
Bastian mendelik melihat semangkuk bakso yang ada didepan nya. Aroma nya memang menggoda saat menyeruak masuk kedalam indra penciuman Bastian.
"Ayang, ini apa sih?" tanya Bastian sembari protes. Asap bakso yang mengempul keluar mangkuk sungguh terlihat menggoda di mata Bee.
"Bakso, Bas," jelas Bee sambil geleng-geleng kepala.
"Ehh, Ayang. Kenapa di makan panas-panas?" tanya Bastian sambil mencegah istrinya yang hendak memasukkan bakso tersebut kedalam mulutnya.
"Ck, justru panas-panas begini yang enak," jawab Bee ketus. Suaminya ini ada-ada saja, perut nya sudah lapar.
"Ayang itu masih panas, sini biar aku dinginkan dulu. Nanti mulut mu bisa melepuh," ucap Bastian menarik mangkuk istrinya.
Bee merenggut kesal. Mau makan saja ribet harus ini dan itu. Sementara Bastian meniup-niup asap yang keluar dari bakso sang istri.
"Nah, Ayang. Ini sedikit dingin," ucap Bastian mengembalikan mangkuk istrinya.
"Kau tak ingin coba?" tawar Bee.
"Tidak Ayang, aku makan dirumah saja," tolak Bastian. Melihat butiran bakso itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Seumur hidup dia tak pernah menyentuh makanan aneh tersebut.
"Coba dulu Bas," tawar Bee sekali lagi.
"Tidak mau," tolak Bastian tegas.
"Aku suapin yaaa," rayu Bee tersenyum.
Sejenak Bastian tertegun menatap senyum manis yang tersungging di bibir cantik istrinya. Dia benar-benar tak bisa lepas dari pesona wanita dewasa tersebut. Hanya saja sayang, hingga kini mereka belum melakukan malam pertama.
"Tapi kalau aku sakit perut bagaimana?" tanya Bastian melihat bakso di mangkuk istrinya. Sedangkan bakso di mangkuk nya tak dipedulikan sama sekali.
Bee tersenyum gemes. Kadang dia ingin rasanya menarik pipi Bastian, suaminya ini benar-benar masih anak-anak.
"Tidak akan, Bas. Aku jamin," ucap Bee sambil tersenyum. "Ayo coba." Sambil mengangkat sendok dari mangkuk.
Bastian mengangguk, walau sebenarnya dia tidak yakin jika makanan itu akan aman didalam perut nya.
Bastian memejamkan matanya ketika bakso tersebut masuk kedalam mulutnya.
"Bagaimana?" tanya Bee melihat wajah suaminya yang seperti ketakutan.
__ADS_1
Bastian terdiam sejenak sambil meresapi makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya tersebut. Wajah lelaki itu tampak heran ketika merasakan bakso yang pas di lidah nya.
"Wahh Ayang, enak!" seru Bastian.
"Kan aku sudah bilang memang enak," ucap Bee terkekeh.
"Aku mau lagi, Ayang," ucap Bastian sumringah.
"Itu ada. Ingat jangan pakai sambal," ujar Bee.
"Iya Ayang."
Bee tersenyum menggeleng ketika melihat suaminya makan dengan lahap. Bastian kira bakso itu rasanya aneh dan pasti akan membakar mulut nya. Tetapi dia salah, rasa bakso enak dan segar di lidah apalagi ada daun seledri dan bawang merah goreng.
"Ayang, enak. Aku suka Ayang!" seru Bastian sambil makan.
"Awas, sakit perut," singgung Bee tersenyum menggoda suaminya.
"Ayang aku mau menambah lagi," pinta Bastian.
"Ini makan punya ku saja," ucap Bee mendorong mangkuk bakso nya.
"Aku sudah kenyang," jawab Bee.
Bee kenyang sendiri melihat cara Bastian makan. Dia pikir anak sultan ini akan memuntahkan bakso dari dalam mulutnya. Ternyata Bastian menyukai makanan favorit nya tersebut.
Bee menopang dagu nya sambil menatap sang suami. Dia masih tak menyangka jika takdir membawa nya menikahi bocah seperti Bastian. Walau Bee akui bahwa suami nya ini sudah banyak berubah. Bastian juga sudah mampu menguasai emosinya. Contohnya saja ketika Gema menyerang nya tadi.
"Ayang, aku baru tahu kalau bakso itu rasanya enak sekali!" ujar Bastian.
"Kau suka?" Bee menyeka bibir suaminya yang sedikit blepotan.
Mereka menjadi pusat perhatian. Tak ada yang menyangka bahwa Bastian dan Bee adalah pasangan suami istri. Keduanya seperti adik kakak saja. Apalagi Bee yang lengkap dengan pakaian kantor serta Bastian yang masih memakai seragam sekolah.
"Bagaimana ujian nya tadi?" tanya Bee memberikan minuman pada suaminya.
"Mudah, Ayang. Awas kalau aku dapat nilai tinggi dan aku tidak dapat hadiah, aku akan mengurung mu seharian di kamar," ancam Bastian.
Bee menelan salivanya susah payah. Dia sudah berjanji akan memberikan sesuatu paling berharga dalam hidupnya sebagai hadiah atas keberhasilan Bastian. Tetapi jika suami nya benar-benar berhasil, Bee akan berikan apa yang sudah dia janjikan. Dia tidak mau membuat Bastian kecewa nantinya. Meski Bee belum tahu bagaimana perasaan nya pada Bastian. Namun, Bee yakin bahwa sang suami adalah laki-laki baik.
__ADS_1
"Juara 1? Bisa?" goda Bee menarik turun kan aksinya.
"Juara 1?" ulang Bastian.
"Baiklah," sahut Bastian.
.
.
"Ayang, besok aku sudah mulai masuk kantor karena ujian akhir sudah selesai," ucap Bastian bersandar manja di lengan Bee.
"Sudah siap?" Bee melirik suaminya.
"Siap dong, Ayang. Kan ada Ayang yang bantu," sahut Bastian tersenyum menggoda.
Bee menghela nafas panjang. Dia tahu bahwa banyak yang meragukan kemampuan Bastian tetapi Bee yakin bahwa suaminya tersebut mampu memimpin perusahaan.
"Bas."
"Iya Ayang," sahut Bastian
Bastian bangkit dari bahu Bee, lalu menatap istrinya tersebut.
"Kenapa, Ayang?" tanya Bastian menatap istrinya.
"Bas, aku tahu kau masih muda. Tapi aku juga tahu kau memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Setelah ini, kau akan menghadapi kehidupan yang lebih berat lagi. Kita tidak selamanya berdua, akan ada malaikat kecil yang hadir ditengah-tengah kita nanti. Aku harap, kau bisa dewasa, Bas. Kau akan jadi suami dan juga ayah," ucap Bee menatap suaminya serius.
Bastian mengangguk paham pada ucapan istrinya. Bee benar, dia harus dewasa terutama dalam memimpin kehidupan rumah tangga mereka.
"Apa setelah lulus kau akan kuliah?" tanya Bee. Sebab kemarin suaminya itu dengan terang-terangan menolak untuk lanjut.
Bastian mengangguk, "Aku akan lanjutkan kuliah, Ayang," jawab Bastian.
Bastian menyatukan tangan mereka. Andai Bee tahu betapa suaminya mencintai wanita ini. Bastian bocah yang mungkin saja baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, perasaan nya pada Bee tidak main-main.
"Ayang, aku berjanji akan menjadi suami terbaik untuk mu. Mungkin saat ini aku belum bisa memberikan Ayang apa-apa. Tetapi suatu saat nanti, Ayang pasti akan tahu siapa sebenarnya. Maaf ya Ayang, aku sering membuatmu kesal dan marah. Aku sebenarnya memang manja," ucap Bastian pelan ketika menyebut manja. "Tapi sejak aku sama Ayang, aku belajar banyak hal. Terima kasih Ayang, sudah menerima aku apa adanya," tutur lelaki itu tulus.
Bee mengangguk, jujur saja di awal pernikahan dia belum menerima Bastian bahkan Bee sempat berpikir meninggalkan suami tengil nya tersebut. Namun, setelah hidup bersama lelaki tersebut selama beberapa bulan ini, Bee semakin mengenal sifat suaminya. Bastian bukan lah anak-anak seperti yang di lihat orang, suaminya ini memiliki banyak rahasia yang tidak di ketahui orang lain termasuk kedua orang nya.
__ADS_1
Bersambung...