Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
60


__ADS_3

Suara itu menghentikan tangan Ayana yang akan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.Ayana menaruh kembali sendok yang di pegangnya itu ke piring dan menoleh ke belakang melihat ibu mertuanya berdiri dengan wajah emosi Ayana berdiri menghampiri Mira dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Ibu kenapa?" tanya Ayana dengan lembut seperti biasa." Ada yang mau ibu omongin sama Aya,Bu?" lanjutnya.


"Apa benar keadaan Gio yang sekarang ini itu semua gara-gara kamu?apa benar karena permintaan tidak masuk akal kamu itu putra ibu sampe bertaruh nyawa?di mana hati kamu,Ayana?sampai-sampai kamu harus mengorbankan Gio.ibu tahu putra ibu hanyalah orang miskin dan bodoh yang bisa aja di perlakukan semaunya sama kamu.tapi bukan berarti dia harus mengorbankan nyawanya juga,Ayana." ucap Mira tanpa basa basi lagi dengan suara bergetar sembari menatapi Ayana dengan tatapan sedih.


"Apa kamu udah gak cinta sama putra ibu, Aya?apa selama ini kamu memang gak menghargainya sebagai suami kamu?apa dia memang gak ada harganya sama sekali di mata kamu?hingga kamu berlaku sesukanya pada Gio.dia putra ibu,Aya kenapa kamu malah memperlakukan dia seperti ini.kamu pengen Gio mati,iyakan?biar kamu bebas tidak terikat lagi dengan pria miskin seperti Gio anak ibu." Mira terus saja menyalahkan Ayana atas apa yang terjadi kepada Gio,padahal itu kehendak dari tuhan bukan kemauan siapa-siapa.tidak ada yang bisa di salahkan di sini selain takdir yang sudah di atur oleh sang pemilik kehidupan.


Ayana menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah meluncur deras dirinya tak kuasa mendengar seluruh ucapan ibu mertuanya ini.


"Aya mengakui Bu.Aku memang salah karena sudah meminta Gio mencarikan apa yang aku mau.tapi dengan keadaan yang menimpa Gio saat ini sama sekali bukan kemuan aku,ini sudah takdir ibu,kita tidak bisa mengelak dari takdir,tapi menghadapinya dengan iklas dan pasrah insya allah Gio akan selamat dan segera bangun." Ayana meraih tangan ibu mertua namun segera di tepis oleh perempuan tua itu.bahkan Mira menatapnya dengan sinis. berbeda sekali dari sebelumnya yang selalu bersikap lembut dan hangat kepadanya.


"Itu namanya kamu egosi tahu?inginnya selalu di turuti semua kemauan kamu.tidak tidak peduli jika itu mengancam nyawa Gio sekali pun.kamu gak mikir keselamatan suami sendiri,malah mikirin diri sendiri dan napsu aja.ibu menyesal telah mempercayakan segalanya sama kamu."ucap Mira membuat Ayana bergeming dan menatapnya dengan tatapan terluka.


"Dari awal perasaan ibu tidak pernah salah. bahwa kamu bukan lah yang terbaik untuk anak ibu.anak ibu terlalu bodoh untuk perempuan sempurna seperti kamu. seharusnya dari awal ibu tidak menyetujui pernikahan kalian.karena ibu udah yakin pada akhirnya akan seperti ini,anak ibu yang menjadi korban keegoisan kamu segala sesuatu yang di mulai dengan kesalahan,memang tidak akan berjalan dengan baik." ujarnya lagi,dan kali ini Ayana benar-benar merasakan sakit dan sesak yang menimpa dadanya.


"Bu,apa yang ibu katakan?jangan seperti ini bu,kita bicarakan baik-baik ya.ibu butuh istirahat yuk Aya antar ibu mau istirahat di mana?." tawar Ayana membujuk mertuanya untuk tidak mengeluarkan kata kata yang dapat membuat hatinya nyeri.


"Tidak perlu Aya.ibu hanya ingin putra ibu bangun dan sembuh seperti sebelumnya. dan dia harus segera pulang ke rumah ibu rumah kamu bukanlah tempat Gio,dia tidak pantas denganmu yang begitu sempurna." tolak Mira dengan cepat.dan ucapannya itu mengandung arti dan Ayana tentu saja paham.


Frans yang sejak tadi diam menyimak akhirnya angkat suara.saat melihat putrinya di pojokan seperti ini.Frans bangkit dari duduknya dan mendekat pada Mira yang berdiri di sana.Ayana sibuk menghalu air matanya yang sudah akan tumpah kembali.


"Bu Mira,tolong hentikan ucapan ibu yang dapat melukai perasaan putri saya.dia baru aja sembuh dari trauma,dan belum sepenuhnya pulih.mentalnya masih terguncang.tolong ibu hargai saya sebagai seorang ayah yang ingin mental dan psikis putrinya tetap sehat dan terhindar dari segala ucapan yang dapat membuatnya kembali trauma." Frans mendekat pada Mira dan berbicara setengah berbisik.dia tidak ingin banyak orang yang mendengarkan ucapannya.


"Bapak juga egois.bapak ingin di hargai sebagai seorang ayah,lalu bagaimana dengan saya?saya juga sama Pak.ingin di hargai sebagai seorang ibu dengan anak yang terbaring lemah yang di akibatkan oleh putri bapak sendiri.hargai sedikit saja perasaan saya di sini,perasaan seorang ibu yang terluka mendapati bahwa putranya sedang bertaruh nyawa.kita tidak tahu apakah Gio akan bangun lagi atau akan tidur untuk selamanya." Mira menangis tergugu membayangkan jika Gio akan pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.


Bahu Ayana kembali terguncang tangisnya begitu pilu menusuk ke telinga Frans sebagai seorang ayah tentu saja dirinya tidak tahan mendengar tangisan Ayana.


"Bersabar lah.ucapan mertua kamu jangan di masukan ke hati,ibu Gio sedang emosi dan putus asa,Aya kuat ya,gak boleh lemah.kamu harus tegar dan semangat selalu untuk merangsang pemulihan Gio kata dokter kan Gio harus sering di ajak ngobrol supaya syaraf-syarafnya merespon dengan baik.jangan bersedih Papah akan sakit kalau melihat kamu seperti ini.buktikan kepada ibu Gio bahwa kamu pantas mendampingi putranya. bahwa kamu begitu mencintainya." bujuk Frans dengan lembut bahkan air matanya merembes.namun segera ia tepis agar Ayana tidak melihatnya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sudah tiga minggu berlalu Gio terbaring di rumah sakit ini.pria itu belum menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan segera bangun Gio tertidur dengan damai. tubuhnya kurus dan lemah.kulitnya juga pucat dan sangat dingin.bibirnya yang kemerahan dan selalu basah itu sekarang begitu kering dan pucat.dokter mengatakan kepada seluruh keluarga untuk tidak putus asa,karena keajaiban akan datang kapan pun.mereka hanya harus bersabar menunggunya.jika dalam beberapa bulan Gio tidak juga bangun maka dokter menyarankan untuk melepas seluruh alat yang terpasang pada tubuh Gio.alat-alat itu untuk menopang cairan makanan yang masuk ke dalam tubuh kurus Gio.


Namun Frans dan Ayana menolak.mereka akan bersabar berapa lama pun Gio tertidur mereka akan menunggunya sampai di mana Ayana menyerah pada takdir baru lah ia akan menyetujui.Ayana masuk ke dalam ruangan itu,ruangan yang sudah di anggapnya seperti kamar sendiri sudah hampir sebulan ia tinggal di tempat ini dan tentu saja sudah jelas terbiasa dengan tempatnya.


"Selamat pagi.hey,ini udah jam sembilan loh Gi,bangun yuk kita ikut CFD di sudirman.ikut citayem fashion week kayanya seru juga deh.kamu pake baju yang mirip sama pakean pak Tarno gitu kayanya oke juga tuh."ujar Ayana sembari mendekati ranjang Gio.lalu mengambil tangan pria itu dan memijatnya dengan pelan.selalu ia lakukan setiap saat agar tubuh dan saraf saraf Gio cepat merespon.


"Kemaren aku dari dokter.katanya anak kamu ini cowok loh,tapi yang satu lagi belum kelihatan dengan jelas.apa kamu gak pengen lihat perkembangan mereka?nih udah buncit sekarang perut aku." Ayana menunjukan perutnya yang sudah menonjol itu.karena mungkin kembar jadi sudah terlihat besar dari kehamilan normal pada umumnya.


"Jemia siang malam nanyain kamu terus. dia selalu nanyain ana yayah ia katanya.ia au yayah.makan dan keluar jalan-jalan pun dia selalu nolak sus Risma.pokonya selalu inginnya sama yayah terus.kan udah kebiasaan kemana pun sama kamu.wajar lah dia kan dulpikat kamu banget," Ayana tertawa pelan sembari mengelap tubuh Gio dengan kain basah.dirinya selalu rutin membersihkan tubuh Gio dua kali sehari supaya tetap bersih dan terawat.meski tubuh itu sangat kurus namun tetap terawat dan wangi tentu saja.karena Ayana rajin membersihkan dan merawatnya.


"Jangan lama-lama tidurnya ya,Gi.betah amat tidur sampe tiga minggu gini kamu gak pegal?cepet bangun dong.hubungan aku sama ibu lagi kurang baik saat ini.ibu ingin memisahkan kita,Gi.ayo bangun kamu harus jelaskan semuanya.jelaskan sama ibu bahwa kamu ingin bersama aku bahwa kamu ingin menghabiskan waktumu denganku selamanya."


Isakan Ayana lolos dari bibir tipisnya.Ayana tertunduk memegangi handuk basah itu.air matanya membasahi punggung tangan Gio.dan tak lama ada pergerakan dari jari jemari kurus itu.namun Ayana tidak menyadarinya ia begitu terpaku pada tangisnya.bahkan kelopak mata Gio sempat bergerak namun hanya sebentar.


"Aku pulang dulu ya.mau nemenin Mia dulu sebentar kasihan kalau dia di tinggal seharian.nanti sore aku kesini lagi.gantian dulu ya sama ka Indri tadi dia udah wa." pamit Ayana setalah hari sudah mulai sore ia mengusap rambut tebal Gio yang sepertinya sudah mulai memanjang.


"Dadah sayang.sampe ketemu lagi nanti jam lima ya." Ayana mengecup dahi Gio yang paripurna itu.bersamaan dengan itu jari Gio bergerak di bawah sana,namun Ayana lagi-lagi tidak menyadarinya.saat Ayana akan membuka pintu yang ia temui Mira,bukan Indri.perempuan itu masuk lebih dulu dan menatap Ayana dengan dingin tidak seperti biasanya selalu hangat dan keibuan.sikap itu sudah lama hilang,Ayana bahkan merindukannya.


"Yang jaga Gio,ibu?" tanya Ayana dengan ramah berbasa basi saja sebenarnya.


"Iya.kenapa,kamu gak suka?saya ibunya Gio yang berhak atas diri Gio dari pada kamu." sahutnya begitu ketus dan bengis.


"Iya Bu.aku cuma tanya aja.soalnya tadi ka Indri yang mau kesini katanya." balas Ayana dengan senyum yang di paksakan.

__ADS_1


"Indri lagi rewel anaknya.jadi ibu aja yang gantikan.kamu nanti malam gak usah kesini.urus aja putrimu di rumah." ujarnya dengan ketus.


"Gapapa bu.Mia biasanya habis magrib juga udah tidur dan anteng sama Mamah ibu nanti pulang aja istirahat di rumah ya, gapapa biar aku aja yang di sini.kalau ibu jaga sampe malam nanti ibu kecapean." tolak Ayana membuat mata Mira menajam.


"Kok kamu ngatur?terserah ibu dong.Gio anak ibu jadi terserah ibu mau kapan pun jaga dia." sengit Mira dengan nada tidak ramah sama sekali.


Ayana hanya mengangguk dengan pasrah. kemudian melangkah dari sana meninggalkan ibu mertua dan suaminya di ruangan itu.setelah Ayana sudah pergi Mira akan mendekat pada Gio.namun terhenti karena suara Frans yang menghentikan langkahnya.rupanya pria itu sudah sejak tadi di luar ruangan mendengarkan percakapan mereka.


"Kenapa,Pak?" tanya Mira dengan nada dingin.


"Jangan buat putri saya tertekan.ibu Mira bisa gak,bersikap biasa aja pada Ayana?ibu tahu setiap hari dia merasa tertekan oleh sikap kekanakan ibu?dia selalu berpura-pura kuat di depan semua orang ibu gak tahu aja setiap hari dia menangisi dirinya.menangisi suaminya yang tak kunjung bangun.dia menantu ibu yang sedang mangandung cucu ibu,tolong bersikap biasa aja dan coba lah berdamai dengan keadaan bu." Frans berkata dengan wajah datar namun terlihat menyeramkan.


"Kejadian yang menimpa Gio itu bukan lah kesalahan Ayana.dia gak tahu apa-apa,ini semua murni karena takdir,sebagai seorang manusia yang di bakali otak ibu seharusnya berpikir dan menerima semua ini.berhenti menyalahkan putri saya.kalau ibu terus akan seperti ini dan menghabiskan kesabaran saya.saya gak akan segan akan mencabut semua biaya perawatan Gio di rumah sakit ini.kalau saya melakukannya,apa ibu sanggup melanjutkannya sendiri,dengan biaya yang tidak sedikit ini?saya rasa tidak."


Frans menoleh pada Gio yang terbaring itu sebentar." Gio itu putra saya juga bu.saya udah menganggapnya seperti anak sendiri tapi kenapa ibu tidak menerima putri saya dengan baik?kenapa ibu memperlakukan putri saya seperti seorang penjahat?sedangkan saya tidak pernah sekali pun bersikap demikian terhadap Gio.mengapa ibu melakukan itu?."


"Ibu yang terus menyalahkan Ayana atas semua ini,apa itu membuat keadaan menjadi baik?apa bisa membangunkan Gio yang masih terpejam itu?enggak kan?lebih baik menerima dan berdamai dengan keadaan,bu Mira.kita beramai-ramai berdoa supaya Gio cepat sadar,bukan terus mendahulukan ego dengan menyalahkan dan bersikap buruk kepada Ayana."


"Seharusnya ibu support,di sini dia lah yang paling tersakiti.yang paling terpukul atas apa yang menimpa Gio.jika posisinya di balik apa ibu kuat?dalam keadaan mengandung bayi kembar sedangkan suaminya koma yang entah kapan sadarnya.entah bisa bangun atau malah tidur selamanya." pungkas Frans dengan nada tegas.Mira hanya diam tak bisa menjawab ucapan besannya itu.hanya air mata Mira yang terus meluruh mendengar semua ucapan dari mulut Frans.tanpa kata lagi Frans keluar usai melihat sebentar kondisi Gio sore ini dirinya baru sempat melihat putra menantunya itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah membersihkan dirinya Ayana terdiam di kamarnya,tidak tahu ingin melakukan apa,karena bingung dirinya harus apa sekarang.Ayana sudah gatal ingin kerumah sakit.namun takut jika Mira mengusirnya dari sana.tapi berdiam diri seperti ini juga tidak ada gunanya.lebih baik bergerak tidak peduli akan hasilnya seperti apa nanti.Ayana bergegas menuju lantai satu lalu menyalakan mesin mobil membuat Mas Ajun yang sedang mencuci gelas usai ngopi kebingungan.


"Non.mau kemana?" tanyanya saat Ayana mengeluarkan mobil dari garasi.


"Ke rumah sakit mas.kenapa emang?" jawab Ayana .


"Biar saya antar non.non Aya gak boleh nyetir loh.tuan gak ngebolehin soalnya nanti kenapa-napa lagi bahaya." ujar Ajun.


"Ada apa sih,Jun?" tanya Monica sembari menggendong Jemia.


"Non Aya bawa mobil sendiri Bu.kawatir saya kalau ada apa-apa gimana." beber Ajun.


"Udah lah dia emang kepala batu." sahut Monica lalu masuk kembali ke rumahnya. Monica percaya Ayana pasti berkendara dengan hati hati.


Ayana menyetir dengan hati-hati namun jiwa bar-bar itu masih melekat pada dirinya meski dengan pelan tetap saja jika melihat jalanan lenggang ia akan mengebut.Ayana hanya ingin melupakan segala permasalahan dalam hidupnya setidaknya sebentar saja.dengan perasaan yakin Ayana menekan pedal gas dan mobil itu melesat begitu cepat.Ayana menulikan telinganya dan berusaha mengabaikan teriakan dan suara kelakson yang memekakan itu.dirinya saat ini seakan sedang menjemput maut.jiwa dan raga Ayana seolah terpisah.Ayana putus asa dan tertekan akibat semua keadaan yang menimpa dirinya saat ini.


Mobil hitam itu melesat dengan sempurna di jalan yang tidak terlalu ramai ini.Ayana memejamkan saat tiba-tiba sebuah mobil juga melesat dari arah berlawanan.dirinya begitu terkejut saat ini.dengan menyebut nama tuhan dan suaminya Ayana memejamkan mata dan menekan rem perlahan namun pasti.


Hening


Keadaan tampak hening dan dingin,Ayana perlahan membuka mata saat merasakan semilar angin yang berhembus membelai kulit putihnya.


"Bangun Mbak." suara yang tampak asing membangunkan Ayana.


"Saya di mana ini?" tanya Ayana saat sudah kembali pada kesadaraannya tempat itu begitu sepi dan hanya ada mereka berdua.saat ini Ayana berada di depan rumah warga tepat di pinggir jalan.


"Tadi Mbaknya pingsan hampir aja kecelakaan,untung aja selamat,dan saya bawa kesini untuk istirahat,ini di minum dulu." ujar pria yang membangunkan Ayana itu.


"Astaga Mas.maaf ya,saya merepotkan ya?." Ayana melihat sekeliling tempat itu begitu sepi dan lumayan gelap karena ini malam.


"Gapapa Mbak.namanya juga musibah lagian saya cuma bawa ke sini doang kok gak memakan waktu dan biaya.di minum dulu abis ini saya antar pulang ya.soalnya mobil mbak penyok depannya nabrak pohon tadi di pinggir jalan." jelas si Mas yang Ayana taksir umurnya hampir seumuran sama Abi.namun dia lebih muda dan juga gagah.eitss,tentu saja lebih tampan dan lebih hot Gio dong.


"Astaga." Ayana memalingkan wajahnya dengan malu.ia meminum air kemasan itu hingga habis jujur saja tenggorokannya sangat kering butuh air.

__ADS_1


"Ayo Mbak.mau di anter kemana?biar naik mobil saya aja.mobil Mbak biar di bawa ke bengkel dulu." ajak si mas itu setelah beberapa saat.


"Mm,mas saya biar di jemput Papah saya aja.ini lagi di hubungin dulu." ujar Ayana menolak dengan halus.dirinya risih berduaan dengan laki-laki asing ini.namun sial.ponselnya ternyata sudah lowbet sepertinya sejak tadi.


"Ini udah malam Mbak.gak baik perempuan hamil di luar malam-malam begini pamali." sahutnya.


"Ya udah deh.anter saya ke rumah sakit aja mas." Ayana mengalah ada benarnya juga omongan dia.


"Emang mbaknya ada yang sakit Mbak?" tanya si mas kawatir.


"Nggak.saya cuma mau jenguk suami saya mas.lagi sakit udah dua hari di rawat." bohong Ayana.


"Oh.ya udah hayuk saya antar." ajaknya lalu keduanya menaiki mobil sederhana yang biasa di pakai untuk taksi online.


Keduanya sama sama terdiam.hanya suara musik yang mengalun indah menemani dan memecah keheningan di antara mereka.Ayana bergerak gelisah ingin cepat sampai di tujuan,dirinya begitu risih berduaan di dalam mobil bersama pria ini.


"Kenapa Mbak?kok kaya gelisah gitu?tenang aja saya akan antar ke tujuan kok dengan selamat.jangan takut saya gak mungkin macam-macam Mbak.kalau ada niatan jahat udah dari tadi pas Mbak pingsan." ujarnya mengerti dan seakan paham apa yang ada di pikiran Ayana.


Ayana menoleh ke samping bersamaan pria itu juga sedang menengok padanya hampir saja wajah mereka beradu untung saja jarak tidak terlalu dekat,sehingga kejadian yang di harapkan oleh penulis tidak terjadi dong.ihh,padahal sudah berharap biar ada konflik puanassh.


"Eh,maaf." ujar Ayana dengan kaku.


"Maaf untuk apa.orang gak ngapa-ngapain kok minta maaf?" sahut lelaki itu dengan pandangan lurus ke depan memerhatikan jalan.


"Saya turun aja di sini Mas.udah deket kok tuh udah keliatan di depan." pinta Ayana karena sudah tidak tahan dengan situasi ini.


"Jangan dong.saya mana tega sih nurunin perempuan hamil di sini." cegah lelaki itu. Ayana ingin membalas namun ia sudah lelah dengan apa yang terjadi yang baru saja di alaminya.mereka telah sampai di parkiran rumah sakit.Ayana dengan cepat membuka pintu namun keburu pria itu bukakan seperti Gio yang selalu memperlakukan Ayana bak putri raja.


"Hati-hati nanti jatuh." ucapnya dengan lembut persis Gio.namun bedanya pria ini normal saja tidak seperti Gio yang selalu mengedipkan matanya menggoda Ayana dengan genit.Ayana terdiam merasa deja vu dengan perlakuan pria itu.Ayana teringat akan Gio,ia rindu di perlakukan manis oleh Gio.ah,lelaki itu malah betah tertidur sampai tiga minggu tidak juga bangun.


"Terima kasih Mas.maaf merepotkan,oh iya.masnya bisa langsung pulang aja saya ke dalam dulu ya." ucap Ayana sengaja agar pria itu segera pergi.


"Sama sama.gapapa saya temani ke dalam sampai mbaknya tiba di ruangan suami mbak." sahutnya membuat Ayana seketika tidak nyaman.


Dih apaan sih loe?


"Terserah." balas Ayana lalu melangkah dari sana mengabaikan pria itu yang kini mengikuti langkahnya.


"Ngomong-ngomong kita belum kenalan Mbak.nama saya Jerrian atau bisa di panggil Jeri.saya tinggal di belakang rumah tadi yang pas Mbak pingsan." ujar pria itu mengenalkan namanya.padahal Ayana tidak ingin tahu.


Ayana hanya menoleh dengan wajah ketus." Iya." jawab Ayana tidak berminat memberitahukan namanya.


"Hehe.nama Mbak siapa?boleh lah siapa tahu kapan-kapan kita bisa join apa aja misal usaha gitu." si Jeri seakan tidak peka dengan wajah Ayana yang sudah kusut itu.


Langkah Ayana terhenti dan menatap Jerrian dengan tatapan tak suka" Saya sangat berterima kasih sekali mas,karena tadi mas udah menolong saya.tapi untuk kenalan lebih lagi maaf aja saya tidak bisa kalau mas mau minta uang imbalan karena telah menolong saya.biar saya bayar,mana rekening mas biar saya kirim sekarang." pinta Ayana dengan serius.


Si Jery mengibaskan tangan dengan cepat." nggak Mbak.saya gak minta duit kok.untuk apa,saya tadi nolong Mbak dengan iklas karena gak sengaja juga ngelihat pas kejadian itu.saya cuma pengen kenal lebih dekat aja sama Mbak dan keluarga.gak ada maksud lain kok." ucap Jerrian.


"Tapi saya enggak.enggak pengen kenal sama masnya." Ayana berjalan tergesa meninggalkan Jerrian menuju ruangan Gio.


"Dasar cowok sinting." umpat Ayana setelah sampai di ruangan Gio,untung saja sepi sepertinya ibu mertua Ayana itu sedang keluar.


Ayana mengecas ponselnya yang sejak tadi mati.ingin cepat menghubungi Frans untuk memberitahukan bahwa dirinya tadi mengalami kecelakaan kecil.setelah ini Ayana juga harus memeriksakan si kembar kawatir bayinya itu mengalami syok akibat guncangan tadi.Ayana mencium dahi Gio sebelum ke kamar mandi.dirinya sudah tidak tahan sejak di mobil si Jeri tadi.


"Cepet sembuh sayang.aku kangen banget sama kamu." ujar Ayana.lalu meninggalkan Gio ke kamar mandi.lagi-lagi Ayana tidak melihat adanya pergerakan tangan Gio terangkat seakan meminta dan menggapai Ayana.namun beberapa detik tangan itu kembali terjatuh dengan lemas.

__ADS_1


.......


__ADS_2