Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
88


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa begitu sepi bagi Ayana karena Gio tidak ada pagi tadi sudah berangkat kerja.ia selalu merasa kesepian saat di tinggal keluar kota seperti ini oleh Gio,rasa-rasanya Ayana selalu ingin ikut tiap lelaki itu berpergian namun ia juga memikirkan anak-anaknya,tidak mungkin ia meninggalkan mereka demi bisa menemani Gio,kecuali jika memang itu hal yang sangat penting sekali.


Ibu beranak tiga itu terlihat masih duduk di kursi meja makan seorang diri,padahal makan malam sudah usai karena ia tidak begitu selera untuk makan.Ayana berada di rumahnya kemarin malam mereka kembali padahal Gio meminta Ayana untuk tetap di rumah Monica untuk sementara dan ia akan menjemputnya setelah pulang manti.namun Ayana kekeuh katanya ingin pulang rindu rumah mereka karena sudah lama menginap.


"Non,Raven demam saya udah cek suhunya lumayan tinggi," Ayana menoleh saat suster Risma tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya,ia berdiri dan mengangguk.


"Rewel gak?"


"Nggak non,cuma gelisah terus tidurnya kasian tadi menggigil gitu ya udah saya pakein baju agak tebelan."


"Kalau demam jangan di pakein baju sus, cukup pakein kaos singlet aja biar demamnya cepet turun." Ayana berjalan cepat menuju kamar anaknya.ia membuka pintu dan langsung melihat putranya yang memang sedang gelisah di tempat tidurnya.


Ayana mengecek suhu tubuh Reven dengan punggung tangannya,demamnya memang lumayan tak cukup dengan itu ia mencari termometer dan mulai mengukur suhunya,hasilnya Raven memang benar-benar demam dengan suhu di atas 3,8c.


"Tolong ambilkan obat merek P di laci situ sus,sama air putih dan pipetnya ya." pinta Ayana segera,wajahnya terlihat lumayan tegang dengan cepat ia membawa Raven ke pangkuannya." Jangan sakit nak,bunda sedih kalau kamu sakit." Ayana mendekap putranya dengan mata memanas ia selalu takut jika anak-anaknya sakit seperti ini.


"Sus tolong jaga mereka ya,biar saya pisahkan Raven ke kamar saya.kalian jaga Mia sama Vindi aja di sini,Raven biar saya yang urus." ujar Ayana seraya keluar dari kamar anaknya dengan Raven di gendongannya.sudah dua jam lamanya dari jarak pemberian obat penurun panas tapi suhu tubuh Raven tidak juga turun malah tambah naik membuat Ayana panik dan ketakutan.ia putuskan untuk memberikan obat penurun panas melalui anus agar panasnya cepat turun namun tidak juga berhasil,demamnya hanya turun sementara dan kembali naik seperti sekarang ini suhu tubuh Raven sudah di angka 3,9c.


"Aven anak pinternya bunda,kuat ya sayang.sekarang kita ke rumah sakit ya nak." Ayana berlari secepat kilat meraih kunci mobil dan mengikat rambutnya dengan asal,bahkan ia tidak sempat berganti pakaian hanya piyama kuning motif bintang yang ia kenakan.ibu tiga anak itu dengan cepat membawa anaknya ke rumah sakit menyetir seorang diri.


Di rumah sakit Ayana meminta pertolongan segera,anaknya itu di larikan ke IGD dan para perawat langsung menanganinya dengan cepat.setelah beberapa jam dokter meminta untuk cek darah guna mengecek penyakit apa yang membuat suhu tubuh anak kecil itu tak kunjung turun." Gimana dok?" tanya Ayana dengan lesu,wajahnya pucat dan lelah sejak jam sebelas malam ia di sini tanpa makan dan minum.


"Ini Ravennya positif DBD bu,untung cepet di bawa kalau nggak kasian anak ibu,kalau demam tinggi gitu kan kawatir kejang." jelas dokter dengan menunjukan hasil cek lab tadi malam.bahu Ayana melemas namun ia sedikit lega,meski tidak begitu menakutkan tapi penyakit demam berdarah itu tidak begitu serius bila di tangani dengan cepat.


"Jangan terlalu panik bu,gak ada yang serius kok,nanti kalau trombositnya udah bagus udah bisa pulang dedenya." melihat raut kepanikan di wajah Ayana dokter menenangkan ibu muda itu." Kalau anaknya mau,kasih jus jambu aja,itu bagus buat naekin trombosit juga bu,tapi jangan pake gula ya." sambungnya sebelum pamit keluar.


Sambil menemani Raven Ayana mulai menghubungi Gio untuk memberikan kabar kalau anaknya masuk rumah sakit.ia mengirimkan pesan kepada Gio setelahnya mengabari Monica dan langsung mendapat balasan dari ibunya itu katanya Monica akan segera ke rumah sakit.Ayana melirik lasagna yang ia pesan tadi sebelum masuk ke ruang rawat Raven,makanan itu belum di sentuhnya sama sekali sejak tadi bahkan rasanya mungkin sudah dingin. dengan malas Ayana mulai membuka makan tersebut dan mencoba memakannya.meski tidak selera makan tapi dirinya harus tetap makan agar tubuhnya selalu kuat untuk menjaga anaknya di sini.


"Makan juga gak karuan rasanya kalau anak lagi sakit mah." gumam Ayana sembari mencoba menikmati lasagna itu dering telepon menghentikan aktivitasnya ternyata itu panggilan video call dari Gio.


"Kenapa baru ngasih tau sekarang yang?terus gimana kata dokter Raven gak gapapa kan?gak serius kan cuma dbd aja?" Gio langsung membondong Ayana dengan pertanyaan." Demi allah aku langsung lemes ini,"


"Baru sempet Gi,iya gapapa jangan kawatir.kalau trombositnya udah naik juga udah bisa pulang kok.kamu jangan bikin aku panik dong." balas Ayana setengah kesal.


"Iya maaf,Sayang.aku kaget tau tiba-tiba lihat chat kamu,padahal baru aja mau tidur tadi tapi ngantuknya udah ilang gak tau kemana,mana Raven pengen lihat?"


"Emang kamu gak tidur semalam Gi?" Ayana mengarahkan kamera ponsel pada putranya yang sedang tidur.


"Nggak sempet,abis nunggu kiriman kayu datang aku nemenin anak-anak masang pipa lah bablas sampe pagi,"


"Ya udah tidur dulu sana,gak usah kawatir gak ada yang serius kok lagian Mamah udah mau kesini." suruh Ayana kawatir kalau sampai Gio kurang istirahat,fatal sekali jika kurang tidur karena dapat menyebabkan banyak masalah.


"Pengennya pulang habis ini,tapi belum selesai gak enak kalau di tinggal gitu aja,ya udah kalau gitu aku tidur dulu,kalau ada apa-apa kabarin terus ya Sayang." Gio pamit untuk istirahat sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.meski begitu ia tetap tidak merasa lebih baik dan tidak bisa tidur karena pikirannya tetap tertuju pada anaknya saja.ia takut tiba-tiba mendapat kabar tidak baik dari Ayana.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Dengan wajah panik Monica langsung menghampiri cucunya yang baru saja bangun setelah merengek tadi meminta di lepaskan alat yang menempel di tangannya.balita itu terus saja berusaha mencopoti perban yang menempel di tangan mungilnya itu.


"Jangan di lepas sayang,biar Aven cepet sembuh makanya di obati di sini ya nak kalau udah sembuh nanti beli mainan sama oma ya ganteng." bujuk Monica supaya cucunya itu diam.namun tetap saja berbagi bujukan pun tak mempan,balita itu belum paham akan rayuan dan bujukan ia masih belum mengerti." Di gendong aja coba dek sambil di susuin mungkin emang pengen sama kamu"


"Gendong sama bunda yuk" bujuk Ayana sembari duduk di tepi ranjang usai menyalakan tv,lalu membawa anaknya ke pangkuannya sambil di dekap dan di elusi punggungnya meski balita itu tidak mau tapi lama-lama ia mau dan diam.apa lagi setelah melihat tayangan cocomelon di televisi Raven langsung anteng.


"Dasar bayi jaman sekarang mah aneh giliran nonton aja anteng." komentar Monica membuat Ayana tertawa pelan.


"Gapapalah asal gak minta di copotin mulu ininya." balas Ayana sembari mengganti chanel lain menjadi chuchu tv dengan lagu head and shoulders Raven suka sekali lagu itu dan langsung mengikuti gerakannya meski ngacak dan terbatas.

__ADS_1


"Kalau ada Jemi abis nih berantem.soalnya dia tuh paling gak suka kalau lihat adiknya anteng.pokonya kalau adiknya suka itu dia pasti gak suka." ujar Ayana mengingat kebiasaan si sulung di rumahnya yang selalu usil dan cemburuan.


"Tapi jangan keseringan dek,gak bagus apa lagi Raven masih belum ada 3 tahun udah cocokin tontonan terus.Jemi juga harusnya belum boleh,nanti matanya pada burem dan bisa jadi telat ngomong itu" larang Monica,ia tidak suka melihat cucu-cucunya kecanduan tontonan seperti kebanyakan anak jaman sekarang.


"Iya itu juga,cuma paling lama 15menit aku kasih abisnya udah tau Mah,Gio sih awalnya suka di kasih barengan sama Billa,eh anak-anak jadi tau."


"Kalau Billa sih boleh,tapi gak boleh kelamaan juga." Ayana mengiyakan kenyataannya tidak segampang itu menghentikan kebiasaan anaknya untuk tidak menonton.apa lagi si sulung yang memang sudah tau dan mengerti ia akan merengek meminta pada suster mau pun Gio,namun tidak berani pada Ayana karena takut masalahnya bundanya kan sedikit galak.


Siang harinya Frans sudah berada di rumah sakit menyusul Monica,ia begitu kawatir melihat keadaan Raven yang lemas dan rewel karena sudah beberapa kali muntah,apa pun yang masuk ke lambungnya selalu di keluarkan kembali. tidak hanya itu saja tubuhnya juga bintik bintik kemerahan dan itu membuat keluarga semakin kawatir.Anak kecil itu selalu merengek ingin pulang dan di gendong terus menerus membuat Ayana kewalahan,untung saja sesekali mau dengan Monica tapi tidak mau dengan Mira mau pun Indri,sepertinya Raven masih asing dengan keluarga dari ayahnya itu karena mungkin jarang ketemu tidak seperti dengan Monica dan Frans.


"Selamat sore,saya ijin ambil darah dedenya dulu ya,mau di cek trombositnya udah bagus apa belum." ijin dua perawat yang akan memeriksa Raven.semua keluarga mengijinkan meski Frans sangat tidak rela melihat cucunya di tusuk-tusuk jarum begitu.


"Oke sayang sudah selesai,maaf ya, mudah-mudahan segera sembuh ya dek satu jam lagi nanti di cek om dokter ya." dua perawat yang baru memeriksa Raven itu akhirnya keluar karena sudah selesai.


"Kasian banget anak bunda,sakit ya sayang?" Ayana mendekap putranya yang masih terisak jika saja ia bisa menggantikan biar dia saja yang di ambil darahnya,tapi kan Ayana juga takut sama jarum gimana dong.


"Dek,kenapa Raven bisa kena dbd?" tanya Frans heran perasaan mereka sangat menjaga ketat soal kebersihan dalam mengurus anak-anak Ayana,di mulai dari segala hal semua orang sangat-sangat menjaga sekali.


"Kata dokter mungkin di gigit nyamuk di sekitaran rumah waktu nginep kemarin. rumah kita kan kaya hutan segala macam tanaman ada,rimbun banget gitu jelas lah nyamuk suka makanya pohon-pohon Mamah tuh di tebangin aja sih," ujar Ayana membuat Monica mengangguk dengan cepat.


"Iya abis ini suruh si Maman di tebangin aja tuh pohon,apa lagi kemboja udah pada rimbun banget,kemarin lengkeng juga daunnya doang banyak buahnya mah gak ada besok di tebang aja." rupanya setelah melihat keadaan cucunya Monica akhirnya memutuskan untuk membotaki kebun di rumahnya itu.


"Semua pohon deh,apaan tanamanmu itu, daun doang banyak buahnya belum juga matang udah di makanin codot,tiap tahun kita panen sisa codot." sindir Frans membuat Ayana tertawa mendengarnya.


"Tuh Mah,dengerin Papah."


"Ck,kalau gitu buang juga semua koleksi burungmu itu,karena suara burung makanya codot pada datang mereka ngiranya di hutan." balas Monica.


"Enak aja,semua mahal itu.dan jangan lupa lusa ada penghuni baru datang,Papah beli dia buat temennya anak-anak." Ayana dan Monica menoleh bersamaan pada pria tua itu.


"Penghuni baru siapa?" tanya Monica dan Ayana bersamaan." Istri baru Papah?" sambung Ayana membuat Monica mendelik.


"Husky,Papah beli bulan lalu buat temen anak-anak.eh kebetulan Mr Myunghoon juga mau kasih anjing katanya kado,tau gitu kemarin Papah gak beli." jelas Frans membuat Monica menatap kesal suaminya itu.


"Kaya gak ada mainan lain aja Pah,masa iya cucunya di suruh main sama anjing sih?kalau gigit gimana?" tanya Monica.


"Nggak dong,husky ini nurut kecuali serigalanya Bella Swan iya aja." balas Frans santai.


"Hadeuh,Papah." Ayana menggeleng pusing kepalanya,ia tak mengerti pada orang tua itu tapi tidak ingin mempermasalahkan hanya hal sepele menurutnya terserah saja suka-suka ayahnya.lagi pula mungkin Frans ingin menyenangkan cucu-cucunya,jadi apa pun itu Ayana tidak akan protes selama tidak membahayakan anak-anak.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Tiga hari sudah berlalu keadaan anak Ayana sudah membaik,hari ini tadi siang sudah di perbolehkan pulang di jemput langsung oleh Gio,papah muda itu rupanya baru bisa pulang semalam lantaran pekerjaan membuatnya mengundur untuk pulang,tanggung jawabnya begitu besar pada pekerjaan karena ia sudah jadi kepala bagian proyek untuk mesin dan kayu.Monica meminta Ayana untuk tinggal di rumahnya sementara,dan sore tadi Ayana dan Gio beserta susternya kembali ke rumah Frans tinggal di sana sementara. karena untuk beberapa minggu ke depan Gio sudah mulai aktif di proyek baru yang berada di daerah banten tersebut.Gio lebih tenang meninggalkan anak dan istrinya jika di rumah ayahnya.


"Selamat datang sayang,jangan sakit lagi ya cepet sembuh anak baik." Abi mengelus kepala Raven dengan sayang.begitu juga dengan Jenni istrinya.


"Terimaaci uwa,gitu dek," suruh Ayana pada Raven yang langsung di tiru oleh anaknya itu dengan suara bayi.


"Pakde lah,masa uwa?" ujar Frans.


"Uwa dong,pakde mah ketuaan" balas Ayana.


"Lah sama aja,mending panggilnya Daddy aja sih" keluh Abi ia merasa tua jika di panggil dengan panggilan itu.


"Gegayaan mas.sambel terasi aja masih doyan pengen di panggil Daddy.udahlah uwa udah bener itu." protes Ayana membuat gelak tawa terdengar di sana.

__ADS_1


Abi mencibir dengan menjemil pipi adiknya itu." Nanti kalau si utun lahir,mas suruh dia manggil kamu bude aja kalau gitu"


Ayana mendelik namun tetap tertawa lucu juga membayangkan dirinya di panggil bude,apa lagi suami brondongnya itu kalau nanti di panggil pakde." Jangan dong mas gak kebayang masa nanti ayah si Jem di panggil pakde.umurnya aja masih berapa coba?" semua orang tergelak termasuk Gio.lelaki itu hanya diam menyimak sembari memainkan kunciran rambut putrinya.ia tak ikut mengobrol sejak tadi hanya sesekali saja menjawab jika Abi Monica atau Frans meminta pendapatnya.


Sebetulnya Gio sedang perang dingin dengan istrinya semenjak pulang dari rumah sakit,keduanya terlibat adu cekcok lantaran Ayana kesal pasalnya Gio memilih pekerjaan ketimbang anaknya.padahal bukan begitu maksud Gio,ia hanya berusaha bertanggung jawab sebagai kepala bagian bukan memilih di antara salah satunya.tentu saja jika di bandingkan ia pasti memilih putranya.hanya saja ini bukan soal pilihan,tapi soal tanggung jawab dan profesional dalam pekerjaan.


Di saat semua keluarga sudah berbaur menuju meja makan karena hendak makan malam,Ayana melirik Gio yang masih duduk di sana dengan putrinya.sebetulnya ia hendak mengajak suaminya itu makan tapi apa daya rasa kesal masih bercokol di hatinya.jadi ia membiarkan saja makan sendirian dengan alasan gantian makan dengan Gio,padahal jelas mereka sedang tidak kerepotan sama sekali.


"Ada suster,ngapain kamu harus terus yang repot Gi?" ujar Abi saat ia selesai makan dan mendapti Gio yang sedang menyuapi putrinya di sofa ruang tivi.


Gio menoleh dan tersenyum." Pengen makan di suapi ayah katanya mas.biasa ini lagi kolokan." alasan Gio.


Abi mengacak rambut ponakannya itu dengan gemas." Jangan kolokan dong sayang.kasihan ayah cape loh,"


"Biarin,kata ayah juga gapapa,uwa." sahut Jemia dengan suaranya yang terdengar sangat menggemaskan itu.Abi tertawa sembari menjemil pipi Jemia ia ikut mendudukan diri di samping ponakannya itu.sekitar sepuluh menit Jemia sudah selesai dengan makannya,ia segera ikut gabung dengan adik beserta susternya di ruang mainan.Abi melirik Gio yang sedang diam mematung ia mengajak Gio untuk main catur ke gazebo belakang.karena Gio tidak ingin makan lantaran masih kenyang katanya.


"Menurutmu selama ini Aya itu gimana Gi?" Abi membuka percakapan setelah keduanya main catur.


Gio mengangkat wajahnya ia tersenyum sembari memajukan anak catur itu ke depan,entah di sebutnya apa itu othor tidak paham permainan itu.sering melihat orang main itu tapi tetap tidak paham juga." Baik mas,semuanya baik gak ada yang salah." jawab Gio masih dengan senyumnya yang manis itu.


Abi mengangguk sembari menyeruput bandrex panas yang di buatkan bi Narti tadi." Iya mas tau,maksudnya sebagai istrimu.menurutmu dia itu bagaimana?kalau soal peran dia sebagai ibu,mas jelas tau dia ibu yang baik dan sabar.karena mas tau Aya itu rajin mengikuti kelas parenting dia kan maniak baca artikel tentang mengasuh anak,mengingat di usianya juga dia udah cocok banget jadi ibu siap mental dan fisik.tapi yang mas tanyakan itu tentang bagaimana sikap dia sebagai istri?"


"Apa dia masih kekanakan atau sering membuat kamu kewalahan dalam sikapnya yang susah untuk dewasa itu. jujur,meski Aya adalah ibu yang baik,tapi sebagai istri mas masih belum yakin seratus persen dengan itu,mas tau betul gimana dia,umur doang tua tapi sikap dan pikirannya kadang masih di usia remaja."


Gio menggeleng dan tetep tersenyum secara tidak langsung mengiyakan dan tidak,ibaratnya setengah iya setengahnya lagi tidak.Abi tau betul karater sang adik maka dari itu ia tidak percaya saat Gio menjawab bahwa semuanya baik.


"Aya memang belum dewasa secara berpikir.tapi dia ibu dan istri yang baik mas patuh.nurut dan sebagaimana mestinya." jawab Gio,ia tidak akan membongkar sikap dan sifat istrinya pada Abi,meski lelaki ini bukan orang lain ia adalah kaka dari Ayana tetap saja karena baginya yang boleh tau aib istrinya ya hanya dia sendiri,meski keluarganya sekali pun Gio tak mengijinkan mereka untuk tau.


"Begitu ya,ya udah kalau gitu.mas gak maksud ikut campur atau apa pun itu hanya ingin tau bagaimana sikap dan sifat adiku aja pada suaminya selama ini,jika dia memang salah,kan mas bisa tegur dan mengingatkan dia.karena bagaimana pun Aya,dia harus hormat sama kamu sebagai suaminya." ucap Abi sambil menyulut rokok ikut nyoba-nyoba karena melihat Gio yang sepertinya nikmat sekali.


"Iya mas,tenang aja jangan kawatir,Aya baik selama ini dia menjalankan perannya dengan baik,aku beruntung banget bisa memperistri adiknya mas Abi,pokonya mas aku laki-laki paling bahagia karena bisa memperistri perempuan idaman semua lelaki." aku Gio dengan jujur,tidak di buat-buat atau pun menjilat di hadapan Abi ia memang merasa seberuntung itu.


Abi terkekeh sambil menggelengkan kepalanya." Pokonya pesan mas satu Gi, tolong ingatkan dan tegur Aya kalau dia berbuat tidak sewajarnya.apa lagi kalau sampai semena-mena sama kamu. pokonya gimana pun kamu,kamu tetap iman dan kepala rumah tangga yang perlu dia hormati.begitu juga sebaliknya,dan jangan sampai ada kdrt di rumah tangga kalian." pesan Abi membuat Gio mengangguk khidmat.


"Kalau sampai itu terjadi,aku akan membawa kepalamu ke kandang Maverick untuk jadi santapan mereka.ini bukan ancaman tapi peringatan supaya kamu gak ngasarin Aya.pokonya sekasar apa pun perempuan mereka tidak pantas di kasari oleh kita baik secara fisik mau pun verbal.kalau masih bisa di nasehati secara baik-baik dengan omongan lakukan,kalau sudah tidak bisa lepaskan kembalikan sama orangtuanya." sambungnya membuat Gio merinding.


Gio mengangguk serius dan mulai takut pada Abi,mendengar peringatan itu begitu mengerikan bagi Gio,ia membayangkan jadi santapan Maverick singa peliharaan Abi itu sangat horor." Iya mas,insya allah akan aku ingat terus pesan mas Abi."


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Ngobrolin apa sama mas Abi sampe tengah malam begini?" tanya Ayana begitu Gio masuk ke kamar.


"Biasalah yang,namanya juga laki-laki bahas kerjaan lah,apa lagi?" jawab Gio santai sembari berjalan ke tempat tidur.


"Jauh-jauh sana tidurnya bau rokok." usir Ayana menyuruh Gio tidur di ujung kasur.ia sedang sensi tidak ingin di peluk saat Gio mendekat padanya.


"Ya udah,awas kalau malam tangannya nyeludup ke celana aku ya" ujar Gio membuat Ayana mendelik.


"Pede bener,maaf gak minat." ketus Ayana padahal mah bohong.


Gio mengangguk menahan senyum." Oke. bagus deh.biarin dia tidur nyenyak gak usah luluran apa lagi berendam.libur dulu boy" Gio menepuk sela pahanya lalu berbaring menarik selimbut.


Ayana mendecih kembali membaringkan diri tidur membelakangi Gio." Dia kira gue bakal nanges apa?dih,hayuk aja sebulan juga gue mah kuat." dumelnya dalam selimbut.


"Tapi aku yang gak kuat." Gio meringsek memeluk istrinya dari belakang sambil mengecup bahunya yang terbuka itu.dan selanjutnya ya begitulah,tidak perlu di jelaskan othor suka puyeng kalau jelasin.

__ADS_1



istipar Gio,mata pembaca ternodai nanti, astaga ayo lanjutkan saya suka🀧boleh minta pendapatnya gak ya,ini cerita cepet di tamatin apa sesuai alur aja?pokonya jangan berharap lebih sama cerita ini karena mungkin gak akan sesuai dengan yang kalian harapin,maaf kalau masih banyak kekuranganπŸ™sehat2 untuk kalian kecup basah dari Gio😘


__ADS_2