Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
90


__ADS_3

Di waktu yang sama namun berbeda tempat Ayana tengah mengobrol dengan Gio melalui panggilan video,mereka membahas keseharian dan pekerjaan. keduanya saling berbagi cerita tentang bagaimana sepinya saat mereka berjauhan jika saja mereka tidak memikirkan perut dan masa depan anak-anak mungkin saja keduanya akan menempel terus siang dan malam.akan tetapi untungnya mereka sadar bahwa mereka ini manusia normal yang masih memikirkan masa depan.


"Kangen kamu,yang" ujar Gio sembari menatap sendu pada layar ponselnya.rasa rindunya kepada sang istri begitu menggebu gebu.


Ayana tersenyum dan menatap hangat suaminya." Sama,kalau ada waktu aku susul kamu kesana ya?"


Gio menggeleng dengan cepat melunturkan senyum Ayana." Jangan Sayang,jauh.nanti kamu lelah,aku gak mau kamu kenapa-napa dan kelelahan.udah cukup kamu mengurusi segala hal,jangan di tambah lagi nyusulin sampe sini.ada waktu aku pasti pulang kok.janji."


Bibir kemerahan milik istrinya Gio itu langsung mengerucut." Kenapa?aku kan pengen tau kesana,masa gak boleh sih?nanti sama Ajun atau gak sama Pak Rudy deh biar aman perginya."


"Nggak,kamu gak boleh kesini jauh yang. minggu ini aku pasti pulang nanti kita ke bogor kita makan mie,"


"Ngapain jauh-jauh ke bogor kalau cuma mau makan mie doang?di rumah juga bisa" dengus Ayana.


"Ya udah di rumah aja kalau gitu." Gio mengalah,ia sudah mempunyai rencana kalau minggu depan akan membawa istri dan anaknya jalan-jalan ke sentul jungle land.


Ayana meletakan ponselnya di atas bantal ia bergerak memiringkan kepalanya ke arah layar ponsel.cukup lama Ayana diam seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Gio bertanya." Kenapa yang?"


Ayana mengerjap lalu menatap Gio." Nggak ada apa-apa,eh.sebenarnya aku mau cerita,tapi gimana ya?" Ayana terdiam sesaat dan Gio setia menunggunya.


"Hey?katanya mau cerita kok malah diam?" tegur Gio setelah ia menunggu lebih dari dua menit tapi Ayana hanya diam sambil mengigiti bibirnya.membuat Gio tergoda ingin mengecupnya.Ayana tertawa kemudian bangun untuk menaikan suhu ac karena terlalu dingin,maklum saat ini ia hanya menggenakan baju terusan dengan tali kecil,itu merupakan baju adat Ayana. wanita itu memang gemar memakai pakaian bertali kecil.entah daster.atau piyama,bisa juga baju terusan seperti yang di kenakannya saat ini.


"Lupa Gi,besok aja kalau udah ingat ya,aku tuh lupa mau cerita apa gitu tadi tuh,eh malah lupa ya udah nanti aja ceritanya." jelas Ayana membuat Gio tersenyum.


"Gemes banget sih,ya udah kalau udah ingat baru cerita." ujarnya.ia terdiam sesaat sembari memperhatikan tampilan istrinya." Yang,jangan pake baju terlalu kebuka ya kalau di rumah,apa lagi pas gak ada aku kaya gini.aku takut ada orang jahat masuk ke rumah kita." ujarnya begitu kawatir." Ke kantor juga usahakan agak tertutup ya Sayang,bukan apa-apa,aku gak mau kamu jadi bahan tontonan laki-laki lain.kamu tau anak-anak produksi kalau lihat kamu mata mereka keluar semua."


Ayana tertawa sambil membenarkan selimbutnya." Iya,iya,suamiku perhatian banget sih.bikin kangen aja."


"Kamu yang bikin kangen yang," balas Gio." Untung aku bawa baju kamu,jadi kalau kangen banget aku cium aja biar berasa dekat kamu terus."


"Hah?kok bisa?baju yang mana?"


Ayana tampak terkejut ia tak menyangka kalau Gio akan semanis itu.sampai membawa bajunya segala." Kaya atasan gitu." Gio mengambil baju Ayana dan memperlihatkannya di layar ponsel." Ini bekas kamu pake kayanya soalnya pas aku temuin di dalam koper ini baju wangi keringat dan parfum kamu.kayanya gak sengaja ke masukin ke dalam koper."


"Astaga,mungkin Jemi kali di buat mainan dari keranjang cucian" balas Ayana sambil menguap matanya sudah berair tandanya ia sangat mengantuk.


"Bobo gih Sayang.gapapa aku temenin gak usah di matiin hapenya.kamu tidur aja nanti aku matiin kalau kamu udah tidur. anggap aja aku lagi meluk kamu sekarang." Gio mengucapkan kata-kata lembut untuk mengsuges Ayana agar istrinya merasakan nyaman dan seakan mereka sedang berdekatan.


"Hmm,jangan di matiin ya sebelum aku tidur." pinta Ayana sembari mulai memejamkan mata.ia terus mendengarkan Gio bercerita tentang apa saja yang ia lakukan selama di sana.


Benar saja beberapa menit sudah Gio mendengar dengkuran halus.tandanya Ayana sudah pergi ke alam mimpi,ia memastikan sebentar sebelum mematikan panggilan itu." Selamat tidur Sayang." gumam Gio dan ia pun segera memejamkan matanya.


Selang beberapa menit Ayana terbangun dengan napas tersenggal,ia bermimpi rupanya dan mimpi itu sangat buruk sehingga dirinya benar-benar ketakutan sekarang.jantung wanita itu bedetak begitu kencang seolah akan meledak saat ini.


"Astaga,semoga ini cuma mimpi." Ayana memegangi dadanya sebelum beranjak turun mengambil air minum.


"Harusnya aku tadi cerita sama Gio,kamu benar Gi,sekarang aku takut sama dia." ucap Ayana pada dirinya sendiri.ia membenarkan ucapan Gio bahwa Jerrian memiliki perasaan padanya.lelaki itu menyimpan perasaan yang perlahan mulai ia tunjukan pada Ayana,Ayana mulai merasa ketakutan bagaimana kalau sampai lelaki itu nekat.semoga saja Jerrian cepat sadar dan tidak mengulangi perbuatannya lagi." Gio dan Mamah benar gak boleh abai sama ucapan dan larangan suami." gumam Ayana selanjutnya setelah itu ia memutuskan untuk membuka laptop karena tidak mungkin bisa tidur lagi setelah mimpi buruk tadi.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Gio tengah membantu dan mengajarkan anak helper yang baru masuk dua hari lalu.dengan telaten dan sabar ia mengajarkan bagaimana mempelajari mesin.dua pemuda itu terkagum akan kepintaran Gio,sungguh mereka senang bisa masuk ke perusahaan ini.bekerja di sini cukup santai karena mereka tidak bekerja di bawah tekanan seperti kebanyakan di luar sana.selain gaji yang besar mereka juga akan mendapatkan pengalaman dan ilmu gratis yang sangat bermanfaat.kelak mereka bisa memakai ilmu yang di dapat dari sini untuk membuka usaha sendiri.


Karena memang biasanya karyawan yang keluar dari perusahaan ini hidupnya sejahtera.rata-rata mereka sudah mendapatkan ilmu lalu membuka usaha bekal ilmu dan pengalaman yang di pelajari selama bekerja dengan Frans.bos di sini juga terkenal royal meski terdengar sedikit kejam.tapi menantunya ini adalah atasan impian banyak orang,selain ramah dan sopan,menantu pemilik usaha ini juga tak bersikap seperti seorang atasan pada umumnya.ia malah berbaur bersama karyawan lain dan terkesan tidak membedakan diri dan gila hormat.

__ADS_1


Itulah yang di sukai oleh orang-orang di sini,Gio mendapatkan banyak sanjungan dan menarik rasa suka dan kepercayaan dari orang-orang.dengan segala sikap Gio itu ia begitu di sukai dan di hormati di sana sikap dan cara bicaranya menunjukan kualitas diri laki-laki itu memang baik dan tentunya beradab.


"Ada yang gak suka nasi padang?" tanya Gio kepada anak-anak lapangan,hari ini ia akan memesan nasi padang untuk mereka biar kerjanya tambah semangat.ia melihat ada beberapa dari mereka sedang terkantuk dan lemas.Gio terkekeh saat mendapat respon gelengan dari mereka." Jadi semua suka ya?oke,kalau gitu biar saya pesan untuk kita semua."


"Asik,makasih bos,pak bos emang terbaik." ujar mereka serempak.membuat Gio tambah terkekeh.bukan karena senang dan bangga,ia hanya merasa lucu saja berkali-kali sudah menjelaskan siapa dirinya.tapi mereka seolah tak peduli dan tetap menganggap Gio adalah bos mereka si paling ramah dan merendah.


"Saya bukan bos di sini,hanya mendapat amanah dari ayah mertua saya." sebetulnya ia pun bosan menjelaskan hanya saja jika diam ia terkesan seperti membenarkan dan merasa seperti menganggap dirinya begitu.


Gio menoleh ke samping dan tersenyum saat seorang pria berusia sekitar 45 tahun itu menepuk pundaknya." Gak masalah. siapa pun kamu.tapi di sini kami semua menganggap kamu begitu.kamu yang menangani dan mengawasi proyek ini. kamu juga yang bertanggu jawab atas keselamatan dan perut kami di sini.terima kasih pak Gio,bapak sudah menolong kami yang hanya bermodalkan keterampilan tangan tanpa ijasah."


"Kalau bukan karena pak Gio,kami saat ini hanya akan terombang ambing di lautan mencari nafkah untuk keluarga kami,yang kami sendiri sudah tau kalau saat ini cuaca sedang buruk,ikan di laut pun susah di dapat.tahun ini adalah tahun terburuk untuk kami para nelayan Pak.tapi kami bersukur berkat pak Gio kami bisa bekerja di sini dan keluarga kami di rumah tidak kelaparan." Gio mengangguk dan senyumnya tak putus saat seorang bapak menimpali ucapan temannya.


"Bener Pak.kehadiran pak Gio di kampung ini memberikan efek yang luar biasa pada kami yang hanya mengandalkan hasil dari laut.di saat seperti ini kami hanya akan menganggur.karana gak ada kerjaan lain selain turun ke laut.tapi setelah bapak mendirikan pabrik di sini dan mengajak kami untuk bekerja.kami merasa seolah ada pelangi setelah hujan.hidup di kampung dan di tempat seperti ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan lain selain ke laut.kami tidak punya sawah maupun modal untuk buka usaha,kami juga tidak mau merantau karena keluarga selalu merlarang,kampung ini seperti terkutuk kalau pun ada yang merantau pasti dia akan pulang karena sakit-sakitan dan jarang ada yang berhasil."


Gio mendengarkan dengan seksama,ada rasa bahagia di hatinya.kala keputusannya itu ternyata membuat banyak orang tidak kelaparan dan bersukur." Iya bener Pak Gio.apa lagi tahun ini kalau gak ada bapak kami mungkin gak makan.karana ikan susah di dapat,gara-gara si kidul gak kami turuti maunya." timpal pemuda seusia Gio.


Gio mengerutkan kening mendengar cerita mereka." Maaf Kalau boleh tau. memangnya kenapa Pak?kok sampe ikannya susah di dapat?apa karena cuaca lagi buruk,atau ada faktor lain?"


Mereka menarik napas sama-sama sebelum menceritakan apa yang menimpa nasib mereka." Di tempat kami ini seluruh laut,pulau,dan pantainya memiliki penunggu Pak,tradisi di sini hampir setiap tahun kami seluruh warga harus mengadakan persembahan sebagai bentuk rasa hormat kami kepada penguasa laut.kami harus memberikan persembahan berupa kerbau,kami akan gotong royong membeli seekor kerbau jantan lalu kami memotongnya dan memakan semua dagingnya,lalu kepalanya kami persembahkan untuk nyi roro kidul.kepala kerbau itu nantinya akan di hanyutkan beserta nasi tumpeng dan kawan-kawannya."


"Kami menyebutnya adalah raut laut,atau pesta laut,sebetulnya kami melakukan ini bukan semata-mata untuk memberikan persembahan kepada penguasa laut.kami menyebutnya ini adalah selametan yang di selengarakan oleh seluruh masyarakat dan nelayan atas bentuk cinta kasih kami kepada sumber daya laut,serta sebagai bentuk sukur atas keselamatan diri kami selama mengarungi lautan."


"Tapi setelah pandemi ini kami tidak melakukan pesta nelayan lagi,selain karena di larang berkerumun.modal juga yang jadi penyebab utamanya,kami tidak ada uang untuk membeli kerbau."


Gio terperangah mendengar cerita warga sini,seumur hidup ia baru mendengar cerita rakyat seperti ini.20 tahun lebih hidup di kota Gio tidak pernah mendengar cerita seperti ini." Jadi karena itu para nelayan gak turun ke laut ya Pak?" tanya Gio yang di angguki mereka.


"Iya Pak,percuma saja kami turun karena akan si-sia cuma ngabisin bahan bakar doang Pak. jadi lebih baik kami tidak turun belum lagi badainya cukup buruk tahun ini."


Para bapak-bapak pun membenarkan." Betul,pokonya kalau orang yang gak pernah ke laut terus ikut mancing pasti mabuk masalahnya di ombak yang terlalu ganas,kalau kami sih udah biasa mau seganas apapun ombak,kami tetap terjang demi sesuap nasi." baik Zaki mau pun Gio keduanya tak bisa berkata-kata,keduanya merasa amat bersukur meski mereka bukan orang yang berkecukupan tapi setidaknya tidak seusah mereka ini.ya meski tak bisa di pungkiri Gio juga begitu miskin bahkan ia sering makan nasi cocol garam saja.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Kesayangan ayah mau kemana sih cantik banget,hmm?" tanya Gio kepada putrinya.


Si cantik namun ganteng itu tersenyum malu-malu mendengar pujian dari sang ayah." Mau ke rumah Raya,Yah.hari ini Raya ulang tahun,kata bunda nanti ada om badut di sana,ayah ikut ya"


Gio tertawa melihat anak gadisnya yang menggemaskan itu." Wah seru ya nanti coba lain kali aja ayah baru ikut,kalau sekarang ayah ada kerjaan,Sayang.di sini tempatnya jauh sekali,rumah Raya kan dekat dengan rumah opa.gak keburu dong kalau ayah kesana sekarang."


Putri Gio itu terlihat berpikir sejenak dan segera mengangguk.rupanya ia tengah mencerna ucapan sang ayah." Oke deh tapi nanti ayah ikut ya kalau teman Jemi ada yang ulang tanun lagi?ya ayah mau ya?"


"Iya sayang.kuncir dulu sana rambutnya terus hapenya kasih bunda ya.ayah mau ngomong." suruh Gio langsung di turuti oleh sang anak.


"Hmm?apa?" Ayana terlihat sedang mengunyah jambu kristal.suara kunyahannya sampai terdengar renyah sekali di telinga.


Gio tersenyum melihat wajah cantik istrinya itu terpampang di layar ponsel.di lihat dari arah mana pun Ayana itu tidak pernah jelek.dan Gio susah menemukan sisi jeleknya." Abege mau kemana?cantik pisan?" tanyanya membuat istrinya senyum dan salah tingkah.


"Ish,gombal." dengus Ayana padahal mah mleyot dan kupu-kupu dari perutnya berterbangan.


"Gak usah genit di sana,kalau gak mah Jemi aja yang kesana sama suster,Yang."


Ayana mendelikan matanya." Genit sama siapa?semuanya emak-emak kok." jawabnya." Lagian Jemia maunya sama aku datangnya. dia gak mau sama ncus bahkan adiknya aja gak boleh ikut.aneh gak tuh anakmu?"


Gio langsung tertawa." Mungkin biar bundanya gak rempong sama adiknya.jadi biar kamu fokus ke dia aja,mungkin gitu maksudnya yang." ujarnya." Sukur deh kalau emak-emak semua.takutnya kan ada keluarganya biasanya gitu."

__ADS_1


"Bisa-bisanya kepikiran kesana?selera aku itu Wang Yibo,bukan wangwengwong." ujar Ayana santai.


"Siapa lagi itu?" tanya Gio heran,istrinya ini banyak sekali gebetannya.


"Masih sekubu sama kaya Mew suppasit, Zeepruk,Off jumpol,Brightwin,sama kaya mereka." jelas Ayana membuat dahi Gio berlipat.


"Nama-namanya pada aneh.masa ada nama jempol segala?"


"Hadeuh,kamu mah gak bakal paham udah ah aku jalan sekarang ya,malam telepon lagi temenin tidur,biar kamu gak kelayapan tebar pesona sama gadis desa."


"Dih,boro-boro mau tebar pesona,keluar dari hotel aja males aku,di sini dingin Yang kalau malam dingin banget.dinginnya sampe tulang."


"Nah itu dingin lebih berbahaya.gimana kalau kamu khilaf tau-tau bawa cewek ke hotel buat kamu kekepin.jangan lupa istigfar terus ingat anak sama istri." Gio hanya menanggapinya dengan iya-iya saja asal cepat pikir Gio.


"Iya nyonyah,iya."


Ayana mendelikan mata sembari berjalan ke lemari untuk berkaca memeriksa penampilannya." Ya udah aku mau jalan.bye Sayang." tutup Ayana sembari mengecup layar ponsel,begitu pun dengan suaminya itu.


"Hareudang," celetuk Zaki sambil mengibaskan kerah bajunya membuat Gio menoleh ke samping.


"Iri?kawin sana."


"Nggak dulu deh,adek gue masih 2 masih sekolah lagi.nanti aja kalau udah pada lulus." balas Zaki.boro-boro untuk biaya nikah untuk membiayai sekolah adiknya saja ia harus bekerja keras lembur seperti ini.


Gio menanggapi dengan anggukan." Iya sih,susah kalau udah nikah mah.nanti adek lu keteteran,mending kalau dapat istri yang baik,kalau gak,kasian adek-adek lu"


"Nah itu." Zaki membenarkan.keduanya menyulut rokok sore-sore seperti ini anginnya tambah kencang dan sangat dingin.mereka menikmati senja yang hampir tenggelam di ufuk barat.dua bungkus roko dan sepiring ubi goreng yang di siapkan bu kantin menemani obrolan mereka.


"Gi,maaf-maaf nih.gue mau cerita,tapi bukan niat mengadukan atau pun mengompori.pas nganter barang ke gudang gue sempet denger desas desus staf kantor pada ngomongin Pak Jerrian sama bu Aya." ujar Zaki tiba-tiba di sela keheningan,tentu saja Gio terkejut dan menoleh namun tetap membiarkan lelaki di sampingnya ini melanjutkan ceritanya.


"Waktu itu gue gak sengaja denger.lagi bikin kopi denger mereka bisik-bisik ngomongin Pak Jerrian sama bu Aya." Zaki berhenti sejenak ia melirik pada Gio melihat ekspresi lelaki itu." Gue sebetulnya gak enak mau cerita ini,tapi_"


"Gapapa Zak,cerita aja apa yang lo denger dan tau" sela Gio membuat lelaki itu mengangguk.


"Gue denger mereka ngomongin bu Aya sama Pak Jerrian,katanya kemungkinan keduanya mempunyai hubungan di belakang lo.tapi ada juga yang nyangkal kalau bu Aya gak mungkin kaya gitu secara lo kan brondong lebih muda dan gagah ketimbang Pak Jerrian,masa iya? kan gak mungkin dong"


"Eh tapi,ini gue bukan lagi muji dan nyanjung lo ya Gi,gak usah kepedean dulu." sambung Zaki membuat Gio mendengus.


"Lo dengernya kapan?" tanya Gio,jujur ini bukan pertama kalinya ia mendengar kabar tersebut.pernah sekali Gio mendengar ada yang bergosip tentang istrinya itu beberapa waktu lalu.


Zaki meminum dulu jahe hangat yang lagi-lagi baru ibu kantin sajikan sebelum wanita tua itu kembali ke rumahnya.karena ia hanya masuk saat siang saja." Belum lama sebelum gue di pindah tugas kesini jujur Gi,gue gak percaya.soalnya gak mungkin bu Aya kaya gitu.main serong begitu kayanya bukan kelasnya bu Aya deh." Gio mengangguk menanggapi.


"Gue juga sebenarnya pernah denger gosip murahan kaya gitu.tapi gue gak peduli sama sekali,selama gue sama istri baik-baik aja.komunikasi kami juga baik dan lancar,gue percaya kalau istri gue gak mungkin ngelakuin hal-hal murahan kaya gitu." ujar Gio yang di angguki Zaki." Tapi. kalau soal itu om-om yang suka sama istri gue sih,gue udah lama banget tau soal itu cuma gue gak peduli selama Ayana gak gubris dan pedulikan.gue mah bodo amat aja,"


"Iya sih,tapi saran gue,lo tetep kudu hati-hati.soalnya jaman sekarang orang-orang pada beranian.bukan gue niat mau ngomporin lo.tapi gue lihat Pak Jerrian ini agak lain sebaiknya jangan lo remehen Gi." peringat Zaki kepada teman sekaligus atasannya itu.


Gio mengangguk membenarkan." Iya, nuhun udah ngingetin.gue bakal jaga-jaga setelah ini."


"Gak usah bilang makasih,gapapa demi alek gue mah gapapa,tapi bonus gue tambahin aja ya Gi,gapapa gue iklas dan rido_"


"Pala lo,dah ah gue mau mandi nanti keburu beku." potong Gio kemudian beranjak menuju hotel tempatnya menginap.


"Yeh,untung gue masih punya hati.kalau gak gue pelet bini lo.biar lo kejer di pojokan." teriak Zaki yang di hadiahi jari tengah oleh Gio sembari tetap berjalan.

__ADS_1


__ADS_2