
Malam ini Ayana dan Gio berjalan-jalan di mall,katanya istri Gio itu ingin membeli pakaian untuk dirinya dan beberapa kebutuhan Jemia yang sudah pada habis semua.perawatan bodycare dan skincare Ayana juga stoknya sudah menipis katanya menipis dari mananya sih pikir Gio padahal masih seabreg begitu.bahkan skincare dan bodycare Ayana di kamar mereka saja di meja rias begitu menumpuk dan berjejer memenuhi meja dan lemari kaca.Gio saja sampai pusing melihatnya.sedangkan perawatan Gio hanya terdiri dari deodoran, pomade,skincare dan bodylotion.hanya itu saja tidak sampai menumpuk seperti milik istrinya yang di mana-mana ada.
"Bukannya itu masih ada,yang?" tanya Gio saat melihat istrinya membeli beberapa barang barang yang bahkan di rumah stoknya masih ada beberapa.
"Gapapa beli lagi mumpung diskon manfaatin dikson yang munculnya jarang banget gini." sahut Ayana sembari memasukan beberapa barang ke dalam troli.tak mau ribut,Gio hanya pasrah saja menuruti apa yang Ayana mau.toh istrinya itu masih dalam batas wajar kok.
Pemikiran orang kaya seperti Ayana dan orang sederhana seperti Gio,memang sudah pasti berbeda.Ayana yang terbiasa hidup serba kecukupan dan berlimpah pasti sudah terbiasa menyetok barang-barang dan segala kebutuhan lainnya,atau bahkan yang tidak penting pun di belinya.seperti ada beberapa barang yang tidak begitu penting pun menumpuk di rumah Ayana.terkadang Gio heran sendiri,untuk apa istrinya ini membeli beberapa barang yang tidak begitu penting begini pikirnya.seperti sekarang ini nih Ayana membeli beberapa pakaian untuk Jemia padahal ukurannya sangat pas untuk putrinya.Gio yakin baju itu tidak akan terpakai lama karena pertumbuhan putrinya begitu cepat.dan untuk apa membelinya lagi pikir Gio.karena ini tidak begitu penting menurutnya.
Gio itu tidak suka membeli banyak barang dan pakaian,ia lebih suka uangnya di tabung saja untuk biaya pendidikan putrinya di masa mendatang.karena kehidupan di masa depan tidak ada yang tahu.roda hidup itu berputar kali ini bisa berlimpah kecukupan harta dan kekayaan tapi bisa juga dalam sekejap semuanya hilang tak tersisa karena jalan hidup penuh misteri.Gio dan Ayana sekarang berada di tempat duduk.dan saat ini Ayana sedang menikmati eskrim dan minuman boba kesukaannya.
"Yang." panggil Gio membuat Ayana menoleh kepadanya.
"Kenapa?." tanyanya usai menyedot minumannya hingga setengah.Gio melihat kanan kiri tempat mereka begitu sepi karena dirinya sengaja memilih tempat duduk yang jauh dari keramaian.
Gio menatap istrinya membuat Ayana mengerjap dengan heran." Habis ini mau beli apa lagi?kebutuhan Jemia sudah semua kan?tinggal kebutuhan kamu lagi yang belum,ya?" tanyanya.
"Iya.tapi aku masih ingin beli bando, kunciran dan jepitan gitu.sepatu juga sama kaus kakinya yang di sono lucu-lucu nanti abis ini mampir." jawab Ayana dengan binar senang membayangkan putrinya akan memakai semua itu.
"Sayang.menurut aku gak usah beli-beli lagi,di rumah aja kan masih banyak yang belum terpakai.Jemia kan cepet banget besarnya nanti sayang kalau barang-barang itu gak kepake.kita hanya buang-buang uang aja kan,mending kalau adiknya cewek lagi.kalau cowok gimana?nanti gak terpakai dan mubazir." ujar Gio dengan pelan dan hati-hati takut istrinya akan meledak.
"Menurut aku,secukupnya aja kalau masih bayi itu kan gedenya cepet banget uangnya mending buat yang lain aja,yang dari pada beli yang tidak terlalu penting begitu.mending untuk biaya lahiran dan stok sufor aja,nanti kan kamu gak bisa nyusuin Jemia lagi.udah pasti Mia pindah ke sufor,nah biaya susu itu kan gak sedikit yang." lanjut Gio dengan serius dan sepelan mungkin.
Ayana hanya diam sembari mengigiti sedotan yang sedang di mainkannya hampir saja dirinya menyela ucapan Gio tadi.namun Ayana urung ia ingin mendengar apa alasan suaminya itu melarangnya.dan sebenarnya masuk ke dalam otak Ayana.maka dari itu ia tidak menyahut memilih mendengarkan.
"Kan pake uang aku,Gi,kalau uang kamu abis ya gapapa pake uang aku aja.lagian uang dari kamu masih utuh gak aku pake kok." jawab Ayana membuat Gio menatapnya heran.
"Kok pake uang kamu?kan aku bilang beli semua kebutuhan ya pake uang dari aku dong yang.terus apa gunanya aku sebagai suami kamu,kalau semua beli kebutuhan itu pake uang kamu?dan apa gunanya aku kerja siang malam mencari nafkah untuk kalian tapi uangnya tidak kamu pakai? kalau begitu sia-sia dong aku kerja." ucap Gio dengan nada kecewa.
Ayana langsung saja mengibaskan tangannya dengan panik." Enggak.bukan gitu Gi,aku masih pake uang yang kamu kasih kok.cuma gak semuanya pake uang dari kamu.aku pakenya kalau beli pempes dan biaya rumah sakit Mia.selebihnya kadang pake uang aku karena sudah terbiasa pake uang sendiri.bukan karena gak mau pake yang kamu kasih." jelas Ayana dengan cepat.
"Lain kali aku gak mau denger kamu begitu lagi,Yang.aku kerja buat kalian kok,jadi uangnya ya di pake dong,jangan di simpan aja." sahut Gio sedikit sensi kali ini.
"Iya maaf dong.kamu marah ya?." tanya Ayana.
Gio mengeleng namun wajahnya berubah jadi dingin." Mana ada marah."jawabnya datar.
"Mana ada gak marah tapi wajahnya begitu.kalau marah bilang aja sih" balas Ayana dengan ketus.
"Kok jadi galakan dia sih,kenapa jadi dia yang marah." batin Gio." nggak,aku gak marah kok cuma tadi agak syok aja denger kamu gak pake uang yang aku kasih." jelas Gio dengan lembut agar istrinya tidak marah.
"Halah udahlah.aku males jadinya." sahut Ayana lalu berdiri dan berjalan ke tempat sampah untuk membuang cangkang minuman.
"Yang,udah dong jangan ngambek.aku gak marah sama sekali kok." Gio berjalan di belakang Ayana sembari membujuk perempuan cantik itu.
"Ayo kita ke sana,Gi,lihat deh baju bayi lucu banget." seru Ayana mengajak Gio memasuki toko baju anak-anak.mau tidak mau Gio menurut saja dari pada istrinya ngambek." Bagusan mana?" tanya Ayana saat memperlihatkan dua baju bayi berwarna merah muda dengan pita cantik di pinggangnya.
"Dua-duanya bagus.ya udah beli aja keduanya." jawab Gio dengan hati dan mata meleleh melihat baju kecil yang begitu cantik itu.harganya juga cantik pemirsah.
"Oke.makasih suami aku." seru Ayana dengan girang hampir saja dirinya melompat karena senang.
Gio memandangi Ayana yang sedang dengan antusias memilih milah barang apa saja yang ia inginkan.Gio membiarkannya kali ini,namun sudah mengingatkannya barusan agar istrinya bisa mengontrol diri untuk tidak membeli barang yang tidak begitu penting menurutnya.Ayana tadi sudah berjanji katanya lain kali tidak akan membeli yang tidak penting. namun kali ini ia sangat ingin sekali bahkan tadi sampai memohon dengan puppy eyesnya membuat Gio luluh dan tidak sanggup menolak.anggap saja kali ini dia sedang mengidam pikir Gio.
Tapi walau pun begitu Gio memang harus tegas kepada Ayana.tidak peduli siapa itu Ayana dan berasal dari keluarga mana pun dirinya tetap harus tegas sebagai seorang suami.bukannya Gio tidak ingin di anggap suami lemah yang manut-manut saja terhadap istri.tapi dirinya sebagai kepala rumah tangga memang harus tegas dan bisa menjadi contoh yang baik untuk istri dan anak-anaknya kelak.Gio maklumi kalau Ayana memang sudah terbiasa hidup mewah dan bergelimang harta.ingin apa saja dirinya bisa,tinggal menjentikan jari saja semuanya selesai.merubah Ayana dan menasehatinya memang memerlukan waktu yang tidak sedikit dan tentu saja bukan hal yang gampang.Gio harus ektrak sabar dan konsisten membimbing istrinya agar sedikit bisa merubah gaya hidup dan kebiasaan hendonnya.
Merubah sikap dan karakter seseorang memang sulit,dan mungkin saja mustahil berhasil.tapi jika di lakukan dengan penuh kesabaran setidaknya bisa sedikit mengurangi.memang tidak akan seratus persen berubah.tapi bisa sedikit menurunkan kebiasaannya.Gio dan Ayana memang seperti langit dan seonggok tanah.mereka sangat berbeda dari segala sisi termasuk dalam segi kebiasaan.Ayana yang memang boros dan terbiasa membeli dan menyetok kebutuhan hidup apa saja yang menurutnya harus di belinya.padahal mah tidak penting-penting amat pikir Gio.
Sedangkan Gio,dirinya tidak akan membeli barang-barang yang tidak penting.Gio terbiasa hidup pas-pasan dan kekurangan. dirinya akan membeli jika memang sudah benar-benar habis,seperti pasta gigi misalnya.jika cangkangnya masih bisa di keruk dan di urut sampai setipis harapan orangtuanya,Gio tidak akan membeli yang baru.
__ADS_1
...πππππ...
Gio menemani istrinya kali ini mencari pakaian untuk Ayana,mereka berkeliling ke beberapa toko pakaian dan aksesoris.dan sudah empat toko baju yang mereka masuki tapi belum ada yang menarik perhatian Ayana.katanya semuanya jelek dan tidak cocok untuk dirinya.
"Padahal ini bagus-bagus dan cocok di dia semua.apa rata-rata memang perempuan seribet ini ya." gumam Gio tapi hanya di hatinya saja tidak mungkin ia sebutkan.
"Ka,saya mau warna hitamnya dong ada gak?." tanya Ayana menunjuk salah satu baju tanpa lengan dengan harganya yang fantastis.harga satu baju saja cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga Gio sebulan.
Kemudian salah satu pelayan memberikan warna yang Ayana minta tadi." Gi,temenin dong mau nyobain ini." pinta Ayana kepada Gio yang langsung di angguki lelaki itu." Oh iya,Ka.saya minta yang untuk cowoknya juga dong dengan warna yang sama ya biar couple."
"Oke ka nanti saya antarkan kesana ya." jawab si pelayan itu.kemudian Ayana dan Gio memasuki ruang ganti dengan Gio yang menunggu di depan pintu.
"Gi,coba lihat sini." panggil Ayana dari dalam dan Gio menurut langsung melihat istrinya yang sedang mematut diri di cermin." Bagus gak?."
"Bagus,cocok di kamu." sahut Gio dengan jujur memang Ayana itu badannya bagus jadi baju seperti apa saja cocok dan bagus asal jangan yang ukurannya besar pasti akan terlihat seperti orang-orangan sawah.
"Beneran?kamu bohong ya?." Ayana tidak percaya akan jawaban Gio tadi." Kalau jelek bilang aja sih gak perlu bilang bagus segala."
Gio menarik napas sepenuh dada." Cakep kok sayang.kamu kan cantik dan badan kamu itu bagus pake apa aja cocok.aku gak bohong ya emang kamu cantik pake itu." ujar Gio membuat Ayana mengulum senyum.
"Bener ya?ya udah berarti aku ambil ini dan kamu juga harus pake biar couple." Ayana kembali memerhatikan dirinya di cermin lalu merogoh ponsel dan berselfie ria bahkan Gio yang enggan pun di paksanya agar ikut selfie.usai membeli beberapa pakaian untuk Ayana dan Gio.keduanya memasuki restoran dengan gaya westeran karena Ayana tiba-tiba ingin memakan makanan barat katanya.keduanya duduk dengan santai sembari menunggu pesanan tiba.
...Hasil foto Aa Gio...
Saat Ayana akan berdiri tangannya di tarik oleh Leonardo membuat perempuan itu terkejut.ternyata Leo melihat kedatangan Ayana dengan wajah tegang dan tatapan matanya yang sinis.
"Aya,ada yang mau aku omongin." Ucap Leo sembari menarik tangan Ayana.Gio yang terkejut pun langsung berdiri dan menarik pelan Ayana ke belakang tubuhnya dengan tatapan sama sinisnya kepada Leo.
"Ini orang sebenarnya mahluk jenis apa sih?di mana-mana ada dan nongol terus." geram Gio namun hanya di dalam hatinya saja.
"Ay,aku peringati jangan terlalu lama kamu di tipu daya sama dia.bocah songong ini cuma manfaatin kamu dan keluarga kamu aja.lihat coba,gayanya aja songong begini karena dia udah merasa bisa segalanya sekarang.merasa di atas angin dia ini berkat harta dan kekayaan kamu.dan kamu bodoh banget sih mau-maunya sama bocah songong kelas teri ini." hina Leo dengan pandangan sinis.
Dada Ayana naik turun di buatnya betapa bencinya ia mendengar hinaan itu." Ayo pergi.gak usah di ladeni." ajak Gio namun Ayana tetap diam di tempatnya dengan tatapan sinis yang mengarah pada Leonardo.
"Jaga ucapan kamu,Leon." geram Ayana dingin.
"Sudah aku bilang,Aya.jauhi bocah songong dan kekanakan ini.asal kamu tahu aja ya.kemarin dia mukul aku di kantor Papah kamu.dengan gayanya yang sok-sokan dan merasa bahwa dia ini bisa berkuasa.hati-hati aja kamu.kalau gak hartamu akan di kuras habis sama nih parasit." hinaan kembali terlontar dari mulut Leonardo.
Ayana memicing heran mendengar ucapan pria yang ada di depannya ini.dan segera menoleh kepada Gio.Gio mencoba menekan amarah yang muncul di dalam dirinya.berusaha ia tahan dan tidak ingin meladeni orang kurang waras itu.Gio ingat janjinya kepada Frans bahwa dia tidak akan berkelahi lagi dengan pria sialan ini.
"Perlu kamu ketahui,Aya.ada sesuatu yang ia sembunyikan dari kamu.dia berlagak baik dan kalem di depan kamu,kamu sendiri tidak tahu tingkah bocah tengil ini di belakang kamu seperti apa." Leo masih mengoceh dengan sengit.
"Udah lah,Leon.aku sangat tahu gimana Gio.kamu gak perlu memfitnah dia segala dan tolong jangan urusi rumah tangga kami.urus aja rumah tangga kamu sendiri dan istri kamu yang bermuka banyak itu." hardik Ayana dengan wajah emosi.
"Suatu saat kamu akan menyesal gak dengarin omongan aku,Aya.bocah ini kelakuannya melebihi batas di belakang kamu.jangan kaget kalau tiba-tiba ada perempuan yang sedang hamil terus ngaku hamil sama dia.dengan mantan pacarnya aja dia sudah terbiasa s*x bebas.apa lagi dengan perempuan lain di luar sana." sepertinya Leo ini memang tidak akan pernah puas menghina Gio.dan mencoba mencuci otak Ayana.
Kali ini Gio merasa terusik oleh ucapan Leo yang memfitnahnya habis-habisan.dirinya yakin Ayana tidak akan termakan omongannya.tapi bagaimana jika ada orang yang mendengarkan omongan lelaki itu.lalu melaporkannya kepada Frans dan di lebih-lebihkan.lalu Gio di usir dan di pisahkan dengan anak dan istrinya.oh tuhan.bayangan yang melintas di kepala Gio begitu berlebihan sekali rasanya.
"Dengar bang.sampai saat ini saya gak perlu jajan di luar sana.Ayana udah memberikan pelayanan maksimal.untuk apa saya memakai barang lain yang bisa aja bekas orang.mending yang halal dari pada yang haram.mau di mana dan kapan pun kami gak perlu merasa kawatir." ucapan Gio barusan semakin membuat Leo emosi sepertinya.terlihat dari rahangnya yang mengetat.
"Anak kecil juga gak bakal percaya sama omongan lo.dari gelagat lo aja udah meyakinkan kalau lo itu demen celap celup,heleh,bocah ingusan membela diri" sengit Leonardo dengan senyum sinis.
Gemuruh dan emosi dalam dada Ayana mencoba di tahannya sekuat tenaga. karena tidak ingin mendahului Gio yang sedang mencoba melindungi istrinya dengan menarik Ayana agar lebih mendekat kepadanya.
"Walau pun saya bocah.tapi saya yang jadi pemenang karena Ayana udah saya nikahi. sedangkan abang bisa apa?cuma bisa emoisan dan hina orang seperti ini."
__ADS_1
Ayana menoleh kepada Gio,pemanang apanya memangnya Ayana ini barang atau apa.apa mereka ini saingan pikir Ayana apa mereka juga sering bertemu di belakang Ayana.
"Gue gak percaya kalau lo bisa membahagiakan Ayana.lo ini terlalu belia untuk menjadi seorang suami dari perempuan keras kepala seperti Ayana ini."
Idih apaan sih si songong itu.
Bola mata Ayana hampir saja keluar mendengar ucapan Leo.jika saja Ayana tidak bersetatus sebagai istrinya Gio mungkin Leonardo sudah di hajarnya hingga tulangnya remuk semua.Ayana menggeram pelan yang hanya bisa di dengar oleh Gio saja.
"Bahagia itu gak perlu di perlihatkan.tapi di rasakan,kalau aja saya gak bisa membahagiakan Ayana,dia gak mungkin menghargai saya sebegai seorang suami. umur seseorang tidak bisa di jadikan syarat sandaran.tetapi kedewasaan berpikir." suara Gio mulai meninggi.
"Halah.kalian cuma pamer kemesraan sama gue kan?kalau gak ngapain kesini terus berpura-pura terlihat mesra di depan gue.supaya gue percaya kalau kalian saling mencintai.aslinya kalian gak harmonis dan sering bertengkar akibat sikap lo yang masih bocah banget.dan Ayana itu keras kepalanya melebihi batu."
Mulai lagi sikap Leo yang aslinya muncul. Ayana memutar bola matanya dengan malas.Ayana sudah tidak tahan lagi mendengar hinaan itu dari mulut Leo.
"Leon.bisa gak jangan ganggu kami?kami kesini mau belanja dan ini tempat umum tentu saja banyak orang yang datang. emangnya ini punya mbahmu apa?kamu itu yang kaya anak kecil kekanakan banget kami ini bahagia.jadi kamu gak perlu rempong mengurusi hidup kami.mending urus saja otak kamu yang dangkal itu." ucap Ayana dengan ketus.
Gio memberikan isyarat agar Ayana diam. karena semakin di balas Leo akan semkin meradang.seperti itulah sikap buruk lelaki resek di depan mereka ini." Maaf ya bang. kami harus pergi anak kami udah pasti nungguin." Kata Gio sembari menarik tangan sang istri agar segera bisa pergi dari sana.
"Apa lo yakin kalau anak itu anak kandung Lo?ingat Ayana itu liar,dia udah biasa tidur dengan lelaki lain saat masih di luar negeri. bahkan dia pernah menawarkan tubuhnya sama gue.demi bisa menjadi satu-satunya wanita di hati gue." ucapan Leonardo menghentikan langkah keduanya.
Ayana hampir saja menerjang tubuh lelaki biadab itu.namun segera di tahan oleh Gio supaya Ayana tidak mempermalukan dirinya sendiri.dengan berbuat bar-bar di tempat umum seperti ini." Lepas,gue harus matiin itu orang." ucap Ayana dengan napas memburu.
"Sstt,ingat kamu lagi hamil jangan aneh-aneh.biarin dia mengoceh sesukanya biar dia senang.kita jangan ladeni.kalau di ladeni sama saja gak waras biar yang waras yang ngalah.dan jangan lupa ucap amit-amit terus. " ujar Gio membuat Ayana terdiam.
Leo mendekat pada mereka dengan tawa remeh." Kenapa,Aya.kamu kesal?gak usah kesal memang kenyataannya kan kamu begitu." hinanya membuat tubuh Ayana gemetar.
"Yang tahu luar dalam tubuh Ayana hanya saya bang.dia masih bersegel ketika saya nikahi.jadi saya sama sekali gak peduli dengan ucapan abang tentang istri saya." ujar Gio lalu menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana.meninggalkan Leonardo dengan sumpah serapahnya.
...ππππππ...
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.Gio menjalankan mobilnya dengan pelan karena melihat sang istri yang masih terisak.melihat itu,Gio menepikan mobilnya ke jalanan yang sepi.kebetulan di sana terlihat ada taman dan danau Lagoon namanya namun tempat itu sangat sepi tanpa ada satu orang pun.Gio menarik istrinya dengan pelan ke luar mobil.Ayana bak di hipnotis menurut saja saat Gio membawanya ke sebuah taman yang di hadapkan danau biru.airnya begitu tenang dan indah.ada bangku berjejer di sana yang terbuat dari beton juga ada beberapa ayunan dan perosotan anak-anak sepertinya sengaja di sediakan untuk anak-anak yang bermain di sana.
"Kalau mau nangis ayo keluarkan semuanya di sini sampai kamu puas jangan nangis di depan Papah dan Mamah nanti mereka kawatir ada apa-apa dengan kamu." ujar Gio dengan pelan dirinya duduk di samping Ayana menghadap ke depan memandangi danau yang tenang itu.
Ayana tak menjawab dirinya malah terisak semakin kencang.rasa sakit dan terhina yang sejak tadi di tahannya pun akhirnya meledak juga saat ini.Ayana menangis meraung mengeluarkan segala rasa yang bersemayam di dadanya selama ini.kalimat dan hinaan Leonardo di masa lalu kembali berseliweran di kepalanya.Ayana masih ingat betul Leo menghinanya dengan kata-kata tajam yang langsung melukai dan menghancurkan mentalnya hingga sulit di sembuhkan.
"Gue benci dia Gi,benci banget." raung Ayana dengan histeris.Gio tak menjawab hanya memeluknya dengan pelan membiarkan kausnya basah oleh air mata Ayana." Gue menyesal karena pernah mengenalnya,gue benci banget sama dia, benci"
"Aku tahu." Gio mengeratkan pelukannya. tangis itu begitu kencang dan sulit untuk di hentikan.
"Kamu mau jadi j*lang ya?untuk apa kamu nyerahin tubuh kamu yang tepos ini ke aku Ay?aku sama sekali gak napsu.tapi malah jijik dan ilfeel banget tahu gak?mending kamu serahin aja tuh ke produser film biar kamu jadi artis dan model dalam sekejap."
"Bisa gak kamu gak ganggu dan neror Imelda terus?kalau kamu gak terima setidaknya sadar diri itu penting,Aya.kamu siapa sih sok-sokan bilang ke Imelda kalau kamu yang paling dekat dan tahu segalanya tentang aku.kamu itu hanya teman yang kebetulan aku anggap adik karena kamu baik.tapi sekarang malah kaya anjing."
"Ay,perusahaan aku kolap.kamu bisa pinjami dana dulu gak sementara aja.nanti kalau udah normal aku balikin.kalau kamu merasa lagi galau banget kita chekin aja ke Amaris mau gak?kamu mau tidur sama aku.ayo sekarang aja mungpung aku mau,"
"Aya.makasih ya transferannya.nanti aku balikin secepatnya.sebenarnya aku lagi butuh kamu banget.pengen manja-manjaan sama kamu di hotel enak kali mungpung Imelda lagi ke luar kota."
"Apa-apaan kamu nampar Imelda di tempat umum seperti itu?kamu ngerasa preman hah?udah gila kamu ya?di mana otak kamu Ayana.pantes aja semua lelaki gak ada yang mau sama kamu.emang bagusnya jadi perawan tua sih."
Kalimat-kalimat itu yang terakhir Ayana ingat.masih ada ribuan kata yang berseliweran di benaknya.namun dirinya berjanji.hari ini akan mengeluarkan dan membuang ribuan kata-kata racun yang tersimpan rapi dalam hatinya selama ini. Ayana memang sudah membuang dan mengubur dalam-dalam kenangan pahit bersama Leo.namun kata-kata dan ucapan tajam pria itu masih di simpannya karena memaafkan bisa.tapi melupakan itu sangat sulit.
"Tolong bawa gue dari rasa sakit ini,Gi. tolong selamatkan gue dari bayang-bayang menyakitkan yang terus menjerat gue selama ini.gue benci di sini, gue gak mau ketemu dengan dia lagi,Gi." isak Ayana dengan pelan setelah hampir satu jam lamanya ia menangis.
"Aku janji.jangan kawatir aku di sini dan akan selalu bersamamu.Sayang" sahut Gio lalu membawa Ayana ke dalam dekapannya yang selalu hangat dan menenangkan seluruh perasaan Ayana.
__ADS_1
Ganteng bangetππ