menarik tangan sang istri masih dengan tubuh membungkuk.keduanya dengan cepat pergi dari sana sebelum Aneska dan Rehan menyadari menyadari keberadaan mereka.beruntung makanan di sana sudah Gio bayar karena kafe sana konsepnya Dine in.
"Ya ampun mereka itu." Ayana bernapas lega setelah mereka sudah berada di tempat lain.
Gio pun meraup napas rakus seperti kegep selingkuh padahal hanya mergokin temannya dan teman istrinya jalan berdua. sebetulnya itu bukan hal yang aneh dan menakutkan padahal.lalu kenapa mereka sampai seperti ini sih.segera Gio tersadar ia merutuk sendiri." Yang,kenapa kita kaya gini sih ya?kenapa gak kita sapa aja mereka tadi.ngapain kita sampe lari begini." ujar Gio sembari mendudukan dirinya di samping Ayana.
"Ih kamu itu." Ayana mendelik menatap Gio." Kalo tadi kita langsung sapa yang ada mereka kabur.atau bahkan gak akan mengakui apa yang barusan kita lihat.kalau kaya gini kan enak,kitanya bisa tau apa yang mereka lakukan.dan kenapa bisa mereka jalan seperti itu coba." jelasnya dengan wajah penasaran." Apa kamu tau?kalau mereka selama ini dekat?." Ayana menatap Gio menyelidik siapa tau suaminya ini memang sudah tahu dari lama.
"Nggak tau,aku baru lihat kali ini aja." jawab Gio dengan jujur bahkan dia sendiri saja terkejut terheran-heran.
"Bener?" selidik Ayana,Gio dengan cepat mengangguk." Awas kalau kamu bohong. kalau gitu kita pura-pura gak tau aja. aku akan cari tau mereka mulai saat ini."
"Ngapain?kurang kerjaan.biarin aja mereka mau ngapain juga itu bukan urusan kita." cegah Gio,tak ingin istrinya ikut campur dalam urusan orang lain.
"Ish,aku kan kepo." balas Ayana namun sesaat kemudian ia membenarkan ucapan Gio.
"Bahkan katanya mereka udah bertukar ludah segala,yang." celetuk Gio sembari menyedot minumannya." Itu artinya mereka udah_"
"Ya ampun,mulutmu heh." Gio menggelengkan kepalanya melirik kanan kiri takut ada yang mendengarkan ucapan istrinya itu.
Ayana melirik dengan mata tajam." Lah terus apa lagi?dua orang sableng itu udah pasti udah ngapa-ngapain.yakali Aneska cuma mau bertukar ludah doang tapi gak sampe ng_"
"Iya udah.hayuk pulang udah sore banget." ajak Gio tak membiarkan istrinya menyelesaikan kalimatnya.
...☘☘☘☘☘☘...
Sesampainya di rumah Ayana tidak menemukan ibunya.anak-anaknya juga sudah tertidur semua dengan susternya kemudian ia menanggil suster Titi menanyakan kemana ibunya pergi.
"Nyonya ke rumah sakit non,non Jennie lahiran katanya.tadi Mas Abi telepon." ujar suster itu.Ayana segera berlari ke kamar mencari Gio.lelaki itu sedang di kamar mandi.ia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
"Gi.."
"Ada apa?" tanya Gio yang sibuk menggosok punggungnya.
"Mas Abi lahiran."
"Hah?" Gio menyibak rambutnya yang basah." Ka Jen kali?"
"Eh iya,ayok ke rumah sakit mamah udah duluan kesana katanya.malah gak ngabarin aku lagi." gerutunya ia segera berlari ke kamar ganti baju takut yang sekarang ia kenakan sudah kotor.
Semua orang sedang cemas di luar ruangan oprasi,mereka menunggu detik-detik suara tangisan bayi.semuanya begitu tegang dan gugup dan takut akan hal-hal buruk terjadi.karena Jennie melahirkan sebelum waktunya.
di momen seperti ini Ayana teringat akan dirinya dulu.tanpa sadar ia menggeggam tangan Gio yang berada di pahanya.
"Gapapa semua akan baik-baik aja.ka Jen pasti selamat.kita berdoa aja." bisik Gio.ia tau sang istri tengah di landa cemas.
"Kasian mereka,Gi.kalau sampai kenapa-napa.kasian keduanya udah nunggu dari lama." lirih Ayana.Gio mengelus punggung istrinya dengan lembut guna menenangkan,takdir hidup memang tidak ada yang tahu,baru saja ia dan Ayana tertawa-tawa,dan beberapa jam kemudian mereka di landa kecemasan dan sedih menunggu detik-detik oprasi itu selesai.
__ADS_1
Malam sudah hampir larut mereka baru bernapas lega setelah dokter mengabari kalau istri Abi dan bayinya itu selamat.
"Mirip mas Abi idungnya gede." komentar Ayana membuat mereka tertawa.
"Gede juga mancung dong,emang kamu dek.Idung kok kecil.kaya oprasian." balas Abi tak mau kalah.
"Ih biarin ya dek.hidung tante kan cantik kaya berbi." Ayana menjulurkan lidah pada kakanya itu membuat Abi terkekeh.
"Iya bude,Aya." goda Abi.
"Mas." rajuk Ayana." Masa aku di panggil bude sih? tante aja gak mau bude."
Usai puas bertemu bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu,Ayana dan Gio memutuskan untuk pulang dulu.besok pagi mereka akan kembali lagi dengan anak-anaknya." Seru ya Gi,kalau lihat bayi itu bawaannya pengen punya lagi." ujar Ayana saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Bikin lagi yuk." Gio menanggapi dengan candaan karena dia sudah tahu kalau Ayana tidak menginginkan bayi lagi.
Ayana hanya tertawa sambil mengalihkan pandangannya ke jendela.suasana malam begitu sunyi namun masih beberapa kendaraan masih hilir mudik di jalanan kota jakarta ini.ponsel Ayana bergetar kemudian ia merabanya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.rupanya ada pesan dari Jerrian.
[Ay,besok ngantor gak?maaf besok aku gak datang kayanya.aku sakit ini,Ay.]
Ayana menghembuskan napas berat dan membalas seadanya.namun saat akan memasukan ponselnya ada pesan yang kembali masuk.
[Kamu dan anak-anak jangan lupa jaga kesehatan.cuaca lagi gak nentu orang-orang banyak yang terserang sakit. minum vitamin C sama rebusan kunyit campur madu dan lemon buat daya tahan tubuh.besok aku suruh bibi yang di rumah bikini buat kalian.nanti di anterin.]
Ayana membalas pesan itu dengan stiker jempol dan bertulisan terima kasih kemudian ia memilih tidur karena jarak ke rumah masih lumayan sekitar dua puluh menitan lagi.
...☘☘☘☘☘☘...
Rehan yang baru saja akan memejamkan matanya pun urung karena mendengar rintihan Aneska.segera saja ia bangun dan memeriksa keadaan wanita itu.di tempelkannya punggung tangan kekar itu ke dahi Aneska.ia cukup terkejut karena suhu tubuh wanita itu ternyata cukup panas.
"Bangun,kamu panas ini.minum obat yuk. mbak." Rehan beranjak dari kasur dan pergi kemudian kembali lagi dengan air putih dan sebutir obat penurun panas.
"Gue gak mau.itu obat pait banget dan suka nempel di tenggorokan." tolak Aneska saat Rehan menyodorkan obat padanya.
"Ck.makanya di telen jangan di kunyah,ini obat bukan rempeyek.gak usah manja deh buruan biar turun panasnya.kalau gak mau gue tinggal lo,mbak." bentak Rehan dan mengancamnya.lelaki itu memang sedikit keras tidak seperti Gio yang selalu lembut.
Bukannya minum obat Aneska malah menangis di bawah selimbut.perasaannya mendadak sedih karena Rehan menbentaknya.ia anak yang selalu di manja oleh orang tuanya tidak pernah di marahi atau pun di bentak.memang siapa sih si Rehan itu sampai berani seperti itu padanya.
"Manja bener.udah tua mbak,ingat umur udah berapa sekarang?37 ada gak?" tanya Rehan dengan kesal.dirinya mengantuk tengah malam begini malah mendengar suara tangisan Aneska.
"Keluar lo.gak usah pedulikan gue lagi dasar miskin empati lo." umpat Aneska dengan tersedu seperti habis di tinggal nikah lagi oleh suaminya.
Rehan menarik napas berat dengan emosi yang sudah menguasai diri.ia terdiam untuk sesaat menguasai diri agar tidak kelepasan berkata kasar atau pun bertindak di luar batas.ia ingat bagaimana pun Aneska ini adalah perempuan yang sudah menolongnya.Rehan ingat kalau bukan karena Aneska mungkin hutangnya di bank saat ini masih utuh dengan nominal yang sama.nominal yang begitu besar hingga ia pun kebingungan untuk melunasi hutang tersebut.merasa sudah dapat menguasai emosinya.Rehan kembali mendekat pada Aneska.ia usap punggung yang bergetar itu meski Aneska terus menepis tangannya.
"Gak usah pegang-pegang." sentak Aneska kemudian ia menarik selimbut untuk menutupi dirinya.
"Ya udah kalau gitu." dasarnya memang Rehan ini tak sesabar Gio.ia pun meninggalkan Aneska yang sedang sesegukan di dalam selimbut.
"Dasar gak peka." rutuk Aneska setelah selesai dengan tangisnya.ia turun dari ranjang ke dapur mencari makanan yang sekiranya bisa masuk ke perutnya yang mendadak tak nyaman itu.Aneska duduk di sofa dengan segelas susu hangat.di ujung sana ada Rehan yang sedang memejamkan matanya.tapi Aneska tau lelaki itu belum tidur.
"Pokonya tentang kita ini gak boleh ada yang tau,lo jangan sampe keceplosan di depan Gio,kita harus pinter-pinter sembunyi dari mereka." ucap Aneska setelah menyeruput susunya.Rehan tak menanggapi ia memilih diam pura-pura tak mendengar." Gue tau lo gak tidur Rehan.gak usah pura-pura tuli." ketus Aneska seraya beranjak menuju kamar.
"Arghhh.kalau kaya gini terus lama-lama gue mati kolot.cerewet,bawel dan nyebelin." dumel Rehan sembari mengacak rambutnya frustasi dia.
...☘☘☘☘☘☘...
Sementara itu di rumah haji malik,Amanda hampir meregang nyawa di tangan Raka. keduanya terlibat pertengkaran sengit,baru saja mereka kumpul keluarga,Raka muak setelah ia tak sengaja mendengar Nurafida menyuruh Amanda untuk segera mengandung.supaya cepat mendapat warisan dari keluarga Raka karena ayah Raka akan menjual beberapa lahan dan tanahnya.emosi Raka kembali tersulut saat Amanda membandingkan dirinya dengan Gio.tentu saja ia dan Gio adalah orang yang berbeda sudah pasti sikap dan sifat mereka juga berbeda.
"U_dah,Kha.ini sakit." rintih Amanda dengan air mata yang bercucuran.
Bukannya melepaskan Raka malah menyeringai." Udah lo bilang?sakit kan?ini gak seberapa.gue akan nyakitin lo lebih dari ini."
Amanda menggeleng dengan lemah." Jangan Begini Kha.Abi dan Umi akan curiga kalau ini berbekas." lirihnya.
"Gue gak peduli.tapi kalau sampai mereka tau siap-siap lo bakal gue buat perhitungan." ancam Raka dengan suara yang kuat tepat di telinga Amanda." Lo harus cari cara biar kita bercerai." tekan Raka kemudian ia melepaskan Amanda dengan kasar.
Amanda meraup napas rakus setelah lehernya terbebas dari cengkraman Raka." Kita baru nikah,Kha.gak mungkin kita langsung cerai,setidaknya tunggu beberapa bulan dulu.biar semua keluarga gak bertanya-tanya."
"Gue gak sudi lama-lama hidup sama lo kalau lo mau ikut gue keluar dari sini.gue gak mau di atur sama keluarga lo yang tamak akan harta ini.lo coba lihat,si Nur bahkan udah maksa lo hamil supaya cepet dapat warisan tanah dari keluarga gue." Raka meludah ke samping muak akan keluarga istrinya itu." Jangan harap.gue gak akan sudi punya anak dari lo." ucapnya penuh amarah.
"Bagus.aku juga gak mau punya anak sama kamu.udah aku bilang kamu itu gak ada apa-apanya di banding Gio,dia lelaki sempurna dan bisa menghargai perempuan.sedangkan kamu,ck.sombong doang kemampuan nol_Akh." Amanda terdorong ke dinding kamarnya.matanya membelalak saat Raka menampar wajahnya dengan keras.
__ADS_1
"Puji terus Gio lo itu.Gio menghargai perempuan?dia bahkan ninggalin lo demi perempuan kaya raya.sempurna kata lo?dia telah menukar harga dirinya demi kekayaan dan hidup enak.dia rela di injak-injak di jadikan kacung oleh keluarga itu demi hidup enak dan menikmati kekayaan Frans." telunjuk Raka teracung di depan wajah Amanda." Asal lo tau,dia melakukan perjanjian dengan Frans supaya bisa menikahi putrinya.itu yang lo bilang sempurna?."