Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
97


__ADS_3

"Aku bersumpah.demi tuhan,Gi.aku gak melakukan apa-apa dengan dia.gak ada yang terjadi antara aku dan Jerrian.kamu bisa periksa semuanya,lihat lah aku gak melakukan apa pun." Ayana meraih kedua tangan Gio dan memaksa lelaki itu untuk memeriksa seluruh tubuhnya.


"Ayo periksa dan lihat gak ada jejak apa-apa kan?ini bersih dia tidak menyentuhku." kembali Ayana memaksa Gio untuk melihat seluruh tubuhnya.ia membuka baju yang melekat di tubuhnya baju itu terlepas dari tubuh Ayana saat ini ia hanya memakai celana street hitam dua jengkal di atas lutut dan bh berwarna senada.


"Kamu bisa lihat semuanya.aku gak melakukan apa pun." tanpa di minta Ayana melepas celana beserta dal*mannya.ia memperlihatkan kepada Gio meski lelaki itu tak bereaksi apa-apa.Ayana menggoyangkan tangan Gio." Aku bersumpah,aku ini hanya milik kamu,Gi. hanya kamu yang menyentuh aku." air matanya meluruh dadanya semakin sakit saat Gio tidak menunjukan reaksi apa pun hanya menatapnya nanar.


"Aku mohon,ngomong Gi.ayo maki aku pukul aku.jangan diam aja kaya gini." Ayana tersedu di depan Gio dalam keadaan polos tanpa memakai apa pun.ia duduk di tepi ranjang dengan bahu bergetar." Maafin aku.maaf." raungnya.


Tangan Gio terulur mengambil baju terusan yang sempat Ayana kenakan tadi kemudian memakaikannya pada sang istri. ia mengusap air mata Ayana dengan ibu jarinya." Iya Sayang,aku tau,jangan menangis.pake dulu bajunya.ini dingin nanti kamu sakit." ujarnya pelan dan sangat pelan.


"Iya.tapi kamu ngomong dulu jangan diam kaya gini." isak Ayana membuat Gio perih ia meraih wanitanya itu membawa ke pelukannya mendekapnya dengan erat. meski perasaannya hancur tapi cintanya tak mungkin langsung pudar saat ini juga kan.


"Maaf." ucapnya sembari mengecup pucuk kepala Ayana ." Tidur ya istirahat. nanti air madunya di minum lagi.obatnya juga jangan lupa.perutnya udah enakan belum?" Gio mengelus perut Ayana.tadi katanya istrinya ini masih merasakan perutnya yang melilit.


"Udah nggak." jawab Ayana sangau.


"Itu bagus.pake dulu celananya_" Gio meraih telepon yang berbunyi rupanya itu dari Frans." Iya Pah,"


"Bawa Ayana ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.lakukan visum atau apa lah itu namanya.ke bidan juga boleh guna memeriksa apakah terjadi perbuatan menjijikan itu atau tidak.mungkin saja,kita tidak tau kan.karena Ayana sendiri pun mungkin dalam keadaan tidak sadar." Gio diam membiarkan Frans melanjutkan kalimatnya.ia melirik Ayana yang menggigit jarinya menangis tanpa suara tentu saja ia mendengar semua ucapan ayahnya.


"Demi tuhan,Papah tidak mengharapkan itu terjadi Gi.namun demi kebaikan kita semua.juga mungkin bisa sedikit saja mengurangi rasa kecewamu.maka lakukan dengan segera minta petugas kesehatan untuk memeriksa keadaan Ayana.setelah itu kalian pulang." tutup Frans kemudian mematikan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Gio.


"Papah benar.ayo kita ke rumah sakit lakukan itu Gi.sebagai bukti agar kamu percaya sama aku,bahwa gak terjadi apa pun sama sekali nggak." paksa Ayana setelah Gio memasukan ponsel ke dalam sakunya.


"Untuk apa?gak perlu melakukan itu.Aku pergi dulu,ada yang harus aku kerjakan. mau makan apa?nanti pulangnya aku beliin." Gio tak menanggapi permintaan Ayana.ia abai dan segera keluar dari kamar tak lama ia kembali membawa makanan untuk Ayana sarapan yang ia minta dari penjaga Villa.kemudian pergi meninggalkan istrinya yang kembali meraung.


Siang harinya setelah membereskan semua pekerjaannya,Gio kembali ke Villa dan meminta Ayana untuk istirahat karena dia beralasan akan mengurusi pekerjaan yang belum selesai.Gio mengirim pesan kepada Jerrian meminta lelaki itu untuk menunggunya di pantai karang seke.pantai itu tidak jauh dari rumah Pak Rahmat karyawannya.


"Tidur aja,aku ada urusan bentar." pamit Gio pada Ayana setelah menyelimuti istrinya itu ia berlalu dari sana menyisakan Ayana yang sesegukan di dalam selimbut.


Gio masih belum mau bicara dengannya. lelaki itu melarang Ayana untuk menjelaskan dengan apa yang terjadi. setiap Ayana akan membuka suara dengan cepat Gio mencari alasan.ia pura-pura sibuk dengan pekerjaan membuat Ayana mengalah.


[Tunggu saya di Karang seke]


Bunyi pesan Gio kepada Jerrian.membuat lelaki itu meringis.padahal ia baru saja akan kembali ke jakarta karena ayahnya meminta dirinya kembali secepatnya.lagi pula Frans juga sudah melepaskannya jadi ia harus segera kembali ke Jakarta.ada urusan lain yang harus ia selesaikan secepatnya.


Gio berdiri di bibir pantai dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam kantung celananya.lelaki itu menghadap luasnya hamparan laut di hadapannya itu dengan tatapan kosong.bunyi ombak yang berdebur-debur menghantam bebatuan dan karang.sama seperti keadaan hati dan perasaannya yang saat ini berdebur lebur rasanya seperti di himpit dan di hantam bebatuan ribuan ton.Air matanya mengalir di pipi putihnya dengan kasar ia menyekanya.namun air mata sialan itu malah bertambah deras bahkan sudah menyeruak berjatuhan.bayangan saat Ayana membetulkan bathrobe pada tubuh polonya dan lelaki itu yang hanya menggenakan celana saja dan bertelanjang dada.membuat seluruh hati Gio hancur.bahkan saat ini ia cukup sulit bernapas karena sesak ada yang menghimpit dadanya.


"Nggak.nggak mungkin." gumamnya mencoba menepis bayangan itu yang mampir di kepalanya.


Langkah Jerrian terhenti saat ia melihat Gio berdiri di hadapannya.perasaan takut dan bersalah menyelimutinya saat ini.ia menarik napas dan memberanikan diri untuk menghadapi Gio.apa pun hasilnya ia harus terima.


"Gi." sapanya pelan hampir kabur oleh terpaan angin yang begitu kencang saat ini.


Gio membalikan tubuhnya menghadap pada Jerrian membuat lelaki itu tersentak melihat wajah merah padam Gio.Gio mengangkat sudut bibirnya menyunggingkan senyum sinis membuat nyali Jerrian ciut seketika." Puas bang?gimana perasaan lo setelah diam-diam mencari kesempatan dalam kesempitan?" tanya Gio dengan suara dalam.


Jerrian menggeleng ia membantah tuduhan Gio meski tidak sepenuhnya." Gi. saya bisa jelasin atas kesalah pahaman ini demi tuhan.saya gak ngapa-ngapain sama Ayana.gue cuma bantu istri lo di saat semua orang lagi pada sibuk.percayalah Gi.gak mungkin gue ninggalin Ayana dalam keadaan seperti itu." Jerrian sudah tidak formal lagi demi meluruskan kesalah pahaman itu secepatnya.Jerrian menelan ludah melihat wajah nyalang penuh bara itu menatapnya tanpa kedip.buru-buru ia menguasai diri agar tidak terlihat takut di depan Gio.


"Lo tau semalam om Frans lagi sibuk banget dan panik.tante Monic di tahan dan korbannya neken buat kasih uang sesuai dengan yang mereka minta.lo juga sibuk dan belum kembali.Pak Surya sibuk dan entah kemana gue gak tau.Pak Rudy kesana sini di minta Om Frans.bahkan dia nyari obat untuk Ayana sampe ke alun-alun sana.lo tau jauhnya kaya apa?ponsel gue jatuh gak tau dimana,gue udah usaha nyari tapi nihil.dan gak mungkin gue lama-lama ninggalin Ayana dalam keadaan seperti itu.kalau ada apa-apa sama dia gimana?."


Gio masih tak bergeming menatap Jerrian dengan mata elangnya yang tajam.bahkan lelaki itu hampir tidak berkedip ia terus menghujam Jerrian dengan tatapan membunuh.kemudian lelaki itu maju dua langkah membuat Jerrian waspada mundur dua langkah namun ia sadar betul dirinya bersalah dan kembali diam di tempat dan akan menhadapi seperti apa pun kemarahan Gio padanya.


"Ayana itu muntah,mau gak mau gue buka bajunya dan bersihin muntahannya.gak mungkin kan gue biarin dia tidur basah oleh muntahan?Ayana juga gak bisa buka matanya dia udah gak sadar.tengah malam begitu gue minta tolong ke siapa coba Gi?."

__ADS_1


"Ibu penjaga Villa masih hidup,dia cuma tidur gak mati.kalau lo punya sedikit aja otak dan tahu batasan,lo bisa panggil dia tidak peduli kapan pun itu.lo minta tolong dan itu sudah menjadi tugas dia sebagai pemilik.mereka gak akan nolak." Jerrian merinding mendengar suara Gio yang penuh kemurkaan itu.


"Gue gak kepikiran kesana_"


Bugh


Secepat kilat tinju Gio melesat menghantam mulut Jerrian.pria yang tidak siap akan serangan itu tersungkur ke pasir baru Jerrian akan berdiri Gio kembali menghantamkan bogemnya mengenai rahang Jerrian hingga pria itu kembali terjengkang.Gio menerjang sekali lagi lebih mudah baginya karena Jerrian tidak melakukan perlawanan sama sekali.


"Bajingan." Gio duduk di atas tubuh Jerrian ia memukuli lelaki itu membabi buta dengan kemarahan yang sudah mencapai level akhir.


"Gue minta maaf." suara Jerrian terdengar di sela erangannya dan itu membuat level kemarahan Gio meningkat." Silakan bunuh gue kalau itu bikin lo puas."


"Sekali pun lo mati,gak akan mengembalikan semuanya,anjing." murka Gio dan pukulannya makin tak terkendali. mungkin sekitar lima menit Gio menghajar Jerrian sampai ia sendiri terengah.ia melepaskan Jerrian akhirnya setelah dirinya merasa cukup sulit bernapas. kemarahan yang sudah di ujung batas di tambah memukuli lelaki itu.membuat Gio kesulitan mengendalikan diri dan itu membuatnya berhenti.Gio terduduk di pasir dengan napas naik turun ia menatap tangannya yang terkena darah dari mulut Jerrian.kemudian tatapannya teralih pada Jerrian yang sedang mengatur napasnya sambil terbatuk-batuk dan masih telentang di atas pasir putih tersebut.


"Jangan sakiti Ayana setelah ini,dia gak tau apa-apa.ini murni kesalahan gue.gue yang gak memikirkan apa pun dan hanya keselamatan Ayana yang saat itu ada di kepala gue." ujar Jerrian dengan lirih ia menatap ke atas langit tanpa menoleh sedikit pun pada Gio.sebetulnya ingin ia melawan dan membalas pukulan lelaki itu namun sadar akan kesalahannya Jerrian memilih diam dan pasrah.


"Gue juga minta maaf karena udah salah menaruh perasaan.gue sadar dia istri lo tapi mencintainya sama sekali gak salah kan?perasaan tidak di bisa paksakan bukan Gi?pada siapa ia akan berlabuh.tapi gue hanya sebatas mencintai Ayana tanpa berniat merebut dari lo,apa lagi memilikinya.gue cukup sadar diri dan gak segampang itu juga buat dapetin dia." Jerrian terbatuk dan meringis merasa dadanya remuk saat ini." Tapi kalau lo ngelepas dia,gue siap bersaing dengan lelaki lain dan orang pertama yang akan maju paling depan_"


Kalimat Jerrian terhenti karena Gio kembali menerjang dan memukulinya tanpa ampun." Itu hanya dalam mimpi dan angan lo aja." maki Gio sambil melayangkan satu pukulan telak mengenai hidung Jerrian.


Pria itu terkekeh menyeka darah yang keluar dari hidungnya membuat Gio tambah geram." Tapi gue bisa buktiin mimpi dan angan gue itu.lo gak percaya?coba aja." tantang Jerrian.rupanya emosinya tersulut dan itu semakin membuat Gio meradang.namun ia sadar dan segera melepas Jerrian kemudian duduk menyandar pada pohon kelapa. Jerrian merangkak pelan dan berusaha menyandarkan setengah kepalanya pada akar tunggul kayu yang berada di dekatnya.


"Ternyata begini sulitnya ya,mencintai wanita bersuami." ucap Jerrian yang tak di pedulikan sama sekali oleh Gio." Ah,gue kalah cepat.Gue terlambat menemukan Ayana,begitu ketemu dia udah berkeluarga." katanya lagi.ia menoleh pada Gio yang duduk di pasir sambil menyandarkan kepalanya." Lo tau Gi?gue udah suka sejak dulu sama dia.tapi gak berani ngomong karena gue takut dia ngejauh karena dia banyak yang suka."


"Pengecut." balas Gio membuat Jerrian diam seketika." Itu namanya pengecut. takut kalah sebelum perang." ejek Gio dengan senyum sinis.


"Sialan." Jerrian tersulut emosi ketika kata hinaan itu terlontar dari mulut Gio.ia bangun dengan cepat mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya menghajar Gio yang tengah duduk itu.tentu saja Gio terkapar di pasir tidak siap akan serangan itu.Jerrian memukulinya tanpa ampun sama seperti tadi Gio menyerangnya.


"Jangan sombong.gue bisa aja ambil semua milik lo saat ini.itu mudah bagi gue jadi jangan main-main." geram Jerrian.


"Yakin?termasuk setelah gue cicipi?gak apa kan gue icip dikit milik lo?_


"Bangsat." tenaga Gio bagaikan banteng mengamuk.kedua lututnya bertumpu di atas pasir,tangannya mencekik leher Jerrian." Omong kosong." teriaknya.


Jerrian yang menahan sesak itu berusaha melonggarkan cekikan tangan Gio di lehernya." Siapa bilang?omong kosong?lo salah,gue udah nyicip seperti apa nikmatnya liang sempit itu_"


"f*ck." cengkraman tangan Gio makin kuat di leher Jerrian." Kalau aja di dunia ini gak ada hukum.lo mati saat ini juga.bangsat." suara Gio bergetar menahan rasa sesak juga kemarahan yang sudah mencapai batas.


"Silahkan bunuh gue.tapi ingat,kalau nanti setelah ini,ada anak yang lahir dari rahim Ayana.ketahuilah itu milik gue." susah payah Jerrian mengatakan itu.sebelum ia merasa nyawanya hampir lepas dari raganya.Jerrian merasa mungkin inilah ajalnya,akhir hidupnya mati di tangan Gio biarlah,biar saja.ia rela dan tak apa asalkan Gio juga tidak akan hidup tenang setelah ini.meski apa yang ia ucapkan semua itu adalah bohong hanya karangan semata namun ia puas melihat wajah Gio yang berubah pias.


Gio melangkah lunglai meninggalkan Jerrian yang hampir tak sadarkan diri,ia pergi menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan.Gio masuk dengan menutup pintu mobil begitu pelan seakan tak bertenaga.ia mulai menjalankan mobilnya menuju tempat yang sepi.di sini Gio termenung menatap kosong ke depan.ia duduk menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi.lelaki berusia hampir 23 tahun itu meraup wajahnya kasar.menjambak rambutnya kemudian membenturkan keningnya pada kemudi berulang kali namun semua itu tetap tak mengurangi rasa sakit di dadanya.


"Kenapa Aya?kenapa semua ini?." lirih Gio ia menangis tanpa suara.wajah putihnya memerah secara keseluruhan.yang paling terlihat jelas adalah pelipisnya merah kebirun akibat pukulan Jerrian.bibirnya juga berdarah dan lebam.


"Aku percaya kamu,tapi mengapa ini sulit." Gio menggigit bibir dan jarinya dalam tangis.dia percaya pada Ayana bahwa ucapan istrinya itu benar,ia tahu bagaimana Ayana,wanitanya itu selalu jujur dan tidak pernah membohonginya.karena itu ia menolak perintah Frans membawa Ayana ke rumah sakit untuk memeriksa wanita itu.bukan tanpa alasan,selain semua itu dapat mempermalukan Ayana. itu juga bisa membuat harga diri Ayana jatuh.ia tak ingin menyakit wanitanya itu.ia percaya bahwa apa yang si bajingan itu katakan semua hanya omong kosong namun mengapa sulit sekali.sangat sulit untuk mempercayai Ayana.padahal dia sudah berusaha untuk sepenuhnya percaya pada sang istri.


Gio yakin semalam Ayana memang tidak sadar sehingga dia berakhir seperti itu.tapi bagaimana bisa mereka tiba-tiba dan berada dalam satu kamar.ia memang belum mendengar dari siapa pun termasuk dari ayah mertuanya.tentang bagaimana mereka bisa berakhir dalam satu kamar.kecuali dari pria sialan itu tadi." Gak mungkin kan,nggak." racu Gio sembari mengusap kasar air matanya napasnya menderu hawa marah tiba-tiba kembali menggelegak dalam dada pria itu.tiba-tiba ponsel Gio bergetar ada panggilan masuk dari kakanya.


"Iya Ka,gimana ibu?." tanya Gio langsung.


"Ibu masih sama,belum menunjukan perubahan sama sekali.kamu gak bisa pulang dulu apa Gi?kasian ibu dia terus nanyain kamu."


Gio menghebuskan napas kasar tanpa suara." Malam ini aku pulang.dan nanti langsung ke rumah sakit."

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Indri tanpa menanggapi ucapan Gio." Kamu nangis atau lagi pilek." lanjut kakanya Gio itu begitu penasaran " Kamu nangis Gi?."


Gio menggigit bibirnya berusaha mengusai keadaan." Iya,aku kepikiran sama ibu." jawab Gio terpaksa berbohong untuk menutupi semuanya.ia juga tidak akan membiarkan kakanya itu tahu mengenai masalahnya saat ini.


"Sabar,ibu baik-baik aja di sini.berkat istrimu ibu udah dapat perawatan terbaik." ujar Indri kemudian terdengar helaan napasnya." Terkadang kaka merasa bersukur.dan berterima kasih pada kamu berkat kamu hidup kita berubah.kamu menjadi penolong keluarga kita.kalau saja gak ada kamu.entahlah hidup kita kaya apa.apa lagi ibu sakit begini." ucapnya lagi. " Allah begitu baik,dia mempertemukan kamu dengan Ayana meski awalnya dengan cara yang salah. tapi insya allah kalian akan langgeng.itu doa kaka.ka Ayana adalah malaikat penolong yang di kirim oleh tuhan untuk kita.entah dengan cara seperti apa aku mengungkap rasa sukur ini sama istrimu itu."


...☘☘☘☘☘☘...


Kabar Jerrian yang tiba-tiba di depak dari perusahaan terdengar santer di kalangan karyawan.dengan keluarnya lelaki itu menjadi pembicaraan hangat di kantor saat ini.Frans juga sudah menarik semua saham pada perusahaan ayah Jerrian.ia tak meninggalkan satu persen pun dana pada perusahaan yang sudah di selamatkannya itu.


"Kira-kira apa ya yang ngebuat Pak Jerri di depak sama Pak bos kita ya?."


"Desas desus yang gue denger sih,karena Pak Jerri naksir sama bu Ayana.bisa aja kan lakinya cembokur terus minta bapak mertua buat ngedepak itu cowok."


"Nah bener.gue juga ngiranya begitu.yakali sebagai suaminya mau diam aja.gue juga pasti akan melakukan hal yang sama.kalau ada yang naksir istri gue,apa lagi kalau sampe berbuat tidak wajar."


"Tapi kan harusnya gak usah mengaitkan urusan pribadi sama kerjaan dong.tetap aja namanya tidak professional itu.masa hanya karena ada cowok yang naksir istrinya.terus cowok itu di pecat hanya karena naksir sang istri,aneh sih menurut gue mah."


"Profesional kepala bapak kau.gue denger Jeri itu berusaha memperk*sa bu Ayana. namun beruntungnya keburu ketahuan sama Pak Gio."


"Gila ya itu cowok.seberani itu loh dia.cinta sih cinta men.tapi gak hilang akal juga kali."


"Denger-denger Pak Gio sama Pak Jerri gelut ya?gue sempet denger hosipnya begindang."


"Gimana gak gelut,wong si tikus itu terang-terangan menunjukan kalau dia ada hati sama bu Aya.apa lagi mau berbuat bejat sama istrinya.gue pun bakal gerus tuh laki.dasar bujang lapuk."


"Gue penasaran musuh si Tom itu sekarang keadaannya gimana ya?dia di depak secara tidak hormat.pasti keadaanya lagi down banget tuh orang butuh pskiater kayanya setelah ini." saat jam makan siang para karyawan sibuk menggosip mengenai berita yang mereka ketahui.mereka mendapat bocoran itu entah dari siapa.


...☘☘☘☘☘☘...


Terhitung sudah lima hari Ayana berada di rumah.sejak pulang dari sana ia tak pergi ke kantor Ayana lebih suka menghabiskan waktunya di rumah bersama anaknya.dan sejak saat itu pula ia dan Gio tidak saling bicara.hubungan mereka masih dingin karena Gio hanya bicara seadanya.Ayana tak memaksa karena ia merasa bersalah.ia tau perubahan sikap Gio itu semua karenanya.sebagai penyebab dia cukup tahu diri.Ayana tersenyum saat melihat mobil Gio memasuki garasi.ia menyambut di depan pintu dengan Raven di gendongannya dan Vindi yang berjingkat senang melihat kedatangan sang ayah.


"Ayah,ayah.ndong." riang Vindi dengan wajahnya yang berseri melihat sang ayah yang merentangkan tangannya.


"Sini,sayang." Gio mengangkat putrinya tinggi-tinggi.Vindi berteriak senang saat Gio melemparnya ke udara.


"Aven mau." teriak Raven yang cemburu melihat sang kaka di gendong ayahnya.


"Sini,anak pinter." tangan kanan Gio meraih Raven dari gendongan Ayana.kini kedua tangan Gio terisi oleh si kembar.ia membawa sebentar anaknya itu untuk melihat burung peliharaan Frans di samping rumah mewah ini.setelah merasa cukup ia kembali ke dalam.


"Mau teh atau jus?" tawar Ayana setelah Gio kembali ke dalam.ia mengusap keringat di dahi suaminya dengan tisu.


"Gak usah.air putih aja,tapi udah gapapa nanti aku ambil sendiri aja." sahut Gio membuat Ayana mengangguk meski perasaannya sedih padahal sebelum ini Gio suka sekali minta di buatkan teh atau jus sepulang kerja.


Malam harinya keduanya sudah berada dalam kamar.Ayana yang sedang memakai skincare itu melirik ketika Gio menutup pintu kamar.lelaki itu sepertinya baru kembali dari luar setelah mengobrol dengan Frans.Ayana mendakati ranjang dimana Gio berada.lelaki itu tengah memejamkan mata namun Ayana tau suaminya itu tidak tidur ia segera masuk ke dalam pelukan Gio.tangan lentiknya mencoba meraba tubuh suaminya itu namun hingga beberapa menit tak juga mendapat respon Gio malah pura-pura tidur.


"Udah ngantuk ya?" tanya Ayana dengan suara pelan.namun tak mendapat respon ia mengelus rahang Gio dengan lembut ibu jarinya mengusap bibir Gio perlahan kemudian ia mendaratkan bibirnya di atas bibir tebal kemerahan itu.Ayana bisa mendengar dan meraskan bahwa Gio berusaha menahan diri.terbukti jakun Gio naik turun dan napasnya memburu.namun sepertinya Gio menahannya.jika bisanya baru di elus dadanya saja Gio langsung menyerang karena ia tidak akan tahan jika bersentuhan dengan istrinya itu tapi kali ini Ayana akui Gio memang berhasil menahan diri.


"Tidur ya,Sayang." Ayana mengecup pipi Gio kemudian menarik selimbut dan memejamkan mata.ia mengubur keinginannya kali ini meski napsu dan rasa rindunya pada suaminya sudah tak terhankan lagi.tapi ia memilih menunda percuma saja karena Gio sendiri tidak merespon sentuhannya.Gio membuka matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan sedih.ia merasa kasihan karena menolak keinginan Ayana bukannya tidak mau,tapi Gio masih belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri meski ia sudah menerima dan tidak mempermasalahkan lagi tentang apa yang terjadi belakangan ini.


Tengah malam setelah tidur beberapa saat Gio mati-matian merasakan sensasi yang begitu membangkitkan gairahnya itu. setengah mati Gio menahan diri saat tangan lembut istrinya membelai si boy di bawah sana dengan manja.ia pikir ini hanya mimpi namun sepertinya ini nyata karena ia merasakan boy berdiri dengan tegak dan tengah di kul*m oleh Ayana. "S*it." Gio bangkit secepat kilat membalik tubuh Ayana dengan sekali tarikan.


__ADS_1



__ADS_2