Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
95


__ADS_3

Rumah besar Monica begitu ramai malam ini karena sedang mengadakan acara aqikah putrinya Abi dan Jennie.Ayana dan Gio juga sibuk membantu selama acara tersebut berlangsung tadi malam.ada beberapa keluarga yang datang dan berkumpul dari keluarga Jennie.begitu juga dari keluarga Frans dan Monica.namun tidak semuanya bisa hadir lantaran memiliki kesibukan masing-masing.Usai acara selesai mereka semua pergi beristirahat.apa lagi Ayana yang sejak tadi nampak kelelahan.Gio segera saja membawa istrinya itu untuk tidur.kawatir Ayana akan jatuh sakit.


Sesampainya di kamar Ayana langsung tertidur di pelukan Gio yang hangat itu.Gio mengusap dan menciumi kepala istrinya dengan sayang." Semoga selamanya kamu bisa kupeluk seperti ini." gumamnya sebelum pergi menyusul Ayana tidur.


Keesokan harinya Frans mengadakan makan-makan bersama mertua dan saudara-saudara dari istrinya.selagi mereka masih berada di sana,ada Sandoro dan Beatrix adik dari Monica.ada Citra juga Kevin dan ayahnya.dan untuk kumpul keluarga kali ini Althea juga ikut serta setelah berbagi bujukan dari ibunya akhirnya anak itu mau ikut.


"Thea ngambil kuliah di mana sekarang Dek?" tanya Frans basa basi.sudah lama sekali sepupu anaknya itu tidak datang kesana.terakhir pada saat acara aqikah si kembar dan sekaligus acara selametan atas kesembuhan Gio.sudah hampir dua tahun yang lalu.


"Di BBS,Pakde." jawab Thea seadanya jujur saja ia masih sangat malu pada pakdenya itu,lantaran pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menginjakan kakinya lagi di rumah mewah ini.


Frans tersenyum dan mengangguk." Kuliah dan belajar yang benar nak.nanti bisa kerja bareng ka Aya.jangan sungkan belajar sama kakamu itu ya."


"Pakde bener,Thea." timpal Beatrix." Siapa tau nanti kamu bakal menempati posisi yang bagus di kantor pakde.harus contoh ka Aya tuh.udah cantik pintar lagi,idaman semua lelaki." Ayana mendengus mendengar itu.ia memilih diam di samping Gio yang juga diam saja sejak tadi.di setiap ada kesempatan kumpul keluarga seperti ini Gio memang sering banyak diam.jika di tanyai maka dia akan menjawab dengan seadanya.Gio memang terkesan seperti membatasi diri dengan keluarga besar istrinya itu.bukan karena sombong tapi ia sadar diri dan selalu merasa minder.


Sandoro menatap Gio yang duduk anteng di samping istrinya itu." Gi,bagaimana kerjaan,lancar?om dengar kamu lagi megang mesin sekarang,apa iya?."


Gio yang di tanya pun mengangguk juga tersenyum." Lancar om.pelan-pelan sambil masih belajar.Papah buka di daerah kulon.triplek om,kebetulan saya di minta Papah megang di sana."


"Bagus dong.kamu memang bisa di percaya om ikut senang dengan perkembangan usaha mas Frans,belajar sungguh-sungguh ya Gi.ilmunya sangat bermanfaat bisa kamu gunakan suatu saat." balas lelaki tua itu.dan obrolan demi obrolan pun mengalir dengan lancar. jarang-jarang mereka bisa kumpul keluarga seperti ini.tak lama Jerrian bersama ibunya terlihat baru tiba di sana lelaki itu menggandeng tangan sang ibu kemudian masuk ke dalam rumah Ayana.


"Jeng,nuhun atuh udah nyempetin datang." ujar Monica.kemudian kedua wanita itu cepaka cepiki ala ibu-ibu.


"Sama-sama.maaf agak telat ini,soalnya kan tau sendiri jakarta macetnya kaya apa." ujar ibu dari Jerrian itu.kemudian matanya beralih pada keluarga Monica dan Frans yang masih ada di sana.karena keluarga Jennie sudah lebih dulu pulang." Ini Beatrix sama Sando kan?ya ampun baru ketemu lagi kita." wanita itu langsung menghampiri adik dari Monica itu kemudian beralih juga pada citra dan suaminya.mereka memang saling mengenal waktu masih pada muda dulu namun tidak begitu dekat.


Jerrian menghampiri Ayana dan Gio yang duduk sedikit terpisah dari kumpulan orang tua.lelaki bertubuh jangkung itu tersenyum saat beradu tatap dengan Gio kemudian menyodorkan tangannya.


"Sehat Gi?" sapanya ramah.


"Sehat,bang." sahut Gio sambil menyambut tangan Jerrian.


"Gimana proyek di kulon udah rangkum belum?" tanya Jerrian lagi setelah mereka sama-sama terdiam.


"Untuk yang bulan pertama udah,tapi Papah ada kontrak selanjutnya dengan Mr Lee mulai bulan ini di kerjakan.kurang lebih pertengahan bulan nanti." ujar Gio,kini mereka sedikit mencair ketimbang di awal tadi yang terasa sekali kecanggungan di antara mereka.


Jerrian menganggukkan kepalanya." Mr Lee yang pesen heater bukan?saya juga di minta om Frans kesana katanya untuk bantu-bantu kamu selama proses pembuatan." lelaki itu berdehem sebentar untuk mengurangi kecanggungannya pasalnya baik Ayana mau pun Gio keduanya sama-sama terdiam." Saya denger kamu masih kurang paham tentang heater,Gi.jadi om Frans meminta saya untuk dampingin kamu di sana.semoga kerja sama kita kali ini berjalan sesuai harapan ya."


"Iya Bang." balas Gio seadanya.kemudian ada beberapa keluarga Ayana ikut nimbrung dan mengobrol di sana bersama mereka.sesekali gelak tawa terdengar dari kumpulan itu.Gio hanya sesekali menimpali dan menjawab jika ada yang bertanya padanya.di saat semua sedang saling melempar candaan hanya Gio yang tak ikut larut dalam candaan itu.bahkan fokusnya saat ini hanya kepada satu orang.


Jerrian terlihat begitu sering menatap Ayana dengan tatapan memuja.ia tersenyum saat Ayana tertawa mendengar banyolan Kevin yang terdengar mengocok perut.Jerrian begitu sering mencuri pandang entah tidak sadar atau memang dengan sengaja secara terang-terangan tanpa menutupi lagi.semua itu tak luput dari pandangan Gio,ia melihat semuanya dan semakin yakin kalau lelaki itu memang benar menaruh hati pada sang istri,dan sekarang sudah mulai menunjukan.semua itu membuatnya geram namun hanya bisa menahannya dalam dada.tapi Gio tidak bisa diam saja ia harus melakukan sesuatu agar istrinya tidak dekat-dekat lagi dengan pria itu.tapi bagaimana pikirnya,ia tak tahu harus apa.karena sangat tidak mungkin melarang Ayana tanpa alasan yang masuk akal.wanita itu akan bertanya dan pasti akan merembet kemana-mana,Gio tidak suka masalah jadi melebar.


"Kamu sering ketemu Jerrian ya di kantor?" tanya Gio saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Ayana yang sedang menyusui Vindi pun menganggukkan kepalanya." Orang satu kantor gimana gak ketemu tiap hari." jawabnya tanpa menatap pada Gio,ia sibuk menyeka keringat di dahi anaknya itu." Kecuali kalau aku ada keperluan di luar dan kadang dia juga ikut.otomatis ketemu terus." Ayana beralih menatap Gio yang sedang mengganti kaus dengan baju tidur." Emang kenapa sih?kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Nggak ada,nanya doang."


"Lah?beneran?." Gio hanya diam tak bertanya lagi,lelaki itu berdiri lalu berjalan kemudian menggeser pintu kaca yang mengarah ke balkon.ia duduk di kursi mengeluarkan rokonya.Gio diam sambil menikmati nikotin itu dalam heningnya malam.ini sudah jam 00:20 tapi matanya masih tidak mengantuk.Giovanno kepikiran dan masih terbayang bagaimana wajah dan mata lelaki itu begitu memuja saat menatap istrinya.sebagai seorang suami jelas ia tak rela ada yang menatap miliknya dengan penuh cinta seperti itu.tapi mau bagaimana lagi,ia tak bisa meminta mereka untuk berjauhan pasalnya keduanya bekerja di tempat yang sama.


...☘☘☘☘☘...

__ADS_1


Pagi ini Gio telah bersiap akan kembali ke tempat kerjanya.dan bisa di pastikan mungkin ia tak bisa kembali dalam beberapa minggu ke depan karena Gio sedang di kejar waktu.Mr Lee meminta ingin mesin itu rangkum dalam waktu yang sudah di tentukan sesuai yang tertulis di kontrak kerja dan ia tidak menerima adanya alasan lain.maka dari itu Gio meminta istrinya untuk paham dalam pekerjaannya kali ini.


"Hati-hati Sayang." Ayana melepas suaminya dengan berat,ia sudah terbiasa lagi karena sebulan lebih Gio terus bersamanya di sini.bahkan keduanya tidak kembali lagi ke rumah mereka dan menetap di rumah Monica untuk sementara waktu.semua itu atas permintaan Monica agar anak dan menantunya itu memiliki waktu yang bebas untuk berduaan.Gio melambaikan tangannya dengan mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah mertuanya itu.ia tersenyum melirik kaca spion di sana Ayana masih berdiri dengan Vindi di gendongannya menatap mobil Gio yang mulai menjauh.


"Tunggu ayah kembali ya." gumam Gio sembari menancap gas cukup kencang demi menghindari kemacetan pagi ini.


Setelah di tinggal oleh Gio kembali kerja di luar daerah.aktivitas Ayana kembali seperti semula.ia sibuk di kantor menggantikan ayahnya yang selalu berpergian ke luar kota mau pun daerah.Frans memang jarang terlihat ada di rumah akhir-akhir ini ia sibuk menemani kolega bisnisnya,apa lagi jika ada rekannya itu yang berasal dari luar negeri.seperti hari ini Ayana di minta menemani Mr Lee dan Mr Song bermain golf.rekan bisnis ayahnya itu membawa serta anak dan istrinya dari korea untuk mengunjungi indonesia.mau tidak mau Ayana menyambut mereka dengan baik dan saat ini ia telah bersama di bukit golf yang berada di kawasan sentul.


"Annyeonghaseyo,senang bertemu denganmu nona Ayana." ujar istri dari mr Lee yang bernama Hwang Jung Mi.


Ayana membalas dan tersenyum dengan ramah." Annyeonghaseyo,senang bertemu dengan anda juga nyonya Hwang." Ayana beralih pada istri mr Song yang bernama Uhm Sunha dan putrinya Song Naeun.ia mengucapkan hal yang sama dalam bahasa korea dan sesekali bahasa Indonesia.karena orang korea jarang yang bisa atau fasih berbahasa inggris Ayana tidak menggunakan bahasa tersebut.


Mereka berlima bermain golf dengan serius beruntung Ayana ini bisa memainkan olah raga ringan tersebut karena itu adalah salah satu hobinya.dulu Ayana ketika remaja sering berpergian bersama Frans.wanita beranak tiga itu begitu piawai di bidang ini.bahkan bukan sekali dua kali ia mendapat pujian dari mereka tamunya.


"Anda luar biasa.rata-rata wanita di korea menyukai olah raga ini.kami kagum padamu nona.selain pintar dan cantik.anda juga pintar bermain golf." puji Mr Song dan Mr Lee juga istri-istri mereka.Ayana hanya tersenyum namun sama sekali tidak melayang oleh pujian itu.ia sudah terbiasa mendapatkannya.


"Eonnie,kapan-kapan kita pergi bersama bisa tidak?aku ingin jalan-jalan denganmu " ujar Song Naeun putri dari Mr Song.


Ayana mengangguk setelah meminum air putih untuk membasahi tenggorokannya." Tentu saja,besok kita jalan-jalan.aku akan menemanimu." balasanya dengan senyum ramah.usai itu mereka memesan makan siang dengan hidangan yang mewah temanya korean food.


...☘☘☘☘☘...


"Kemarin ke sentul ya?" Ayana menoleh saat suara Jerrian terdengar di belakangnya.


"Iya,nemenin tamu Papah." jawab Ayana dengan singkat.kemudian ia menerima bungkusan paket dari salah satu pegawainya dan di minta untuk tanda tangan.paket itu di kirim dari Gio.setelah membubuhkan tanda tangan Ayana berjalan hendak memasuki ruangannya dengan memeluk paket tersebut.


Jerrian mengekor di belakang dengan santai ia masuk kemudian duduk di kursi tidak jauh di depan Ayana.Jerrian menyodorkan beberapa laporan hasil kinerjanya selama beberapa bulan ini Ayana memeriksa dengan teliti ia menganggukkan kepalanya cukup puas dengan kinerja lelaki itu." Gimana,Ay?" Jerrian menatap Ayana yang sedang melipat berkas itu.


Jerrian terkekeh senang ia sampai memalingkan wajahnya yang memanas itu ia salting di puji seperti ini oleh wanita yang ia sukai itu." Terima kasih,Ay.maaf aku masih banyak kekurangan dan masih harus belajar lagi.terima kasih untuk kesempatannya menempatkan aku di sini kalau bukan karena kalian entah usahaku bagaimana."


Ayana mengangguk lagi." Ya,aku rasa kamu akan naik jabatan nih Jerr." Ayana menanggapi dengan candaan.ia merasa kinerja Jerrian cukup memuaskan tidak ada alasan bagi Frans untuk tidak menaikan jabatannya.Jerrian makin salah tingkah,perasaannya membuncah membayangkan ia akan naik jabatan di kantor ini.itu artinya ia akan banyak memiliki kesempatan berpergian dengan Ayana lebih sering.


"Kamu bisa aja,belum tentu om puas dengan hasil kerjaku."


"Siapa yang tau." balas Ayana tanpa menatap Jerrian.hubungan mereka memang kembali mencair sejak kejadian waktu lalu.jujur Ayana memang sempat kesal pada lelaki itu.tapi bukan berarti ia harus berlarut dalam masalah itu.ia dan Jerrain terikat pekerjaan mau tidak mau mereka harus profesional tidak mengaitkan alasan pribadi dengan pekerjaan.lelaki itu juga sudah meminta maaf beberapa kali sudah menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi.dan yang terpenting Ayana harus menjaga jarak darinya berusaha untuk tidak terlalu dekat.


Seperti sekarang ini saat Jerrian sudah selesai dengan urusannya,Ayana meminta pria itu untuk segera keluar dari ruangannya.ia tak ingin di ganggu oleh siapa pun ketika akan membuka kiriman dari suaminya itu.


"Wihhhh,ya ampun manggis." Ayana kegirangan begitu melihat isi paket itu isinya adalah kerajinan tangan dan aneka buah.seperti manggis.rambutan,dan kecapi.hanya buah-buahan murah yang berasal dari kampung dan harganya pun tidak seberapa.bahkan Ayana bisa membelinya dengan jumlah yang banyak tapi karena ini pemberian Gio apa lagi spesial untuknya.maka Ayana begitu bahagia menerimanya dengan senang hati bahkan ia tak mencucinya dulu saat mencoba buah-buahan itu.


Saat Ayana tengah menikmati buah rambutan ponselnya berdering ada panggilan video masuk dari Gio.segera saja ia menerimanya dengan wajah bahagia." Udah di terima?" tanya Gio.


"Udah barusan aja.lihat deh aku abis banyak." Ayana memperlihatkan kulit rambutan di meja kerjanya.


Gio tersenyum senang." Itu ada beberapa kerajinan dari nelayan di sini yang.pakai nanti ya aku pengen lihat pasti bagus."


"Iya belum aku coba.nanti aja di rumah. sampein ke mereka Gi,terima kasih banyak karena merepotkan.bilang aku suka hiasan dan aksesoris juga buahnya ya."


"Iya,ya udah aku berangkat dulu Sayang lihat nih belum ganti baju aku," Ayana mengangguk kemudian mematikan panggilan video itu.

__ADS_1


Ayana memutuskan akan pulang sekarang ia baru ingat kalau sore ini ada janji dengan dokter THT.Ayana akan membawa si sulung untuk periksa telinga.kemarin putrinya itu mengeluh sakit di telinganya.


"Bun,mau pipis." ujar Jemia saat mereka baru saja tiba di rumah sakit.


"Tadi kan bunda bilang pipis dulu Jem." omel Ayana tapi tetap membawa putrinya itu ke toilet umum.usai melakukan pemeriksaan dan saat ini Ayana dan putrinya tengah menunggu antrian obat tiba-tiba seseorang menyapa dan duduk di samping Ayana.


"Apa kabar,Aya?" Ayana menoleh tentu dia sangat mengenal suara itu.


"Baik,Leon?." balasanya kemudian ia mengedarkan pandang mencari sosok wanita yang biasanya selalu mengekor kemana pun pria ini pergi.tapi sepertinya nenek gayung itu memang tidak ada. Ayana bernapas lega.setidaknya ia tidak akan berdebat di tempat umum dengan nenek gayung itu.


"Sukurlah.aku habis cek gula ini,ngeri naik karena suka makan manis-manis terus." ujar Leo tanpa di tanya." Kamu sama siapa berdua aja sama si cantik ini ya?" Leonardo menoleh pada putri Ayana.belum sempat Ayana menjawab lelaki itu menyapa putri Ayana." Hai cantik,siapa namanya?"


"Jemi,Om." jawab Jemia dengan senyum manis hingga matanya menyipit,mirip sekali dengan sang ayah.


"Wah namanya cantik ya kaya orangnya. saya om Leo teman mami kamu." Leonardo memperkenalkan diri ia sangat suka melihat senyum manis gadis kecil itu lelaki itu mengusap pucuk kepala Jemia dengan sayang." Kamu cantik banget sih mirip mami."


Jemia tersipu di puji cantik sifat narsis dan kepedeannya itu memang menurun dari bapaknya." Makasih om.om Leo juga ganteng,tapi lebih gantengan Ayah aku."


Ayana manahan tawa melihat Leonardo menganga mendengar ucapan putrinya itu ia menepuk paha Jemia pelan." Jemi,gak boleh begitu sayang." tegurnya.


"Emang kenapa bunda?" tanya Jemia polos.


"Gapapa ya Dek.kamu benar gantengan ayah kamu dari pada om Leo mah.buktinya mami kamu menikahnya dengan Ayah coba kalau gantengan om Leo,pasti mami maunya sama om Leo."


"Hah?" Jemia menatap heran dengan kerutan di dahinya.ia tak paham dengan maksud om-om di depannya ini.


Ayana tertawa pelan kemudian mendengus pada Leonardo." Anak kecil mana paham sih,gak usah ngomong aneh-aneh deh."


"Aku gak ngomong aneh-aneh,Aya.itu kenyataan." bantah Leonardo membuat Ayana menatap sinis padanya.


"Udah ya kami duluan." wanita itu melangkah dari sana setelah mengambil obat Jemia.ia malas berlama-lama dengan Leonardo.pasalnya luka hatinya masih belum sepenuhnya sembuh oleh ucapan tajam lelaki itu.


"Aya,tunggu.sebentar aja." Leo mencegah dan berusaha menyamai langkah Ayana." Tunggu sebentar.aku cuma mau minta maaf sama kamu,maaf untuk semuanya untuk kesalahan-kesalahan yang aku lakukan sama kamu,Aya.aku tau,aku ini mungkin tidak termaafkan.tapi ijinkan aku untuk meminta maaf dengan tulus.aku menyesal,Aya."


Langkah Ayana terhenti ia memasukan anaknya lebih dulu ke mobil memintanya menunggu di dalam.kemudian menyalakan mesin agar anaknya di dalam tidak kepanasan.lalu ia menatap Leo dengan tatapan datar.


"Udah lah,semuanya udah berakhir.kita sudah punya jalan sendiri-sendiri.untuk yang dulu-dulu aku udah lupain semuanya mari untuk tidak saling menganggu kehidupan masing-masing.aku udah maafin kamu,tapi tidak dengan setiap ucapanmu yang menyakitkan itu,yang kini masih terngiang di kepala ini." Ayana mengetuk kepalanya membuat hati Leonardo makin teriris." Hiduplah dengan baik Leon.dan jangan pernah ganggu aku lagi.permisi." Ayana masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Leonardo atau pun menatap pada lelaki itu saat mengatakannya pun Ayana sama sekali tidak menatap wajah pria yang dulu pernah sangat ia cinta sekaligus yang pernah melukai perasaannya itu.kemudian mobil yang di kendarainya meninggalkan area parkir.


Leonardo mematung di tempat menatap kepergian Ayana yang tanpa bisa ia cegah. dirinya menatap nanar ke depan merasai segala penyesalan atas tindakannya yang dulu pada wanita itu.ia begitu menyesal telah menyianyiakan perempuan sesempurna Ayana.terlebih ia menyakitinya terus menerus hingga Ayana menjauhinya dan selalu menghindar setiap kali mereka bertemu.


"Aku menyesal.aku menyesal.sungguh, maaf untuk semuanya Aya." lirih Leo sambil menarik napas karena dadanya mendadak sesak.akibat kebodohannya ia kehilangan sosok itu.sosok yang telah ia anggap adik sekaligus teman,dan ternyata sosok itu juga yang telah mengambil hatinya.siapa yang tahu ternyata ia mencintai Ayana tanpa ia sadari. perempuan yang dulu begitu menyebalkan dan rese itu ternyata telah mengambil separuh hati Leonardo.dan ia baru menyesali dan menyadarinya setelah kehilangan.


...☘☘☘☘☘☘...


Tepatnya sudah sebulan lebih Gio tidak sempat pulang kerumah.ia hanya berkabar dengan keluarganya melalui ponsel saja. bahkan Gio sempat kacau saat mendengar kabar buruk dari Indri bahwa ibunya sempat kembali drop akibat lalai menjaga kesehatannya.Mira di larikan ke rumah sakit akibat darah tingginya naik.dan paru-parunya juga sudah semakin parah. penyakit ibunya Gio itu memang sudah komplikasi.tak hanya paru-paru dan darah tinggi saja ternyata Mira juga diabetes tipe 1.selama ini mereka lalai dalam menjaga kesehatan Mira karena di pikir sudah sembuh.dan hanya perlu menjaga kadar darah saja,mengenai paru-paru baru beberapa bulan ini mereka mengetahuinya begitu dengan Mira sendiri ia merasa sudah membaik setelah mendapat perawatan dari Gio tiga tahun lalu.namun ternyata penyakit mematikan itu diam-diam telah berkembang di tubuhnya.


"Besok aku mau kesana bareng Papah.Mr Lee mau merayakan atas berdirinya pabrik dia.kalau gak datang aku gak enak.soalnya gak ada yang nemenin Papah,Mamah harus ke cirebon bawa kakek berobat lagi setelah ini kamu pulang aja dulu Gi,kasian ibu." pagi ini Ayana menelepon suaminya mengabarkan bahwa ia baru saja pulang dari rumah sakit tempat Mira di rawat.


"Iya,sayang.kabarin ya kalau udah berangkat." suara Gio begitu pelan.Ayana memahami laki-laki itu begitu sedih atas apa yang tengah menimpanya saat ini." Aku mau lihat kayu di ujung kulon sana mungkin saat makan-makan nanti aku gak bisa ikut.kemungkinan aku baru kembali lusa.gapapa ya gak aku temenin juga,kan kamu ada Papah."

__ADS_1


"Iya gapapa.kamu hati-hati,sampe ketemu lusa.jaga diri baik-baik Sayang.fokus kalau lagi nyetir.jangan terlalu kawatir ibu udah dapat perawatan terbaik."


"Makasih,Sayang.makasih untuk semuanya." Ayana menggigit bibir bawahnya mendengar suara Gio yang bergetar.ia tahu lelakinya ini sedang menahan tangis.


__ADS_2