
Karena permintaan Ayana yang aneh itu Gio sampai pergi ke tempat temannya yang sering kali menjual hewan atau binatang.namun sayang ia tak mendapatkannya hingga hampir ke seluruh tempat yang ada di daerah Gio singgahi.
"Adanya Iguana jumbo,Gi,noh kalau mau ambil aja.tapi gue gak tahu dagingnya enak apa enggak." ujar Fandy teman sekolah Gio saat SMP dulu.
"Bukannya itu sejenis kadal,Fan?takutnya beracun doang.nanti istri dan anak gue keracunan gimana dong?." tanya Gio sembari memerhatikan beberapa Iguana yang berada di sebuah kandang yang berisi dengan banyak sayuran.Gio bergidik jijik kala Iguana itu memeletkan lidahnya keluar.dirinya tidak suka binatang yang melata Gio hanya suka burung dan kucing itu saja selain itu geli semua apa lagi tokek dan cicak iew.
"Sama aja.mereka kan melet juga sejenis lah sama buaya,ular,komodo,dan biawak." sahut Fandy santai." Lagian gue heran ama istri lo.kok bisa ngidamnya sate biawak?gak sekalian sate kudanil." ucap Fandy sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya baru kali ini mendengar hal aneh seperti itu.
"Dia kepengen karena ngelihat video orang luar yang suka segala macam di badog itu. coba lo lihat deh Fan,masa ulet,ular,kodok. Tokek,cicak,sampe kecoak dan kala jengking pun mereka makan loh.yang gue ngeri banget mah betmen di sop anying segala hewan dan binatang di gares.gue heran kok mereka gak mati ya makan itu." ujar Gio.
"Lidahnya udah mati rasa kali" sahut Fandy." Dan gue heran kok bisa istri lo malah kepengen?apa gak jijik,anjir."
"Mungkin nanti anak Gio pas lahir akan memiliki kekuatan sakti kali.makanya emaknya ngidamnya yang aneh-aneh begitu." timpal Adnan yang sedang merokok dengan santai di samping Gio.
"Sakti apaan?yang ada malah melet melet kek biawak." balas Fandy yang langsung mendapat lemparan seikat kangkung yang sudah layu dari tangan Gio.
"Amit amit atuh Fan.dih lo jangan doain anak gue gitu dong." gerutunya membuat kedua teman Gio terbahak.
"Ting bating.mudah-mudahan pas keluar jagoan ya kek Papah SuGiono yang kekar dan ugh ini." ujar Adnan.
"Amin.." sahut Gio dan Fandy sambil tertawa.
...☘☘☘☘☘☘...
"Di sini gak ada yang jual itu Mas.kalau di manado banyak kayanya.di kita mah rata rata kan orang muslim mana mungkin memakan hewan itu kan haram.coba beli sate kelinci aja rasanya kan beda sama ayam dan daging, nah siapa tahu istrinya percaya,kalau itu sate biawak." ujar kumpulan ibu ibu dan bapak bapak yang menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan.mereka awalnya terkekeh saat mendengar pertanyaan Gio yang menurut mereka langka itu.masa iya menanyakan di mana yang jual sate biawak,kan itu cukup mengherankan pemirsah.
"Itu kan hewan lucu,masa di makan." gumam Gio membayangkan kelinci yang imut nan menggemaskan itu di sate. manusia memang biadab dan tidak pernah merasa puas hewan selucu itu di makan padahal sudah tuhan sediakan banyak makanan di dunia ini.
Gio berkeliling lagi mencari ke tempat tempat kaki lima.namun hingga tengah malam dirinya tidak juga mendapatkan apa yang di carinya.Gio mampir ke sebuah warung tenda karena hujan tiba tiba turun dengan lebat.dirinya meneduh di sana karena sore ini Gio membawa motor menghindari macet." Mangga mas,mau pesen apa?." ujar pemilik warung tersebut.
Gio terbelalak saat melihat pemilik warung itu berpakain cukup minim.memakai kaus polos berwarna putih yang super ketat hingga mencetak jelas lekukan tubuhnya yang ughhh sekali.tidak perlu di jelaskan Gio tidak berani.lihat lah gunung kembar di depannya sangat besar hingga membentuk dua bulatan seperti bola sepak.bemper belakangnya seperti bongkahan..sudah lah ingat istri di rumah Gi.Gio memalingkan wajahnya ke samping kemudian baru memesan dengan pandangan asal.karena tidak ingin memandang gundukan yang tersaji di depannya itu.
"Kopi jahe aja Teh,sama indomi soto udah itu aja." ucap Gio sembari memeluk dirinya karena dingin.
"Oh oke mas.masnya di dalam aja ya,di sini dingin soalnya,kalau di dalam hangat mas dan nyaman pastinya." ucap si Mbak dengan gerakan dan suara sensual.
"Gak usah Teh,saya di sini aja saya suka dingin." sahut Gio cepat.
"Enakan yang hangat mas.biar saya sekalian hangatin." ujarnya dengan sebelah mata mengedip.
"Buset cabe keriting." dumel Gio di dalam hati.
Setelah lima belas menit lamanya pemilik warung itu mendatangi Gio dengan satu gelas kopi jahe dan semangkuk mie instan di tangannya.wanita yang Gio taksir seumuran dengan istrinya itu menyajikan makanan di depan Gio dengan gerakan yang aneh menurut Gio.
"Saya temani ya,Mas." ujarnya dengan suara menggoda.
"Nggak usah Teh.saya sendiri aja gak nyaman atuh masa orang makan di lihatin." sahut Gio bodo amat jika perempuan itu marah pun.
"Kasihan masnya sendirian.mana ujan lagi. mending saya temani aja biar gak kesepian." balasnya sembari mendekati Gio dan memepet hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
"Atuh teh jangan begini dong.nanti di lihat orang terus salah paham." Gio menyingkir dengan bergeser ke pojokan.tapi wanita gila itu malah mendekat dan terus memepet hingga sedikit lagi bisa mencium pipi Gio." Dih apaan sih." omel Gio sembari berdiri namun di tahan oleh wanita itu.
"Temani saya sebentar aja yuk.kita maen cepet aja,saya jamin kamu bakal ketagihan dengan punya saya." ucap wanita itu langsung dirinya menatap tubuh Gio dengan lapar.
"Enggak,enggak.gila kamu,awas saya mau pulang." Gio berusaha berdiri namun kakinya tetap di tahan oleh wanita itu.
"Sini saya isep dulu punya kamu.saya jamin lutut kamu bakal lemes kalau udah nyobain isepan saya." godanya dengan bibir di buat semenggoda mungkin.
"Lepasin ih.saya mau pulang." bentak Gio sembari mendorong kencang perempuan itu hingga terjembab.dirinya dengan cepat melangkah menuju motornya kemudian menyalakannya dan menerobos derasnya hujan saat itu.Gio menjalankan motornya dengan pelan karena jalanan sangat licin hujan begitu deras mengguyur kota jakarta sampai Gio beberapa kali kehilangan penglihatannya.dalam hatinya terus kepikiran bagaimana jika nanti Ayana mengamuk karena Gio tidak mendapatkan permintaannya.
Karena pikiran itu Gio akhirnya kehilangan fokus dirinya tidak melihat ada sebuah mobil sedan yang berjalan dari arah depan dengan kecepatan tinggi.Gio membanting stir kendaraannya ke samping menghindari tabrakan.namun naas sebuah truk melintas dan terjadilah adu banteng.kecelakaan hebat itu tak terelakan lagi bahkan saking kencang dan dahsyatnya tabrakan itu tubuh Gio hingga terlempar cukup jauh bahkan masuk ke kolong truk bermuatan ayam.
"Aya..." lirih Gio kemudian sayup sayup ia melihat beberapa orang yang mendekatinya.bibirnya bergerak pelan ingin meminta tolong tapi seluruh tubuhnya tak bisa di gerakan.lalu pandangan Gio mengabur dan seketika semuanya menghitam dan gelap.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
"Akh." Ayana tersentak dan memegangi dadanya yang terasa sakit tiba-tiba.dan langsung kepikiran suaminya yang belum juga sampai hingga larut malam begini.Gio juga tidak menghubungi Ayana sejak siang tadi.pesan yang Ayana kirim pun tidak di bacanya." Gi,kamu di mana sih kok belum pulang?" Ayana mencoba menghubungi Gio namun ponselnya tidak aktif membuat Ayana tidak tenang.perasaan gelisah dan takut seketika menyelimuti dirinya.
Dengan langkah cepat Ayana menuruni tangga mencari ayah dan ibunya perasaannya tidak karuan saat ini,seperti ada yang mengganjal di hatinya namun dirinya tidak tahu apa itu." Pah,Mah" Ayana mengetuk kamar orang tuanya dengan gerakan kasar.
__ADS_1
Monica membuka pintu dengan wajah heran." Kenapa,Dek?" tanyanya.
"Mah,Gio kira-kira kemana ya?kok belum pulang udah jam sepuluh loh ini.hapenya juga mati,Mah" ujar Ayana dengan perasaan tak menentu.
"Masih nyari sate itu kali.lagian kamu sih ada ada aja,mengidam itu yang wajar-wajar aja dong,Ay.masa segala sate biawak pengenlagian nyari dimana hewan itu.kamu gak kasihan sama suami sendiri?mana hujan begini kamu suruh nyari sesuatu yang langka." omelan Monica bak kereta api tanpa rem.
"Mamah kok gitu sih?bukannya tenangin aku malah ngomel ngomel." sahut Ayana dengan suara serak.
"Gimana Mamah gak ngomel?kamu itu nyusahin suami tahu gak?kasihan Gio udah cape kerja dan kuliah,pulang kerumah harus ngurusin kamu yang tiba-tiba kaya orang sakit aja.belum lagi Mia yang nempel banget ke dia mau apa-apa juga Gio kesusahan.dan tiba-tiba kamu minta yang aneh-aneh yang susah di carinya." Monica menatap Ayana dengan pandangan kesal.
"Kamu dewasa dikit dong.kalau kemauan yang gak wajar harusnya kamu bisa tahan dong.kasihan suami udah pontang panting ngebahagiain kamu,tapi kamunya gak berusaha ngebahagiain dia.malah nyusahin." omel ibu Ayana tanpa henti dirinya sudah sejak beberapa hari ini menahan diri untuk tidak mengomeli Ayana bagaimana tidak ia sudah muak dengan sikap putrinya yang menurutnya ini sudah sangatlah berlebihan.
"Mamah gak paham posisi aku kaya gimana saat ini." sahut Ayana dengan suara gemetar karena tangis mendesak di kerongkongannya.
"Semua orang pengen paham posisi kamu. tapi kamu gak mau berusaha buat pahami balik posisi orang lain." ujar Monica dengan ketus.
"Mamah bisa gak sih,gak nyalahin Aku terus?" sentak Ayana dengan air mata yang sudah meluncur bebas.
"Sudah-sudah,kenapa jadi ribut begini." lerai Frans dari dalam kamar." Mamah juga udah dong jangan malah ngomelin Aya." Frans menatap istrinya dengan wajah peringatan.Monica tak menjawab hanya memalingkan wahah kesal karena suaminya sering kali membela Ayana yang sudah jelas-jelas salah itu.
"Pah,Gio gimana dong gak bisa di hubungi ini." Ayana mengguncang lengan Frans dengan air matanya yang terus meluncur.
"Sudah tenang dulu tunggu aja.Gio mungkin masih di jalan dek." Frans menenangkan sembari mengusap kepala Ayana.padahal ia sendiri mulai kawatir.
Saat Ayana akan bicara ponsel di tangannya bergetar.membuatnya dengan cepat melihat layar ponsel berharap Gio yang menghubunginya.
"Halo"
"Halo,apa benar ini ibu Ayana?kami dari rumah sakit Silo hospital Bu,ingin mengabarkan bahwa saudara Gio mengalami kecelakaan di jalan ubud kencana.sekarang sudah di rumah sakit dan kami menunggu persetujuan ibu untuk melakukan oprasi.karena keadaan pasien cukup serius." ujar si penelepon.Ayana terdiam dengan lutut melemas,tungkai kakinya saat ini bagaikan tak bertulang.jika saja tidak segera di raih oleh Frans mungkin Ayana sudah terjatuh ke lantai Frans dan Monica begitu panik saat mendengar suara telepon tadi.
"Gio,Pah,Mah." hanya itu yang mampu Ayana ucapkan.dirinya bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi,mulutnya seakan terkunci hingga ia tak mampu untuk berkata.
"Mah,suruh Ajun siapkan mobil." pinta Frans yang langsung di angguki Monica tak lama perempuan itu kembali lalu ke kamar mengambil tasnya kemudian mengajak Frans dan Ayana dengan cepat menuju rumah sakit.
"Aya tenang.kamu harus tenang dong gak boleh nangis terus kaya gitu.Gio gapapa dia kuat gak bakal kenapa-napa.doain jangan malah di tangisin." Monica memang masih ketus kepada putrinya sejak masih di rumah.
"Gio,Mamah.gimana kalau Gio kenapa-napa.Mah." isak Ayana dengan pilu bahkan ia mengabaikan perutnya yang tiba-tiba mengeras.
Mereka sampai di rumah sakit ketiganya langsung menuju di mana Gio berada.para nakes mengatakan bahwa Gio saat ini sedang melakukan perawatan,dan langsung meminta persetujuan untuk oprasi kepala,karena tempurung kepala Gio mengalami keretakan akibat benturan yang cukup keras.dan sepertinya ada cidera di otaknya.
"Pak,Bu.kami akan melakukan oprasi saat ini juga untuk menyelamatkan pasien. karena saat ini keadaanya cukup serius hingga kami harus mengambil tindakan dengan cepat.doakan saja supaya semuanya berjalan dengan lancar." ucap dokter setelah meminta persetujuan keluarga untuk oprasi.
"Lakukan yang terbaik dok." ujar Frans dengan wajah tegang.
"Semampu kami Pak.saya permisi dulu." dokter itu kemudian menuju ruang IGD tempat Gio berada saat ini.
Ayana meronta hendak memeluk Gio saat beberapa perawat mendorong Gio menuju ruang oprasi.pria tampan itu saat ini terbaring lemah dan pucat dengan mata terpejam.Ayana terus saja meraung dan meminta di lepaskan namun Frans dan Monica menahannya begitu kuat.
"Gio,Pah,Gio sakit karena aku." isak Ayana dengan suranya yang sudah melemah. sepertinya Ayana sudah kelelahan karena menangis terlalu lama.
Sudah empat jam lamanya namun oprasi belum juga selesai.waktu sudah pukul dua tiga puluh pagi.Ayana sudah tertidur di pangkuan Monica,Frans masih harap harap cemas menunggu kabar dari dokter lelaki tua itu terlihat begitu tegang saat ini.
"Pah,gimana kalau_" Monica tak meneruskan ucapannya.hanya air mata yang terus meluncur dengan deras.
"Gio baik-baik aja Mah.dia akan bangun dan selamat." ujar Frans menenangkan namun tidak dengan hatinya saat ini bagaimana dia bisa tenang dengan keadaan sekarang.Frans begitu ketakutan kawatir bagaimana jika Gio tidak selamat.
"Mamah cuma takut.takut Gio pergi lalu bagaimana dengan istri dan anaknya?putri kita pasti..hikss..hikss..Gio maafin Mamah yang gak bisa cegah kemauan Ayana maafin anak Mamah yang bebal ini." Monica menangis tergugu.
"Udah Mah.nanti Aya bangun." Frans melihat pergerakan Ayana yang sepertinya terganggu dengan suara Monica.
...☘☘☘☘☘...
Gelapnya langit malam kini sudah terganti dengan sinar matahari yang dengan malu-malu menunjukan dirinya.para dokter terlihat baru keluar dari ruangan oprasi dengan wajah lesu.Frans langsung saja berdiri dengan tidak sabar.ia menghampiri dokter ingin segera tahu keadaan anaknya itu." Bagaimana oprasinya dokter?." tanya Frans dengan wajah tegang.
Dokter itu tersenyum walau sangat tipis dan ragu." Lancar.pasien sudah melewati masa kritis.namun tetap berdoa ya Pak supaya pasien segera sadar dan insya allah semua baik-baik saja." ucap dokter bernama Ilham itu.
"Sukur lah.apa dia akan sembuh seperti semula dok?maaf saya begitu kawatir saat ini dengan keadaannya."
"Berdoa aja ya Pak.semoga saja bisa seperti sedia kala." sahut dokter ilham membuat Frans mengerutkan kening.
__ADS_1
"Dokter jangan bercanda,saya serius ini apa ada hal serius yang terjadi kepada anak saya?" tanya Frans dengan tegas.
Dokter Ilham menghela napas.dia sudah belasan tahun di dunia kedokteran tentu puluhan kasus seperti ini dokter itu sudah pernah mengalaminya.dan dia selalu tidak tega untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya lepada keluarga pasiennya.
"Sebenarnya kecil kemungkinan pasien akan bisa sadar kembali dari koma Pak. benturan di kepalanya cukup keras hingga tempurung bagian belakangnya retak.saya berat mengatakan ini namun bagaimana pun bapak berhak mengetahuinya.saya tidak bisa menjamin seratus persen bahwa pasien akan selamat.kita hanya mununggu keajaiban tuhan saja,saya dan tim sudah melakukan yang terbaik,namun apa boleh buat jika allah berkehendak lain.semoga putra bapak bisa selamat dan segera bangun ya Pak." dokter Ilham menepuk bahu Frans dengan pelan.ikut merasakan perasaan pria tua itu. Frans hanya diam dengan wajah kaku dirinya melirik Monica yang berdiri tak jauh dari dirinya.istrinya terlihat begitu syok mendengar penjelasan dokter tadi.
"Pah." Monica mendekat dengan suara bergetar.
"Jangan beri tahu apa pun sama Aya.dia sedang hamil takutnya terganggu dengan ini." ucap Frans lalu mengajak Monica menghampiri Ayana yang masih tertidur.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Mata hari sudah menyongsong dengan sempurna,Ayana terbangun dari tidur panjangnya.Aya melirik pada kedua orang tuanya yang sedang duduk dengan wajah kaku.mereka sama sama terdiam membuat Ayana heran.dengan gerakan pelan Ayana duduk dari sofa panjang.
"Mah,Pah.gimana keadaan Gio sekarang?" tanyanya setelah kembali sadar atas apa yang terjadi dengan Gio.
"Gio baik-baik aja,oprasinya juga lancar kita tinggal nunggu dia sadar aja." ujar Monica dengan tenang.
"Kamu jangan banyak pikiran,Dek.doakan aja supaya Gio cepat sadar." timpal Frans lalu keluar baru teringat harus menghubungi orang tua Gio.
"Tapi kalau Gio kenapa-napa gimana Mah?" tanya Ayana dengan wajah panik.
"Shuttt,gak boleh berpikiran aneh-aneh kita tunggu saja kabar dokter." ucap Monica lalu mengajak Ayana sarapan nasi kuning yang sudah sejak tadi di belinya.
Awalnya Ayana menolak namun dengan bujukan Frans dan Monica akhirnya perempuan hamil itu mau makan.baru saja selesai makan dan mendatangani beberapa formulir yang di berikan dokter untuk perawatan Gio selanjutnya.karena akan di pindahkan ke ruang perawatan agar keluarga bisa menjenguk dan melihat kondisinya.Ayana mendengar suara ibu mertuanya yang sedang menangis." Di mana Gio?Bu di mana anak saya?." tanya Mira pada Monica.
"Gio sedang di rawat Bu.sabar ya kita tunggu di sini dan berdoa untuk keselamatan Gio." jawab Monica dengan lembut.
"Gio,ya ampun baru kemarin dia telpon saya katanya mau menginap dengan si bumil.tiba-tiba saya malah dapat kabar seperti ini." isak Mira.
"Udah bu." Indri mengusap bahu ibunya yang bergetar." Gio nanti sedih kalau ibu nangis terus."
"Ibu takut Gio kenapa-napa,Ndri." sahut Mira.
"Gio baik-baik aja Bu." balas Monica.
Kemudian Ayana menghampiri ibu mertuanya lalu mereka berpelukan dan menangis.begitu juga Monica dan Indri yang tak kuasa menahan air matanya tangis mereka terhenti saat dokter memberitahukan bahwa Gio sudah di pindah ke ruang perawatan.sudah boleh di jenguk namun tidak boleh banyak orang yang masuk ke dalam sana.
"Aku aja sama ibu." ujar Ayana,kemudian keduanya langsung masuk ke ruangan di mana Gio berada.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Ayana menutup mulutnya meredam tangis tak kuasa melihat Gio yang terbaring dengan beberapa selang yang terpasang di tubuhnya.matanya terpejam dan Gio begitu damai dalam tidurnya saat ini.Ayana tak percaya rasanya baru tadi sore ia merengek kepada Gio,namun saat ini keadaan dengan cepat semuanya berubah Ayana mendekati ranjang tempat Gio berbaring saat ini.ulu hati Ayana begitu nyeri melihat keadaan Gio yang cukup serius.kepalanya di bungkus dengan perban dan rambutnya botak separuh karena bekas oprasi.jemarinya yang kemarin sore Ayana mainkan kini penuh dengan plester di mana mana.jari telunjuknya itu di jepit dengan pluse oxy meter alat pengukur satursi oksigen dalam darah.
Wajah tampan Gio juga banyak di penuhi luka baret,tangan kekar itu kini terdapat beberapa luka serius di sana.kakinya juga sepertinya cukup mendapati beberapa luka yang tidak kecil sama sekali menandakan betapa parahnya kecelakaan yang di alami Gio tadi malam.bersukur pria itu selamat dan masih bisa di bawa ke rumah sakit.dan Ayana masih mendengar detak jantungnya seperti saat ini.
"Gio,kamu tidurnya lama banget.bangun yuk kita pulang.Jemia nyariin kita pasti soalnya aku belum pulang ke rumah.aku nunggu kamu bangun dulu baru kita pulang." ujar Ayana sembari menyentuh tangan Gio yang dingin.
"Satenya kamu gak dapat ya,Gi?malah dapatnya luka begini." Ayana tergugu dalam tangisnya.saat ini ia sendirian karena Mira sudah lama keluar.ibunya Gio itu tidak kuat melihat keadaan putranya yang cukup serius.
"Ayo bangun,Gi,saat ini aku gak pengen apa-apa.aku cuma pengen kamu bangun dan temani aku lagi bercerita.kisah kita baru aja di mulai.aku pengen melanjutkannya bersama hingga selesai kamu jangan curang ya,masa berhenti menemani aku untuk mendalami cerita kita." bibir Ayana sudah bergetar bahkan suaranya saja sudah serak.karena terlalu banyak menangis.
Kemudian suara suster memanggil Ayana karena jam kunjungan sudah habis.pasien yang sedang dalam masa koma tidak boleh terlalu lama di jenguk karena sudah ada peraturannya.Ayana keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai,ingin berteriak dan menyalahkan tapi pada siapa.Ayana hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.karenanya lah Gio seperti sekarang ini.jika saja Ayana tak memintanya untuk pergi sore itu.mungkin saat ini Gio sedang bermain bersama putrinya di atas kasur di kamar mereka.
"Seharusnya pasien sudah melewati masa ini,Pak.tapi sepertinya Gio masih ingin beristirahat dengan tidur panjang.yang entah kapan ia akan bangun saya belum bisa memastikan.tapi saya melihat cedera pada otaknya tidak terlalu serius.sehingga tiga atau empat minggu lagi kemungkinan baru dia akan bangun."
"Saat ini Gio mengalami Traumatic brain Injury cidera pada bagian otakanya semoga prediski saya benar ya,dia akan sadar dalam waktu cepat." jelas sang dokter kepada Frans yang dapat di dengar oleh Ayana.
"Setelah sadar,apa dia akan kembali seperti sebelumnya Dok.maksud saya dia akan normal-normal aja kan seperti sebelum kecelakaan ini?." tanya Frans memastikan.
"Sebagian pasien yang sadar dapat sembuh tanpa cacat,Pak.sebagian lagi mengalami kecacatan atau lumpuh,bisa juga gangguan ingatan,gangguan bicara dan gejala lain yang di sebabkan oleh penurunan pungsi otak.lamanya koma dan kecacatan dan apa yang timbul,sangat sulit di tentukan." jawab Dokter Ilham begitu serius.Frans mengusap wajahnya dengan kasar,ia melihat Ayana yang merosot ke lantai dengan bahu terguncang dengan langkah cepat ia menghampiri sang putri yang sedang tergugu itu.
"Percaya sama Papah,Gio akan baik-baik aja dia akan sembuh gak akan cacat.itukan hanya prediksi aja.kita berserah pada tuhan Aya.jangan seperti ini kasihan Gio dia sedih melihat kamu yang seperti ini." bujuk Frans.
"Ayo lebih baik kamu makan dulu.Gio akan marah kalau kamu gak makan.jangan egois.ingat bayimu juga butuh asupan." Frans membawa Ayana yang lemah itu setengah menyeretnya menuju cafeteria yang ada di sebelah rumah sakit besar itu.
...☘☘☘☘☘...
Setelah mendengar semua cerita dari besannya.mengenai Gio yang berujung kecelakaan,Mira melangkah dengan cepat mencari Ayana yang sejak tadi tidak di lihatnya di mana pun.dan setelah itu ia menemukannya di cafeteria bersama Frans.
__ADS_1
"Jadi ini semua karena kamu?." ucap Mira dengan tatapan tajam yang mengarah pada menantunya itu.