
"Ayang, aku tidak mengerti maksudmu?" kilah Bastian berusaha tenang dan tidak mau terlihat gugup didepan istrinya.
"Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" Bee semakin yakin jika suaminya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ayang, percaya padaku aku tidak menyembunyikan sesuatu padamu. Kalau aku ada masalah aku pasti akan menceritakannya padamu," ucap Bastian mengenggam tangan Bee.
Wanita itu masih memasang wajah dingin nya. Bee hanya kecewa jika Bastian tidak mau berterus terang padanya, artinya selama ini suaminya itu tidak menganggap dirinya ada.
"Kau mencintaiku Bas?" Bee menatap bola mata suaminya dengan dalam. Kepala Bee masih sangat berat dan pusing.
"Aku sangat mencintaimu, Ayang. Sangat malah, aku tak bisa jelaskan apa cintaku padamu," jelas Bastian menyakinkan.
Bastian tak berbohong perasaannya pada Bee memang tak bisa dia jelaskan lewat kata-kata. Wanita ini adalah segalanya bagi Bastian. Dia tak sanggup kehilangan sang istri.
"Jika kau mencintaiku, katakan siapa kau sebenarnya," desak Bee.
"Ayang ak_"
"Bee."
Dari arah pintu masuk Eric dan Laerra masuk dengan senyuman bahagia mendengar bahwa menantu kesayangan mereka hamil. Apalagi ini merupakan cucu pertama keluarga Schweinsteiger, tentu kebahagiaan menyelimuti hati kedua pasangan paruh baya itu.
"Mom," balas Bee memaksakan senyum pada mertuanya.
"Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap Laerra memeluk menantunya dengan sayang.
"Terima kasih, Mom," balas Bee.
"Jaga kesehatan ya, Bee. Ingat atur pola makan," ucap Eric menimpali. "Dan kau, Bas. Bersiap-siaplah menghadapi mood istrimu, apalagi permintaan anehnya nanti," ucap Eric terkekeh. Eric teringat dulu ketika pertama kali istrinya hamil dia di buat kewalahan dengan permintaan istrinya yang aneh.
"Iya, Dad. Terima kasih," ucap Bee tersenyum hangat.
"Son, selamat yaa." Eric mengusap bahu anaknya.
__ADS_1
"Iya Dad," balas bahagia.
Lelaki muda yang baru akan menginjak usia 20 tahun itu tampak bahagia. Dia masih tak menyangka jika di usia muda sudah mendapat gelar ayah. Bastian tidak sabar menanti kehadiran anaknya nanti, dia tidak kebaratan jika memenuhi permintaan Bee yang mungkin menyusahkan dirinya.
"Hai anak Daddy, selamat datang di dunia, Sayang," sapa Bastian mengecup perut rata Bee.
Eric dan Laerra terkekeh pelan mendengar celetukan Bastian. Sementara Bee yang tadinya tampak marah dan dingin pada suaminya tak mampu menahan senyum. Dia pun bahagia menerima kehadiran buah hatinya. Tetapi hatinya masih merasa janggal selama Bastian belum jujur siapa dia sebenarnya?
"Bee, ingat jaga pola makan yaa. Tadi Mommy sudah minta vitamin khusus ibu hamil, jangan lupa di minum dan wajib minum susu setiap malam." Mode cerewet Laerra mulai terlihat pada menantu kesayangan nya ini. Apalagi Bee hamil muda yang tentunya sangat rentan. Bahkan bila perlu, Bee tidak usah kemana-mana dan fokus menjaga bayi dalam perutnya.
"Terima kasih Mom, sudah perhatian padaku," sahut Bee.
Bee tiba-tiba teringat pada ibunya. Sejak menikah dengan Bastian dia memang tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu karena masih marah. Bee kecewa dirinya menjadi bahan perjanjian kedua orang tua nya. Tetapi setelah waktu berlalu kian cepat, Bee merasa bersyukur karena dia begitu dia bisa menemukan cinta sejatinya.
Namun, lagi-lagi disaat dirinya sangat percaya pada takdir cinta. Ada satu hal yang seperti membuat dia berhenti melangkah, yaitu ucapan Ragil. Sebenarnya Bee tak ingin memikirkan hal tersebut, tetapi ucapan tersebut terus terngiang dikepalanya. Sesekali wanita itu menatap suaminya, rasanya benar-benar tak mungkin jika Bastian seseorang yang bekerja didunia hitam.
.
.
"Apa perlu aku gendong, Ayang?" tawar Bastian.
"Tidak perlu," tolak Bee sambil menggeleng. "Bas, aku ingin makan mangga muda tapi harus kau yang memetiknya," pinta Bee.
"Ayang, kau kan menderita sakit maag bagaimana bisa kau makan buah itu?" ucap Bastian ketus. Istrinya kemarin mengeluh sakit dibagian ulu hatinya.
"Bas," renggek Bee. "Bukan aku yang ingin makan mangga, tapi anak kita," ucap Bee dengan bibir menggerecut ke depan.
Bee terus merenggek dan bahkan sampai lupa dengan pertanyaannya tadi. Dia terlalu ingin merasakan segarnya buah mangga muda, dengan sambal pedas yang lumer ditambah tumbuk kan kacang tanah.
"Iya, Ayang. Nanti aku cari kan, ayo masuk dulu," ucap Bastian mengalah.
"Gendong," renggek Bee manja.
__ADS_1
Bastian tersenyum gemes. Tentu saja dia mau menggendong Bee, bukankah itu keuntungan baginya?
"Siap, Ayang!" seru lelaki itu dengan senyuman sumringah.
Bastian menyelipkan kedua tangannya disela kaki Bee. Sementara lengan Bee melingkar di leher Bastian.
"Bas, apa aku berat?" tanya Bee. Walau badannya ideal tidak besar dan tidak juga kecil dengan tinggi semampai untuk ukuran wanita Indonesia.
"Sama sekali tidak. Kau sangat ringan, Ayang," sahut Bastian. "Ayang, aku akan menyewa pembantu rumah tangga untuk membantu dirumah kita," ucap Bastian.
"Tapi_"
"Ayang, kau sedang hamil. Bagaimana bisa kau beres-beres, bagaimana kalau kau jatuh?" omel Bastian. "Pokoknya, selama kau hamil, kau tidak boleh melakukan apapun. Biar aku yang kerjakan semuanya," ucap Bastian lagi.
Bee terkekeh pelan. Dia menatap suaminya penuh cinta. Entah kemana moodnya yang tadi ingin marah, tiba-tiba saja hatinya berbunga-bunga karena perlakukan manis Bastian.
"Bas, nanti kalau aku tidur peluk ya," pinta Bee menyandarkan kepalanya di dada bidang Bastian.
"Wah, tentu!" sahut Bastian senang. Itulah yang dia mau yaitu memeluk istrinya sampai puas.
Bastian meletakkan istrinya di sofa. Sudah ada 5 orang pelayan yang di minta Bastian untuk bekerja dirumah mewahnya. Rumah ini memang tidak besar tetapi Bastian ingin memastikan kebersihan rumahnya supaya istrinya nyaman.
"Ayang, kita belum mandi. Bagaimana kalau kita mandi bersama?" tawar Bastian dengan senyuman liciknya.
"Ck, tidak mau. Aku mau makan makan," cetus Bee merajuk.
"Ayang, kau bahkan belum makan," sergah Bastian. "Kita makan dulu, setelah makan baru mandi lalu aku akan mencarikan mangga untukmu," ucap Bastian mengecup ujung hidung istrinya dengan gemes.
Bibir Bee menggerecut kesal. Entah kenapa dia jadi manja seperti ini? Apa karena efek kehamilannya? Sementara Bastian sangat senang melihat Bee yang terus menempel padanya, dia berjanji akan menjaga Bee dengan baik. Dia akan memastikan bahwa istri dan calon anaknya aman dari gangguan dunia luar.
Diam-diam Bastian sudah menugaskan anak buahnya berjaga disekitar rumah, sepertinya memang banyak yang ingin memisahkan mereka. Bastian harus lebih hati-hati lagi dalam bertindak. Dia tidak bermaksud menyembunyikan identitas aslinya pada Bee, dia hanya tak ingin sang istri takut padanya. Apalagi Bee sedang hamil yang benar-benar harus di jaga dengan baik.
"Ya sudah," sahut Bee mengalah.
__ADS_1
"Ayo, sarapan," ajak Bastian kembali mengangkat tubuh istrinya menuju meja makan.
Bersambung....