Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
102


__ADS_3

Baru saja Ayana hendak memanggil Jemia tapi putrinya itu sudah keburu masuk kedalam rumah karena sepertinya di panggil oleh Indri.ia urung dan memutuskan untuk duduk di warung Teh Wina yang rumahnya berada tepat di samping rumah haji Malik.Ayana merasakan perutnya yang tiba-tiba keram dan sakit.mungkin janinnya syok dan kaget akibat ibunya tadi terkejut melihat Gio memangku Amanda.


"Loh Non Ayana?sinian duduk non,mau jemput si cantik ya?" Teh Wina yang baru menyadari kehadiran Ayana itu menyapa dengan ramah." Gio barusan pergi kayanya itu loh non nganter Amanda mau lahiran dia." lanjutnya yang di angguki Ayana.Ayana hanya membenarkan pertanyaan teh Wina tak ingin ribet.ia duduk di tempat yang sedikit bersih dari pada yang barusan ia duduki.


"Minum non,ini air dan ini ada tahu goreng masih anget.silahkan non." tawar teh Wina.


"Makasih teteh.air putih aja." balas Ayana karena ia tidak suka gorengan.


Ayana mengobrol sebentar hanya basa basi saja.ia mencoba mengabaikan rasa sakit di perutnya dengan mengobrol bersama teh Wina dan suaminya kang Sodikin.tapi rasa sakit itu tak kunjung hilang dan malah menjadi-jadi.kemudian Ayana memutuskan untuk menghubungi Gio tapi sayang sudah ke lima kalinya panggilan Ayana tak mendapat jawaban berbagi pesan ia kirim tapi Gio tak meresponnya.


Karena merasa kesal Ayana memutuskan untuk pulang ia menitipkan barang bawaan untuk mertuanya kepada teh Wina.tidak lupa ia juga menyisihkan untuk wanita itu. bahkan Ayana meninggalkan Jemia di sana karena ia yakin anaknya juga baik-baik saja dan aman bersama Indri. sebelum pulang Ayana ke rumah sakit terlebih dulu guna memeriksa kandungannya.


"Antrian ke 6,atas nama ibu Ayana." suara panggilan antrian mengalihkan Ayana dari layar ponsel.ia segera menuju ruangan dokter.


"Sore bu,kontraksi ya?" tanya dokter kemudian meminta Ayana untuk tiduran guna memeriksa keadaannya." Cek pembukaan dulu ya bu,siapa tau memang dede mau keluar." Ayana hanya menurut saja apa yang dokter ucapkan.pada saat pemeriksaan jalan lahir Ayana juga memilih diam hanya sesekali menjawab jika dokter bertanya.tidak seperti biasanya ia akan cerewet dan banyak tanya mengenai kehamilannya.


"Hanya konpal ya bu,gak ada pembukaan tapi nanti malam ibu boleh kembali kalau di rasa sakitnya makin-makin.kita tunggu sampe malam aja kalau misal tidak juga mereda sakitnya,kita bisa ambil tindakan." ujar bu dokter.Ayana memutuskan untuk segera pulang ia ingin istirahat agar perutnya tidak sakit lagi.jika memang dirinya akan melahirkan sekarang juga Ayana sudah pasrah tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu menyiapkan mental untuk kelahiran bayinya.


Pukul 8 malam Gio baru kembali bersama putrinya.ia di sambut oleh suster Titi dan langsung mengajak Jemia mandi.Gio menemui si kembar yang sedang main lempar bola di ruang tivi sambil joget cocomelon.


"Ayah bawa semangka tuh dari Nenek. kalian mau?" tawar Gio yang di angguki oleh kedua anaknya itu." Di makan ya,ayah mandi dulu." suruh Gio setelah memberikan potongan semangka yang baru di potong oleh suster Risma.Gio melihat sekeliling rumah tidak ada Ayana di sana.apa mungkin istrinya itu sudah berada di kamar pikirnya." Non Aya kemana sus?"


"Non di kamar mas.sakit katanya kami panik tadi.di kiranya mau lahiran taunya nggak jadi.cuma keram biasa mungkin non Aya kecapean." ujar suster Risma membuat Gio terkejut.tak menjawab lelaki itu segera memasuki kamar.di sana Gio melihat Ayana meringkuk di kasur dengan ponsel yang menyalakan suara murotal alquran.ia mendekat melihat keadaan Ayana yang sedang tidur itu.Gio mengecek suhunya normal dan sepertinya tidak ada masalah.


"Sayang.apa yang sakit?" tanya Gio lembut seraya membelai pipi Ayana.


Merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh dahinya Ayana membuka mata ia menatap wajah Gio yang berada di atas wajahnya.wajah lelaki itu terlihat lelah rambutnya juga kusut dan berantakan.rasa tidak tega memenuhi hati Ayana.ia hanya diam beradu tatap dengan Gio.baru akan membuka suara tapi kejadian tadi siang mengingatkannya.


"Awas." segera saja Ayana mendorong Gio rasa benci dan kecewa pada lelaki itu semakin menjadi.mengingat Gio tidak manjawab mengabaikan beberapa pesan dan panggilan darinya.dan memilih mengantarkan wanita lain.


"Katanya kamu sakit?apa yang sakit,Yang?mau kerumah sakit,hmm?aku anter hayuk mungpung belum mandi." tawar Gio.


"Gak perlu." ketus Ayana kemudian bangun dan segera ke luar kamar membuat Gio keheranan.merasa sudah biasa dengan amukan istrinya.dengan kemarahannya yang suka tiba-tiba kumat.Gio memilih tak ambil pusing ia segera mandi dan makan malam.saat malam sudah tiba Gio merasa heran karena Ayana tak kunjung masuk kamar.ia memilih keluar mencari keberadaan istrinya yang ternyata tidur di kamar anaknya.tak ingin menganggu waktu istirahat Ayana karana biasanya wanitanya itu akan mengamuk.Gio keluar dari kamar anaknya menonton siaran bola hingga hampir pagi dan ketiduran di sofa.


"Non kita mau ke rumah nyonya kan?" Gio terbangun mendengar suara suster Titi juga kericuhan di dapur karena anaknya sibuk meminta makan.


"Iya,siapin baju kalian yang banyak.kita akan lama di sana,dan kemungkinan gak balik lagi kesini." suara Ayana membuat kesadaran Gio kumpul semua.lelaki itu memilih segera ke kamar mandi membersihkan diri secepat kilat kalau bahasa gaulnya mah mandi ular.hanya nyebrang saja." Suapin dulu anak-anak sus.saya mau sarapan dulu." ujar Ayana lalu duduk di meja makan.


Gio membelalak melihat deretan koper besar yang ada di depan kamar mereka. dan satu persatu sedang di angkut ke dalam mobil oleh si bibi." Kamu mau ke mana,Yang?" tanya Gio setelah mendudukan diri di kursi makan di depan Ayana.


"Aku lagi sarapan.mungpung lagi gak eneg jangan bikin selera makan aku hilang." peringat Ayana membuat Gio bungkam dan memilih makan.pergerakan Ayana tak luput dari pandangan Gio.lelaki itu memperhatikan Ayana yang sibuk menyuruh para susternya menyicil barang barang dan keperluan anak-anak ke dalam mobil.


"Kamu mau kemana?kenapa bawa baju dan barang banyak banget gitu?mau nginep di rumah Mamah?" tanya Gio saat Ayana keluar kamar sambil membenarkan tataan rambutnya.


"Aku mau pulang ke rumah." jawab Ayana datar membuat Gio terkejut.


"Pulang kemana?ini rumahmu,rumah kita,"


"Pulang ke rumah Mamah.ke rumah aku."


"Cuma nginap kan?ya udah hayuk biar aku antar." Gio mencoba untuk biasa saja padahal dalam hatinya sudah panik luar biasa.


"Gak usah.aku bisa pulang sendiri sama anak-anak.dan kamu di sini aja." tolak Ayana cepat seraya membuka laci meja mencari kunci mobilnya.namun pada saat kuncinya ketemu Gio segera merampas.


"Apa maksudmu?kenapa tiba-tiba mau pulang begini?ada masalah apa?bilang sama aku ada apa?jangan main pulang aja." Gio sudah tidak sabar ingin tahu apa yang menyebabkan Ayana ingin pulang.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa." jawab Ayana dan masih berusaha merebut kunci dari tangan Gio." Sini kembalikan.aku mau berangkat sekarang.kamu kalau butuh sesuatu ada bibi di sini yang akan bantu kamu." ucapnya membuat rahang Gio mengeras.


"Katakan Aya,ada apa?" tegas Gio penuh penekanan." Aku gak butuh siapa pun selain kamu.ada apa sih hingga kamu mau pulang dengan tiba-tiba begini.gak bilang gak apa.ijin juga nggak,kamu main pulang aja." lanjut Gio yang sudah merasa kesal itu.


"Aku gak perlu ijinmu.mau pulang atau di sini terserah aku dong.kamu gak bisa ngatur aku mau tinggal di mana." balas Ayana dengan sengit membuat gigi Gio gemeletuk." Kamu mau tau kan?aku udah gak mau tinggal serumah lagi sama kamu kita udah gak cocok lagi.kamu juga tau akhir-akhir ini kita sering cekcok kita udah gak sejalan lagi."


"Tapi gak dengan kaya gini juga setidaknya kita bisa obrolin baik-baik dengan kepala dingin.jangan seperti ini kamu main ambil keputusan secara sepihak.gak,nggak bisa kaya gini." bantah Gio tidak setuju dengan ucapan Ayana." Seenak jidat banget kamu maen pulang gitu aja.aku masih suami kamu tolong hargai keberadaan aku. setidaknya kamu kasih tau dulu aku."


"Masih suami?kalau kamu ngerasa masih jadi suami aku berarti seharusnya kamu ada dong saat aku membutuhkan?lalu kamu kemana.Gi?kemana saat aku membutuhkan kamu?kamu pergi dan mengabaikan panggilan juga pesan aku. lalu untuk apa aku punya suami kalau pada saat aku butuh kamu gak ada?."


"Kapan itu?kapan kamu ngebutuhin aku, hmm?" Gio mendakat membidik istrinya dengan tajam hingga Ayana menelan ludah." Bahkan keberadaan aku aja di rumah kamu anggap patung.perhatian aku selalu kamu tolak,keinginan aku kamu abaikan,dan segala usahaku tak terlihat dimata kamu.lalu kapan kamu membutuhkan aku?." Ayana tak menjawab hanya dadanya yang naik turun,serta tatapan tajamnya masih menghunus pada Gio.tarikan napasnya memburu menahan amarah yang ingin meledak.semakin kesini mudah sekali emosinya meledak-ledak dan tak terkontrol.


"Kita lagi kaya gini sebaiknya jangan ada yang keluar dari rumah.gak bagus suami istri yang sedang ada masalah tapi salah satunya keluar dari rumah." suara Gio kembali melembut ia meraih tangan Ayana yang langsung di tepis oleh sang empu.


"Aku akan tetap pulang sekarang.dan aku ngerasa rumah tangga ini udah gak bisa di lanjutin lagi,hubungan kita udah gak sehat kalau kaya gini.percuma kalau di paksakan yang ada nanti akan saling menyakiti.aku gak mau anak-anak tumbuh di tengah keluarga yang gak sehat dan_"


"Cukup,Sayang.tenangin dulu diri kamu. kamu lelah dan butuh istirahat.aku udah bilang banyakin istirahat jadi ngelantur kan ngomongnya." Gio mengabaikan ucapan Ayana dan mencoba membujuk sang istri berusaha membawanya ke dalam kamar tapi tak berhasil karena Ayana menolak.


"Aku sadar ngucapin ini,Gi.dan serius gak lagi main-main.jujur,aku udah gak bisa hidup dan bertahan sama kamu lagi.anterin aku pulang dan beresin ke Papah dengan baik-baik.kita pisah aja dan anak-anak ikut aku."


Gio tak langsung bersuara ia hanya diam melihat jatuh ke dalam manik Ayana yang memancarkan kesungguhan itu." Ya udah kalau emang mau nginap mah,aku anterin." Gio menarik pelan tangan Ayana membawanya ke luar dan meminta bibi untuk mengunci pintu jika sudah selesai dengan pekerjaannya.Ayana menurut ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Gio yang menyetir.dalam perjalanan keduanya diam hanya suara kedua suter yang sedang bercerita dengan ketiga anak mereka.


Kurang dari dua puluh menit mobil yang di kendarai oleh Gio memasuki cluster rumah Ayana dan parkir cantik di halaman rumah besar itu.Ayana turun lebih dulu membantu suster menurunkan anaknya tak lama Monica keluar rumah ikut membantu dan Gio menurunkan barang mereka.Monica menyambut dengan senang kedatangan anak dan cucunya itu.namun ia sedikit heran dengan beberapa koper yang di bawa oleh mereka.tumben sekali pikirnya. dulu saja pada saat mereka tinggal lama di sini Ayana tidak membawa barang sebanyak itu.lalu kenapa sekarang seperti akan pindah saja.


"Mah." Gio menyalim tangan ibu mertuanya ia menoleh pada Ayana yang meloyor masuk begitu saja tak mengatakan apa pun." Papah mana?"


"Di dalam baru beres ngeteh." balas Monica dan meminta Gio langsung masuk ke dalam saja.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Pah,aku kesini mau titip Aya.katanya dia pengen nginep lama,mungkin suasana hatinya lagi kurang bagus kali jadi dia maksa pulang.apa lagi kan lagi hamil tua begitu mungkin dia butuh suasana baru agar fokus pada persalinan." Frans mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan.


"Sejujurnya kami memang lagi ada sedikit masalah, Pah.biasa masalah pribadi. karena itu Aya maksa pengen kesini dulu katanya.aku titip mereka bentar ya Pah dan janji aku akan jemput Aya lagi kalau pikirannya udah tenang." Gio menahan napas menunggu respon Frans.


"Papah mengerti.kamu gak usah kawatir Aya dan anak-anak aman di sini.silakan tenangkan dulu pikiranmu juga.setelah merasa lebih baik kamu jemput lagi mereka." jauh dari dugaan Gio.ia kira Frans akan bertanya-tanya mengenai masalah yang terjadi antara dirinya dan Ayana.tapi rupanya ayah mertuanya Gio itu cukup bijak dan santai.


Gio memeluk dan mencium anaknya satu persatu.berat rasanya meninggalkan mereka di sini meski pun sangat sering,tapi kali ini rasanya berbeda.seandainya saja Ayana mengijinkan Gio ikut menginap di sini tentu saja dia akan sangat senang.tapi Gio sadar bahwa sejak awal Ayana tak ingin dirinya ikut serta.


"Teteh Jemi sama adik-adik di sini dulu ya. ayah mau kerja dulu,nanti kalau udah selesai ayah jemput kalian.oke." ujar Gio pada ketiga anaknya.mereka mengangguk serempak membuat hati Gio seperti teriris rasanya perih dan sesak.


"Kapan ayah akan jemput Jemi dan adik?" tanya Jemia,binar matanya yang bulat dan tajam itu menatap sang ayah penuh harap bahwa ayahnya akan mengatakan secepatnya menjemput mereka.


"Secepatnya dong,tunggu kerjaan ayah beres." jawab Gio.lelaki itu mati-matian menahan laju air matanya agar tidak tumpah


"Yeahhh,nanti ayah bawa mainan ya?buat aku sama adik." Jemia melompat-lompat dengan girang.


"Okeee."


"Tapi sebelum adik bayi keluar ayah udah pulang kan?" tanyanya lagi.Gio mengangguk menahan sesak yang kian menjadi kala melihat wajah ketiga anaknya yang penuh harap itu.


"Nanti aku jemput ya." ujar Gio pada Ayana setelah lelaki itu masuk ke kamar sebentar untuk pamitan pada istrinya." Aku juga nanti bakal sering mampir kesini nengokin kalian.kalau-kalau kamu ijinin aku nginap juga."


"Bilang sama ibu sementara aku gak bisa nengokin dulu." Ayana tak menanggapi ucapan Gio malah bicara yang lain tapi Gio tetap mencoba untuk paham.


"Iya,kamu janji ya banyakin diam di rumah istirahat,Yang.bentar lagi lahiran kan."

__ADS_1


"Iya." Ayana menjawab sekedarnya wajahnya mulai menunjukan ketidaksukaan Gio berada di sana.Gio yang paham pun segera pamit tak ingin membuat Ayana tambah membencinya.ia sadar diri bahwa sekarang Ayana sudah tak membutuhkannya dan mungkin juga sudah tak menginginkannya lagi.dalam perjalanan pulang Gio menerima telepon dari kakanya.


"Iya Ka,kenapa?" Gio menempelkan ponsel pada telinganya menggunakan tangan kiri. karena tangan kanan sibuk memegang kemudi.


"Nyusul ke rumah sakit ya,Gi,ibu jatuh di kamar mandi." suara decitan ban dan aspal memekakan telinga akibat gesekan yang cukup kencang.Gio ngerem mendadak saking terkejutnya.


"Ka." hanya itu yang keluar dari mulut Gio. setelahnya ia menangis takut di tinggalkan oleh sang ibu.tak pikir panjang setelah tangisnya mereda lelaki itu langsung melesat menuju rumah sakit tempat Mira di rawat.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Ternyata ka Aya kemarin kerumah,Gi.tapi gak nemuin kaka sama ibu,cuma nitipin makanan di teh Wina.kaka kelupaan bilang ke kamu karena sibuk ngurus ibu dan Billa." Gio yang sedang menunduk dalam itu seketika mendongak mendengar kakanya.


"Maksudnya Aya ke rumah kita?jam berapa?" tanyanya tak sabaran.


"Kata teh Wina sih pas kamu nganterin Manda.itu pas banget ka Aya datang tapi dia memilih diam di warung teh Wina." jelas Indri membuat Gio meremas rambutnya." Tapi kenapa gak kerumah ya?apa dia kesal sama kaka kali ya."


"Teh Wina bilang apa?" tanya Gio lirih.


"Gak bilang apa-apa sih.cuma katanya ka Aya cuma diam aja ngelihat kamu pergi nganterin Manda." mendengar ucapan kakanya Gio mengurut pelipis pening seketika." Jangan-jangan ka Aya marah ke kita,Gi.takutnya kan cemburu atau apa gitu namanya hati orang gak ada yang tau meski selalu bilang nggak dan nggak terus tapi siapa yang tau kan."


"Kaka pulang aja dulu,ambil keperluan mungpung aku di sini." sela Gio ketika Indri akan bicara lagi.seketika moodnya hancur bahkan melihat Indri berada di sana saja ia menjadi kesal.


Sepeninggal Indri sembari mengusapi Billa yang sedang tidur,Gio mencoba menghubungi Ayana ingin meluruskan kesalah pahaman istrinya itu.karena ia yakin Ayana pasti salah paham atas apa yang di lihatnya kemarin.namun sudah lebih dari sepuluh panggilan pun masih di abaikan oleh perempuan itu.karena panggilan dan pesannya di abaikan kekesalan Gio memuncak.padahal wanita itu sedang online di aplikasi chatnya tapi enggan menanggapi semua pesan dan panggilan dari Gio.beberapa pesan ia sampaikan menjelaskan mengenai ia yang mengantar Amanda ke rumah sakit.Gio tahu Ayana pasti meminta pulang karena itu Gio tahu betul kecemburuan Ayana pada Amanda masih ada dan akan selalu ada.


Dua hari setelah itu Gio masih sibuk mengurusi ibunya di rumah sakit.ia juga mengabarkan pada Ayana bahwa sang ibu jatuh di kamar mandi dan sempat tak sadarkan diri karena kepala bagian bawahnya sempat terbentur ujung bak mandi.tadi pagi Monica dan Frans juga sempat datang untuk melihat keadaan Mira sekaligus mewakili Ayana yang tidak bisa datang untuk sementara ini.wanita baya itu juga meminta Gio untuk fokus dulu pada kesembuhan ibunya.mengingat hanya Gio yang bisa di andalkan karena Indri sendiri kerepotan.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ayana menselonjorkan kakinya di sofa seraya mengemut eskrim sisa anaknya makan.ia memainkan ponsel iseng melihat akun sosial media milik Gio.tidak ada apa pun masih sama baik postingan mau pun storynya tidak ada yang baru.namun saat jempol Ayana akan memencet tombol menutup akun itu.matanya tak sengaja melihat akun bernama Amanda khairunisa. jiwa kepo Ayana meronta ia pun membuka akun itu yang kebetulan tidak di kunci itu.


Mata Ayana membelalak kala melihat postingan terbaru di akun Amanda postingan seorang bayi laki-laki yang tampan,wajahnya mirip dengan suami dari wanita itu.namun jika di lihat lamat-lamat kok jadi sedikit mirip dengan Gio sih.


Amanda khairunisa14:Selamat datang ke dunia anak soleh Khalil Dewandaru Narendra.hihi,namamu terinspirasi dari nama seseorang yang membawa kita kemari ya nak.kalau bukan om tampan itu yang bawa kita kesini,entahlah apa yang terjadi pada kita berdua.kita harus berterima kasih loh,Khalil sama om itu. terima kasih telah hadir di hidup umi,nak. kamu penyemangat umi,katakan pada dunia kalau kau berharga Khalil.kamu punya umi dan keluarga umi,kami akan mencintaimu nak.


"Kurang ajar kamu,mbak." napas Ayana memburu ia melempar ponselnya hingga retak ujungnya.Ayana berdiri dan melempar apa saja yang ada di meja itu." Bajingan,perempuan gak tau malu.sampai kapan pun gue gak rela nama suami gue di sandingkan di belakang nama anaknya. kenapa gak nama lelaki biadab itu aja." amukan Ayana mengundang bi Narti dan Mimin yang sedang rujakan di samping kolam ikan.


"Non,ya allah kenapa?" tanya bi Narti melihat beberapa hiasan bunga yang berserakan di lantai.


"Bi sini." panggil Ayana pada Bi Narti." Kamu juga sini." pada Mimin.kemudian mengambil ponselnya memperlihatkan foto bayinya Amanda." Coba kalian lihat. dan katakan dengan jujur dia mirip Gio apa nggak."


Baik Mimin mau pun bi Narti keduanya terkejut dan saling pandang.lalu mulai memperhatikan foto anak bayi itu lamat-lamat." Mirip dari mananya Non?ini mah kaya orang arab vietnam gitu mukanya.sedangkan mas Gio mah bule jasa kaya orang eropa.beda ah." ujar Mimin dengan jujur.karena memang beda tentu saja.bayi itu memiliki wajah yang unik perpaduan Amanda dan Raka.perpaduan antara arab dan chinese.meski wajahnya lebih ke arab tapi matanya sipit mirip dengan ayahnya.


"Iya non,gak mirip sama sekali.den Gio itu bule banget mukanya.sedangkan ini beda lah." Bi Narti menggelengkam kepalanya." Lagian non kok bisa bilang ini mirip den Gio sih,emang non Aya lihatnya mirip gitu?"


Ayana menarik napas panjang,antara lega dan bersukur.mungkin memang matanya yang bermasalah hingga tak melihat dengan detail wajah bayi itu.atau mungkin juga akibat ia yang sudah di kuasai amarah hingga salah melihat wajah bayi itu.


"Gapapa sih bi,cuma kesel aja ada orang yang tiba-tiba mengirimkan foto itu. biasalah orang butuh uang." Ayana terpaksa berbohong.tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya." Tapi bibi bener kan,kalau bayi itu gak mirip ayahnya anak-anak?" Ayana memastikan sekali lagi.


Mimin dengan cepat mengeleng." Ya nggak atuh non,Jemjem tuh baru mirip mas Gio.bener-bener sama bak pinang gak di belah.cuma kelamin mereka aja yang beda."


"Mulutmu." tegur Bi Narti membuat Mimin kicep.


"Gitu ya?." sahut Ayana setelah bisa menguasai dirinya." Buatkan saya jus alpukat Bi,aus dan lapar." pintanya kemudian seraya pergi ke kamar setelah mendapat balasan dari Bi Narti.


"Bi,si non kenapa ya?apa mas Gio selingkuh?" kepo Mimin.

__ADS_1


"Mana mungkin selingkuh sih Min,udah dapat berlian begitu kok di selingkuhi.kalau bener mah siap-siap di gerus tuan Frans." ujar Bi Narti sembari meninggalkan Mimin yang bergidik ngeri.


__ADS_2