
Bastian uring-uringan tidak jelas seperti orang gila, setelah mendapat kabar bahwa istrinya bertemu sang kakak. Bastian tentu tahu jika Bara mengincar sang istri. Dia tidak akan biarkan siapapun merebut Bee dari dirinya.
"Ck, bagaimana? Apa istriku sudah pulang?" tanya nya pada sang asisten.
Ruah menghela nafas panjang, dari tadi Bastian marah-marah tidak jelas. Bahkan bocah itu meninggalkan meeting ketika tahu sang istri bertemu kakak nya sendiri. Bastian sedang perjalanan bisnis keluar kota, jadi dia memberi ruang kepada Bee untuk cuti selama dirinya tidak ada. Bastian tidak mau jika Bee bertemu setiap hari dengan Gilang.
Niat Bastian ingin menjauhkan Bee dan Gilang, ehh malah istrinya bertemu dengan kakak nya sendiri.
"Masih Tuan. Nona sedang makan siang bersama Tuan Bara," jawab Ruah jujur.
"Huh, awas saja nanti kalau aku pulang. Alan ku kurung dia dalam kamar. Nanti kalau keluar ku tutup saja wajah nya dengan plastik biar tidak ada yang lihat," ucap Bastian dengan menggebu-gebu. Dia merutuki dirinya yang mau perjalanan bisnis tanpa Bee. Padahal Bee sudah menawarkan diri untuk menemani dirinya. Tetapi Bastian memiliki rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh Bee.
Ruah menyembunyikan senyumnya, sungguh lucu sekali melihat Tuan Muda Bastian-nya cemburu, sebagai seorang asisten yang sudah lama bekerja dengan Eric. Tentu Ruah tahu bagaimana sifat Bastian. Meski masih muda dan suka membuat masalah tetapi dia memiliki kemampuan dalam berbisnis.
"Ruah, batalkan semua meeting. Lanjutkan besok saja. Aku tidak mood dan perlu istirahat!" titah bastian.
"Baik Tuan Muda," sahut Ruah membungkuk hormat.
"Perketat penjagaan terhadap istriku. Pastikan tidak di ketahui oleh Kak Bara dan Kak Bryan, apalagi mantan kekasih istriku!" perintah Bastian.
__ADS_1
"Iya Tuan Muda," sahut Ruah. "Bagaimana dengan Tuan Gilang, apakah harus dipindahkan tugas atau bagaimana?" tanya Ruah.
Bastian terdiam sejenak. Setelah menyelidiki asal usul Gilang, dia mendapatkan satu informasi bahwa Gilang adalah orang suruhan Bara untuk menghancurkan perusahaan yang sekarang di pimpin oleh Bastian. Tetapi Bastian tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia akan ikuti sampai di mana sang kakak mampu melawan nya.
"Tidak perlu, biarkan saja. Selama aku masih duduk disini, dia tidak akan bisa menghancurkan ku," sahut Bastian tersenyum licik.
"Lalu bagaimana dengan Nona Muda Tuan?" tanya Ruah lagi. Target Bara tidak hanya perusahaan tetapi juga untuk merebut hati Bee dari Bastian.
"Aku percaya pada istriku, dia takkan tergoda pada lelaki lain. Aku lebih dari segalanya," ketus Bastian.
Ruah mengangguk paham dan juga setuju, Bee memang wanita berbeda yang tidak mudah tergoda oleh lelaki lain.
Bastian berdiri dari duduknya. Andai saja proyek nya sudah selesai disini, sudah pasti lelaki itu akan pulang ke Jakarta dan menemui sang istri.
Bara merenggut kesal ketika Bee sama sekali tidak termakan omongan dan godaannya. Kenapa sulit sekali menaklukan hati wanita tersebut, padahal selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Bara, semua wanita bertekuk lutut dihadapan nya.
"Kenapa dengan wajah mu, Kak?" tanya Bryan dengan kening mengerut heran.
Bara menghembuskan nafasnya kasar, "Bee ternyata tidak semudah yang Kakak katakan. Dia bukan wanita sembarangan yang bisa ditaklukkan dengan godaan," sahut Bara kesal.
__ADS_1
"Kau di tolak Kak?" tanya Bryan tidak percaya.
"Bukan ditolak, Bee saja yang tidak tahu siapa Kakak," kilah Bara yang belum terima jika dirinya ditolak.
"Hem, aku tak menyangka Kak, pesona mu telah turun di mata wanita," ledek Bryan sambil terkekeh.
Bara adalah pria pemain wanita, setiap minggu nya dia akan meniduri wanita yang berbeda-beda demi memuaskan hasratnya. Tak peduli wanita tersebut bekas orang lain atau bukan, selama bisa membuat dia puas diatas ranjang baginya tak masalah.
"Ck, dari pada mengejek Kakak. Lebih baik bantu Kakak berpikir bagaimana caranya merebut Bee dari Bastian," cetus Bara, dia masih kesal mendengar ucapan Bee tadi.
"Apa yang bisa ku bantu Kak? Bukankah sudah ada Gilang yang Kakak utus untuk mengawasi pergerakan Bastian?" ujar Bryan bingung.
Bryan tahu bagaimana nekadnya Bara, Kakak nya itu tipe orang berambisi yang selalu mendapatkan apa saja yang dia mau. Tak peduli siapa yang harus berkorban dan di korbankan, selama hal tersebut bisa membuat dia mewujudkan semua keinginan nya, maka dia akan lakukan apa saja.
"Cari titik kelemahan Bee, Kakak yakin wanita seperti itu memiliki kelemahan tersendiri," ucap Bara tersenyum licik. "Atau....."
"Atau apa Kak?" tanya Brayn menatap sang Kakak.
Bersambung...
__ADS_1