Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
101


__ADS_3

Amanda memandang tak suka pada Ayana dan Mira,dua wanita beda usia itu terlihat asik berdua saja seakan dirinya di sana hanyalah patung.mereka sibuk saling melempar tanya dan tukar cerita mengabaikan keberadaan Amanda yang hanya menyimak cerita dan obrolan mereka sambil mengipasi diri.hawa panas akibat sinar matahari yang sudah mulai meninggi juga karena melihat kehangatan ibu mertua dan menantu itu.Ayana melirik ke samping melihat Amanda yang berdiri sambil memegangi perutnya yang sudah membuncit itu.saat mata mereka beradu Ayana mengulas senyum meski tak di balas oleh Amanda.


"Berapa bulan mbak?" tanya Ayana mencoba basa-basi.


"7 kurang." jawab Amanda singkat kemudian menoleh pada Mira." Manda mandi dulu ya bu,jam sembilan nanti kerumah aja biar lihat ibu-ibu yang posyandu."


"Iya nak.nanti ibu ke rumah." balas Mira.


Ayana memandangi cara jalan Amanda yang sedikit kesusahan.dia berjalan dengan pelan seperti ibu hamil yang sudah akan memasuki persalinan.padahal katanya baru 7 bulan tapi mengapa sudah separah itu.meski Ayana tau kehamilan yang di rasakan setiap orang pasti berbeda-beda.


"Kasian dia.lagi hamil tapi di tinggal sama suaminya mana hamilnya bermasalah lagi dia ada masalah sama tulang panggulnya agak ngeri kemarin aku dengar katanya tulang kema*l*annya bergeser.akibat kekerasan yang di lakukan suaminya." ucap Indri yang tiba-tiba duduk di samping Ayana.bukan syok lagi Ayana sampai menutup mulutnya mendengar cerita Indri. dia bergidik ngeri membayangkan Amanda mendapat kekerasan fisik dari suaminya sendiri.entah bagaimana rasa sakit dan trauma yang di alami perempuan yang pernah menjadi kekasih tercintanya Gio itu.


"Terus sekarang suaminya kemana?" tanya Ayana masih tak percaya mendengar beberapa kengerian yang Indri ceritakan mengenai rumah tangga Amanda selama hampir satu tahun itu.


"Pergi dan gak tau kemana.keluarganya juga gak tau itu laki kabur kemananya. pokonya pas tau dia hamil si Rakanya langsung pergi entah kemana,bahkan Amanda sendiri gak tau pas di tinggal dia lagi di rumah sakit karena cidera parah pada lehernya."


"Kok dia gak ngadu pas pertama dapat kekerasan?."


"Ceritanya panjang Ka.yuk ke dalam gak enak takut ada yang dengar." Indri mengajak adik iparnya itu masuk ke dalam dan menceritakan tentang apa yang terjadi pada Amanda.wanita yang hampir menjadi adik iparnya itu.


Ayana menganga tak percaya mendengar keseluruhan cerita Indri mengenai Amanda ia hampir tak percaya bahwa ada manusia seperti Raka di dunia ini.bagaimana bisa seorang lelaki sekaligus suami tega melakukan kekerasan seperti itu pada wanita yang menjadi istrinya.sama sekali Ayana tak merasa senang kala mengetahui bahwa Amanda sangat menderita setelah menikah.sebagai sesama perempuan ia cukup perihatin dengan masalah yang menimpa Amanda.jika saja dia adalah wanita jahat mungkin sudah menertawakan kemalangan nasib Amanda.


"Semua karena keluarganya sih Ka.coba aja mereka gak tamak dan gak banyak ikut campur soal rumah tangga anaknya. mungkin rumah tangga Amanda gak akan berakhir seperti itu." jelas Indri kemudian." Kasian sih ngelihatnya.bagaimana pun Amanda perempuan baik dia solehah dan penurut apa lagi kalau sama abinya sayang nasib buruk menimpanya.punya suami malah kaya preman.bukannya di lindungi malah di jadikan samsak tinju.udah mah gak cinta karena hasil perjodohan udah gitu zonk lagi."


"Terus apa mereka gak melapor?"


"Udah,tapi keluarganya gak terima dan mengancam balik akan membeberkan fakta yang katanya rahasia keluarga Haji Malik.entah bener atau hanya dari mulut ke mulut aja.ya mau gak mau haji Nur mundur dan memilih bungkam."


"Ya ampun." Ayana menggelengkan kepalanya tak mengerti pada keluarga Amanda.


Sembari menyetir dalam perjalanan pulang Ayana masih tetap kepikiran akan cerita Indri mengenai Amanda.beberapa kali Ayana memaki lelaki bernama Raka itu mendengar cerita mengerikan itu seketika membuat Ayana tersadar dan merasa bersukur.Ayana bersukur karena bersuamikan lelaki seperti Gio.lelaki yang sangat menghargai dan memuliakan dirinya sebagai istri.lelaki baik yang tak pernah mengucapkan kata-kata buruk yang dapat melukainya.lelaki yang sama sekali belum pernah menyakitinya seujung kuku pun.


Namun semua itu seakan sirna saat sekelebet bayangan pada saat Gio meragukan bayi yang Ayana kandung saat ini.seketika kekaguman dan rasa bangga akan sosok lelaki itu melebur begitu saja yang tersisa hanyalah rasa kecewa yang mendalam,seperti kata pepatah seribu kebaikan akan hilang karena satu kesalahan." Kenapa kalimat itu harus keluar dari mulut kamu,Gi?" gumam Ayana sambil memandangi lampu merah yang sebentar lagi akan berganti hijau.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Gio yang baru tiba di rumah dan langsung ke dapur tersenyum melihat Ayana yang sedang memasak untuk makan malam mereka.istrinya Gio itu begitu cantik dalam balutan daster rumahan yang sederhana. rambutnya di ikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus membuat kelelakian Gio bergejolak.


Sekian lama ia tidak pernah tidur bersama dengan Ayana.kurang lebih hampir lima bulan keduanya tidak lagi berhubungan badan.terakhir kali pada saat seminggu stelah kejadian itu.mereka memang tidur di ranjang yang sama namun ada pembatas yang membentengi keduanya.Ayana menaruh guling yang cukup besar di tengah kasur.jika Gio melintasi pembatas itu maka ia akan marah.maka dari itu Gio memilih tidur di kamar anaknya atau di ruang tivi.demi menghindari kemarahan Ayana yang semakin hari semakin tidak masuk akal itu.


Gio selalu mencoba mengerti dan paham mungkin keadaan Ayana memang sedang sensitif pengaruh hormon kehamilan karena itu Gio tidak terlalu mempermasalahkan.ia hanya perlu bersabar dan yakin bahwa kemarahan Ayana akan berangsur membaik seiring berjalannya waktu.sebagai suami Gio hanya perlu memahami akan sikap Ayana saat ini.karena sadar bahwa ia yang sudah menyebabkan Ayana seperti itu.


"Sopnya udah aku angetin.kalau mau tinggal makan aja." suara Ayana membuyarkan lamunan Gio.


"Kamu gak makan?gak ikut nemenin aku. yang?" tanya Gio berharap Ayana mau menemaninya makan seperti biasanya. sudah lebih dari dua bulan mereka tidak makan bersama.


"Aku udah kenyang tadi makan bakso. sekarang perutnya begah." balas wanita itu seraya berlalu dari sana meninggalkan Gio yang berdiri di pembatas antara dapur dan ruang makan.


Tak ingin berdebat lagi dan lagi Gio memilih makan sendirian setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. sepi dan hampa itulah yang saat ini dia rasakan.jika dulu Ayana selalu menenaminya makan malam entah jam berapa pun itu kalau tau Gio pulang maka ia akan menemani.tapi sekarang,jangakan menemani menyiapkan makan di meja saja Ayana enggan.


"Sayang,kenapa?" tanya Gio saat ia memasuki kamar melihat Ayana yang meringis memegangi pinggangnya.


"Kram.mungkin kelamaan berdiri." jawab Ayana datar.ia menepis kala tangan Gio menyentuh pinggangnya tapi lelaki itu tetap melakukannya." Awas ih,udah gapapa cuma kram doang." tolak Ayana untuk kesekian kalinya.


"Aku bantu pijat,siapa tau mendingan." kekeuh Gio seraya memijat pelan pinggang ramping Ayana." Di sini juga sakit?" tangan Gio bergerak menyentuh perut Ayana namun langsung di tepis kasar oleh istrinya itu.


"Gak usah sentuh anakku." tukas Ayana bengis namun wajah Gio tetap santai menanggapinya.


"Kenapa?dia anakku juga,kenapa aku gak boleh nyentuh?aku ayahnya dan_"


"Udah aku bilang dia anakku,bukan anakmu,paham?" potong Ayana cepat dengan wajah yang emosi.


"Anakku juga,anak kita." jawab Gio yang membuat Ayana tambah murka." Dia gak mungkin tumbuh di sini kalau bukan karena aku." Gio mengelus perut Ayana yang mengeras.

__ADS_1


Gio Mengusap lembut permukaan perut bulat itu meski tetap di tolak oleh Ayana tapi ia tak menyerah.perut yang keras itu perlahan kembali normal akibat elusan hangat Gio.lelaki itu menundukan wajahnya mengecup perut Ayana selama beberapa detik.ia membingkai perut bulat itu dengan kedua tangannya kemudian kembali mengecupinya lagi.perasaannya bergetar saat pertama kali menyentuh calon anaknya di dalam.selama ini Ayana selau melarangnya,pernah sekali Gio hampir ketauan bahwa ia hendak menyentuh perut Ayana.tapi perempuan itu keburu bangun dan berakhir dengan perdebatan.


"Baik-baik dan sehat di dalam ya dek. jangan buat bunda susah dan kecapean anak baik.ayah memang belum melihat kamu,tapi percayalah kasih sayang ayah sudah ada untukmu,begitu besar tak tergambarkan,maaf ya ayah sempat meragukan kamu.jujur ayah merasa bersalah sama bunda dan kamu.ayah hanya khilaf sayang.manusia tempatnya salah bukan?jadi maafin ayah ya sayang, anak pinter." Ayana menahan napas saat hembusan napas hangat Gio terasa di kulit perutnya.mati-matian ia menahan air mata supaya tidak jatuh di hadapan Gio.istri mana yang tidak terharu melihat kelembutan yang di tunjukan oleh suaminya.Gio begitu manis dan lembut pada calon janin mereka.


"Kamu cewek ya?bulet gini bentukannya.


dek." Gio masih tetap mengelus dan membingkai perut bulat itu." Tapi,apapun itu gak masalah.asal kamu sehat dan tumbuh dengan baik.Ayah cinta dan sayang sama kamu dan bunda.tolong dong nak,buat hati bunda luluh dan mau maafin ayah." Gio mencium lagi perut Ayana kemudian menurunkan daster itu ngeri lama-lama Ayana masuk angin.


Tak hanya itu sebenarnya.Gio kawatir ia akan lepas kendali melihat bentuk tubuh istrinya yang aduhai itu.bagian-bagian tertentu membesar dengan sempurna membuat jiwa lelakinya selalu bergetar ingin menikmati.tapi ia sadar diri Ayana sudah tidak sudi untuk dia sentuh.setelah beberapa jam tertidur Gio terbangun dan merutuk melihat Ayana yang hanya menggenakan pakaian tipis.untuk apa sih Ayana ini berpakaian seperti itu di saat dirinya puasa selama beberapa bulan menahan untuk tidak menyerang Ayana.


Tangan Gio terulur membetulkan selimbut guna menutupi tubuh sang istri.ia juga membenarkan baju Ayana yang tersingkap ke atas memperlihatkan perut bulatnya yang menggemaskan.namun sentuhannya tak ingin berhenti ia terus mengusap lembut perut serta bagian tubuh istrinya yang lain.


"Kamu ngapain?" Ayana terbangun dan kaget mendapati Gio yang tengah menyentuhnya itu.


Gio yang tertangkap pun sempat terkejut kemudian hanya menatap istrinya dalam cahaya lampu yang temaram." Udah lama yang.boleh dong aku minta." cicitnya pelan dan penuh permohonan.


"Dalam mimpimu." ketus Ayana sambil menarik selimbut.


Gio menahan selimbut yang di tarik istrinya itu." Kenapa?aku suami kamu dan berhak minta di layani.kamu juga sebagai istri wajib untuk memenuhi kewajiban selagi dalam keadaan sehat dan baik-baik aja. aku juga minta dengan baik-baik,yang."


"Aku gak bisa.dan dokter bilang bahaya untuk janin." kilah Ayana berbohong padahal semuanya tidak ada masalah.


"Bohong.aku dengar kamu ngobrol sama dokter kandungan itu.dan katanya gak masalah kan untuk melakukan hubungan?"


"Tau dari mana kamu?sok tau."


"Beberapa waktu lalu kamu teleponan kan? sama dokter..siapa itu namanya aku gak tau."


"Aku belum siap." balas Ayana cepat kemudian bangun dari tidurnya dan duduk." Aku jijik tau sama kamu,aku gak mau di sentuh oleh lelaki yang meragukan dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri." akunya membuat mata Gio membelalak.


"Gak usah minta lagi aku layani mulai sekarang.cari aja sana jal*ng di luar yang mau melayani kamu dengan suka rela. uangmu cukup kan untuk membayar mereka?kalau kurang aku tambahi.tapi hati-hati gunakan pengaman takut nanti jadi dan gak mau ngakuin_"


"YANG." sentak Gio emosinya naik seketika mendengar ucapan Ayana yang sama saja seperti merendahkannya itu. napas Gio memburu ia menatap istrinya dengan tajam." Kamu sadar gak sama ucapan kamu itu?itu sama aja kamu merendahkan aku.aku gak masalah dengan penolakan kamu,tapi kata-katamu itu yang keterlaluan.kamu pikir aku lelaki rendahan yang bebas di luar sana?"


Dada bidang Gio naik turun emosinya membumbung tinggi.selain karena hasrat yang tidak tersalurkan juga karena ucapan Ayana yang merendahkan dirinya." Kalau memang kamu sudah gak sudi aku sentuh lagi,gapapa aku terima.tapi jangan mengatakan hal-hal seperti itu.seolah aku ini lelaki yang gampangan.kamu sadar gak sih?istri mana yang meminta suaminya untuk tidur dengan perempuan lain?bener-bener aneh kamu itu."


"Kamu bener-bener keterlaluan tau." Gio beranjak dari kasur meninggalkan Ayana guna menenangkan diri kawatir takut kelepasan.bisa saja ia melayangkan tangannya untuk membungkam mulut kasar Ayana.seseorang yang sedang di landa emosi bisa saja melakukannya di luar kontrol.


"Dasar jahat." lirih Ayana dengan tangis meluruh." Laki-laki egois gak punya perasaan." ucapnya kemudian sebelum sesegukan di kamar yang sunyi itu.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Gak usah bolak balik ke rumah ibu,kesana jauh aku kawatir itu akan menyulitkan kamu.lebih baik banyak di rumah." Ayana menoleh cepat saat Gio bersuara di sampingnya yang tengah menyiram tanaman.Ayana menatap suaminya yang terlihat ganteng dan rapih dengan kemeja putih yang di gulung hingga siku. rambutnya kelimis.wanginya sangat menenangkan tanpa sadar membuatnya menghirup dalam-dalam aroma parfum Gio yang menguar.ada sedikit rasa curiga kemana dan apa yang akan lelaki itu lakukan hingga mendadak serapih dan setampan itu.


"Ka Indri bilang kamu hampir tiga hari sekali datang kerumah.mulai sekarang gak usah sering-sering apa lagi nyetir sendiri nanti aja bareng sama aku."


Ayana berdecak sambil mematikan selang." Aku gak butuh ijinmu.aku punya kaki bebas kapan aku ingin pergi kemanapun dan kapan pun."


"Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?gak usah aneh-aneh deh nurut sama aku kenapa sih,Yang?"


"Aku bukan anak kecil,aku bisa menjaga diri"


"Terserahmu,kurangi keras kepalamu itu coba,yang." Gio lelah pagi-pagi berdebat dengan Ayana.seminggu setelah kejadian itu mereka diam-diaman dan semalam baru Gio menegur Ayana." Udah bilang belum ke Mamah dan Papah soal kandungan kamu?" tanya Gio akhirnya setaunya Ayana belum memberi tahu kedua orangtuanya mengenai kehamilannya yang ini.entah alasannya apa Gio tidak mengerti.


"Belum.ngapain bilang nanti juga ketauan." jawab Ayana santai sambil menggulung selang kemudian ditahan oleh Gio.ia menggeser istrinya dan melakukan apa yang hendak Ayana kerjakan.


"Hal penting jangan di tunda-tunda.cepet kasih tau Mamah sama Papah.biar enak jangan di umpet-umpetin."


"Terserah aku." ketus Ayana selalu ketus entah kapan wanita itu akan melunak.Gio tak menangapi segera pergi kawatir perdebatan ini tak berujung.ia selalu mengalah dan memilih pergi biarlah waktu yang akan mengembalikan semuanya.


Dua bulan berlalu kehamilan Ayana tampak sudah membesar.bentuknya lucu bulat dan imut.namun hanya perutnya saja yang membesar tidak dengan badan Ayana yang justru tampak kurus kering.berbeda dengan kehamilan sebelumnya.meski tidak menggendut tapi Ayana berisi dan terlihat segar.namun sekarang terlihat kuyu dan ringkih.


"Makan banyak Aya.kamu ini dari pagi belum makan apa-apa.kalau emang gak napsu,setidaknya pikirkan bayimu.jangan egois hanya mementingkan diri sendiri." omel Monica.wanita paruh baya itu mengomel karena Ayana tidak mau menyentuh makanan yang sudah ia siapkan.

__ADS_1


"Males Mah,belum lapar.taruh aja nanti aku makan kok." ujar Ayana membuat ibunya itu menarik napas berat.


"Kamu emang gak lapar,tapi bayimu lapar." paksanya sambil duduk di hadapan Ayana dengan sepiring nasi dan sayur capcay juga ayam goreng serundeng." A,makan dulu." mau tidak mau Ayana menerima suapan dari sang ibu.meski di selingi dengan omelan dan adu mulut.tapi makanan di piring akhirnya ludes juga tanpa sisa sedikit pun.


"Enak kan?" cibir Monica membuat Ayana mendekus.


"Suapan Mamah enak soalnya." jawabnya lalu tertawa saat Monica menjemil pipinya.


"Apa masalahmu,dek.kenapa Gio terlihat kusut akhir-akhir ini?Mamah yakin kalian ada masalah,masalahnya Papah pun sempat tanya beberapa kali.tapi Gio tetap menutupi." pertanyaan yang sudah bersarang di kepala Monica itu akhirnya keluar juga.


"Biasalah Mah,namanya rumah tangga. akhir-akhir ini kami memang udah gak cocok lagi.sering cekcok karena hal sepele." jawab Ayana tak sepenuhnya bohong karena memang begitu adanya.


"Cobalah untuk pergi liburan bersama.buat waktu kalian lebih banyak dan intim mungkin karena kalian kurang memiliki waktu yang cukup untuk bersama. makanya masalah sepele pun jadi di bahas."


"Gak ah,males udah hamil gede gini." tolak Ayana boro-boro mau liburan berdua saja dengan Gio.jika kebetulan berada di ruangan yang sama dengan lelaki itu pun Ayana malas.


Monica hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya itu.ia paham posisi dan keadaan Ayana jadi tidak ingin mendesak,biar lah mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.semenjak mengetahui kehamilan Ayana,Monica memang lebih sering kesana mengunjungi dan sesekali memasak di tengah kesibukannya.Monica sebetulnya senang-senang saja mendengar bahwa putrinya itu kembali mengandung.apa lagi ia kembali merindukan memandikan bayi seperti pada saat si kembar dan si sulung itu lahir namun di tengah kebahagiaannya ada hal yang mengganjal di hatinya.melihat bagaimana interaksi Ayana dan Gio yang tampak dingin itu,Monica yakin ada hal lain yang sedang mereka tutupi.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Gio baru saja mendudukan diri bersama putrinya.selepas dari super market membeli kebutuhan dapur tadi si bibi mengatakan bahwa kebutuhan dapur sudah habis tapi Ayana tidak pergi belanja mau pun memberikan uang untuk mereka membelinya sendiri.karena masih agak siang Gio memutuskan mampir ke rumah ibunya ingin melihat Mira sebentar.


"Adek mau puding?" tanya Indri pada Jemia yang bergelendot di samping Gio. anak kecil itu mengangguk setelah meminta persetujuan dari sang ayah.


"Boleh kok,ambil aja minta Mama Billa." suruh Gio membuat Jemia tersenyum senang." Tapi jangan makan eskrim ya" senyum Jemia perlahan luntur dan langsung cemberut.


"Tapi permen boleh ya ayah?"


"Gak boleh dek nanti batuk.yang lain boleh asal jangan eskrim dan permen juga gorengan." cegah Gio membuat Jemia memanyunkan bibirnya.


"Ka Aya banget lirikan-lirikan judesnya ya Gi?." Indri terkikik melihat tingkah ponakannya itu.


"Bukan lagi." balas Gio sembari menggelengkan kepalanya.mengapa sifat judes Ayana menurun semua pada si sulung itu.baru saja Indri pergi ke dapur mengambil puding untuk keponakannya itu dia kembali berlari ke depan mendengar suara ribut-ribut.Gio sendiri sudah lebih dulu ke depan.


"Ada apa Ka?" tanya Gio kepada Nurafida kaka dari Amanda yang tergopoh memanggil Gio.sebetulnya enggan dan malas pada perempuan itu namun karena masih bertetangga tidak ada salahnya.


"Gi,tolong bawa Amanda ke rumah sakit Permata,Manda mau melahirkan ketubannya udah pecah tapi kaka gak bisa ambil tindakan.emang dia sedari awal bermasalah dengan kehamilannya itu.Ka Nur gak mau ambil resiko." jawab Nurafida dengan wajah panik.


"Akhirnya si sombong ini membutuhkan bantuan juga." batin Gio.


Baru Gio akan buka suara sambil memindai sekitar kali aja ada orang lain yang bisa menyetir.Nurafida kembali bicara." Abi sakit.kakinya bengkak dia gak bisa nyetir.gak ada yang bisa nyetir di sini. si Farman dan Romi juga lagi ngirim sayur ke pasar.kebetulan ada kamu yang bisa nyetir,tolong Gi,bawa dulu Amanda ke rumah sakit." Nurafida memohon membuat Gio bimbang.bukan tidak mau tapi jika ada orang lain mengapa harus dia.apa lagi Gio kesini membawa Jemia kawatir akan menyita waktu di rumah sakit.


"Tapi aku gak bisa lama ya ka.soalnya bawa anak takut nyariin nanti." ujar Gio.


"Indri ada kan?atau kalau gak titip dulu di teh Susi.kalau gak ka Nur bawa aja deh anakmu biar sama Umi." tawar Nurafida yang di balas gelengan oleh Gio.


"Ada apa ka Nur?" tanya Indri yang barusan dari dapur.keduanya menoleh bersamaan.


"Manda mau lahiran,Ndri.ketuban udah pecah dari pagi tapi gak ada pembukaan kan dari awal juga dia gak bisa normal. saya udah bilang kalau udah ada yang di rasa cepet ke rumah sakit.malah gak ngomong apa-apa bikin panik serumah."


"Ka titip Jemi sebentar ya,aku mau nganterin Amanda dulu.gak ada yang nyetirin." pamit Gio minta ijin.


"Oh ya udah.iya." balas Indri.


Gio mendekati putrinya mengelus kepalanya pelan." Sayang.ayah mau nganter tante Manda dulu ke rumah sakit ya?tante Manda mau ambil dedek bayi. Jemi sama Mama Billa dulu.ayah cuma sebentar kok,nanti ayah jemput terus kita pulang,oke?"


Awalnya Jemia diam saja karena tidak mau di tinggal.tapi Gio kembali meyakinkan dan gadis kecil itu mengangguk." Nanti dede bayinya ayah bawa pulang ya,ayah?soalnya punya bunda masih kecil dede bayinya."


"Siap.." jawab Gio mantap.kemudian kerumah haji Malik hendak membawa Amanda kerumah sakit.Amanda di gotong oleh Gio dan kang Aris karena sudah kesusahan jalan.


"Kalau gitu saya aja kang.kalau berdua justru kesusahan dan malah jadi lama." tawar Gio yang langsung di setujui kang Aris." Bismillah." Gio menyelipkan tangannya di bawah paha Amanda. kemudian mengangkat wanita itu memasuki mobil dan membawanya nenuju rumah sakit.pada saat melewati jalan besar matanya tak sengaja melihat mobil merah metalic yang sepertinya ia kenal tapi tidak sempat melihat plat nomornya.


Siang itu Ayana merasa bosan ia berniat akan mengunjungi mertuanya.seperti biasa sebelum ke rumah Gio,ia mampir dulu untuk membeli makanan.sudah dua minggu ia tidak mengunjungi Mira rasanya sudah rindu sekali pada ibu mertuanya itu apa lagi kondisi Mira yang sudah semakin parah.ibu Gio itu terserang struk ringan. sebagian tubuhnya mati dan kaku tidak bisa di gerakan.

__ADS_1


Terkadang Ayana tidak ingin melihat dan bertemu dengan Mira,bukan karena benci atau apa lah itu.tapi Ayana tidak tega melihat keadaan ibu mertuanya sekarang yang begitu memperihatinkan.rasanya baru beberapa bulan lalu ia dan Mira masih tertawa-tawa bersama anak-anak.namun sekarang berubah begitu cepat.Mira hanya bisa diam di kursi roda dengan keadaan tubuh yang kaku.


"Mudah-mudahan gak macet." Ayana melihat ke depan banyak anak-anak yang sedang main engkle memenuhi gang yang menuju rumah Gio.karena malas melewati kerumunan anak-anak itu,Ayana memutuskan untuk jalan kaki saja.ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan kemudian berjalan kaki menuju rumah Gio anggap saja olah raga karena memang di sarankan untuk banyak jalan.sampai di samping rumah haji Malik Ayana tertegun mendengar kericuhan orang-orang.ia melihat Gio yang memangku tubuh Amanda ke dalam mobil yang terparkir di halaman rumah perempuan itu.


__ADS_2