Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
109


__ADS_3

Sambil melipat bed cover yang tadi malam sempat di pakai oleh Gio,Ayana senyum-senyum sendiri setelah Gio pergi pagi tadi.lelaki itu sengaja pulang pagi sekali sebelum orang rumah bangun karena menghindari mereka terutama nenek Melani. sebetulnya Gio sangat sadar bahwa sikapnya ini tidak sopan karena masuk diam-diam pergi pun demikian.tapi karena ia di paksa oleh Ayana agar segera pergi karena tidak ingin ada perdebatan nantinya.Gio menurut saja karena itu yang terbaik baginya dari pada berakhir dengan keributan lagi seperti beberapa minggu lalu.


Ayana mencium bantal sofa yang tadi Gio tiduri.wangi khas lelaki itu masih menempel di sana membuat Ayana tak henti menciumi bantal itu.jujur ia masih rindu pada Gio tapi waktunya sangat terbatas apa lagi ada bayi di antara keduanya.jadinya mereka tidak bisa mengehabiskan waktu berdua saja malah sibuk menjaga Jeivan yang sesekali bangun dan ingin di gendong.


"Kangen kamu." lirih Ayana sambil memeluki bantal itu.setelahnya ia menangis merasakan rindu yang tak tertahankan kepada Gio. sekarang ini mereka ibarat dua manusia yang sedang menjalin kasih jarak jauh.rindu berat tapi hanya bisa menahannya.


"Iya,kenapa?" tanya Gio di sebrang sana ini yang kedua kalinya Ayana menelepon Gio setelah lelaki itu pergi dari rumahnya.


"Dimana?dan itu ada siapa kaya lagi ramean?" Ayana balik bertanya karena mendengar suara ramai di tempat Gio berada ia jadi curiga jangan bilang kalau lelaki itu sedang main ke tempat hiburan.kalau sampai itu benar.Ayana akan memotong separuh. separuh apa ya,separuh jarinya Gio aja deh.


"Oh,itu mah ibu-ibu yang lagi pada ngumpul, biasalah" jawab Gio apa adanya.karena memang ia sedang berada di tempat ramai." Kenapa emang?."


Ayana melebarkan matanya dan ia yakin Gio sedang berbohong padanya kali ini." Ngapain kamu di tempat ibu-ibu begitu?." tanyanya tak yakin." Atau lagi di tempat nongkrong?ingat Gi,kamu itu udah bukan lagi remaja loh yang masih bebas nongkrong sana sini.ingat anak-anak kamu." omel Ayana di sebrang sana membuat Gio menarik napas berat.


"Nongkrong apa sih?aku tuh lagi nyari kosan yang cocok.boro-boro nongkrong.ada waktu buat kalian aja udah sukur.kamu ini."


"Alah alesan.kamu itu enak kan bebas dan jauh dari kami?bisa maen sana sini.bisa deket-deket sama mantan juga.kamu enak-enakan di sana sementara aku di sini repot ngurus anak kamu."


"Yang,ngomongnya jangan gitu dong.nggak bener itu.mana ada aku suka nongkrong sana sini dan malah enak-enakan.apa lagi,apa katamu tadi,deket-deket mantan?boro-boro bisa begitu,Yang.aku tuh sibuk kerja cari uang buat kalian.lain kali jangan ngomong gitu ih." bantah Gio sedikit tidak menerima atas tuduhan Ayana barusan.


"Malam ini tidur di sini lagi aja." cicit Ayana memutuskan untuk tidak membahas lagi.ia juga sadar bisa panjang urusan kalau terus di bahas.


"Nggak bisa.gak baik ah nanti di liat orang lain dan orang rumah." tolak Gio pelan mencoba memberi pemahaman." Nanti aja kalau kita udah kembali.sekarang biar aku di sini dulu_"


"Kamu tidur di rumah?apa kata orang nanti?kamu kok masih bersama ka Indri sih." sela Ayana.


Gio mengurut batang hidungnya mendengar Ayana bicara yang asal aja.tanpa mendengarkannya dulu." Makanya dengerin dulu aku ngomong.aku tidur di kos baru atau nggak di rumah Andre.udah deh gak usah nuduh yang aneh-aneh terus.kamu capek sendiri sama pikiramu itu."


"Kamu gak suka aku ngomong gini,kenapa?bener ya kamu suka sama kaka kamu sendiri, Gio?ya sudah kalo gitu nikahi aja sana ka Indri."


Gio menggelengkan kepalanya memutuskan untuk menjauhi kerumunan ibu-ibu mencari tempat yang sedikit sepi.ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon jambe yang ada di sekitaran rumah warga.


"Yang.bisa dengerin aku dulu tolong?tolong banget jangan buat kita ribut lagi.kita baru aja baikan dan saling menerima,bukan?jangan mencari penyakit lagi.mau sampai kapan kita akan seperti ini,hm?" Gio menjeda ucapannya tapi Ayana tetap diam." Kamu gak capek apa?aku capek Yang jujur aja.aku ngerasa kaya lagi pacaran sama anak remaja baru netes. yang baru kenal cinta dan cemburuan terus dah gitu suka nuduh yang nggak-nggak." ujar Gio tegas tapi tetap lembut.karena ia tidak bisa marah dan sadar dengan siapa ia bicara.


"Bisa nggak kita dewasa sedikit dalam hubungan ini?kita sedang dalam pernikahan, Yang.ikatan suci yang sakral dan tidak bisa bermain-main di sini.kita bukan sedang pacaran yang bisa kapan saja bisa putus nyambung." Gio masih melanjutkan selagi Ayana diam mendengarkan." Sudah aku bilang bukan?aku gak akan berbuat yang aneh-aneh dalam pernikahan kita.cuma kamu ratunya dan gak akan ada selir-selir lain yang akan masuk ke dalam istana kita."


Gio mengangguk dan tersenyum saat ada salah satu warga lewat yang kebetulan mengenalnya." Berapa kali aku bilang.aku gak akan ninggalin kamu.kecuali kamu yang meminta.jangan takut aku ada main atau iseng dengan wanita lain.memangnya bakal ada yang mau menerima lelaki biasa ini,hm?jaman sekarang susah,sayang.kalau cuma modal tampang doang.semuanya butuh uang, seharusnya aku yang takut kehilangan kamu. bukan kamu yang takut kehilangan aku."


"Kenapa ngomongnya gitu?" tanya Ayana.ia merasa tidak nyaman dengan ucapan Gio barusan.ada salah satu kata yang menyentil hatinya ia yakin Gio tengah menyindirnya.


"Emang harusnya gimana?coba dong,Yang. percaya sama aku.coba bilang sama aku kapan sih kamu lihat aku bersama wanita lain atau sedang berduaan gitu.misal keperegok berduaan ngobrol atau membicarakan hal yang jorok?nggak pernah kan.jangankan keperegok lagi aneh-aneh.keperegok lagi ngobrol berduaan aja gak pernah,bukan?."


"Kamu nyindir aku?"


"Nggak.mana ada nyindir?ngapain juga nyindir kamu?."


"Ya udah nanti sambung lagi.Jei nangis haus kayanya dia." Ayana mengalah karena anaknya menangis sepertinya tadi terganggu oleh suaranya yang keras." Kamu gak usah keluyuran,Gi." ucapnya sebelum memutus teleponnya.


Gio berdecak tak paham bagaimana bisa Ayana bisa berpikiran seperti itu.kali ini cemburunya Ayana terasa berlebihan pikirnya, sempat ada rasa ingin memberikan pelajaran pada Ayana agar perempuan itu mengerti bahwa ia harus menghargai segala sesuatu yang hadir dalam hidupnya.namun Gio berpikir ulang untuk hal ini jangan sampai tujuannya malah meleset dan berujung merugikan dirinya sendiri.dan lebih parahnya lagi ia takut rumah tangganya yang menjadi korban.


Bagaimana jika setelah ini ia tak hanya kehilangan Ayana saja,tapi semua anak-anaknya juga.Gio tidak mau kehilangan mereka karena merekalah pusat dunianya. tanpa mereka ia hanya seonggok manusia yang kehilangan semangat hidup.rasa cintanya terhadap Ayana memang menghilangkan sedikit kewarasannya.sampai ia rela melakukan apa saja demi Ayana tercinta.


...☘☘☘☘☘...


Sementara di sini Ayana tengah kelimpungan sendiri.ia takut Gio berubah dan bisa saja kapan pun meninggalkannya.dirinya menyesal karena telah mengabaikan lelaki itu Ayana kira ia akan berpuas hati setelah meninggalkan Gio dalam keterpurukan,karena lelaki itu telah menyakiti hati dan perasaanya. Dia kira Gio juga akan terlihat mati setelah ia tinggalkan,namun rupanya ia sendiri yang terpuruk dan seperti tak bernyawa.semua pengharapan yang seharusnya terjadi pada Gio,tapi semua malah berbalik dan menghampirinya.


Sekarang Ayana sadar sekali.bahwa ia salah mengambil langkah.dia salah meninggalkan Gio begitu saja tanpa pikir panjang.Gio masih muda juga tampan dan ia lelaki yang setia. jaman sekarang di mana lagi ia menemukan lelaki yang hampir sama seperti dia. sementara Ayana wanita yang sudah berumur,akan sulit kedepannya hidup tanpa pasangan dengan anak yang banyak.ia yakin sekali belum tentu ia akan menemukan lelaki yang bisa menerima dirinya dan anak-anak. dulu seharusnya Ayana mikir kesana.tapi saat itu hatinya terlalu di butakan oleh hawa marah dan benci sesaat.


Ayana sekarang menyesal setelah merasakan dan sadar bahwa Gio bisa saja meninggalkannya kapan pun ia mau.Gio memang terlihat terpuruk pada saat awal-awal mereka cerai.tapi lihatlah sekarang bahkan laki-laki itu bisa tidur nyenyak dan pulas.sementara Ayana sendiri tidak pernah sama sekali merasakan tidur nyenyak dan pulas semenjak peceraian mereka.ia selalu merasakan ketidak nyamanan di hatinya sehingga siklus tidurnya sangat buruk meskipun Jeivan tidak rewel.


"Ini gak bisa." ucap Ayana sambil meremas kapas di tangannya yang barusan ia gunakan untuk membesihkan wajahnya.setelahnya ia memandangi dirinya di cermin cukup lama sampai ia sadar seribu persen bahwa ia sudah tak sama lagi dengan dulu.semuanya sudah berubah entah tubuh atau segalanya semuanya sudah berbeda dan tak lagi sama.


"Gue harus cari cara agar secepatnya kami bisa kembali bersama.Gio gak bisa ninggalin gue setelah ini.tubuh gue sudah dia rusak dan semuanya tak lagi sama,enak aja kalau dia pergi setelah ini." gumam Ayana.ia merasa rugi sendiri kalau setelah ini mereka benar-benar berpisah.tubuhnya yang selalu ia banggakan ini sudah rusak akibat seringnya hamil dan melahirkan.


Gio adalah lelaki dia bisa mencari perempuan yang sesuai dengan seleranya.sementara Ayana akan sulit menemukan lelaki yang mau menerimanya apa adanya.Ayana sadar meski saat ini ia tidak membutuhkan lelaki dan mungkin saja tak ingin memiliki suami lagi. tapi siapa yang tahu kedepannya ia butuh sosok lelaki yang bisa menemaninya di hari tua.


Saat Ayana masih melamun tiba-tiba pintu terbuka ia melihat ibunya masuk ke kamarnya.Ayana tersenyum kala Monica duduk di sofa setelah membuka semua jendela dan gorden.kini kamar Ayana jadi lebih segar karena udara masuk ke dalam.


"Turun ke bawah,Ay.jangan ngerem terus udah kaya ayam bertelur aja kamu ini." ujar Monica sembari meraih Jeivan yang Ayana sodorkan karena ia tadi yang meminta." Ajak Jei jalan-jalan biar dia ngehirup udara luar yang seger.di dalam terus sumpek gak bagus juga buat pertumbuhannya."

__ADS_1


"Males lah Mah." sahut Ayana sambil merapikan rambutnya dengan sisir.kemudian memakai bandana karena ribet dengan rambut licinnya itu.


Monica hanya berdecak setelahnya menimang Jeivan yang terlihat membuka matanya dan tersenyum sesekali." Gio semalam nginep kan?" tanya Monica membuat Ayana berdehem.


"Iya.gantian jagain Jei.aku capek soalnya."


"Nah itu kerasa.capek kan ngurus anak gak ada suami?makanya mikir tuh yang panjang Aya.di pikir ngurus anak mudah apa?kamu yang manja gini dari orok mana tahan capek-capek sendirian.udah bagus di kasih suami yang bener ahlak dan tingkahnya, malah di buang."


Ayana memanyunkan bibirnya tak suka. Monica selalu saja membela Gio tak pernah membelanya.padahal Ayana yang anaknya tapi kenapa Gio yang selalu di belanya." Mamah tuh bela Gio aja terus."


"Oh jelas dong.menantuku yang paling baik dan susah di temukan." sahut Monica sengaja dan semakin membuat Ayana kesal." Semalam cuma jagain Jei aja kan kalian?" Monica menatap Ayana penuh selidik.


"Iyalah,emangnya ngapain?."


"Ya siapa tau malah ngadon adiknya Jei lagi. siapa yang tahu kan lama gak ketemu malah silaturahmi antar_"


"Mah."


"Apa?emang Mamah salah?orang cuma ngomong.kan bisa aja.secara kalian ini_"


"Mamah."


Monica terkekeh mendapati muka Ayana yang memerah.ia puas telah mengerjai anaknya itu.si keras kepala itu memang harus di kerjai sesekali." Ngomong-ngomong semalam Gio gimana?dia agresif nggak dek?"


Ayana berdecak dan menggelengkan kepalanya." Gak ada pertanyaan lain apa Mah?"


"Ih,Mamah kan nanya.soalnya bahaya dek. kalau Gio biasa aja dan terlihat gak napsu ke kamu.itu bahaya loh.bisa aja dia mungkin udah tersalurkan di tempat lain.biasanya lelaki itu pasti menggebu kalau emang lama gak keluar." sengaja Monica memanasi Ayana dalam hati ia terkekeh sendiri.dan minta maaf pada Gio karena telah menjual nama lelaki itu ia tau Gio tidak mungkin melakukan hal itu kepada Ayana.seharusnya Gio paham karena mereka telah bercerai.


Ayana tak menjawab melainkan berpikir sampai dahinya berlipat.membuktikan betapa kerasnya ia berpikir." Haduh bahaya Jei, ayahmu udah nemu sarang baru kayanya.itu lah lelaki mereka gak akan pusing jika di tinggal pasangannya.mudah bagi mereka untuk mencari pengganti dan menemukan kesenangannya.apa lagi tanpa di ribetkan oleh anak.yang ribet sama anak aja mereka masih bisa mencari waktu.apa lagi yang bebas seperti Gio.beuhhhh.auto celup sana celup sini kalau memang yang doyan mah."


"Apaan sih Mamah?" ketus Ayana terlihat kesal kepada ibunya itu.


"Oh jadi semalam udah ngecas toh?" sahut Monica sambil menahan senyum.


"Ngecas apaan?kami udah cerai,yakali begitu. kaya gak paham agama aja?" sewot Ayana membuat Monica terkikik.


"Bagus deh kalau masih paham agama mah. Mamah kan kawatir kalian kebablasan sampe lupa apa yang di larang sama yang tidak.ngeri aja kan tau-tau adik Jei nongol.mana kamu belum Kb lagi kan?"


"Udah gak usah ketakutan begitu tinggal tes aja nanti kalau Gio datang.nah kalau cuma lima nenit berarti udah mendep itu.tapi kalau lama emang udah sering itu mah." Monica tertawa dan segera membawa Jeivan pergi melihat Ayana yang melihatnya penuh dengan kekesalan.


...☘☘☘☘☘☘...


Tanpa terasa waktu terus begulir setelah sabar menunggu akhirnya usaha dan kesabaran Gio membuahkan hasil.sore ini ia sudah resmi kembali pada Ayana setelah memintanya kembali pada ayahnya.di saksikan oleh Abimana dan suami dari Citra yang kebetulan ada di sana bersama Kevin anaknya.Gio dan Ayana telah resmi kembali sebagai pasangan suami istri.memang mudah karena mereka bercerai hanya lewat lisan saja.dan beruntung Ayana tak terburu-buru mendaftarkan ke pengadilan peceraiannya dengan Gio.


"Sukurlah ya,Gi.semoga kedepannya baik-baik saja dan berjalan seusai keinginan kita semua langgeng sampai maut yang menjadi pemisah." ujar adik ipar dari Frans itu." Dan untuk Aya.semoga ini menjadi pelajaran ya dek.agar kedepannya kalau ada apa-apa ini bisa di jadikan contoh.jangan selalu terburu-buru mengambil keputusan.semoga tuhan meridhoi pernikahan kalian."


Ayana menangis mendengar beberapa wejangan dari kaka,pamannya,juga orang tuanya sendiri.ia bersukur semua orang begitu peduli padanya.ia merasa tidak sendirian lagi.mereka peduli dan sangat menyayanginya.


{Maaf ya kalau salah dalam bahasan peceraian ini penulis kurang tepat mungkin dan kurang detail di bahasnya.karena aku tidak terlalu paham mengenai islam dan hukum2nya.maaf banget kalau ada beberapa yang kurang tepat.}


"Terima kasih buat semuanya.termasuk Papah dan Mamah juga mas Abi.makasih masih mau nerima aku kembali.aku janji setelah ini akan terus memperbaiki diri dan akan menjaga Aya selamanya." ujar Gio penuh kesungguhan.


Semuanya mengamini dan berdoa untuk kelanggengan dan keberkahan pasangan itu. Setelahnya mereka mengadakan makan malam bersama di selingi dengan candaan semua beramai-ramai menggoda pengantin alot itu.Ayana dan Gio hanya senyum-senyum saja menanggapi godaan yang di tujukan pada mereka.


"Jadinya malam pertama apa malam kedua ini?." goda Kevin dengan iseng.


Ayana mendengus sambil melemparkan tisu bekas pada sapupunya itu." Ngeres mulu pikiran lo tuh Kev."


"Dih sapa yang ngeres?kan aku nanya Ka, gimana sih?sensi bener deh.dasar pengantin alot." ucap Kevin tak terima dia kan hanya bertanya saja mengapa kaka sepupunya itu harus sewot sih.


"Kawin lo sono deh.biar gak kepo lagi ke gue,dek." sewot Ayana seraya menyuapkan dimsum yang baru di hangatkan oleh bi Narti.


"Belum siap.takutnya dapet bininya kaga bisa masak.entar gue makan apa dong,Ka?"


"Lo cari istri apa pembantu?itu kan tugas bersama.ya di kerjain aja berdua.atau gak gopud kek.jaman udah canggih gini kok masih mikir kesana?ck." Ayana menggelengkan kepalanya tak mengerti. baginya tugas rumah itu ya tugas bersama bukan cuma istri saja.


"Hih,gue kan nggak kaya raya,Ka.kalau gopud terus ya abis dong duit gue.sebulan nikah udah kismin itu mah." sahut Kevin yang di tanggapi kekehan oleh Gio.


"Pinjol solusinya,Kev.tenang aja asal ada ktp terus lu foto dah sama ktp.beres pokonya." ujar Gio enteng membuat Kevin mendelik.

__ADS_1


"Ini lagi lakinya juga gak beres.dah ah mending gue maen catur sama pakde." Kevin meninggalkan pasangan aneh itu.ia merasa sia-sia bicara dengan pasangan itu.karena Kevin lihat-lihat Gio ini makin kesini makin kesana.sepertinya virus keduanya saling bertukar dan menyebar.


Gio yang sedang memangku Jeivan itu terkekeh dan mendekat pada Ayana. kemudian mencium dahi istrinya itu sedikit lama hingga suara deheman Abimana menyadarkan keduanya.


"Masuk aja sana ke kamar.udah malam juga tidur Dek." suruh Abi dengan senyum penuh arti dan wajahnya langsung berganti lempeng membuat Gio kejang ringan.


Demi hidungnya squidward yang panjang itu Gio malu setengah mampus.ia tersenyum pada Abi dan mengangguk kemudian mengajak Ayana masuk kamar.ia berusaha menebalkn wajahnya saat melewati kumpulan art yang sedang memakan camilan di ruang keluarga bersama Monica dan istri Abi.


"Malunya ya allah." Gio menarik napas lega setelah sampai di kamar.


"Malu kenapa?" tanya Ayana yang tak mengerti.ia merasa biasa saja padahal.


"Gapapa.udah sana tidur duluan biar aku jagain Jeivan." suruh Gio namun Ayana hanya menatapnya membuatnya jadi salah tingkah.


"Emang kita gak_"


"Nggak Apa?" Gio menjawab cepat padahal sudah paham maksudnya.


Ayana berdehem merasa malu sendiri. seharusnya Gio paham kodenya ini tapi lelaki itu malah pura-pura tak mengerti." Ya udah aku cuci muka dulu."


Ayana pergi ke kamar mandi dengan wajah kesal.Gio terkekeh tanpa suara ia mencium Jei dan bicara pada putra bungsunya itu." Kita kerjain bunda ya dek."


Saat Ayana keluar dari kamar mandi Gio pura-pura mengayun putranya di gendongan padahal Jei jelas sudah lelap.ia sengaja mengabaikan Ayana yang sepertinya sudah siap jika Gio mengajak perang ranjang saat ini juga.namun Gio sengaja mengerjai wanita itu dengan berpura-pura tidak mengerti.


"Tidur,Gi.jam-jam segini dia tuh anteng.nanti beberapa jam lagi baru deh bangun dan ngajak main." tak menyerah Ayana masih memberikan kode agar Gio cepat naik ke atas tempat tidur.


"Iya.ini juga udah pulas." sahut Gio sambil meletakan anaknya di kasurnya.setelahnya dia beranjak menuju pintu dan langkahnya terhenti karena suara Ayana.


"Mau kemana kamu?ini udah malam mau ngapain?" mata Ayana menyorot bak senter baru dibuka dari dusnya.


"Mau catur sama Kevin.tadi mas Abi juga ngajakin." Gio melangkah keluar kamar sambil menahan tawa.ia keluar menemui ayah mertuanya yang masih mengobrol dengan ayahnya Kevin.


Sepeninggal Gio keluar Ayana melemparkan beberapa bantal dari kasur.ia menahan emosi dengan terus menarik dan membuang napas dari mulutnya.bagaimana bisa Gio mengabaikannya di malam pertma mereka. apa lelaki itu sudah tak menginginkannya lagi apakah dirinya ini memang sudah tak menarik lagi di mata Gio sehingga lelaki itu tak tertarik untuk melakukan kewajiban mereka yang biasa selalu menjadi kesenangan bagi Gio.


Ayana menangis sesegukan di atas kasur ia merasa dirinya sudah tak berharga lagi.Gio saja sudah tidak tertarik padanya lalu untuk apa ia masih meneruskan pernikahan ini. rasanya Ayana menyesal karena sudah mengajak dan bersedia kembali dengan lelaki itu.jika tau kalau pada akhirnya seperti ini.


Tangis Ayana terhenti pada saat Gio masuk kamar setelah hampir dua puluh menitan.Gio juga mengerti makanya ia tidak berlama-lama di luar.lelaki itu terkejut melihat Ayana menyusuti air matanya.juga masih menyisahkan isak kecil yang lolos dari bibir wanita itu.


"Loh kok?kamu nangis,Yang?kenapa?" Gio berlari mengahmpiri istrinya yang ternyata menangis." Kenapa,ada yang sakit,hmm?" tanyanya panik sekali sambil memeriksa tubuh Ayana.


"Yang sakit itu hati aku." ucap Ayana sangau.


Kepanikan Gio berganti dengan kekehan.ia menatap istrinya masih dengan tertawa-tawa." Sudut yang mana yang sakit?"


"Udahlah,Gi kalau niatnya emang cuma bercanda untuk apa di teruskan.tak ada gunanya semua ini di lanjutkan,perasaanku bukan untuk mainan." lirih Ayana dengan isak kecil.


"Hey,kenapa ini." Gio mengambil kedua tangan Ayana dan memaksa agar wanita itu mau menatapnya." Kenapa kok jadi begini? padahal kita baru nikah loh.harusnya seneng dan bahagia dong.kok malah nangis?" Gio kembali tertawa pelan.


"Gimana mau bahagia?kamunya aja ninggalin aku." sahut Ayana.


"Kapan?tadi?" tanya Gio kembali pura-pura.


"Ya."


"Oh,iya-iya maaf ya.tadi nemuin Papah bentar, gak enak dong giliran udah sah malah ngerem di kamar." balas Gio santai.tangan hangatnya menggenggam kedua tangan Ayana yang dingin.kemudian satu tangannya menyentuh dagu Ayana membuat wanita itu setengah mendongak pandangan keduanya langsung beradu." Jangan pernah merasa kalau aku meninggalkanmu.aku ga akan pernah melakukan itu.karena mencintaimu gak sebercanda itu,sayang.jangan merasa bahwa aku hanya bermain-main."


"Udah jangan nangis lagi ya.mending kita bersenang-senang." Gio mengedipkan sebelah matanya.


"Apaan?" tanya Ayana.


"Ck,masa gak ngerti.padahal kamu yang udah dari tadi gak sabaran,iyakan?" Gio terkekeh melihat wajah Ayana yang masam.


"Gio,ih." sebal Ayana sambil mencubit perut kencang Gio.


Gio menangkap tangan Ayana sambil mengecup lehernya." Buru ah.udah bangun dari tadi kenceng nih." bisiknya membuat Ayana mendekus namun diam-diam tersenyum ia menyukai Gio yang seperti ini.


...☘☘☘☘☘...


Giopram17 update IG: Kalau pegel-pegel emang slosusinya mandi air hangat pren.

__ADS_1



__ADS_2